MAHASISWA DAN KONGLOMERAT
Mentari baru saja turun keperaduannya. Di ufuk Barat langit kemerahan, biasanya memancar indah mengundang takjub bagi siapapun yang melihatnya. Para penjual pisang eppe’, Es teller, bakso, dan nasi goreng sudah mulai berdatangan dan langsung mengambil tempat di sekitar pesisir pantai Losari.
Lalu lintas belum terlalu ramai mengalir sepanjang jalan Penghibur.
Seorang lelaki setengah baya dengan dandanan necis dan trendy berpakaian kemeja putih lengkap dengan dasi hitam duduk di atas tembok pesisiR Losari, memaku pandang ke arah laut. Sama sekali tidak acuh pada kesibukan disekelilingnya. Beberapa helai rambutnya yang tumbuh gersang di atas kepala rada botak menari-nari ditiup angin senja yang sejuk.
Matanya terus mengikuti alunan ombak yang bergerak berirama lalu menghempas dan terburai di karang.
“ Selamat sore”, terdengar sapaan ramah dari belakang punggungnya. Lelaki tua itu segera menoleh, dilihatnya sosok pemuda memakai jeans belel dan kaos biru berdiri di hadapannya membawa buku dan diktat kuliah.
“ Selamat sore”, balas lelaki tua itu.
" Maaf barangkali saya mengganggu kesendirian bapak. Saya ingin mencari tempat duduk yang cukup layak untuk menyaksikan pemandangan indah matahari tenggelam di pantai Losari dengan sudut pandang yang bagus.
Kalau bapak tak keberatan, saya ingin duduk di sebelah bapak. Boleh pak?” Pemuda itu mengutarakan maksudnya dengan sopan.
“ Oh,…..silahkan…..silahkan,” spontan lelaki tua itu menyanggupi permohonan sang pemuda dengan menggeser kekiri untuk memberi tempat duduk.
“ Terimakasih,” dengan wajah cerah sang Pemuda mangambil tempat di sebelah kanan sang lelaki tua.
Bebarapa saat kemudian sang Pemuda mengulurkan tangannya sambil berkata, “ kenalkan, Pak, saya mahasiswa . “ Lelaki tua itu memandang sejenak lalu tersenyum menyambut hangat salam persahabatan sang pemuda.
“ Saya Ko….”
Belum sempat lelaki tua itu melanjutkan, sang Pemuda langsung memotong.
“ Kho Ping Ho, ya Pak? Wah suatu kehormatan besar dapat berjumpa dengan pengarang cerita silat idola saya di sini, sungguh suatu anugrah yang amat membanggakan”, katanya sambil menggenggam erat tangan sang lelaki tua dengan mata berminar.
Lelaki tua itu bigung dan kikuk. Segera ia menjelaskan lebih lanjut.
“ Bukan …..bukan ! saya bukan Kho Ping Ho, Kopi susu maupun kopor. Saya adalah Kongglomerat. Kong-Lo-Me-rat. Konglomerat,” katanya dengan memberikan penekanan mengeja tiap suku kata dari namanya.
Sekarang mahasiswa yang salah tingkah. Tangan lelaki tua yang telah dijabatnya, digenggamnya lagi erat-erat sampai sang lelaki tua agak meringis kesakitan.
“ Aduuh…. Mohon maaf sebesar-besarnya , Pak. Saya telah melakukan suatu kebodohan” katanya dengan pandangan menyesal sekaligus tersipu-sipu. Sang Konglomerat tersenyum maklum dan mengangguk-angguk mengerti dan tak lupa menarik tangannya dari jabatan sang Mahasiswa yang cukup menyiksa.
“ Tapi walaupun demikian, saya juga merasa mendapatkan suatu kehormatan tersendiri, berkenalan dengan Bapak. Belakangan ini nama Bapak begitu tersohor,’ ujar sang mahasiswa menatap kagum sang Konglomerat.
“ Tersohor?” Sang Konglomerat seperti bertanya pada diri sendiri. Lalu tercenung. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Ada sesuatu yang ia fikirkan. Sang mahasiswa keheranan.
“ Saya malah merasa terpojok. Eksistensi saya sering dianggap menimbulkan kecemburuan sosial, kecemburuan status, kecemburuan prestise. Saya jadi kehilangan identitas”’ kata Konglomerat berapi-api sambil memandang tajam mahasiswa.
Ia melanjutkan, “ Entahlah, kenapa begitu banyak yang mendiskreditkan saya. Kamu tahu Gurita?. Itulah salah satu gambaran diri saya. Lambang kerakusan dan keserakahan. Ironis sekali. Padahal…..”
“ Memang begitulah…..” gumama sang Mahasiswa tiba-tiba.
“ Apa katamu?. Kau mau…..”Nada tersinggung tersirat dari mata Konglomerat. Ia memandang tajam pada sang Mahasiswa.
“ Tunggu, dulu Pak, Maksud saya …memang begitulah hidup. Penuh tantangan, cobaan, dan hambatan.
Kita dituntut untuk mampu menjawab semua itu. Ya kan’? “Kata Mahasiswa meredakan amarah Konglomerat sekaligus menetralisir suasana.
Sang Konglomerat menghela nafas panjang.
“ Kau punya selera humor yang tinggi,” katanya hambar.
Kemudian diam. Debur ombak memecah karang terdengar begitu syahdu. Lalu lintas Jalan Penghibur mulai ramai. Lampu jalan mulai dinyalakn. Malampun beranjak.
“ Apa yang kamu cari di sini anak muda?” Tanya sang Konglomerat memecah keheningan.
“ Saya juga merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Seperti Bapak kehilangan identitas, “ kata mahasiswa sendu.
“ Apa itu? Dompet atau…… pacar?” Tanya konlomerat lagi. Ia mencoba mencairkan suasana yang kaku.
“ Idealisme, “ jawab mahasiswa datar.
Konglomerat mengernyitkan dahi. Ia masih kurang mengerti.
“ Entah dimana hilangnya,”lanjut mahasiswa , “tercecer di rapat-rapat organisasi mahsiswa. Lenyap di kantin tempat saya makan atau main domino. Raib di ruang kuliah atau perpustakaan. Hilang di tempat kos. Tercecer didiskotik. Hilang di bangku taman tempat pacaran.” Mahasiswa berhenti sejenak lalu berkata dengan me-nyengirkan bibirnya.
“….. atau malah dimakan gurita!.”
Sang Konglomerta meladak tawanya. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. Tawanya membuat orang-orang disekitar tempat itu terkejut dan berbalik ke arah mereka.
“ Saya gembira berkenalan denganmu”, kata Konglomerat setelah puas tertawa.
“ Saya juga Pak.Saya juga senang berjumpa dan berkenalan dengan Bapak”, ujar Mahasiswa tersenyum tulus.
“ Kenapa?” pancing Konglomerat.
“ Kenapa? Ya….karena saya ingin seperti Bapak. Kong-lo-me-rat” tegas Sang Mahasiswa dengan sorot mata optimis.
Ha….ha….ha…..ha…..ha.
Konglomerat kembali tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa juga. Orang-orang sekitarnya juga. Malam, ombak, dan pantai pun semakin semarak.
Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" Universitas Hasanuddin, 25 Oktober 1990
Lalu lintas belum terlalu ramai mengalir sepanjang jalan Penghibur.
Seorang lelaki setengah baya dengan dandanan necis dan trendy berpakaian kemeja putih lengkap dengan dasi hitam duduk di atas tembok pesisiR Losari, memaku pandang ke arah laut. Sama sekali tidak acuh pada kesibukan disekelilingnya. Beberapa helai rambutnya yang tumbuh gersang di atas kepala rada botak menari-nari ditiup angin senja yang sejuk.
Matanya terus mengikuti alunan ombak yang bergerak berirama lalu menghempas dan terburai di karang.
“ Selamat sore”, terdengar sapaan ramah dari belakang punggungnya. Lelaki tua itu segera menoleh, dilihatnya sosok pemuda memakai jeans belel dan kaos biru berdiri di hadapannya membawa buku dan diktat kuliah.
“ Selamat sore”, balas lelaki tua itu.
" Maaf barangkali saya mengganggu kesendirian bapak. Saya ingin mencari tempat duduk yang cukup layak untuk menyaksikan pemandangan indah matahari tenggelam di pantai Losari dengan sudut pandang yang bagus.
Kalau bapak tak keberatan, saya ingin duduk di sebelah bapak. Boleh pak?” Pemuda itu mengutarakan maksudnya dengan sopan.
“ Oh,…..silahkan…..silahkan,” spontan lelaki tua itu menyanggupi permohonan sang pemuda dengan menggeser kekiri untuk memberi tempat duduk.
“ Terimakasih,” dengan wajah cerah sang Pemuda mangambil tempat di sebelah kanan sang lelaki tua.
Bebarapa saat kemudian sang Pemuda mengulurkan tangannya sambil berkata, “ kenalkan, Pak, saya mahasiswa . “ Lelaki tua itu memandang sejenak lalu tersenyum menyambut hangat salam persahabatan sang pemuda.
“ Saya Ko….”
Belum sempat lelaki tua itu melanjutkan, sang Pemuda langsung memotong.
“ Kho Ping Ho, ya Pak? Wah suatu kehormatan besar dapat berjumpa dengan pengarang cerita silat idola saya di sini, sungguh suatu anugrah yang amat membanggakan”, katanya sambil menggenggam erat tangan sang lelaki tua dengan mata berminar.
Lelaki tua itu bigung dan kikuk. Segera ia menjelaskan lebih lanjut.
“ Bukan …..bukan ! saya bukan Kho Ping Ho, Kopi susu maupun kopor. Saya adalah Kongglomerat. Kong-Lo-Me-rat. Konglomerat,” katanya dengan memberikan penekanan mengeja tiap suku kata dari namanya.
Sekarang mahasiswa yang salah tingkah. Tangan lelaki tua yang telah dijabatnya, digenggamnya lagi erat-erat sampai sang lelaki tua agak meringis kesakitan.
“ Aduuh…. Mohon maaf sebesar-besarnya , Pak. Saya telah melakukan suatu kebodohan” katanya dengan pandangan menyesal sekaligus tersipu-sipu. Sang Konglomerat tersenyum maklum dan mengangguk-angguk mengerti dan tak lupa menarik tangannya dari jabatan sang Mahasiswa yang cukup menyiksa.
“ Tapi walaupun demikian, saya juga merasa mendapatkan suatu kehormatan tersendiri, berkenalan dengan Bapak. Belakangan ini nama Bapak begitu tersohor,’ ujar sang mahasiswa menatap kagum sang Konglomerat.
“ Tersohor?” Sang Konglomerat seperti bertanya pada diri sendiri. Lalu tercenung. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Ada sesuatu yang ia fikirkan. Sang mahasiswa keheranan.
“ Saya malah merasa terpojok. Eksistensi saya sering dianggap menimbulkan kecemburuan sosial, kecemburuan status, kecemburuan prestise. Saya jadi kehilangan identitas”’ kata Konglomerat berapi-api sambil memandang tajam mahasiswa.
Ia melanjutkan, “ Entahlah, kenapa begitu banyak yang mendiskreditkan saya. Kamu tahu Gurita?. Itulah salah satu gambaran diri saya. Lambang kerakusan dan keserakahan. Ironis sekali. Padahal…..”
“ Memang begitulah…..” gumama sang Mahasiswa tiba-tiba.
“ Apa katamu?. Kau mau…..”Nada tersinggung tersirat dari mata Konglomerat. Ia memandang tajam pada sang Mahasiswa.
“ Tunggu, dulu Pak, Maksud saya …memang begitulah hidup. Penuh tantangan, cobaan, dan hambatan.
Kita dituntut untuk mampu menjawab semua itu. Ya kan’? “Kata Mahasiswa meredakan amarah Konglomerat sekaligus menetralisir suasana.
Sang Konglomerat menghela nafas panjang.
“ Kau punya selera humor yang tinggi,” katanya hambar.
Kemudian diam. Debur ombak memecah karang terdengar begitu syahdu. Lalu lintas Jalan Penghibur mulai ramai. Lampu jalan mulai dinyalakn. Malampun beranjak.
“ Apa yang kamu cari di sini anak muda?” Tanya sang Konglomerat memecah keheningan.
“ Saya juga merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Seperti Bapak kehilangan identitas, “ kata mahasiswa sendu.
“ Apa itu? Dompet atau…… pacar?” Tanya konlomerat lagi. Ia mencoba mencairkan suasana yang kaku.
“ Idealisme, “ jawab mahasiswa datar.
Konglomerat mengernyitkan dahi. Ia masih kurang mengerti.
“ Entah dimana hilangnya,”lanjut mahasiswa , “tercecer di rapat-rapat organisasi mahsiswa. Lenyap di kantin tempat saya makan atau main domino. Raib di ruang kuliah atau perpustakaan. Hilang di tempat kos. Tercecer didiskotik. Hilang di bangku taman tempat pacaran.” Mahasiswa berhenti sejenak lalu berkata dengan me-nyengirkan bibirnya.
“….. atau malah dimakan gurita!.”
Sang Konglomerta meladak tawanya. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. Tawanya membuat orang-orang disekitar tempat itu terkejut dan berbalik ke arah mereka.
“ Saya gembira berkenalan denganmu”, kata Konglomerat setelah puas tertawa.
“ Saya juga Pak.Saya juga senang berjumpa dan berkenalan dengan Bapak”, ujar Mahasiswa tersenyum tulus.
“ Kenapa?” pancing Konglomerat.
“ Kenapa? Ya….karena saya ingin seperti Bapak. Kong-lo-me-rat” tegas Sang Mahasiswa dengan sorot mata optimis.
Ha….ha….ha…..ha…..ha.
Konglomerat kembali tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa juga. Orang-orang sekitarnya juga. Malam, ombak, dan pantai pun semakin semarak.
Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" Universitas Hasanuddin, 25 Oktober 1990
(Debut Pertama Menulis Cerita Pendek)







