AKTIVIS PULANG KAMPUNG
Pulang Kampung bagi saya , cukup merupakan sebuah trauma yang sangat menggelisahkan. Setiap kali lebaran tiba, saya sering dihinggapi perasaan was-was. Saya harus pulang kampung, kembali keharibaan ayah dan bunda, siap-siap menghadapi omelan panjang soal penyelesaian study yang kian karatan dan mendampingi Dija calon istri yang telah disodorkan ayah dan ibu kepada saya -– kemana saja. Ini yang tidak saya suka.
Sebagai aktivis beken di kampus ini, saya sudah terbiasa untuk tidak mau didikte. Saya punya semacam kharisma yang memukau dan kewibawaan alamiah yang membuat saya sangat di segani oleh mahasiswa Fakultas saya serta rekan-rekan aktivis mahasiswa lainya. Dengan bekal tersebut saya sudah dua kali menjabat sebagai ketua Senat mahasiswa dan kini, sebagai ketua Dewan Senior sebuah Lembaga Legeslatif Mahasiswa berkuasa penuh pada Fakultas yang sama. Kekerasan dan ketegaran sikap saya menghadapi tantangan sudah sangat terkenal. Pernah suatu kali saya menolak mentah-mentah tawaran dari sebuah Yayasan yang meraup dananya dari kupon judi berkedok sumbangan pada masyarakat.
Sayapun pernah terkena skorsing akademik satu Semester lantaran menentang kebijakan Pimpinan Fakultas yang dengan tega menarik sumbangan pada Civitas Akademika dengan alasan tidak jelas. Saya dibebaskan dari hukuman skorsing ketika saya berhasil memenangkan perkara yang saya ajukan ke PTUN ( Pengadilan Tata Usaha Negara ) itu. Pimpinan Fakultas lantas dipecat dengan tidak hormat, dan saya jadi figur “ pahlawan” di kalangan Mahasiswa.
Sepak terjang saya yang sangat spektakuler itu, jadi tak ada artinya bila saya pulang kampung. Ayah dan Ibu sama sekali tidak punya perhatian penuh terhasap apa yang saya lakukan selama ini. Sayapun jadi tak berdaya menghadapi mereka. Segala ketegasan saya , ketegaran saya dan kharisma saya yang selama ini dibangga – banggakan pudar sama sekali.
Saya jadi ibarat kerbau dicocok hidung, menuruti kemauan ibu dan ayah, termasuk mengantar kesana – kemari Dija yang terus terang saja kalah telak dari Maharani, fotomodel kece dan kekasih tersayang. Di kampung, saya bagai terperangkap dan tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin karena saya dibayang-bayangi rasa bersalah dan semacam ‘Utang” pada Ayah-Ibu disebabkan hingga saat ini, tepatnya 8 tahun, kuliah saya belum rampung-rampung. Setiap tiba pertama kali di kampung , saya langsung disergap pertanyaan: “ Kapan kamu selesai?”. Sayapun telah menyiapkan jawaban pemungkas: “ dalam abad ini!”
Sebagai aktivis beken di kampus ini, saya sudah terbiasa untuk tidak mau didikte. Saya punya semacam kharisma yang memukau dan kewibawaan alamiah yang membuat saya sangat di segani oleh mahasiswa Fakultas saya serta rekan-rekan aktivis mahasiswa lainya. Dengan bekal tersebut saya sudah dua kali menjabat sebagai ketua Senat mahasiswa dan kini, sebagai ketua Dewan Senior sebuah Lembaga Legeslatif Mahasiswa berkuasa penuh pada Fakultas yang sama. Kekerasan dan ketegaran sikap saya menghadapi tantangan sudah sangat terkenal. Pernah suatu kali saya menolak mentah-mentah tawaran dari sebuah Yayasan yang meraup dananya dari kupon judi berkedok sumbangan pada masyarakat.
Sayapun pernah terkena skorsing akademik satu Semester lantaran menentang kebijakan Pimpinan Fakultas yang dengan tega menarik sumbangan pada Civitas Akademika dengan alasan tidak jelas. Saya dibebaskan dari hukuman skorsing ketika saya berhasil memenangkan perkara yang saya ajukan ke PTUN ( Pengadilan Tata Usaha Negara ) itu. Pimpinan Fakultas lantas dipecat dengan tidak hormat, dan saya jadi figur “ pahlawan” di kalangan Mahasiswa.
Sepak terjang saya yang sangat spektakuler itu, jadi tak ada artinya bila saya pulang kampung. Ayah dan Ibu sama sekali tidak punya perhatian penuh terhasap apa yang saya lakukan selama ini. Sayapun jadi tak berdaya menghadapi mereka. Segala ketegasan saya , ketegaran saya dan kharisma saya yang selama ini dibangga – banggakan pudar sama sekali.
Saya jadi ibarat kerbau dicocok hidung, menuruti kemauan ibu dan ayah, termasuk mengantar kesana – kemari Dija yang terus terang saja kalah telak dari Maharani, fotomodel kece dan kekasih tersayang. Di kampung, saya bagai terperangkap dan tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin karena saya dibayang-bayangi rasa bersalah dan semacam ‘Utang” pada Ayah-Ibu disebabkan hingga saat ini, tepatnya 8 tahun, kuliah saya belum rampung-rampung. Setiap tiba pertama kali di kampung , saya langsung disergap pertanyaan: “ Kapan kamu selesai?”. Sayapun telah menyiapkan jawaban pemungkas: “ dalam abad ini!”
Saya selalu alergi dengan pertanyaan – pertanyaan seperti itu.
Aktivitas kegiatan kemahasiswaan saya di kampus sudah demikian padatnya, ditambah lagi beberapa dosen yang sentimen karena ulah saya cenderung “mbabelo” (menentang red), sampai-sampai ada beberapa mata kuliah yang belum lulus juga, meski tiap semester diprogramkan. Dengan alasan-alasan tersebut, saya belum mampu menyelesaikan study dengan cepat. Padahal sejak lama Ayah-Ibu “ngidam” ingin menghadiri acara wisuda saya, anak sulungnya.
Sekarang, saya terpaksa harus pulang. Sepucuk telegram datang tadi siang menjelaskan segalanya. Ibu sakit keras dan gawat. Untuk wanita mulia yang telah melahirkan saya di dunia fana ini saya tak punya alasan sedikitpun untuk tidak pulang. Dengan cepat saya berkemas-kemas dan segera berangkat ke terminal angkutan : pulang kampung!.
Didalam bis , saya kembali dihinggapi perasaan tidak enak, sebentuk keresahan menggayuti kisi-kisi hati saya. Ini selalu terjadi setiap kali saya pulang ke kampung. Di wajah saya terbayang wajah putus asa Ayah-Ibu yang prihatin serta ekspresi ceria Dija, perawan kampung yang berkulit hitam legam dengan muka dan body yang sungguh tidak proporsional. Saya seperti bermimpi buruk, buruk sekali!
Setelah menempuh 8 jam perjalanan, saya tiba kembali di kampung halaman, tempat saya lahir, tumbuh dan dibesarkan secara tradisional dimana sekarang telah menjelma sebagai pemuda modern berfikiran maju dan sejuta pengalaman tangguh sebagai aktivis mahasiswa kawakan. Saya menyapu pandang ke sekeliling. Tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu saat saya tinggalkan pada lebaran setahun lalu.
Pintu rumah berderit keras ketika saya menguaknya. Dihadapan saya terbentang pandangan yang sanggat mengiriskan. Ibu terbaring sekarat, dikelilingi ayah dan adik-adik saya serta paman. Saya langsung meletakkan tas dan langsung bersimpuh di sisi pembaringan ibu. Keharuan menyelimuti hati,. Dengan lembut saya mencium kening ibu.
Ibu memandang saya dengan tatapan lesu. Saya trenyuh. Kami semua terdiam. Sepi melingkup suasana.
Aktivitas kegiatan kemahasiswaan saya di kampus sudah demikian padatnya, ditambah lagi beberapa dosen yang sentimen karena ulah saya cenderung “mbabelo” (menentang red), sampai-sampai ada beberapa mata kuliah yang belum lulus juga, meski tiap semester diprogramkan. Dengan alasan-alasan tersebut, saya belum mampu menyelesaikan study dengan cepat. Padahal sejak lama Ayah-Ibu “ngidam” ingin menghadiri acara wisuda saya, anak sulungnya.
Sekarang, saya terpaksa harus pulang. Sepucuk telegram datang tadi siang menjelaskan segalanya. Ibu sakit keras dan gawat. Untuk wanita mulia yang telah melahirkan saya di dunia fana ini saya tak punya alasan sedikitpun untuk tidak pulang. Dengan cepat saya berkemas-kemas dan segera berangkat ke terminal angkutan : pulang kampung!.
Didalam bis , saya kembali dihinggapi perasaan tidak enak, sebentuk keresahan menggayuti kisi-kisi hati saya. Ini selalu terjadi setiap kali saya pulang ke kampung. Di wajah saya terbayang wajah putus asa Ayah-Ibu yang prihatin serta ekspresi ceria Dija, perawan kampung yang berkulit hitam legam dengan muka dan body yang sungguh tidak proporsional. Saya seperti bermimpi buruk, buruk sekali!
Setelah menempuh 8 jam perjalanan, saya tiba kembali di kampung halaman, tempat saya lahir, tumbuh dan dibesarkan secara tradisional dimana sekarang telah menjelma sebagai pemuda modern berfikiran maju dan sejuta pengalaman tangguh sebagai aktivis mahasiswa kawakan. Saya menyapu pandang ke sekeliling. Tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu saat saya tinggalkan pada lebaran setahun lalu.
Pintu rumah berderit keras ketika saya menguaknya. Dihadapan saya terbentang pandangan yang sanggat mengiriskan. Ibu terbaring sekarat, dikelilingi ayah dan adik-adik saya serta paman. Saya langsung meletakkan tas dan langsung bersimpuh di sisi pembaringan ibu. Keharuan menyelimuti hati,. Dengan lembut saya mencium kening ibu.
Ibu memandang saya dengan tatapan lesu. Saya trenyuh. Kami semua terdiam. Sepi melingkup suasana.
“ Kau pulang, nak?” Tanya ibu lirih. Saya tersenyum dan mengangguk pelan. Ibu lalu memeganggi tangan saya. “ Harapan ibu dan keluarga tercurah kepada kamu, nak. Jangan kecewakan ibu dan keluarga kita, saya menyahut dengan tenggorokan tercekat. Ibu tersenyum lega.
Ayah angkat bicara. “kami semua sepakat untuk melaksanakan amanah ibu”.
Ayah angkat bicara. “kami semua sepakat untuk melaksanakan amanah ibu”.
Saya mengerutkan kening. “Amanah apa?”, Tanya saya.
Ibu kembali memegangi tangan saya.
“Ibu ingin kamu hidup bahagia, sebelum ibu meninggalkan kalian. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dan belajar di kota. Sampai sekarang tidak ada hasil. Ibu dan kami semua menginginkan kamu untuk segera menikahi Dija.” Tutur ibu jernih.
Saya seperti merasakan petir di siang bolong, menyambar kepala. Ini sangat mengejutkan dan tak terduga.
“ tapi…bu…” saya mencoba menyela.
” Kami tak punya pilihan lain, nak. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk membiayaimu kuliah, termasuk sawah yang kini telah ayah jual ke ayah Dija, calon istrimu itu”, kata ayah dengan suara bergetar. Saya mengigit bibir. Saya dihadapkan pada sebuah dilema yang sangat sulit, dan saya merasa tidak berdaya. Seluruh persendian tubuh saya lemas dan seperti terlepas.
DUA hari setelah pernikahan saya dan Dija, ibu meninggal dunia. Dalam tidurnya yang panjang beliau tersenyum, beban yang menghimpitnya bagai terlempar jauh. Saya telah memutuskan untuk berhenti kuliah dan menjadi petani yang baik, mencari nafkah bagi anak dan istri saya. Saya akan berusaha untuk mencintai Dija, bukan hanya atas dasar“hanya ingin membahagiakan serta melaksanakan amanah ibu”. Saya fikir, saya telah terlatih untuk itu: belajar mencintai. Pengalaman sebagai aktivis telah memberi saya banyak pengalaman berharga.
Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" - Universitas Hasanuddin, 8 Januari 1993
DUA hari setelah pernikahan saya dan Dija, ibu meninggal dunia. Dalam tidurnya yang panjang beliau tersenyum, beban yang menghimpitnya bagai terlempar jauh. Saya telah memutuskan untuk berhenti kuliah dan menjadi petani yang baik, mencari nafkah bagi anak dan istri saya. Saya akan berusaha untuk mencintai Dija, bukan hanya atas dasar“hanya ingin membahagiakan serta melaksanakan amanah ibu”. Saya fikir, saya telah terlatih untuk itu: belajar mencintai. Pengalaman sebagai aktivis telah memberi saya banyak pengalaman berharga.
Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" - Universitas Hasanuddin, 8 Januari 1993








