SELINGAN PUISI
BULAN LUKA PARAH DI LANGIT NAGOYA
Bulan Luka Parah di Langit Nagoya
saat kau merajuk pasrah
"Aku cuma punya tubuh, bukan cinta," tuturmu getir
Angin Gersang bertiup mencibir
Dan remang-remang lampu semburkan udara maksiat
Bulan Luka Parah di Langit Nagoya
adalah duka dan cerita muram
tentang geliat dan gelinjang
tentang rintihan vulgar
tentang lipstik menor dan parfum semerbak
Tapi tidak tentang cinta
Batam February 1993
IRAMA HATI
Kususuri jejak-jejak cinta kita
Udara terluka, tembok-tembok lusuh
dan fatamorgana hitam menghadang perjalanan
Kuteguk keterasingan itu dan kupagut erat
kecemasan yang melanda diri
Nyanyian jiwaku menuntun hati yang retak
Saat langit tak ramah menyapa
"Aku belum selesai !" jeritku berang
Kurobek atmosfir dengan belati kesetiaanku
Lalu kucabik kutakutan, penuh dendam
Irama hati lantunkan tembang kegetiran
"Jangan berhenti meski roh tak lagi merangkul tubuh
dan asmara tak lagi merajuk kalbu" katanya, muram.
Angin berdesis pelan, saat muara kuraih
dimana aku karam disana
Bersama sepi, mimpi dan air mata kesangsianku
Maros, Oktober 1991
LUKA JIWA
"Aku letih," begitu katamu. Malam itu.
Dan rembulanpun mendadak pucat
saat mataku memaku pelupuk matamu
Ada kabut melintas disana
"Kau terlalu jauh kurengkuh,"katamu lagi.
Lalu anginpun tiba-tiba berhenti berbisik
Pucuk pepohonan meneteskan airmata
Batinku tersayat pisau keyakinanku
Kala matamu yang luka menghunjam
"Jangan tinggalkan aku," ucapmu lirih
Dan teratai kolampun tertunduk lesu
Angsa-angsa tak lagi menari
Aku tersenyum dan mataku berkata:
"Aku tetap disampingmu"
Lalu jemariku
Jemarimu
bertaut
Saat nadimu tak lagi berdenyut
Kemudian, tanyapun tak memperoleh jawab
Maros, Oktober 1991
Sajak-sajak diatas dimuat di Harian Fajar Makassar, 16 Mei 1993







