Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Monday, April 18, 2005

TRADISI ITU BERNAMA CER-FET

Tradisi Cerita Estafet (Cerfet) di komunitas Forum Blogger Family yang diletakkan di thread Galeri Kreasi tumbuh menjadi fenomena tersendiri. Cerfet merupakan cerita fiksi bersambung yang dikerjakan oleh beberapa penulis. Ibarat lari estafet, penulis A akan memberikan "tongkat estafet" penulisan ke penulis B, dan penulis B setelah menulis meneruskan "tongkat" tersebut ke penulis C, demikian seterusnya hingga FINISH berupa akhir cerita tersebut. Ulasan lebih lengkap bisa dibaca disini. Beberapa contoh rangkaian cerfet dapat pula dibaca disini.

Maka demikianlah, saya, sebagai salah seorang pemenang (Juara IV) Lomba Cerita Pendek Blogfam 2005, bersama pemenang lain (Juara Pertama Qky , Juara Kedua Lizamolly, dan Juara ketiga Devishanty) ditantang untuk membuat cerita estafet. Saya semula agak bimbang. Pertimbangannya, saya telah terbiasa membuat cerita pendek yang--tentu saja--saya bisa menjadi "diktator" untuk menyelesaikan cerita tersebut sesuai keinginan sendiri. Dengan menulis cerfet, otomatis, saya mesti bekerjasama dengan penulis lain untuk menjaga keutuhan cerita dan dengan sabar menunggu kelanjutan dari cerita sebelumnya. Kebimbangan saya akhirnya sirna setelah saya merasa ada unsur "tantangan yang beda" didalamnya. Kolaborasi yang tercipta bisa menjadi sangat dashyat, karena setiap penulis akan membawa karakterisasi sendiri namun tetap dalam satu kerangka cerita yang disiplin.

Akhirnya, dari email pribadi antar para calon penulis yang diorganisir oleh Sa , diputuskan saya diberi kehormatan pertama untuk membuka episode awal Cerfet ini. Karena Qky , berhalangan ikut,maka Sa menjadi penggantinya dengan segmen urutan sebagai berikut:

Segmen pertama : amril-devi-liza-sa
Segmen kedua : devi-liza-sa-amril
Segmen ketiga : liza-sa-amril-devi
Segmen keempat : sa-amril-devi-liza

Total keseluruhan enambelas posting.
Dibawah ini episode pertama cerfet ini (posting di forum blogfam Jum'at, tanggal 15 April 2005) yang saya beri judul "Selebritiku, Pulanglah.."

Catatan :
Untuk posting berikutnya--mohon maaf-- tidak akan saya tampilkan diblog ini. Tapi kelak akan ditayangkan di blog khusus cerita estafet.


TINA memasuki salon langganannya yang terletak disebuah mal dengan wajah keruh. Gadis muda cantik bertubuh langsing, berkulit putih dengan rambut sebahu itu lalu memandang sekeliling salon. Terlihat 3 orang kapster sedang sibuk melayani pelanggan dan beberapa diantara mereka sedang duduk-duduk mengobrol disudut ruangan. Deru suara Hair Dryer terdengar berisik ditingkah tawa - canda kapster yang sedang istirahat atau menunggu pelanggan berikutnya. Mata kejora Tina spontan berbinar, saat melihat kapster lelaki kemayu yang begitu dikenalnya. Ia berjalan beringsut menghampiri sosok yang sedang tertawa renyah itu menanggapi canda rekan-rekannya.

“Pssst…Dona..sini,” panggilnya pelan.

Sosok kemayu yang dipanggil Dona itu menoleh dan dalam sepersekian detik, senyuman khasnya mengembang.

Ai-ai-ai-ai…apa kabar nih my darling ?. Tumben, datang lagi. Kan’ baru kemarin creambath disini say,” sahut Dona heboh sembari mendaratkan ciuman ke pipi kiri dan kanan Tina.

“Ssst..jangan keras-keras dong. Kamu ada waktu nggak ?. Aku mau curhat nih.”

“Kapan ? Sekarang ?”

Tina mengangguk.

Dona melirik jam tangannya kemudian dengan setengah berteriak ia meminta izin ke sang atasan yang sedang berdiri didekat meja kasir.

Wooii…Mbak Retno. Gue keluar sebentar ya. Biasa nih, ada pelanggan setia salon kita yang mau nraktir makan,” ujar Dona sambil melirik genit ke Tina yang kemudian tersenyum rikuh.

“Iya nih, mbak Retno mau pinjam Dona sebentaaaar aja. Boleh kan’ ?” pinta Tina dengan raut wajah se-memelas mungkin.

“OK. Jangan lama-lama lho ya. Sekalian tolong dong bungkusin gue satu Juice Alpukat. Awas kalo nggak !” balas Mbak Retno seraya mengepalkan tinjunya kearah Dona.

Embbheeer….” sahut Dona memonyongkan bibirnya seraya menarik lengan Tina keluar salon. Mereka tertawa berderai.

Limabelas menit kemudian, keduanya telah berbincang serius sambil menyantap hidangan bakso disebuah kantin yang terletak tidak jauh dari salon.

So, mau curhat masalah apa nih Tin ?” tanya Dona sembari menyeruput es jeruknya. Pandangannya tak lepas dari lalu lalang pengunjung mal yang begitu ramai siang itu.

Tina tak segera menjawab. Ia meraih tasnya, mengambil secarik kertas lalu mengangsurkannya ke arah Dona. Sebuah salinan e-mail.

“Coba kamu baca ini dulu deh,” ujar Tina. Raut mukanya terlihat tegang.

Dona membaca bait demi bait kalimat salinan email tersebut dengan teliti.
-----------------------
To: tinamaniez@gmail.com
From : arjunaklimis@yahoo.com
Subject : Please Be My Queen of My Heart. Again..

Jika telaga hati mampu menampung segenap makna
dan menjabarkan kata-kata
Maka biarkan kelopak mawar merekah diterpa fajar
kelompok angsa menari disisi teratai
serta binar mata kejoramu mencari artinya sendiri
Sebab cinta itu, Dinda
Adalah permakluman sejati kita tentang hidup
Ada yang tak pernah lepas dan pupus dari genggaman
kala kureka-reka kerinduan yang kualami
Sebuah anomali dan sensasi melenakan
Yang kemudian membuat aku paham
Bahwa cinta dan cemburu
tak lain
kembar siam masa lalu yang purba
Gerimis senja menghantam kaca jendela
Dan kau, dindaku, terpaku dengan bibir bergetar
Boulevard yang karib kita cumbui tiap hari
Menggigil diguyur kecemasan dan lara kita
Tak ada yang tersisa lagi
Untuk hasrat di palung kalbu
Padahal, atas nama cinta,
Kita selalu rela untuk sebuah kejujuran
Apa yang mesti aku katakan padamu,
Saat gejolak rindu menikam langit ?
Sedang bulan mendelik tak percaya dan
bintang berpaling ke arah lain
Adalah kau, dindaku, datang bersama malam
Merangkul erat matahari kegelisahan
dan sangat tahu dan yakin
Bagaimana aku mesti membuatkan
Pelangi di lekuk cakrawala
dengan warna-warni cintaku

Always,
JK
PS : Aku merindukanmu. Dalam mimpi. Dalam angan.Please be my Queen of my heart. Again.

-----------------------

Dona terdiam. Ada haru yang tiba-tiba menyentak setelah membaca bait demi bait puisi di email tersebut. Ia melipat lembaran kertas tadi perlahan dan mengembalikannya pada Tina.

“So ?, bagaimana tanggapanmu ?” tanya Tina tak sabar.

“Dari sisi mana dulu nih ?. From my female side as Dona or from my macho side as Dono ?” gurau Dona dengan memberi efek suara berat pada kata terakhir. Ia lalu terkekeh sendirian. Tina melirik sebal.

“Dua-duanya. Aku nggak bercanda nih,” tukas Tina ketus.

Dona mengangkat bahu lalu dengan gerakan kaku menyulut sebatang rokok. Ia menghirup uap rokok tersebut dalam-dalam. Memenuhi rongga paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan. Tina mengibas-ngibaskan tangan menghalau terjangan asap rokok Dona.

Well, puisi yang indah dan menggetarkan. Tapi gue koq menangkap ada kesan getir didalamnya,” kata Dona akhirnya.

Tina menunduk, menekuri lantai kantin yang kusam. Ia lalu menghela nafas panjang seperti melepas beban berat yang menghimpit dada.
“Dia lelaki dari masa lalu. Yang pernah singgah dihati. Lalu pergi. Tapi kini, ingin kembali lagi,” gumam Tina dengan sebaris kalimat ritmis seperti berkata pada diri sendiri. Ia lalu melontarkan pandangan keluar, melalui jendela kantin, pada hiruk pikuk pengunjung mal yang kian ramai.

“Kamu masih mencintai dia, say ?” tanya Dona hati-hati.

“Masih dan sangat," sahut Tina pilu.

“So, tunggu apalagi ?. Terima saja. Atau…apa ada lelaki lain dihatimu saat ini ?”

Tina menggeleng lesu.

“Yang naksir banyak. Tapi aku sama sekali tak tertarik. Aku masih trauma dan belum bisa berdamai dengan diri sendiri.”

“Lantas ? What’s the problem ?” tanya Dona heran.

“Dia terlalu jauh untuk direngkuh. Dia..dia..bukan orang seperti kita pada umumnya,” jawab Tina terbata-bata. Keharuan tiba-tiba menyeruak didadanya.

“Wow !. Apakah dia sejenis Peter Parker yang punya kehidupan ganda sebagai Spiderman ?” tebak Dona asal sekaligus mencoba menghibur kegundahan hati Tina.

“Please…”

“Siapa sih dia koq kelihatannya begitu istimewa ?. Hmmm…JK..apa mungkin dia inisial Wakil Presiden kita sekarang ?” Dona kembali mengulangi tebakannya. Lebih ngawur.

“Apakah nama Jamal Kelanamaya cukup familiar buatmu ?” jawab Tina tenang.

Kalimat terakhir memberi efek luar biasa pada Dona. Ia langsung terbatuk-batuk karena sebagian asap rokoknya mendadak tertelan. Tina tersenyum, lalu mengangsurkan es jeruk ke Dona yang terlihat begitu panik. Dona meminum es jeruk tersebut sampai licin tandas. Nafasnya tersengal-sengal.

“Jamal Kelanamaya yang artis film dan sinetron ganteng terkenal itu kan’ ?” tanya Dona memastikan setelah berhasil menguasai diri.
Tina tersenyum dan mengangguk.

“Oooh my God!” pekik Dona tertahan dengan kesepuluh jarinya menutup mulut. “Dia itu artis idola gue say. Setiap film atau sinetronnya ditayangkan pasti gue tonton. Gayanya yang cool, posturnya yang tegap dan parasnya yang rupawan bikin gue mabuk kepayang. Keblinger sampai kebawa mimpi. Bener lho. Sungguh beruntung deh kamu jika bisa jadi pacarnya apalagi diminta secara sepihak seperti ini. Pokoknya jangan sungkan-sungkan atau pikir-pikir lagi. Terima aja, kan’ nanti kamu bisa kenalin ke gue,” tutur Dona panjang lebar sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan gemulai menggambarkan betapa ia menjadi fans berat dari Jamal Kelanamaya. Setelah itu terdiam. Matanya menerawang dan membayangkan menjadi teman dekat dari pacar seorang selebriti terkenal lalu dengan atraktif memperkenalkannya ke kawan-kawan di salon .

“Mbak Retno, Rara, Elsa, Sherly, Titin, Ucha, Tuteh, kenalin ya..ini Bang Jamal Kelanamaya. Pacarnya Tina. Teman deket gue. Pasti sudah tau kan’. Kalo nggak tau mah kebangetan deh ih!. Masa’ artis terkenal yang film dan sinetronnya bertebaran dimana-mana kayak Bang Jamal aja nggak kenal. Pokoknya ye..elu-elu pade, yang mau minta tandatangannya, kudu mesti lewat gue sebagai Asisten Pribadi Berkuasa Penuh. Tidak boleh tidak. Dan itu disertai dengan biaya administrasi seperlunya. Catet ya!!!"

Tina tersenyum tipis.
“Tidak semudah itu, Dona. Ia seperti menoreh kembali luka lama yang telah mengering,” ujar Tina datar.

“Kenapa ?”

“Dia mengkhianatiku. Secara kejam. Kami berkenalan dan berpacaran, jauh sebelum ia menjadi artis terkenal. Setelah 2 tahun kami menjalin kasih, Rita, pasangan mainnya dalam sinetron “Kriwul Mencari Cinta” merampas Bang Jamal dari sisiku. Sebenarnya isyu tentang hubungan mereka berdua sudah beredar santer di beberapa Infotainment. Aku nggak percaya. Namun, secara kebetulan, aku memergoki mereka berdua bermesraan di salah satu sudut kafe. Itu bukti yang sungguh nyata. Aku tidak terima perlakuan ini meski Bang Jamal berusaha menjelaskan bahwa hubungan dia dan Rita hanya teman biasa. Kami berpisah. Tepatnya, aku memutuskan berpisah dengannya secara sepihak. Bang Jamal berusaha menghubungiku kembali. Tapi gagal. Aku berusaha menarik diri dan memberi jarak darinya. Termasuk tidak menjawab panggilan telepon, SMS ataupun email. Aku berusaha sibuk dan larut dalam pekerjaan sejak 6 bulan silam saat kami putus. Untuk melupakannya. Sampai ketika email ini datang kemarin…,” tutur Tina tersendat. Bulir-bulir airmatanya mulai menetes. Ia lalu menghapusnya dengan punggung tangan dengan gugup.

Dona meraih tangan Tina. Menggenggamnya erat. Mengalirkan simpati.
“Tina, dia masih mencintaimu, my dear, ” kata Dona lembut. Ia menatap tajam ke manik mata sahabatnya itu.

Tina menggeleng kencang. Penuh keyakinan. Ia balas menatap Dona. Dengan kebencian yang dalam.

Please, tolong kesampingkan dulu asumsimu bahwa pendapat gue ini subyektif lantaran gue ngefans banget sama Bang Jamal atau karena secara hormonal gue punya solidaritas maskulin dengan dia. Tidak sama sekali. Menurut gue nih dari emailnya sudah tersirat jelas. Dia masih mencintaimu, say. Kamu nggak berfikir memberikannya kesempatan kedua ?”

Tina menghela nafas panjang. Lalu menggigit bibir. Seperti berfikir keras.

“Tina, my dear friend. Gue tahu kamu sudah terluka amat dalam karena peristiwa perselingkuhan Bang Jamal dan Rita tempo hari. Sekarang gue mau nanya nih, tolong jawab dengan jujur. Dari balik kejernihan hatimu. Pernahkah terlintas dalam benakmu ingin kembali lagi padanya setelah kejadian itu ?”
Tina terdiam. Dona menunggu dengan mata menikam ke arah mata Tina. Beberapa detik berlalu dalam senyap.

“Oke," Dona mengangkat kedua belah tangannya tanda menyerah,” Fine. Gue nggak akan menunggu jawaban dari kamu atau berkomentar apapun lagi soal ini. Semua keputusan ada ditanganmu,Tin. Kamu paling tahu dan mengerti apa yang terbaik buat kamu. Jika kamu minta apa point paling penting dari advis gue, singkat aja. Go get him!”

Tina tersenyum. Komentar sahabat dekatnya, si bencong antik ini benar-benar lugas sekaligus menghibur. Sejak memutuskan hubungan dengan Jamal, Dona menjadi kawan curhatnya yang paling ia percaya selama ini.
“Terimakasih. Aku menghargai apapun pendapatmu,” kata Tina tulus.

No Problem, say. O,ya..kamu mau kemana sekarang habis dari sini ?” tanya Dona.

“Ada warnet dekat-dekat sini nggak ya ?” Tina balik bertanya sambil merogoh dompet lalu memanggil pelayan kantin.

“Kebetulan, dua blok dari salon gue ada Warnet. Mau kesana ?” sahut Dona sambil menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat.

Tina menggangguk. Seorang pelayan kantin datang menghampiri mereka, menyodorkan lembar tagihan dan pesanan Juice Alpukat pesanan Mbak Retno.

“Begini aja deh, kamu langsung aja kesana, gue balik ke salon,” usul Dona.

“OK. Thanks for your time, ya say,” kata Tina seraya beranjak dari tempat duduk.

No Problem my dear. Untuk sahabat secantik kamu, selalu ada waktu,” sahut Dona seraya menepuk pipi mulus Tina.

Mereka lalu tertawa berderai dan berjalan ke arah pintu keluar kantin.


Bersambung