Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Wednesday, September 22, 2004

AKTIVIS PULANG KAMPUNG

Pulang Kampung bagi saya , cukup merupakan sebuah trauma yang sangat menggelisahkan. Setiap kali lebaran tiba, saya sering dihinggapi perasaan was-was. Saya harus pulang kampung, kembali keharibaan ayah dan bunda, siap-siap menghadapi omelan panjang soal penyelesaian study yang kian karatan dan mendampingi Dija calon istri yang telah disodorkan ayah dan ibu kepada saya -– kemana saja. Ini yang tidak saya suka.
Sebagai aktivis beken di kampus ini, saya sudah terbiasa untuk tidak mau didikte. Saya punya semacam kharisma yang memukau dan kewibawaan alamiah yang membuat saya sangat di segani oleh mahasiswa Fakultas saya serta rekan-rekan aktivis mahasiswa lainya. Dengan bekal tersebut saya sudah dua kali menjabat sebagai ketua Senat mahasiswa dan kini, sebagai ketua Dewan Senior sebuah Lembaga Legeslatif Mahasiswa berkuasa penuh pada Fakultas yang sama. Kekerasan dan ketegaran sikap saya menghadapi tantangan sudah sangat terkenal. Pernah suatu kali saya menolak mentah-mentah tawaran dari sebuah Yayasan yang meraup dananya dari kupon judi berkedok sumbangan pada masyarakat.



Sayapun pernah terkena skorsing akademik satu Semester lantaran menentang kebijakan Pimpinan Fakultas yang dengan tega menarik sumbangan pada Civitas Akademika dengan alasan tidak jelas. Saya dibebaskan dari hukuman skorsing ketika saya berhasil memenangkan perkara yang saya ajukan ke PTUN ( Pengadilan Tata Usaha Negara ) itu. Pimpinan Fakultas lantas dipecat dengan tidak hormat, dan saya jadi figur “ pahlawan” di kalangan Mahasiswa.
Sepak terjang saya yang sangat spektakuler itu, jadi tak ada artinya bila saya pulang kampung. Ayah dan Ibu sama sekali tidak punya perhatian penuh terhasap apa yang saya lakukan selama ini. Sayapun jadi tak berdaya menghadapi mereka. Segala ketegasan saya , ketegaran saya dan kharisma saya yang selama ini dibangga – banggakan pudar sama sekali.
Saya jadi ibarat kerbau dicocok hidung, menuruti kemauan ibu dan ayah, termasuk mengantar kesana – kemari Dija yang terus terang saja kalah telak dari Maharani, fotomodel kece dan kekasih tersayang. Di kampung, saya bagai terperangkap dan tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin karena saya dibayang-bayangi rasa bersalah dan semacam ‘Utang” pada Ayah-Ibu disebabkan hingga saat ini, tepatnya 8 tahun, kuliah saya belum rampung-rampung. Setiap tiba pertama kali di kampung , saya langsung disergap pertanyaan: “ Kapan kamu selesai?”. Sayapun telah menyiapkan jawaban pemungkas: “ dalam abad ini!”
Saya selalu alergi dengan pertanyaan – pertanyaan seperti itu.
Aktivitas kegiatan kemahasiswaan saya di kampus sudah demikian padatnya, ditambah lagi beberapa dosen yang sentimen karena ulah saya cenderung “mbabelo” (menentang red), sampai-sampai ada beberapa mata kuliah yang belum lulus juga, meski tiap semester diprogramkan. Dengan alasan-alasan tersebut, saya belum mampu menyelesaikan study dengan cepat. Padahal sejak lama Ayah-Ibu “ngidam” ingin menghadiri acara wisuda saya, anak sulungnya.
Sekarang, saya terpaksa harus pulang. Sepucuk telegram datang tadi siang menjelaskan segalanya. Ibu sakit keras dan gawat. Untuk wanita mulia yang telah melahirkan saya di dunia fana ini saya tak punya alasan sedikitpun untuk tidak pulang. Dengan cepat saya berkemas-kemas dan segera berangkat ke terminal angkutan : pulang kampung!.
Didalam bis , saya kembali dihinggapi perasaan tidak enak, sebentuk keresahan menggayuti kisi-kisi hati saya. Ini selalu terjadi setiap kali saya pulang ke kampung. Di wajah saya terbayang wajah putus asa Ayah-Ibu yang prihatin serta ekspresi ceria Dija, perawan kampung yang berkulit hitam legam dengan muka dan body yang sungguh tidak proporsional. Saya seperti bermimpi buruk, buruk sekali!
Setelah menempuh 8 jam perjalanan, saya tiba kembali di kampung halaman, tempat saya lahir, tumbuh dan dibesarkan secara tradisional dimana sekarang telah menjelma sebagai pemuda modern berfikiran maju dan sejuta pengalaman tangguh sebagai aktivis mahasiswa kawakan. Saya menyapu pandang ke sekeliling. Tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu saat saya tinggalkan pada lebaran setahun lalu.
Pintu rumah berderit keras ketika saya menguaknya. Dihadapan saya terbentang pandangan yang sanggat mengiriskan. Ibu terbaring sekarat, dikelilingi ayah dan adik-adik saya serta paman. Saya langsung meletakkan tas dan langsung bersimpuh di sisi pembaringan ibu. Keharuan menyelimuti hati,. Dengan lembut saya mencium kening ibu.
Ibu memandang saya dengan tatapan lesu. Saya trenyuh. Kami semua terdiam. Sepi melingkup suasana.
“ Kau pulang, nak?” Tanya ibu lirih. Saya tersenyum dan mengangguk pelan. Ibu lalu memeganggi tangan saya. “ Harapan ibu dan keluarga tercurah kepada kamu, nak. Jangan kecewakan ibu dan keluarga kita, saya menyahut dengan tenggorokan tercekat. Ibu tersenyum lega.
Ayah angkat bicara. “kami semua sepakat untuk melaksanakan amanah ibu”.
Saya mengerutkan kening. “Amanah apa?”, Tanya saya.
Ibu kembali memegangi tangan saya.
“Ibu ingin kamu hidup bahagia, sebelum ibu meninggalkan kalian. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dan belajar di kota. Sampai sekarang tidak ada hasil. Ibu dan kami semua menginginkan kamu untuk segera menikahi Dija.” Tutur ibu jernih.
Saya seperti merasakan petir di siang bolong, menyambar kepala. Ini sangat mengejutkan dan tak terduga.
“ tapi…bu…” saya mencoba menyela.
” Kami tak punya pilihan lain, nak. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk membiayaimu kuliah, termasuk sawah yang kini telah ayah jual ke ayah Dija, calon istrimu itu”, kata ayah dengan suara bergetar. Saya mengigit bibir. Saya dihadapkan pada sebuah dilema yang sangat sulit, dan saya merasa tidak berdaya. Seluruh persendian tubuh saya lemas dan seperti terlepas.
DUA hari setelah pernikahan saya dan Dija, ibu meninggal dunia. Dalam tidurnya yang panjang beliau tersenyum, beban yang menghimpitnya bagai terlempar jauh. Saya telah memutuskan untuk berhenti kuliah dan menjadi petani yang baik, mencari nafkah bagi anak dan istri saya. Saya akan berusaha untuk mencintai Dija, bukan hanya atas dasar“hanya ingin membahagiakan serta melaksanakan amanah ibu”. Saya fikir, saya telah terlatih untuk itu: belajar mencintai. Pengalaman sebagai aktivis telah memberi saya banyak pengalaman berharga.

Dimuat di Surat Kabar Kampus "Identitas" - Universitas Hasanuddin, 8 Januari 1993




Friday, September 10, 2004

WISUDA

LELAKI muda itu memandang bintang berkelip di langit dengan tatap hampa. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari hidungnya. Bulan muncul sepenggal dari sisi langit sebelah timur, menyimak awan dan perlahan bergerak ke atas, menuju puncak malam.
Sinar redupnya menyinari hamparan sawah yang kering kerontang. Hasan, lelaki muda itu, tak juga bergeming dari tempatnya berpijak. Dengan gerakan kaku ia mengambil sebatang rokok dari kantong, lalu menyalakannya. Pijar api rokoknya menghiasi pekat malam. Asapnya menguap diserap udara malam yang dingin.
Hasan beringsut lalu mengambil posisi menjongkok, kemudian melemparkan pandangan ke depan sawah di belakang rumah sederhananya terlihat begitu merana. Kemarau panjang telah menyebabkan sebagian besar padi itu, adalah tempat kehidupan segenap keluarganya bergantung. Ia sendiri, yang cukup beruntung mengenyam pendidikan tinggi dibandingkan kedua adik perempuannya, merasa memiliki “hutang” yang teramat besar pada hamparan sawah 1 hal itu.
Kini, ia berhasil “ menebus” hutang tersebut dengan menyelesaikan study pada Fakultas Teknik Mesin. Sebuah masa yang sangat pendek bagi aktivitasnya di kampus yang sangat dicintainya. Masih tergiang di telinganya ucapan Ketua Sidang saat yudisium, minggu lalu, usai ia melaksanakan ujian Sarjana Lengkap:
“ Dengan ini Anda berhak menyandang gelar Sarjana Teknik sekaligus meniggalkan atribut kemahasiswaan Anda pada jenjang pendidikan S1. Selamat!”.
Sebentuk keharuan dan kebanggaan mendadak meggelepar, bersamaan itu ada kesedihan menohok di hatinya. Ia sedih karena kegiatannya sebagai aktivis kampus mesti ditinggalkan. Meski ini berlangsung secara alamiah, tak urung membuat batinnya tak rela. Sepak terjang legendaris yang telah dilakukannya di kampus selama ia menyandang atribut itu, tak hanya menjadi wujud eksistensinya tetapi juga adalah catatan emas dan referensi yang selalu dikenang kapan saja.
Hasan menghirup dalam-dalam rokok kreteknya.
Besok, ia akan mengikuti wisuda sarjana. Suatu prosesi megah yang menandai pelepasannya dan segenap alumni unuversitas ini. Ia tiba-tiba merasa gundah. Perjalanan hidup kemahasiswaannya selama lebih kurang 8 tahun itu terasa sangat singkat. Ia masih ingin betul, ketika bersama kawan-kawanya mengadakan demonstrasi ke kantor DPRD dan Rektorat, memprotes kebijakan sepihak yang merugikan mahasiswa atau diskusi hangat di kampus tentang Postmodernisme, Situasi Politik Indonesia, Kondisi Lembaga Mahasiswa sampai kecantikan mahasiswi idaman yang memikat hati para aktivis, di tengah malam dan disertai kopi panas mengepul-ngepul, atau juga liku-liku perjuangannya sebagai wartawan kampus memburu sumber berita bahkan sempat mendapat lemparan sandal dari responden yang bersangkutan
Hasan tersenyum sendiri mengenangnya.
Lantas ada juga cerita tentang Rita.
Perempuan bermata kejora yang memporak-porandakan hatinya. Kisah itu dijalin begitu mesra sejak mereka berdua saling kenal pada acara latihan Jurnalistik Mahasiswa 3 tahun yang lalu. Rita memang sangat mempesona. Parasnya yang putih bersinar membuatnya terpukau sekaligus terpuruk. Ia tak kuasa membendung betot mangis Rita yang ketika itu menjadi salah seorang peserta kegiatan tersebut.
“ Kamu siap menjadi kekasih seorang aktivis?” tanyanya pada Rita, suatu sore di Pantai Losari, saat hubungan mereka sudah “ jadi”. Rita tak segera menjawab, ditatapnya debur ombak yang menghempas di bibir pantai.



“ Saya akan siap menanggung segala resiko Bang Hasan. Syaratnya Cuma satu: Jangan pernah mengabaikan saya! Itu saja, “ sahut Rita akhirnya sembari merebahkan kepalanya di bahu Hasan.
Seketika langit seperti dihiasai warna-warni pelangi.
Kalau kemudian Rita memutuskan hubungan secara sepihak, sebabnya segera dapat ditebak. Ia mengabaikannya!. Bagaimana tidak? Ia lebih memilih menghadiri diskusi mengenai Dinamika Partai Politik Indonesia di kampus ketimbang menghadiri acara Ulang Tahun Rita. Dan tidak hanya itu, banyak event-event penting yang sangat didambakan Rita bisa dilakukan bersama Hasan terpaksa harus batal.
“ Saya selalu menetapkan skala prioritas saya, Rita. Tolong kamu pahami itu. Dan ingat kamu sudah siap menerima resiko itu bukan?” ujarnya memberikan penjelasan.
Tapi Rita tak mendengar. Esoknya ia menerima surat singkat dari Rita. Isinya: “Kita putus. Silahkan kamu bercinta dengan cara kamu sendiri. Tidak sengan saya. Selamat Tinggal!”.
Berikutnya, Perempuan-perempuan setelah Tita, seperti Santi, Heny, Tina dan Candra, juga melakukan tindakan serupa. Tampaknya mereka tidak siap menghadapi resiko apalagi diabaikan. Dan berdasarkan alasan itu Hasan akhirnya memutuskan “ memilih untuk tidak memilih,” sampai sekarang.
Hasan terkekeh sendiri. Seekor jengkrek mengerik di sudut pematang . Ia menyalakan rokok kedua. Bulan di atas sana sudah menampakkan bentuknya secara keseluruhan.Bulat bundar dengan sepotong awan tipis mengait pinggirnya.
“ San, togamu mau disetrika nggak?” terdengar ibunya bertanya dari pintu rumah yang terletak tidak jauh dari tempatnya berpijak. Ia menoleh.
“ Nggak. Nggak perlu, biar begitu saja!” sahut Hasan setengah hati. Ibunya tak bertanya lagi setelah itu.
Kembali Hasan menekuni rokoknya.
Lalu kenangan kembali berlari di benaknya.
Waktu itu, ia dengan mata menyala-nyala, menghadap ke Dekan Fakultas mempertanyakan dan memprotes sejumlah Dosen yang tidak pernah berikan kuliah.
“Itu tak adil, pak. Mereka telah dibayar untuk menunaikan kewajibannya. Kok mereka seenak perut tidak hadir tanpa pemberitahuan sebelumnya?. Inikan merugikan mahasiswa, Pak?” kata Hasan mewakili rekan-rekannya yang segera disambut tepuk riuh.
Seketika ia menikmati kejadian itu, perasaannya melambung . Ia seperti jadi pahlawan. Sekurang-kurangnya di mata kawan-kawan. Kembali Hasan mengisap rokoknya dalam-dalam. Kali ini lebih Khidmat dan bergetar hingga ke tulang sum-sum.
Besok, saat wisuda, sebuah etape telah diakhiri untuk kemudian melanjutkan ke etape berikutnya. Saya akan ke mana, saya tidak tahu, batin Hasan. Jejak-jejak sepak terjang semasa menjadi aktivis mahasiswa tinggal kenangan manis belaka. Hasan mengigit bibir. Mendadak ia kepingin bermimpi menjadi mahasiswa lagi . Dan ternyata ia membuktikannya dengan sukses.
Esok harinya, Ayah dan Ibu Hasan yang telah berpakain rapi yakni jas hitam dan kebaya ungu berdiri melongo ke depan pintu kamar Hasan yang terkunci rapat. Pada pintu yang terbuat dari tripleks itu tertempel tulisan di atas secarik kertas lusuh. Isinya: Buat Ayah dan Bundaku tersayang. Maafkan. Ananda tidak bisa mengikuti wisuda hari ini. Ananda ingin tidur dan bermimpi jadi mahasiswa lagi.

Dimuat di Harian Fajar Makassar, 2 Oktober 1994






PARTITUR


MENGENAL Hamzah, bagi saya, seperti mengenal diri sendiri. Antara saya dan dia, hampir tak ada jarak. Sangat karib, Keakraban saya dengannya dimulai sejak kami sama-sama masuk ke Sekolah Menegah Pertama Negeri di kota kami. Waktu itu, ia merupakan siswa pindahan dari sebuah SMP di pulau seberang. Sebagaimana layaknya siswa baru, ia sedikit mengalami perpeloncoankecil dari teman-teman sekelas.
Saya, yang duduk sebangku dengannya, selalu bertindak sebagai pembelanya. Bahkan sering menjadi tempat pengaduan atas ulah teman-teman kami. Sifatnya yang agak tertutup, tampaknya menjadi sasaran empuk sebagai bahan godaan. Demikianlah, kami menjadi kian akrab saja.
Apalagi rumah Hamzah tidak terlalu jauh dari rumah saya sehingga bukanlah merupakan hal sulit untuk menjalin persahabatan dengannya.
Tahun demi tahun berlalu, hingga “menginjak” tingkat Perguruan Tinggi kami tetap menjadi dua sahabat yang erat. Ia memilih Fakultas Sastra, sesuai keinginanya yang menyukai hal-hal yang berbau seni. Dan saya masuk ke Fakultas Teknik.
Meskipun begitu, persahabatan kami tetap berjalan hangat. Melewati tahun kedua di Fakultasnya, Hamzah terlihat sangat menonjol terutama dalam hal olah seni, khususnya bermain piano. Bakatnya tersebut memang sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SLTP. Pada setiap even kesenian, baik di sekolah maupun kegiatan lomba di kota kami, ia selalu tampil cemerlang. Kini, dia cukup tenar di kalangan kampus kami sebagai pianis handal. Bahkan, pada saat dilaksanakan konser di Auditorium Universitas kami, ia menjadi bintang panggung yang mendapat tepukan tangan riuh dari penonton.
Sebagai sahabatnya saya bangga akan prestasinya. Apalagi, setiap tampil Hamzah selalu membawakan lagu-lagu terbaru ciptaanya sendiri, dimana setidaknya menggambarkan ia punya kreativitas yang tinggi. Sebelum ia “manggung” , sehari sebelumnya ia mendatangi saya membawa partitur ( susunan not-not balok yang tertulis di atas kertas ) lagunya. Ia memperlihatkan kepada saya sembari bersenandung kecil menyanyikan lagunya, setelah itu ia meminta pendapat tentang lagu tersebut.Saya termasuk awam dalam hal mengapresiasikan sebuah lagu, apalagi lagu “berat” untuk pengelaran musik sekaliber konser dengan orkestra lengkap.
Tapi saya tak ingin mengecewakan dia. Dengan penghayatan paling naïf bahkan primitif – tentang sebuah lagu, saya memaparkan apa yang saya rasakan seekpresif mungkin.Herannya, Hamzah selalu menyambut antusias saya dihargai. Barangkali, hal tersebutlah yang membuat persahatan saya dan Hamzah tetap langgeng.
Ia sama sekali tak mau di sebut sebagai “musikus”. Nanti terkesan seperti tikus yang menyukai musik,” katanya suatu hari. Panggilan “pemusik “, tampaknya lebih sreg di hatinya meski tak jarang membuat saya berfikir, “kedua sebutan itu maknanya tak jauh berbeda. “Tapi tak apalah, hal tersebut bukanlah sesuatu yang besar untuk diperdebatkan, Pokoknya apa yang baik bagi dia , tentu baik pula bagi saya. Demikian pula sebaliknya.
Sore ini, ia datang lagi ke rumah saya.
“ Hai, pak pemusik, dari mana saja heh?” sapa saya sama Hamzah sembari meletakkan majalah yang saya baca di atas meja.
Hamzah tak menjawab. Ia langsung menghenyakkan pantatnya di atas kursi, kemudian menyalakan rokok.
“ Saya mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua Senat,” kata Hamzah tenang tanpa mengacuhkan sapaan saya. Asap rokoknya mengepul-ngepul.
Saya terkekeh, “Suprais, apa pula ini?. Saya mendadak teringat, tempo hari ia juga membawa kejutan nyaris serupa. Waktu itu ia menyatakan “ naksir” pada Irma kembang Fakultas Ekonomi yang foto model.
Sama dengan saat ini saya cuma mencibir ketika ia menyatakan niatnya, bahkan dengan sangat tega saya pernah nyelutuk “ Ham, apa kau sudah ngaca?” . Tapi ia tak menanggapi. Manusia satu ini memang bernyali baja.
Dengan mengandalkan potensi yang dimilikinya, ia berhasil menggait Irma. Malah, dengan sangat demonstratif, ia membawa Irma bertandang ke rumah saya. Lagak mereka mesra sekali, bagai sepasang merpati sehidup semati. Bukan main, lelaki introvert yang saya kenal dulu. Kini menjadi seorang”gentle” idola gadis-gadis, termasuk gadis secantik Irma sekalipun.
“ Kenapa diam, Rud? Kau kira aku main-main,ya? Tanya Hamzah membuyarkan lamunan saya. Ia kelihatan agak kesal.
“ Saya percaya kamu, Ham. Percaya. Tapi atas dasar apa ?” saya balik bertanya, sembari menatap tajam ke arahnya. Hamzah seperti menghindari tatapan mata saya. Ia tercenung.
Di sana, mentari mulai beranjak keperaduan meninggalkan jejak-jejak merah saga. Burung – burung kembali kesarang.
Saya ingin beraktualisasi diri, kata Hamzah singkat. Lalu diam. Saya mengangguk – angguk mengerti.
“ Prestasimu sebagai pianis kampus, saya kira, cukup menjadi ajang aktualisasi dirimu. Kau sudah polulis. Nah, apa lagi?” kata saya mencoba seloroh.
Hamzah seperti tersinggung. Rahangnya mengeras. Ia memang agak perasa, saya kenal wataknya.
“ Belum cukup,” Rud. Belum Cukup,” desisnya geram. Dihirupnya dalam-dalam rokok kretenya. Ia memandang hampa ke depan.
Gelap sudah merata. Mentari ditelan bumi.
Saya tersenyum samar.
“ Apanya yang belum cukup Ham? Tanya saya lagi. Kali ini agak nekat. Saya tahu ia pasti tidak respek untuk menjawabnya. Saya hanya ingin melihat reaksinya.
Ia menggeliat resah. Kursinya berderit ketika ia memperbaiki posisi. “ Pengakuan katanya singkat.
Saya menatapnya tak mengerti. Hamzah kemudian mengalihkan pembicaraan. Ada hal lain. Saya paham, ia tak senang, saya “menggorek ngorek”, soal pencalonannya sebagai Ketua Senat.
Lalu percakapn rutin sebagai dua orang sahabat dekat mengalir hangat. Menjelang pulang ia menitip pesan pada saya.
"Besok kamu harus datang. Saya akan kampanye dan diskusi tentang kandidat. Terserah, kamu mau datang sebagai sahabat atau pemerhati. Tetapi lebih baik lagi sebagai juru kampanye!” kata Hamzah sambil mengedipkan sebelah matanya. Saya mengangguk menyanggupi.
Hamzah beranjak pergi. Binar matanya seperti masih terasa.
Esoknya saya datang cepat, ia berdiri di atas podium. Gagah dan penuh keyakinan. Dengan gaya bertutur yang menarik, bahasa yang memikat serta intonasi yang tepat.Hamzah tampil simpatik dan kharismatik. Ia berhasil memukau khalayak pendengarnya, melalui berbagai ilustrasi-ilustrasi yang mendukung pidatonya.
“ Mengembalikan dinamika kemahasiswaan, seperti membaca bait-bait partitur diperagakan antisipasi dan gerak tanggap terhadap uraian not-not balok yang tertera agar menghasilakan irama yang indah serta aksentuasi ritmik yang profesional. Demikian pula di dunia kemahasiswaan.Dengan variasi karakter dan aspirasi mahasiswa yang berbeda-beda, dibutuhkan gerak tanggap seperti layaknya membaca partitur …yang responsif untuk menanganinya. Cepat tapi pas, tangkas. Namun lugas. Sebuah “ Gaya kepemimpinan Pertitur”, tampaknya itu yang cocok kita terapkan dalam kondisi kelembagaan dan dinamika kemahasiswaan di kampus ini," ujar Hamzah berapi-api.
Kami para pendegarnya, seperti dihipnotis dibuatnya. Pesona dan wibawa Hamzah membawakan kanpanye, tak pelak membuat lapangan tempat kegiatan itu berlangsung bergemuruh oleh tepukan riuh dan decak kagum hadirin.Dapat ditebak, akhirnya, Hamzah berhasil meraih cita-citanya. Ia tak berkata apa-apa ketika saya menjabat tanganya mengucapkan selamat. Senyum di bibirnya dan matanya yang berbinar-binar, menyiratkan ia betul-betul mengalami kebahagiaan luar biasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Hamzah lantas memeluk saya dengan erat-erat. Bibirnya bergeter ketika berucap “ Rud, saya akan bikin lagu. Sebuah partitur dengan nada-nada surga. “ Saya mengangguk-angguk mahfum.
“Bikinlah, Ham. Bikin. Pendengarkan pada dunia”. Saya berkata dengan rasa haru menyesak dada.
Hari-hari berikutnya, adalah hari-hari yang sibuk bagi Hamzah. Sebagai Ketua Senat ia memikul tangung jawab besar yang kemudian banyak menyita waktu dan pikiran.Pada gilirannya, ia tidak produktif lagi menulis lagu seperti yang dilakukan sebelumnya.
Ia tiba-tiba menjadi seorang” yang lain “ dalam pandangan saya. Selain jarang bertandang ke rumah, Hamzah pun nyaris tak punya waktu menyapa ketika kami kebetulan berpapasan di rektorat. Waktu itu ia Cuma melambaikan tanggan lalu bergegas masuk ke ruangan pembantu Rektor III sambil mengepit map proposal.
Saya memang agak kecewa, Hamzah telah banyak berubah.
Saya lalu mencoba untuk tidak memusingkannya “ dengan atau (juga) menyibukkan diri pada tugas-tugas praktikum di laboratorium dan Penelitian Tugas Akhir. Tingkah Hamzah sudah mengendap dalam ingatan saya. Ia tiba-tiba lenyap dalam kehidupan saya, sementara saya pun bagai enggan peduli, kesibukan itu menjadi dalih yang sangat kuat. Keadaan ini berlangsung hingga bulan keenam, Hamzah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra.
Sampai suatu hari, menginjak bulan ke tujuh ia menjabat Ketua Senat, Hamzah datang ke rumah saya dengan ekspresi wajah murung, tak bergairah. Saya sangat terkejut melihat sosoknya kali ini. Kurus kerempeng dengan mata cekung, sangat berbeda dengan Hamzah yang saya kenal dulu. Seperti biasa saya selalu menyanbutnya dengan hangat dan akrab.
“ Hai, tumben kamu kemari, Ham. Ada apa ni, Bung Ketua Senat?” saya menyapanya akrab.
Hamzah tak menjawab.
Raut wajahnya bagai menyiratkan penderitaan yang dalam. Ia begitu lain, sangat lain.
“ Rud,” kata Hamzah lirih, nyaris tak terdengar. “ Saya sudah kalah. Amat telak. Mereka mahasiswa yang dulu mendukung saya ….. mengirim mosi tidak percaya ke BPM ( Badan Permusyawa-ratan Mahasiswa ) dan Dekan.
Mereka juga memasang Pamflet dan selebaran yang menghujat kepemimpinan saya. Saya dikudeta, dengan amat keji. Saya sudah kehilangan segalanya”.
Hamzah bertutur seperti orang kehabisan energi. Ia kemudian menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Saya jadi kasihan melihatnya.
“ Sudahlah, Ham. Kehidupan memang, sulit diduga. Sesuatu dapat terjadi tanpa kita dapat memperkirakannya sebelumnya. Ini sebuah resiko. Hadapi dengan tabah. Ingat, Ham. Masih ada saya, sahabatmu,” saya mencoba menghiburnya seraya menepuk-nepuk pundaknya.
Hamzah mengangkat wajah. Duka di matanya belum menghilang.
“ Ternyata, menangani mahasiswa bukan seperti membuat dan membaca partitur, Fluktuasi melodinya sukar ditebak dan ritme dinamika kehidupan tidak setertib untaian not-not balok pada partitur. Saya lupa, betul-betul lupa. Selama ini, saya sudah terlena. Saya menganggap dunia yang saya geluti sekarang adalah cakrawala dengan denyut yang dapat saya jinakkan dan irama yang dapat saya mainkan begitu saja. Saya keliru. Saya begitu bodoh dengan mendikte kehidupan yang tanpa saya sadari, ternyata, hal yang terjadi justru sebaliknya, “ujar Hamzah dengan penuh penyesalan.
Saya tersenyum tulus, Hamzah menghela nafas panjang, kemudian menoleh ke arah saya.
“ Kau begitu baik, Rud. Maafkan saya telah melupakanmu,” kata Hamzah balas tersenyum.
“ Kita sama-sama sibuk, Ham. Saya bahkan tidak tahu perkembangan teakhir yang terjadi di Fakultasmu,” kata saya berusaha menempatkan diri pada posisinya. Saya tidak ingin ia merasa terlalu "bersalah”.
“ Ngomong-ngomong, kita ke rumahku, yuk! Ajak Hamzah. “ Saya ingin membuat lagu. Sudah lama saya tak melakukannya,” katanya lagi.
“ Bagaimana dengan Irma? Apa tidak lebih baik kau ke rumahnya?” saya mengajukan alternatif.
“ Kami putus,” sahut Hamzah enteng.
“Lho, koq bisa ?” saya agak terkejut mendegarnya.
Hamzah Cuma menyengir kuda, lalu menjawab,” saranmu dulu ternyata cocok. Saya harus bercermin dulu sebelum berkencan dengannya".
Kami tertawa bersama.
Hamzah terlihat sangat bahagia. Kami menyusuri pantai losari dengan motor butut milik saya. Malam yang indah, kami betul-betul menikmatinya. Telebih bagi Hamzah, segala beban yang menghimpinya bagai diuapka ke udara. Bebas lalu lepas.
“ Bung pemusik, kita mau kemana nih?” Tanya saya sembari memutar kunci motor , setelah kami bersama-sama menikmati nasi goreng dipinggir pantai Losari.
“ Rud, saya tak mau sebutan itu lagi.” Kata Hamzah keberatan.
Saya mengerutkan kening.
“ Lalu?”
“ Panggil saya musikus!” ujarnya tegas dengan kilat jenaka di matanya.
Kami tertawa lagi. Lebih keras.
Ternyata, hidup ini begitu lucu dan menggelikan.

Maros, 22 Agustus 1992

Dimuat di Harian Fajar Makassar, tanggal 6 September 1992