Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Wednesday, October 13, 2004

PENSIUNAN

HIDUP tanpa sempat berbuat dan bekerja apa-apa memang teramat membosankan. Semua serba salah dan menjenuhkan. Lalu aku harus bilang apa ?. Masa pensiun yang baru saja kulewati lima hari--dengan dua anak yang telah dewasa dan menikah lalu mencari kehidupan sendiri-sendiri, serta status duda ditinggal istri tiga tahun silam, bermukim di rumah besar dan megah yang hanya didampingi si Ijah, sang pembantu dan si Otong, tukang kebun--benar-benar membuatku seperti kafilah yang tersesat di gurun pasir yang gersang. Sepi, sunyi dan yang paling kubenci : sendirian !.
Sebagai mantan kepala instansi pemerintah, aku telah sangat terbiasa dengan rutinitasku. Sarapan pagi ; berangkat ke kantor diantar Dirman , supir mobil dinas ; membalas sapaan “selamat pagi” dari para bawahan; menerima telepon ; memimpin rapat ; menandatangani surat-surat ; kembali ke rumah ; baca koran sore sambil minum kopi panas ; nonton TV ; tidur dan siklusnya berulang lagi dari awal. Begitu seterusnya. Ibarat roda berputar, selama 10 tahun aku memangku jabatan.
Kini semua telah hilang. Sejak serah terima jabatan dengan Pak Indra, lima hari lalu, segala bentuk “rutinitasku” seperti direnggut paksa olehnya. Bayangkan, semua yang telah menjadi bagian yang satu dengan jiwa dan hidupku mendadak sirna, sehari setelah acara serah terima jabatan—yang “brengsek”—itu.
Terus terang, aku sangat membenci itu semua. Kebencianku tiba-tiba naik ke ubun-ubun saat Dirman mengucapkan kata-kata perpisahan.
“Pak, hari ini adalah hari terakhir saya mengantar Bapak. Besok, saya sudah harus mengantar Pak Indra. Maafkan atas segala kesalahan saya dan...”. Belum sempat Dirman menyelesaikan kalimatnya, aku segera menukas ketus, “ Sudah, pergi sana. Bapak memang sudah pensiun dan kita tidak punya hubungan apa-apa lagi”. Dirman, seperti biasa mengangguk pelan dengan kedua belah tangan disedekapkan, sebagai simbol kepatuhan yang sangat kukenal darinya bertahun-tahun.


Copy Cerpen"PENSIUNAN"

Aku memang ngotot untuk mencari alasan pembenaran atas segala tindakanku dan itu “dibahasakan” oleh Nastiti, putri tertuaku,sebagai “Keras Kepala”. Istilah ini mencuat karena menolak mentah-mentah keinginannya untuk menikah dengan Mukhlis, si pelukis kere. Kalaupun kemudian mereka jadi melangsungkan pernikahan dan sekarang tinggal menetap di Ambon, itu tetap tidak mengubah keputusanku untuk tidak berhubungan lagi dengannya.
Hal yang sama juga aku berlakukan pada Firman, anak bungsuku yang minggat ke Yogya, karena hasratnya ingin menjadi pelukis—mengikuti jejak iparnya si Mukhlis kere yang tiap hari hidup bersama “idealisme” itu. Kabar terakhir yang kudengar dari Firman, ia telah menikah dengan putri seorang priyayi Yogya. Meski telegramnya datang seminggu sebelum pernikahannya, aku tetap menolak menghadirinya. Aku memang tidak mema’afkan sikapnya menentangku dengan sengit , 2 tahun silam. Aku selalu berusaha menemukan alasan pembenarannya meski terkadang harus mengorbankan perasaan. Tak dapat kuingkari, dari sanubari paling dalam, aku sangat mencintai kedua darah dagingku itu.
Istriku, Narti dan Lisa, anakku yang kedua, yang kuanggap paling mengerti keinginanku. Mereka sangat penurut dan tahu apa yang mesti dilakukan untukku. Sayang, kecelakaan lalu lintas yang fatal merenggut nyawa mereka 3 tahun yang lalu. Aku sangat terpukul. Aku seperti terhempas dan terpuruk tanpa daya. “Energi” hidupku mendadak sirna. Musnah, tak menyisakan apa-apa.
Sekarang, semua sudah berakhir. Jabatan, sebagai satu-satunya harapan untuk membangkitkan semangat hidupku juga lenyap. Aku dipaksa untuk menikmati kesendirian, lepas dari segala rutinitas yang selalu membuatku terpikat. Aku memang tak tahu harus berbuat apa saat ini. Hanya tinggal mengenang-ngenang masa silam yang indah diatas kursi goyang yang setiap deritnya seperti palu godam menghantam kepalaku.
Aku memandang keluar lewat jendela yang buram terkena tepisan hujan. Tirai-tirai air jatuh dengan deras. Mendadak aku teringat masa-masa awal pernikahanku dengan Narti di sela-sela era revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan. Kami menempati sebuah gubuk kecil sederhana dengan satu kamar. Disitulah kami mulai melakoni hidup. Narti tidak pernah mengeluh dan menuntut macam-macam. Dengan sabar dan telaten ia mendampingiku mengarungi bahtera perkawinan kami. Nastiti, Lisa dan Firman lahir satu-satu. Kebahagiaan kami terasa makin lengkap. Aku mengikuti kuliah dengan tekun sembari “nyambi” di pabrik gelas. Setelah menyelesaikan kuliah dengan menyandang gelar kesarjanaan, perlahan tapi pasti, kehidupan kami mulai mapan. Aku diterima di salah satu instansi pemerintah terpandang. Karierku melonjak pesat dan akhirnya dalam waktu tak terlalu lama berhasil meraih jabatan “Kepala”.
Aku merasakan kehormatan luar biasa disematkan di pundakku. Para bawahan menunduk patuh dan aku melaksanakan tugas dengan kebanggaan meluap-luap. Aku mulai membentuk kharisma dan wibawa magis yang membuat seluruh staf dan bawahanku tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menyenangkanku. Selama kurang lebih 10 tahun aku seakan berada di singgasana yang megah dan sebentuk “kemuliaan” yang gemerlap.
Narti, juga menyanjungku dengan caranya sendiri. Dengan kesederhanaannya yang memukau, ia memanjakanku dengan hidangan masakan gurih dan lezat setiap malam. Tanpa berkedip, dari matanya yang teduh dan jernih, ia memandangku menyantap makanan dengan lahap. Senyumnya mengembang. Aku tahu, meski tidak mengungkapkannya secara langsung, Narti begitu menghargai prestasi yang berhasil kuraih. Sejak pertama kali mengenalnya, kepribadian Narti yang bersahaja, anggun, pendiam dan cenderung introvert langsung membetot syaraf kelelakianku. Ketika melamarnya menjadi istriku, ia mengungkapkan persetujuannya dengan cara yang khas. “Datanglah besok. Kalau aku memakai gaun putih berarti aku tidak menolak. Sebaliknya, kalau aku memakai gaun berwarna lain berarti keberuntungan belum ada di pihak Abang”. Aku makin penasaran. Dan ketika esoknya aku datang lagi. Aku segera tahu, “Dewi Fortuna” ada di pihakku. Ia berdiri menyambutku di beranda depan rumahnya mengenakan gaun putih.
Aku menitikkan air mata mengenangnya. Kini ia telah tiada. Pergi ke alam baka bersama, Lisa, putri kami, yang mewarisi watak dan senyum ibunya. Mendadak aku merasakan sunyi yang amat mencekam. Rumah besar dengan 6 kamar yang kini kutempati ibarat istana hantu. Sepi dan menakutkan.
Aku jadi rindu pada kehangatan keluarga. Dulu, kembali dari kantor, aku langsung disambut mesra oleh istri dan anak-anakku. Nastiti dan Lisa menggayuti lenganku dan Firman minta digendong. Narti mengambil alih tas kantorku sembari mengulum senyum manisnya. Kebahagiaan seperti merasuk ke dalam sum-sum tulangku. Mereka menyambutku, setiap hari, seperti menyongsong pahlawan pulang perang. Aku sangat terharu, dan itu membuatku makin bersemangat menunaikan tugas.
Pada saat-saat hujan seperti ini, Firman dan Lisa meringkuk di pangkuanku. Takut kilat, katanya. Mereka kudekap erat dan kualirkan kehangatan cinta seorang ayah. Aku membujuk mereka dengan kalimat-kalimat yang menyejukkan. Nastiti melecehkan kemanjaan adik-adiknya. Mereka saling menyahut, bertengkar sengit dan didamaikan ibunya. Aku merasa ini menjadi irama hidup yang teramat indah.
Tiba-tiba aku disengat kerinduan pada dua anakku yang tersisa : Nastiti dan Firman. Sedang apa mereka sekarang, aku membatin. Mereka berdua, sering mengirim surat kepadaku, meski tak pernah kubalas. Nastiti sudah punya 2 orang anak lelaki. Yang pertama, katanya hidungnya mirip denganku. Agak mancung aristokrat. Sedangkan anak yang kedua, mewarisi keahlian ayahnya melukis dan mencorat-coret dinding. Dalam surat-suratnya, Nastiti sangat bangga menceritakan kehidupannya yang damai di Ambon.
Firman lain lagi. Tahun ini, dia bakal menggelar pameran lukisan di salah satu galeri terkenal di Jakarta. Dan ini akan menjadi momentum penting dalam perjalanan kariernya sebagai pelukis. Firman juga menceritakan ia sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Dari surat-surat Nastiti dan Firman, tidak sedikitpun menyinggung soal kebencian mereka terhadapku karena aku menentang pernikahan mereka.
Diam-diam, aku jadi menyesali keangkuhanku selama ini. Mereka telah dewasa dan memilih jalan hidup mereka sendiri. Firman dan Nastiti tahu apa yang terbaik buat mereka. Aku terkenang, tangis pelan Narti istriku saat aku melarang Nastiti menikah dengan Mukhlis. Narti yang welas asih menunjukkan pemberontakannya dengan air mata. Aku tetap berkeras. Nastiti pergi , diiringi isak tangis Lisa dan ibunya. Firman mengantar kakaknya. Aku melihat bara bola api di matanya.
Hujan telah berhenti. Dua jam aku duduk disini. Merenung, berkontemplasi diri. Aku menyadari kecerobohanku selama ini Aku ternyata telah melakukan kesalahan yang teramat fatal. Aku harus kembali menata ulang apa yang telah rusak dan mengembalikan semua yang telah hilang dan selalu kurindukan. Akan kutulis surat untuk kedua anakku dan menantuku. Isinya sama :
“Buatkan Lukisan Potret diri ayahmu. Lengkapi dengan pakaian dinas komplit, lengkapi dengan tanda penghargaan. Bawa Lukisan itu kemari, bersama kalian semua. Segera !. Ayah tidak bisa menunggu lama-lama”.

Dimuat di Harian Fajar-Makassar, 24 April 1994

CINTA DALAM SEPOTONG KANGKUNG

MALAM tanpa bintang. Jengkerik berderik-derik, bercengkrama. Angin mati dan pepohonan tegak kaku. Saya menatap dalam-dalam tumis kangkung yang tak habis saya lahap. Potongan-potongan kangkung yang ornamental, tercelup dalam kolam kuah yang eksotik berwarna hijau segar, memberi nuansa tersendiri dalam alam fikiran saya. Kangkung itu punya wibawa magis yang membuat saya seakan terlontar pada pengalaman-pengalaman masa silam.

Saya membantu upaya “pengumpulan” ingatan itu, dengan melirik istri saya, Mira, yang penuh cinta meneteki anak kami, Fatimah. Ia duduk membelakangi saya dan menikmati fitrah keibuannya, secara bersahaja. Dari mulutnya mengalun lagu Nina Bobok, merdu melenakan. Dengkur halus Fatimah terdengar syahdu. Saya tersenyum sembari melangkah pelan ke arah jendela.

Mira tetap cantik, seperti dulu, saya membatin. Saya merasa beruntung memiliki istri seperti dia : anggun dan mempesona. Saya kemudian menyulut rokok dan menghirupnya penuh perasaan. Rimbun asapnya mengepul-ngepul. Maka kenanganpun berlari ke belakang, pada suatu sore 3 tahun yang silam.

* * *


WAKTU itu saya masih ingat betul, Bang Heri, redaktur hiburan tabloid “Gossip Kita” tempat saya bekerja , memanggil.

“Firman !”, serunya dari pojok kanan ruang redaksi. Saya menghentikan ketikan berita dan menyahut.

“Ada apa, Bang?”, saya lalu berdiri dan berjalan kearahnya.

“Saya punya tugas untuk kamu”, kata bang Heri seraya mengangsurkan setumpuk berkas kepada saya. Saya meraihnya, lalu menatap bang Heri.

“Dokumen tadi adalah data pendukung tugas wawancara kamu dengan Mira Saraswati, bintang film “Cintailah Daku Seutuhnya” yang diperkirakan oleh banyak kalangan bakal meraih piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik tahun ini. Kamu wawancarai dia, dan korek informasi serta tanggapannya tentang nominasi yang diperolehnya termasuk latar belakang keluarganya. Selengkap-lengkapnya. Lekas berangkat dan ingat, lusa sore laporan hasil wawancaramu sudah harus diterima . Jangan sampai terlambat !”, tegas bang Heri.

Saya hanya mengangguk mengiyakan. Bang Heri berlalu tanpa memberi kesempatan saya untuk bertanya lebih jauh. Apa boleh buat, sebagai wartawan muda, saya harus selalu siap mengerjakan tugas-tugas di lapangan.


Copy Cerpen "Cinta Dalam Sepotong Kangkung"

Tidak berapa lama, saya telah “meluncur” ke rumah Mira dengan mengendarai motor butut pinjaman Joko, pegawai bagian iklan. Sepanjang jalan, wajah Mira Saraswati terbayang-bayang. Wajah itu memang cukup populer, sebab selain bintang iklan TV dan artis, salah satu posenya menghiasi kalender yang menggantung di kamar kos saya. Ia memang begitu cantik dan menawan.

Kariernya di usia yang masih cukup belia ini memang melonjak drastis. Dalam waktu singkat, ia telah meraih popularitas yang mencengangkan, sesaat setelah membintangi film Box Office-nya “Cinta dan Dusta”. Walau terus terang, saya kurang begitu tertarik terhadap film-film buatan negeri sendiri lantaran mutu acting pemainnya yang jelek dan logika berceritanya cenderung mengada-ada, saya cukup salut pada cara Mira melakoni karakter yang diperaninya. Wajar dan begitu alami. Sewaktu menonton film pertama Mira tersebut , saya sudah menduga ia bakal menjadi bintang film terkenal. Dan tampaknya, dugaan saya itu tak terlalu melenceng jauh. Terbukti, ia masuk nominasi piala Citra, setara dengan bintang-bintang film lainnya yang lebih dulu tampil di dunia layar perak.

Tanpa terasa, saya telah tiba di tempat tujuan.

Saya mencocokkan alamat rumah Mira dengan data alamat rumah yang diberikan Bang Heri. Ternyata pas!. Saya lantas memencet bel yang menempel pada pilar pagar tembok. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki muda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Tampaknya seorang pembantu rumah atau mungkin tukang kebun. Pakaian yang dikenakannya cukup memberi kesan.

“Selamat sore. Apa betul ini rumah Mira Saraswati ?”, saya bertanya.

“Benar, apa Mas mau ketemu dengan mbak Mira ?”, jawab lelaki itu dari balik jeruji pagar.

“Ya, saya wartawan dari Tabloid Gossip Kita..Tolong sampaikan pada mbak Mira, saya mau wawancara. Kemarin kami sudah janji”, kata saya mengungkapkan maksud kedatangan. Lelaki itu manggut-manggut seraya membuka pintu lalu mempersilakan saya masuk.

Rumah Mira betul-betul mentereng. Megah dan Mewah. Taman bunga yang asri terawat rapi, tampak segar dan menyejukkan. Rumah itu bertingkat dua dan bercat putih. Saya diminta duduk di serambi sementara lelaki muda tadi masuk memanggil Mira. Sekitar 10 menit kemudian, sosok Mira Saraswati muncul di depan saya. Ia memakai T-Shirt putih bertuliskan “Public Enemy”dan Jeans biru. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, kelihatannya habis keramas. Saya terpukau sejenak. Mira memang sangat menawan.

Belahan dagu dan dekik pipinya menambah manis penampilannya. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Anda wartawan ?”,tanya Mira mengejutkan keterpesonaan saya. Saya gugup dan menelan ludah. Saya lalu berdiri dan mengulurkan tangan.

“Benar. Kenalkan, saya Firman, wartawan tabloid “Gossip Kita”, saya memperkenalkan diri. Mira menyambut uluran tangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk kembali. Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya sekaligus memohon maaf atas kelancangan saya atas kebohongan : “Sudah janjian kemarin”.

Mirna tersenyum. “Tak apa-apa, itu sudah lagu lama wartawan, saya sudah hapal itu. Nah, apa yang anda mau tanyakan ?”, ucap Mira seraya memperbaiki letak duduknya. Saya lantas mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah diberikan bang Heri pada saya.

“Anda rupanya bukan wartawan profesional”, Mira mencibir.

“Kenapa ?” saya penasaran.

“Itu, anda bawa daftar pertanyaan segala. Wartawan profesional tidak memerlukan itu bukan ?”, kata Mira mengajukan alasan. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Saya agak tersipu tapi kali ini sedikit tersinggung.

“Saya memang masih amatir Nona Mira, tapi bukan berarti saya tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang profesional, daftar pertanyaan ini sekedar menjadi panduan saya agar arah wawancara kita lebih jelas.,”kata saya membela diri dengan nada tajam.

Mira tertawa kecil.

Saya merutuk dalam hati.

“Oke, saya minta maaf kalau anda kurang berkenan. Saya tak punya maksud apa-apa dibalik pernyataan saya tadi. Sekedar bergurau, kok. Saya cuma ingin berusaha membuat suasana lebih santai. Anda kelihatannya sangat tegang dan gugup Oh,..ya, kita ber-“saya - kamu”.sajalah. Panggil saja saya Mira,” kata Mira enteng. Tanpa beban.

Saya menghela nafas panjang. Kejengkelan masih tersisa. Belum apa-apa ia sudah meremehkan saya. Tapi dalam hati, saya mengakui kecerdikannya menguasai keadaan.
Saya kemudian tidak memperdulikan “insiden” tadi, pertanyaan-pertanyaan sayapun mengalir lancar. Yang mengagumkan, Mira mampu menjawabnya dengan baik dan sistematis. Omongannya padat dan bernas. Hal ini menunjukkan bahwa selain cantik Mira memiliki otak yang cukup encer.

Menjelang akhir wawancara, Mira melontarkan pujian.

“Ternyata, pertanyaan-pertanyaan kamu cukup profesional juga. Bahkan lain dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah mewawancarai saya sebelumnya. Kamu lebih jeli melihat sosok Mira sebagai pribadi bukan sosok Mira sebagai artis film. Saya suka itu,” katanya tulus.

“Kamu juga, Mira. Jawaban-jawaban yang kamu berikan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Begitu cerdas dan jujur,” saya balas memujinya. Kali ini Mira yang tersipu. Pipinya memerah. Lagi-lagi saya dibuat terpukau.

“Kapan-kapan kita jumpa kembali. Hasil wawancara ini akan saya berikan pada Mira. Terimakasih atas kesediaannya. Permisi”, saya beranjak pamit.

Mira tersenyum manis. Ia kemudian mengantar saya sampai ke pintu gerbang depan rumahnya. Kami berjabat tangan. Sorot mata kami bicara. Di ufuk barat langit merah jingga. Perlahan berubah menjadi merah jambu.

* * *


KALAU kemudian saya dan Mira jadi sering bertemu. Semata-mata karena kenekadan saya. Saya betul-betul terjerat oleh panah asmara Mira Sudah menjadi watak saya untuk meraih apa yang saya inginkan. Se-ngotot mungkin..Setelah mengantarkan hasil wawancaranya yang dimuat di tabloid “Gossip Kita”dan Mira menyatakan kepuasannya, saya merasa dapat peluang emas. Dan tanpa ampun, kunjungan demi kunjungan pun saya lakukan.

Saya tak mempedulikan lagi status sosial kami yang berbeda : ia artis, kaya dan public figure sementara saya hanya wartawan miskin yang kamar kost saja sering nunggak. Mirapun menampilkan sikap “tidak keberatan” bahkan sangat senang. Saya berusaha tampil apa adanya dan Mira menerima semua itu dengan penuh pengertian. Tanpa sungkan-sungkan, Mira memilih duduk dibonceng nonton ke bioskop atau makan di warung pinggir jalan diatas motor butut pinjaman dari Joko atau Mas Yono tetangga saya, ketimbang membawa mobil BMW pribadinya. Sebuah sikap bersahaja yang membuat saya makin kagum pada sosok Mira.

Sebagaimana biasa bila artis “agak bertingkah” maka tak ayal lagi ia dijadikan bulan-bulanan gossip. Hal ini juga menimpa diri Mira. Dalam beberapa kejap sejumlah “koran kuning” mulai memuat berita hubungan kami secara vulgar dan blak-blakan. Mira tak ambil pusing, sayapun demikian. Meski belakangan ini beberapa orang rekan wartawan memandang iri pada “keberuntungan” yang saya peroleh. Untuk sementara saya dan Mira tak memperhitungkan masalah apapun. Semua lancar dan beres. Bahkan Bang Heri dan Pak Sofyan, pemimpin redaksi”Gossip Kita”, memberikan dukungan penuh pada “gebrakan monumental” saya ini.

“Maju terus, Fir. Kapan lagi kita-kita ini punya ipar artis. Siapa tahu malah oplah tabloid kita naik”, demikian kata Pak Sofyan memberi semangat. Saya hanya menyambut gurauan tadi dengan senyum penuh arti.

Sampai malam itu.

Saya baru saja melangkah masuk ke rumah Mira, ketika percakapan itu terdengar.
“Wartawan itu profesi tanpa masa depan. Apa yang kamu harap dari dia ?”, terdengar suara geledek Pak Sasmita membahana. Saya terpaku di tempat saya berdiri. Bulu kuduk saya meremang. Saya diselimuti perasaan kurang enak.

“Firman baik, Pak. Mandiri dan siap bertanggung jawab. Dia punya keteguhan pribadi dan kematangan sikap yang sangat saya kagumi, Pak. Firman bukan lelaki yang bisa dianggap rendah,” bela Mira sengit.

Diluar, saya tersenyum getir. Mira sangat membanggakan saya.

“Persetan !.Pokoknya, Bapak tak mau lihat kamu bergaul lagi dengan dia, si wartawan kere itu. Titik !” tegas Ayah Mira. Terdengar langkah-langkah kakinya meninggalkan Mira yang isak tangisnya mulai terdengar.

Saya menghela nafas panjang. Ini sebuah resiko, dan saya sudah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saya telah siap menghadapinya seperih dan sepahit apapun. Namun meskipun begitu, saya cukup terpukul atas kejadian tadi. Saya memutuskan untuk pulang, agar persoalan tersebut tidak menjadi makin runyam. Sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan kelanjutan hubungan saya dengan Mira. Akhir yang tragis, saya membatin. Nelangsa.

* * *



SEJAK “perkara” tersebut muncul, saya tak pernah lagi berusaha menemui Mira Untuk kasus ini, saya mesti melakukan langkah-langkah yang lebih realistis. Saya tahu posisi saya dan kesulitan Mira.

Hingga suatu ketika, saat saya tengah asyik melahap tumis kangkung di kamar kost, Mira datang. Matanya menyala.

“Kenapa bang Firman tidak pernah datang menemui saya ?”, semprotnya langsung. Saya meletakkan sendok di mangkuk lalu berdiri dan menatap ke arahnya.

“Ayahmu Mira. Saya dengar semua percakapan kamu dengan ayahmu mengenai saya. Saya tak ingin hanya karena saya dekat dengan kamu, hubungan keluarga kalian retak. Saya tahu bagaimana saya harus menempatkan diri. Saya bukan apa-apa Mira. Hanya wartawan miskin. Tak lebih. Saya sadar, terdapat banyak perbedaan antara kita yang tidak dapat dipertemukan”, saya berusaha menjelaskan dengan tenang.

Mata Mira terlihat mulai memerah. Ia menangis. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya lantas mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Ada cicak berkelahi disana.

“Bang Firman terlalu picik memandang masalah ini. Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya.....”,Mira tak menyelesaikan ucapannya. Tangisnya meledak. Saya menggigit bibir.

“Mira, dengar. Apa yang saya lakukan semata-mata demi kepentinganmu, kebaikanmu dan karir cemerlangmu dimasa datang. Hubungan kita selama ini, boleh jadi, menyebabkan kamu tak leluasa mengembangkan apa yang telah kamu raih selama ini. Kamu artis penuh harapan Mira,” saya meraih dan meremas tangannya. Saya merasa tenggorokan saya tercekat. Ada keharuan yang membuncah.

Mira menengadah. Matanya yang sembab tajam menghunjam. Saya balas memandangnya. Dengan lembut, saya lalu menyeka butir-butir air mata yang mengalir di pipinya. Dalam diam mengalir sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Ia melepas genggaman tangan saya dan berjalan ke arah meja.

“Saya lapar. Masih punya tumis kangkung ?”, tanya Mira memecah keinginan. Suaranya terdengar putus asa. Saya lalu menyiapkan segala sesuatunya di meja. Mira memang biasa makan ditempat saya. Ia sangat menyukai tumis kangkung buatan saya. “Lezat dan eksotik”, katanya suatu ketika. Saat itu saya cuma meringis, sebab terus terang hanya menu itu yang dapat saya buat selain menanak nasi dan telur goreng.
Saya menyaksikan Mira dengan lahap menghabiskan hidangan saya yang sangat sederhana. Nasi plus tumis kangkung. Ia terlihat sangat menderita. Wajahnya yang cantik seperti dibaluri kabut. Pekat dan suram. Saya trenyuh.

Mira mengakhiri prosesi makannya dengan meneguk segelas air putih. Saat saya beranjak untuk membenahi. Ia menyentuh lengan saya.

“Sudah, biar saya, bang” katanya. Saya mengangguk. Dengan keanggunan yang sangat alami, ia membenahi meja. Saya terpukau menyaksikannya.

“Tumis kangkung buatanmu tadi betul-betul enak, bang Firman”, puji Mira tulus yang berdiri membelakangi saya. Ada nada getir dalam kata-katanya.

“Itu cuma soal kebiasaan dan kemampuan meramu bumbu”, jawab saya enteng seraya menyalakan rokok.

Mira tiba-tiba berbalik dan menatap saya lekat-lekat.

Saya terkejut.

“Jadi bang Firman masih mempersoalkan perbedaan-perbedaan, sementara tumis kangkung yang seenak ini dibuat hanya dengan kebiasaan dan keandalan meramu ?. Perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dengan membiasakan dan meracik keberagaman”,tutur Mira jernih.

Saya mengerutkan kening.

“Banyak hal yang perlu kita mengerti sebelum kita menyatakan untuk berbuat. Bang Firman perlu banyak belajar dari tumis kangkung itu”,lanjut Mira sembari tersenyum. Ia lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring.

Saya tercenung. Mira benar dan itu membuat saya merasa makin tak ingin kehilangan dia. Sikap saya keliru selama ini. Saya mematikan rokok yang belum sempat saya isap di asbak, lalu berjalan kearahnya.

“Mira”, panggil saya lirih. Ia menoleh memandang saya. Parasnya yang jelita seperti bercahaya.

“Saya cinta kamu Mira Saraswati”

“Saya juga cinta kamu Firman Agus”, sahut Mira malu-malu. Ia menunduk.

Saya lalu memegang bahunya. Mengalirkan keyakinan.

“Kamu mau bersamaku membangun kebiasaan dan meracik keberagaman ?”

Mira mengangguk kencang-kencang.

“Kamu mau membuat tumis kangkung bersamaku, meramunya secara dashyat dan menikmatinya sepanjang hidup ?”

Lagi-lagi Mira mengangguk kencang-kencang.

Kami lalu tertawa bersama.

Diluar, angin bersorak dn pohon akasia bertempik kegirangan.

* * *



SAYA membuyarkan lamunan. Kini, saya dan Mira telah bersama-sama selama 3 tahun “membangun kebiasaan dan meracik keberagaman” itu, tanpa ada perbedaan-perbedaan. Saya pun telah meninggalkan profesi sebagai wartawan, dan Mira telah menjadi istri yang setia mendampingi saya sebagai pemilik Restorant Tumis Kangkung paling terkemuka dan paling dashyat di negeri ini.

Dimuat di Harian Pedoman Rakyat-Makassar, April 1991

SEORANG PELACUR DAN SUPIR TAKSI

Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta.
(“Sebuah Tanya”, Karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Selasa ,1 April 1969)

KEHIDUPAN berjalan seperti puisi. Saya senantiasa berpendapat demikian—meski saya bukan seorang penyair tapi tak lebih hanya penikmat puisi—karena saya melewatkan hari demi hari kehidupan dengan beragam nuansa : terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu. Seperti Puisi.

Saya telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Kemarin, saya mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksi saya. Sesungguhnya, saya tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab saya tahu, kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa , tubuh dan segenap aktifitas keseharian saya. Kalaupun kemudian, ia dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terimakasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas”jasa” saya, dan kemudian dengan halus saya menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah saya lakukan sudah menjadi tugas saya, komitmen saya untuk menjunjung tinggi “harkat ke-supir taksi-an” saya. Tak lebih. Lantas, dua minggu lalu, saya menolong seorang korban kecelakaan lalulintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Saya segera membawanya ke unit gawat darurat Rumah Sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang saya dapat peroleh andai saya tetap mengabaikan kejadian itu.

Semua terasa seperti tindakan”bawah sadar” yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayah almarhum menanamkan nilai-nilai kependekaran pesilat kampung dan kearifan petani penggarap. Kejadian-kejadian tadi seperti mengguratkan puisi-puisi indah dalam hidup saya.

* * *

KINI saya kembali menjalani rutinitas saya. Bukan rutinitas yang lazim memang, karena setiap petang tiba, saya menjemput Susan—seorang wanita panggilan “kelas kakap”—yang tinggal disebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya kesuatu tempat, dimana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setia saya itu. Ia sudah menyewa taksi saya selama 6 bulan. Jadi pada jam-jam tertentu—biasanya petang hari—saya menjemputnya di rumah, membawanya ke suatu tempat yang senantiasa berbeda-beda, lantas mengantarnya kembali pulang setelah “bisnis”nya usai pada jam-jam tertentu pula.

Susan membayar cukup mahal untuk tugas tersebut. Dan saya menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat “kesupir taksi-an” saya. Saya tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Susan. Ini bagian dari tugas, demikian saya mencari alasan pembenarannya.. Persetan dengan semua anggapan sinis tentang saya. Bagi saya, saya tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik untuk saya. Prinsip sederhana tapi logis.

Sudah empat bulan saya melakukan”tugas rutin” ini. Saya sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apapun termasuk perasaan cinta. Saya memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Susan memang cantik dan saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Susan tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya. Termasuk saya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, saya tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi parfumnya yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksi saya. Tapi saya berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya. Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat ia digandeng om-om kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Saya seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar : ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Saya mematuhi “rambu-rambu” itu secara konsisten.


Copy Cerpen " Seorang Pelacur dan Supir Taxi"yang dimuat di Harian FAJAR Makassar

Percakapan kamipun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan nyaris bersifat rutin. Saya berusaha menjaga jarak dengan Susan agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit”peningkatan kualitas pembicaraan”. Tidak hanya sekedar, “Mau kemana ?” atau “Jam berapa mau dijemput ?”, dan sebagainya. Susan mulai menanyakan latar belakang pribadi saya hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksi saya untuk hari ini. Saya gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya saya agak rikuh tapi perlahan saya mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara ataupun pendengar yang baik.

Hubungan emosional kamipun berlangsung hangat. Susan pun tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada saya. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ketika ayah dan ibunya bercerai, ia minggat. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu. Iapun tidak peduli pada siapapun, termasuk kakak maupun adiknya. Saya harus terus hidup dan berjuang, kata Susan menetapkan hati.Tanpa disadarinya, ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri disana. Susan akhirnya jadi primadona di sebuah Diskotek ternama yang tak lain sebagai kedok ajang prostitusi kelas atas. Nama Susan melambung tinggi sejak itu. Hampir semua lelaki yang mampir di diskotek itu siap melakukan apapun asal Susan mau berkencan dengan mereka. Pada akhirnya, Susan kemudian menjadi “istri peliharaan” seorang direktur di kota ini,dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. . Sang Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Susan. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan. Ia menjadi wanita panggilan untuk “kalangan elit”.

“Saya menyukai pekerjaan ini”, katanya suatu ketika. Suaranya terdengar serak, terkesan dipaksakan. Saya melirik melalui kaca spion, ia duduk santai dibelakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok.. Saya tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ia tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yag telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk pelan menikmati lagu melankolis “When A Man Loves A Woman”nya Michael Bolton yang mengalun dari tape recorder taksi saya..

“Hey , Hamzah. Kamu sudah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba. Saya gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.

“Belum”, saya menjawab tersipu. Sebuah jawaban yang jujur. Saya akui, saya bukan type lelaki yang dapat dengan mudah membina hubungan cinta dengan wanita. Saya memiliki selera perfeksionis, tapi tak pernah punya cukup keberanian untuk menerapkannya lebih jauh.

Susan terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi kabin taksi. Saya menelan ludah.

“Kalau Susan sendiri bagaimana ?”, saya balik bertanya.

“Kamu tahu sendiri kan’ ?. Banyak. Banyak sekali,” sahut Susan. Suaranya terdengar hambar. Kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon. Atau apologi ?. Saya tak tahu.

“Banyak memang. Tapi hampa”, saya menanggapi dengan getir.

Untuk beberapa saat Susan terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung. Lama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner (AC) taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Saya tiba-tiba menyadari kecerobohan dan kelancangan saya.

“Maafkan saya, Susan. Saya....”

“Tidak apa-apa, Hamzah. Kamu benar. Mereka hampa. Cuma punya tubuh dan nafsu. Bukan jiwa dan cinta,” tutur Susan lirih. Saya menghela nafas panjang. Dada saya terasa sesak.

“Hidup menawarkan banyak pilihan, Susan”

“Tapi saya tak punya pilihan !”, sangkal Susan. Nada suaranya meninggi. Saya berusaha menenangkan diri.

“Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan kemana kita mesti melangkah ,” saya berkata lembut. Terdengar nafas berat Susan dibelakang. Suasana terkesan kering dan kaku.

Kami tak bercakap-cakap lagi hingga saya mengantarnya ke gerbang depan rumahnya. Ia hanya mengucapkan “Selamat malam. Sampai jumpa besok sore”. Saya pulang ke rumah dengan rasa bersalah yang bertumpuk.

Sekarang, saya kembali menjemputnya seperti biasa pada waktu dan tempat yang sama. Kekakuan komunikasi akibat “insiden” tempo hari telah lenyap. Sayapun berusaha untuk lebih hati-hati. menjaga perasaannya.

“Apa kamu tidak bosan dengan rutinitas seperti ini, Susan ?”, saya membuka percakapan, pada hari terakhir kontrak sewa saya dengan Susan.

“Apa kamu punya ide yang baik ?”, ia balas bertanya.

“Yaa..misalnya menempuh rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batin—tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan”, saya mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin. Tanpa beban. Saya ingin mendengar pendapatnya mengenai hal ini.
Sejenak Susan terdiam. Saya kembali melirik kebelakang lewat kaca spion mobil. Susan terlihat sangat cantik. Parasnya yang memukau seperti bercahaya. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram. Seperti memikirkan sesuatu.

“Itu angan-angan yang terlalu ideal, Hamzah” jawabnya, akhirnya.

“Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Susan. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Tidak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berfikir mengenai hal itu : Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketentraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya”, saya mencoba melontarkan argumen.

“Kita punya takaran penilaian yang berbeda, Hamzah. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita tak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan,”ujar Susan lirih dengan bibir bergetar. Saya menarik nafas. Putus asa.

“Apakah Susan menganggap bahwa lakon hidup yang Susan lakukan selama ini sama persis seperti yang Susan bayangkan sebelumnya ?”

“Memang tidak sama, Hamzah. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya tidak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinan-kemungkinan hidup ?. Tidak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik, Hamzah. Saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini , bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya”.

“Apa Susan merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini ?”

“Saya tak bisa menjawabnya, Hamzah. Kamu tidak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya “nilai rasa” yang berbeda dalam menakar kebahagiaan”, Susan bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan kearah luar taksi.

Saya terdiam. Saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Saya sadar, Susan cukup konsisten memegang prinsipnya.

Mendadak, kesedihan merambah dalam hati saya. Hari ini adalah hari terakhir saya bersama Susan. Besok, Susan akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang Direktur selama sebulan. Saya tidak tahu apakah Susan akan menyewa “jasa” saya lagi kelak. Bagi saya itu tidak penting. Kebersamaan dengan Susan selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hati saya. Saya merindukan dia. Melalui kaca spion mobil, saya melirik Susan. Ia begitu cantik, sangat cantik., saya membatin sekaligus nelangsa.
Kami telah sampai ke tujuan. Saya segera mematikan mesin mobil dan mengumpulkan segenap keberanian yang ada. Susan baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika saya berseru.

“Susan, tunggu !”

Ia mengurungkan niatnya dan memandang saya. Matanya bertanya. Dada saya berdegup kencang.

“Saya mencintai kamu, Susan,” saya mengungkapkannya dengan tenggorokan tercekat. Susan menatap tak percaya. Saya segera meraih tangannya. Meraba jemarinya yang halus. Mengalirkan keyakinan.

“Hentikan semua ini, Susan. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakuan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu”.

Susan menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Saya merasa cemas. Saya sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Saya memandang Susan dengan tajam. Penuh harap.

Susan tersenyum. Ia mempererat genggaman tangan saya. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sangat misterius.

“Saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. Tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda, Hamzah. Kamu tak akan bisa memahami saya, seperti sayapun tak bisa memahami kamu. Terimakasih atas ketulusan tawaranmu. Saya menghargainya . Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Ma’afkan saya. Selamat tinggal”, Susan mengucapkannya dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya basah. Disekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi. Saya tak bisa mencegahnya lagi. Saya hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin senja, untuk terakhir kali, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam diri saya, sesuatu yang tak dapat saya ungkapkan bagaimana adanya. Yang pasti, saya seperti telah mencipta “Puisi” baru dalam lakon hidup saya. Samar-samar saya mengingat sebait syair bagus :

Lihatlah gadis yang berjalan sendiri di pinggir sungai
Lihatlah rambutnya yang panjang
dan gaunnya yang kuning bernyanyi bersama angin
Cerah matanya seperti matahari
seperti pohon-pohon trembesi
Wahai, cobalah tebak kemana langkahnya pergi
(“Gadis dan Sungai”, karya Emha Ainun Nadjib dari buku “Sesobek Buku Harian Indonesia)

Dimuat di Harian Fajar-Makassar, 22 Mei 1994