DAENG RAPPUNG
Aku menuruni tangga menuju lantai Fakultas Taknik, dan di bawah tangga pada suatu sudut yang agak gelap Daeng Rappung penjual rotinya “Tape Deck”langgananku menyongsong dengan senyum ramah, senyum tulus yang selalu membuatku teringat pada kegigihan dan ketabahannya, kebaikannya memberikan “kredit” roti satu atau dua potong ketika aku lagi tongpes ( kantong kempes ), pandangan-pandangannya yang selalu lugu dan sederhana tentang kehidupan yang tidak terkesan dangkal dan mengambang dan tetap bermakna dalam, jujur dalam membumi atau kesetiaannya menanti pembeli dari pagi sampai sore hari.
“ Hei, kenapa mukamu tegang dan agak pucat?” sapanya sambil menatapku penuh perhatian. Aku tak segera menjawab, kuraih sepotong roti pisang kemudian mengunyahnya.
Daeng Rappung mengeleng-gelengkan kepala, dirapikannya pembungkus tempat roti pisang lalu duduk di sampingku.
“ Kau pasti baru selesai ujian “ tebaknya. Aku mengangguk lemah.
“ Ujian Ilmu Logamku jelek, Daeng “ kataku sendu, kupandang wajah teduh Daeng Rappung . Aku merasa sebagai seorang bocah yang kehilangan mainan mengadu pada ayahnya.
“ Jangan putus asa. Kau belum gagal. Masih ada kesempatan berikutnya” ucapnya sambil menepuk pundakku. Pelan dan lembut. Aku merasa sedikit terhibur setidaknya beban fikiranku agak ringan.
Daeng Rappung merogok kantongnya. Sisa roti yang ada di tanganku segera kuhabiskan.
“ Coba kau lihat ini. Saya juga mengalami kegagalan seperti kau” katanya seraya menyodorkan dua lembar kupon SDSB kepadaku.
Aku meraih dan melihatnya sekilas. Barangkali ia bermaksud mengatakan nomor yang ia pasang meleset dari undian arisan nasional yang dilaksanakan semalam.
Aku menatap tajam dan lekat pada Daeng Rappung.
“ Hei, kenapa mukamu tegang dan agak pucat?” sapanya sambil menatapku penuh perhatian. Aku tak segera menjawab, kuraih sepotong roti pisang kemudian mengunyahnya.
Daeng Rappung mengeleng-gelengkan kepala, dirapikannya pembungkus tempat roti pisang lalu duduk di sampingku.
“ Kau pasti baru selesai ujian “ tebaknya. Aku mengangguk lemah.
“ Ujian Ilmu Logamku jelek, Daeng “ kataku sendu, kupandang wajah teduh Daeng Rappung . Aku merasa sebagai seorang bocah yang kehilangan mainan mengadu pada ayahnya.
“ Jangan putus asa. Kau belum gagal. Masih ada kesempatan berikutnya” ucapnya sambil menepuk pundakku. Pelan dan lembut. Aku merasa sedikit terhibur setidaknya beban fikiranku agak ringan.
Daeng Rappung merogok kantongnya. Sisa roti yang ada di tanganku segera kuhabiskan.
“ Coba kau lihat ini. Saya juga mengalami kegagalan seperti kau” katanya seraya menyodorkan dua lembar kupon SDSB kepadaku.
Aku meraih dan melihatnya sekilas. Barangkali ia bermaksud mengatakan nomor yang ia pasang meleset dari undian arisan nasional yang dilaksanakan semalam.
Aku menatap tajam dan lekat pada Daeng Rappung.
“ Sejak kapan Daeng membeli ini ?” tanyaku sinis.
Daeng Rappung kembali balas menatapku keheranan.
Daeng Rappung kembali balas menatapku keheranan.
“ Kenapa? Kau marah” katanya. Keningnya berkerut.
“ Daeng mengecewakan saya” kataku datar tanpa ekspresi.
“ Saya tak mengerti, apa maksudmu” Daeng Rappung menaikkan nada suaranya. Ia seperti tak sabar.
Kuremas-remas sampai lumat kedua kupon itu lalu kucampakan ke depannya.
“ Daeng, Cuma membeli mimpi” kataku lantang. Aku tak perduli suaraku terdengar semua orang di fakultas teknik. Daeng Rappung menatapku tak percaya, ketika kuberi uang Rp. 1000 – untuk pembayaran rotiku tadi.
“ Sisanya Daeng ambil saja” ujarku sambil berlalu.
“ Tunggu Fiq…” sayup-sayup masih aku dengar suaranya memanggilku.
Perpustakaan begitu lenggang. Tak jauh dariku mahasiswa tertidur pulas, kepalanya diletakkan di atas lengannya yang bersedekap di atas meja.
Aku menatap langit-langit perpustakaan. Terbayang rentetan kejadian mulai dari awal persahabatanku dengan Daeng Rappung hingga kejadian terakhir tadi.
Daeng Rappung ia seorang lelaki tua 50-an tahun depan seorang anak perempuan yang telah menikah dan kini telah menetap di Irian Jaya. Istri Daeng Rappung telah meninggal dunia 5 tahun silam. Sekarang, ia hidup sendiri.
Setelah pensiun yang diterimanya sebagai pesuruh sebuah SD Negeri dirasakan tak cukup untuk menopang hidupnya, Daeng Rappung kemudian berjualan di kampus Tamalanrea ini
“ Daeng pernah mimpi jadi orang kaya? Punya uang banyak, rumah mewah dan mobil sepuluh” tanyaku iseng padanya suatu sore saat aku membantunya mengikatkan tempat – tempat roti pada sepeda buntutnya.
“ Pernah, eh…. Malah sering sekali” jawabnya sembarai menghentikan kesibukannya membenahi jualannya. Matanya menerawang, tapi bibirnya tersenyum.
“ Apa yang akan Daeng lakukan bila punya uang banyak seperti ini ?” tanyaku lebih lanjut.
Daeng Rappung berfikir sejenak kemudian memandangku dengan mata berbinar. Lalu berkata:
“ Saya akan bangun Gedung Jasa Boga yang besar di kampus ini. Semua penjual – penjual roti, es teller, bakso, gado-gado dan lain-lain akan saya tampung dalam gedung jasa boga itu.
Mahasiswa boleh makan sepuasnya dengan harga murah. Kau tak perlu lagi makan sembunyi-sembunyi sambil berjongkok di sini, kau dan teman-teman mahasiswa lainnya akan duduk si sofa empuk, mendengarkan musik dan menikmati hidangan.
Aku terharu.
Ia punya obsesi yang sederhana, tapi itu lebih membangkitkan rasa kekagumanku padanya. Ia punya mimpi tentang masa depan, mimpi yang indah sekaligus mimpi yang luhur.
Tapi sekarang?
Kenapa ia harus membeli mimpi untuk mengujudkan mimpinya?
Kenapa ia harus membeli angan-angan untuk mengejar obsesinya?
Terlalu riskan. Terlalu mengada-ada. Terlalu drastis.
Aku menghela nafas panjang. Hidup ini rupanya penuh mimpi.
Braaakk……..
Kejadian itu terlalu cepat di depan mataku, ketika aku sedang menunggu angkutan untuk pulang ke Maros. Sebuah mikrolet dari arah timur dengan kecepatan tinggi menabrak pengendara sepeda butut yang keluar dari pintu. Aku segera berlari menuju tempat kejadian. Disana sesosok tubuh sedang terklapar berlumuran darah di atas aspal. Saat aku menyadari dan mengetahui siapa ia, Aku menjerit tertahan: "Daeeeeeeenng…….”
Kupeluk, kucium dan kupeluk erat tubuh bersimbah darah itu. Ya, dia Daeng Rappung, dengan keadaan sekarat ia masih memberikan senyum khasnya padaku. Aku menagis.
“ Jangan...terus….bermimpi….anakku….sebab….saya tidak lagi….bermimpi. Maafkan Daeng…..” Ucapku penuh harap. Setelah itu kepalanya terkulai di pangkuanku.
Nadinya tak berdenyut. Dalam tidurnya yang panjang, ia menyisahkan senyum untukku dan untuk dunia.
Ia memang tidak lagi bermimpi jadi jutawan, ia tidak lagi bermimpi membangun gedung jasa boga.
Ya… ia tidak lagi bermimpi.
“ Daeng mengecewakan saya” kataku datar tanpa ekspresi.
“ Saya tak mengerti, apa maksudmu” Daeng Rappung menaikkan nada suaranya. Ia seperti tak sabar.
Kuremas-remas sampai lumat kedua kupon itu lalu kucampakan ke depannya.
“ Daeng, Cuma membeli mimpi” kataku lantang. Aku tak perduli suaraku terdengar semua orang di fakultas teknik. Daeng Rappung menatapku tak percaya, ketika kuberi uang Rp. 1000 – untuk pembayaran rotiku tadi.
“ Sisanya Daeng ambil saja” ujarku sambil berlalu.
“ Tunggu Fiq…” sayup-sayup masih aku dengar suaranya memanggilku.
Perpustakaan begitu lenggang. Tak jauh dariku mahasiswa tertidur pulas, kepalanya diletakkan di atas lengannya yang bersedekap di atas meja.
Aku menatap langit-langit perpustakaan. Terbayang rentetan kejadian mulai dari awal persahabatanku dengan Daeng Rappung hingga kejadian terakhir tadi.
Daeng Rappung ia seorang lelaki tua 50-an tahun depan seorang anak perempuan yang telah menikah dan kini telah menetap di Irian Jaya. Istri Daeng Rappung telah meninggal dunia 5 tahun silam. Sekarang, ia hidup sendiri.
Setelah pensiun yang diterimanya sebagai pesuruh sebuah SD Negeri dirasakan tak cukup untuk menopang hidupnya, Daeng Rappung kemudian berjualan di kampus Tamalanrea ini
“ Daeng pernah mimpi jadi orang kaya? Punya uang banyak, rumah mewah dan mobil sepuluh” tanyaku iseng padanya suatu sore saat aku membantunya mengikatkan tempat – tempat roti pada sepeda buntutnya.
“ Pernah, eh…. Malah sering sekali” jawabnya sembarai menghentikan kesibukannya membenahi jualannya. Matanya menerawang, tapi bibirnya tersenyum.
“ Apa yang akan Daeng lakukan bila punya uang banyak seperti ini ?” tanyaku lebih lanjut.
Daeng Rappung berfikir sejenak kemudian memandangku dengan mata berbinar. Lalu berkata:
“ Saya akan bangun Gedung Jasa Boga yang besar di kampus ini. Semua penjual – penjual roti, es teller, bakso, gado-gado dan lain-lain akan saya tampung dalam gedung jasa boga itu.
Mahasiswa boleh makan sepuasnya dengan harga murah. Kau tak perlu lagi makan sembunyi-sembunyi sambil berjongkok di sini, kau dan teman-teman mahasiswa lainnya akan duduk si sofa empuk, mendengarkan musik dan menikmati hidangan.
Aku terharu.
Ia punya obsesi yang sederhana, tapi itu lebih membangkitkan rasa kekagumanku padanya. Ia punya mimpi tentang masa depan, mimpi yang indah sekaligus mimpi yang luhur.
Tapi sekarang?
Kenapa ia harus membeli mimpi untuk mengujudkan mimpinya?
Kenapa ia harus membeli angan-angan untuk mengejar obsesinya?
Terlalu riskan. Terlalu mengada-ada. Terlalu drastis.
Aku menghela nafas panjang. Hidup ini rupanya penuh mimpi.
Braaakk……..
Kejadian itu terlalu cepat di depan mataku, ketika aku sedang menunggu angkutan untuk pulang ke Maros. Sebuah mikrolet dari arah timur dengan kecepatan tinggi menabrak pengendara sepeda butut yang keluar dari pintu. Aku segera berlari menuju tempat kejadian. Disana sesosok tubuh sedang terklapar berlumuran darah di atas aspal. Saat aku menyadari dan mengetahui siapa ia, Aku menjerit tertahan: "Daeeeeeeenng…….”
Kupeluk, kucium dan kupeluk erat tubuh bersimbah darah itu. Ya, dia Daeng Rappung, dengan keadaan sekarat ia masih memberikan senyum khasnya padaku. Aku menagis.
“ Jangan...terus….bermimpi….anakku….sebab….saya tidak lagi….bermimpi. Maafkan Daeng…..” Ucapku penuh harap. Setelah itu kepalanya terkulai di pangkuanku.
Nadinya tak berdenyut. Dalam tidurnya yang panjang, ia menyisahkan senyum untukku dan untuk dunia.
Ia memang tidak lagi bermimpi jadi jutawan, ia tidak lagi bermimpi membangun gedung jasa boga.
Ya… ia tidak lagi bermimpi.
Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" Universitas Hasanuddin Makassar, 10 Januari 1991







