Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Friday, May 27, 2005

SELEBRITIKU, PULANGLAH...! (EPISODE 8)

Telah terjadi perkembangan tak terduga dalam rangkaian pembuatan cerita estafet (cerfet). Terutama dalam formasi tim penulis. Oleh karena kesibukan mempersiapkan liburan ke Indonesia, Mbak Sa akhirnya mengundurkan diri dan diganti oleh pemenang pertama lomba flash-fiction Blogfam 2005 : Mas Bondan.
Sementara itu, karena kesibukan tugas kuliah dan persiapan menghadapi KKN akhirnya Devishanty akhirnya ikut pula mengundurkan diri dan posisinya diganti oleh Tuteh yang sudah punya jam terbang tinggi dibidang per-cerfet-an.

Dengan demikian formasinya menjadi:

Segmen pertama : amril-devi-liza-sa (diganti mas bondan)

Segmen kedua : devi (diganti tuteh) -liza-mas bondan-amril

Segmen ketiga : liza-mas bondan-amril-tuteh

Segmen keempat : mas bondan-amril-Tuteh-liza

Dibawah ini adalah episode kedelapan dari segmen kedua dari Cerfet "SELEBRITIKU, PULANGLAH..". Episode-episode lebih lengkap dapat anda baca disini .

Kelak saya akan siapkan satu blog sendiri yang memuat utuh cerfet ini seperti yang sudah tampil disini dan disini.

Selamat menikmati:

8/16

Selamat malam para pendengar setia 108.54 Matrix FM. Masih dengan saya, Jaf Deepblue, tetap setia menemani anda melewatkan malam panjang yang indah ini dengan tembang-tembang cantik dalam acara”Mengiris Kenangan, Menoreh Angan”.

Tina tersenyum mendengarkan suara empuk penyiar favoritnya, Jaf Deepblue, dari radio tape mobil Starlet biru metaliknya. Ia lalu mengambil posisi senyaman mungkin dibelakang kemudi dengan membaringkan sandaran kursi, meluruskan kaki kedepan sekaligus meregangkan otot punggung yang pegal. Tak lupa ia membuka kaca jendela mobil lebar-lebar dan membiarkan sejuk angin malam berdesir menerpa wajahnya. Begitu menyegarkan.

Malam itu, setelah pertemuannya kembali dengan Jamal dan Yogie, ia sengaja keluar “mencari angin” sekedar “mengendapkan” kekesalan hatinya. Ia pun tak lupa menon-aktifkan handphonenya untuk menghindari “gangguan” panggilan telepon dari siapapun. Setelah mampir sebentar membeli novel karya penulis favoritnya, Nazla, di salah satu toko buku terkenal, Tina ingin menikmati kesendirian di salah satu sudut taman tak jauh dari rumahnya . Sebuah ritual yang sangat ia sukai sejak putus hubungan dengan Jamal.

Pendengar setia Matrix FM, membuka jumpa kita malam ini, mari kita nikmati satu tembang lawas yang manis dari Chicago “ Glory of Love”, semoga bisa mengiris kenangan dan menorehkan angan di hati anda:

Tonight it's very clear
As we're both lying here
There's so many things i wanna say
I will always love you
I would never leave you alone

Sometimes I just forget
Say things I might regret
It breaks my heart to see you cryin'
I don't wanna lose you
I could never make it alone
I am the man who would fight for your honor
I'll be the hero you’ve been dreamin' of
We'll live forever
Knowing together that we
Did it all for the glory of love…..


Suara vokalis Chicago, Peter Cetera yang mengalun lembut menyeret Tina pada kenangannya bersama Jamal. Sambil memejamkan mata dan mencoba meresapi bait demi bait lagu itu. Samar-samar, wajah tampan Jamal muncul dalam lamunannya.

“Bagaimana rasanya ?” selidik Tina penasaran dan menatap tajam pada Jamal yang tengah mencicipi Nasi Goreng buatannya. Ini merupakan debut pertamanya membuat nasi goreng ketika Jamal memutuskan “wakuncar” malam minggu kali ini cukup dirumah Tina saja. Dan tidak melewatkan waktu nonton dibioskop atau nongkrong di café menikmati Live Music, seperti biasanya.

“Hmmm…enak..tapi kayaknya….”

“Kayaknya kenapa…?”

“Kurang garam dan kebanyakan cabe deh..”

Tina cemberut.

Jamal melirik dengan pandangan jenaka.

“Tapi kalo lihat wajah kamu yang cantik, koq rasanya jadi enak banget gitu looh..,” goda Jamal seraya tertawa renyah dan siap-siap menunggu timpukan bantal sofa dari Tina.


Tina tersenyum sendiri mengingat kembali saat-saat indah itu. Perlahan ia membuka mata dan menatap keluar ke arah taman. Tampak sepasang muda-mudi sedang duduk berduaan dibangku, menikmati lembut cahaya bulan purnama yang muncul malu-malu diatas awan. Tina menghela nafas panjang. Mencoba pasrah pada rasa kehilangan yang tiba-tiba datang menyelimuti hatinya. Ia lalu menikmati lagi kesendirian, larut dalam alunan lagu Peter Cetera.

You keep me standing tall
You helped me through it all
I'm always strong when you're beside me
I have always needed you
I could never make it alone

I am the man who will fight for your honor
I'll be the hero you’ve been dreamin' of
We'll live forever
Knowing together that we
Did it all for the glory of love

Like a knight in shining armor
From a long time ago Just the time
I'd save the day
Take you to my castle far away


Dan nostalgia itu terbayang kembali pada sebuah malam yang basah oleh gerimis disalah satu sudut café kegemaran mereka. Lagu yang sama seperti didengar Tina saat ini dibawakan dengan merdu oleh Gatorz penyanyi tetap café tersebut.

“Aku paling senang mendengar lagu ini. Sama seperti perasaanku padamu sekarang dan juga nanti,” kata Jamal lembut sambil menggenggam jemari Tina dan menatap kekasihnya itu penuh kemesraan.

“Gombal !” sergah Tina tersipu. Pipinya memerah tapi hatinya menjerit senang.

“Aku ingin kejayaan cinta yang sudah kita bangun tidak akan pudar sampai kapanpun. I’ll be the hero you’ve been dreamin’ of,” ujar Jamal seraya mengecup pelan jemari Tina.

Dalam sekejap Tina tiba-tiba seperti melambung di awang-awang. Langit-langit café menyemburatkan warna-warni pelangi. Berpendar-pendar melukis hatinya. Sebuah sensasi melenakan yang senantiasa ia alami dan rindukan ketika “soul-mate”nya itu memujanya. Penuh kasih.

Tina dan Jamal terdiam meresapi kebahagiaan yang membuncah di hati masing-masing. Mata mereka saling bertatapan mengalirkan cinta yang terus tumbuh bertunas dan berbunga dihati. Dari waktu ke waktu.

“O..ya,Tin, minggu depan aku mau mencoba peruntungan ikut casting jadi pemeran utama di serial TV “Serambi Rumah Maknyak”. Aku minta dukunganmu,” ucap Jamal memecah keheningan. Ia masih menggenggam jemari Tina dengan erat.

“Untuk apa sih ?” sahut Tina ketus,”nanti kuliah kamu terganggu dengan jadwal syuting yang tidak menentu”. Secara dramatis, ia menarik jemarinya dari genggaman tangan Jamal.

“Jangan berfikir negatif dulu dong, Tin. Apa yang aku lakukan ini sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri selain tentu saja untuk menambah penghasilan. Juga hitung-hitung cari pengalaman sekalian ketemu artis terkenal. Lagipula, aku kan’ belum tentu diterima, karena baru casting awal.”

“Aku malah punya keyakinan kamu bakal diterima.”

“Tuuh..kan’ apa ini berarti isyarat dukungan dari kamu ?”

“Lho..jangan buru-buru senang dulu. Ini justru isyarat keprihatinanku. Kamu pasti akan mengorbankan banyak hal bila kelak jadi artis terkenal. Termasuk aku, sebagai konsekuensi atas pilihan itu.”

“Aku nggak ngerti maksud kamu,Tin.”

“Menjadi artis atau selebriti, resikonya adalah kamu akan menjelma menjadi figur publik yang tindak-tanduknya selalu menjadi sorotan media dan masyarakat. Pada saat yang sama, kamu mesti, secara sadar atau tidak, akan lebih mementingan karir gemilang keartisanmu..dibanding....,” Tina tidak dapat melanjutkan ucapannya, tenggorokannya seperti tercekat oleh keharuan yang datang mendera. Air matanya mulai menetes satu-satu.

Jamal beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Tina, lalu membelai lembut rambut kekasihnya itu.

“Jangan jadi sentimentil gitu dong Tin ,”ujar Jamal pelan sekaligus rikuh dipandangi para pengunjung café.
Tina menyeka air mata dipipinya dengan tissue yang disodorkan Jamal.

“Aku janji tak akan mengabaikanmu nanti. Sungguh. Kamu sangat berarti dalam hidupku, Tin. Tak akan terganti oleh siapapun,” bisik Jamal lirih didekat telinga Tina.


Tina menegakkan sandaran kursi, memegangi setir mobilnya lalu memandang lurus kedepan dengan hampa. Kenangan pahit kembali mengiris batinnya. Seburam kaca mobil yang mulai lekat oleh basah embun malam.


Jamal berlari mengejar Tina yang berjalan bergegas keluar dari gerbang café tempat ia memergoki kekasih tersayangnya itu bermesraan dengan Rita.

“Tina, tunggu !” panggil Jamal panik.

Tina mempercepat langkah.

Dengan kasar, Jamal meraih dan mencekal lengan Tina, mencegahnya untuk pergi lebih jauh. Tina berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jamal.

“Tunggu dulu penjelasanku, Tin,” kata Jamal penuh harap.

Tina menggeleng.

“Tak ada yang perlu dijelaskan. Semua sudah jelas. Kamu menghianatiku. Didepan mata kepalaku sendiri !”

“Tolong Tin, apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan yang kamu fikirkan. Aku dan Rita hanya teman biasa. Tak lebih. Kami hanya…,” belum sempat Jamal menyelesaikan kalimatnya, Tina mengibaskan tangan lalu melepaskan diri dari pegangan kuat tangan Jamal yang tetap bersikeras menahannya.

“Biarkan aku pergi, Jamal. Dan jangan pernah berfikir untuk mencariku lagi. Camkan itu !” tukas Tina dengan nada tinggi kemudian membalikkan tubuhnya. Ada bara menyala dimatanya.

Ia lalu berlari sekuat tenaga dalam linangan airmata yang mengucur deras. Ia tidak menoleh kebelakang lagi. Membiarkan masa lalu itu tinggal disana.

Jamal berdiri tegak memandangi sosok wanita pujaannya itu menjauh darinya. Tiba-tiba ia merasa seluruh persendiannya terasa lepas dan langit seperti runtuh menimpa dirinya.


Tina terisak. Airmata meleleh dipipinya. Jatuh tak terlerai. Dadanya terasa sesak dihajar kenangan dan kedua tangannya mencengkeram erat setir mobil seperti mencari pegangan yang kokoh dari hatinya yang gamang. Bagaimanapun juga sosok Jamal Kelanamaya tak akan sirna begitu saja. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejumlah episode penting dalam hidupnya. Ia masih ingat bagaimana pertama kali Jamal menyatakan cinta padanya, secara unik. Dengan puisi yang menggetarkan yang sempat membuatnya tak bisa tidur setelah itu. Pada suatu malam yang kuyup oleh deras derai hujan akhir Desember. Jamal sengaja menghentikan mobilnya agak jauh dari didepan gerbang rumah Tina sepulang menonton bersama konser tunggal Diva Musik Pop Indonesia, Jovita Erfiana.

“Tina.”

“Ya ?”

“Aku punya sesuatu untukmu. Harap dibaca sekarang juga. Aku menunggu jawaban darimu,” kata Jamal pelan seraya mengangsurkan secarik kertas ke arah Tina.

Tina menerimanya dengan perasaan tak menentu lalu membacanya bait demi bait:

Pada pagi yang menguraikan embun
Pada kilau mentari yang menguak hari
Dan gelegak darahku yang berlalu amat gegas
Kupersembahkan untukmu,
Bidadari jelita bermahkota bulan
Cinta bersahaja
Dari lelaki yang luluh terkulai dalam pesonamu
Yang senantiasa membuat malam menggeliat resah
Dan kerap bertanya: Sampai kapan engkau mencumbui bayang-bayang ?
Kini, Dapatkah kujadikan dirimu nyata dalam dekapku ?

Tina terpukau dan tak dapat berkata sepatah katapun. Jamal meraih jemari gadis itu. Menggenggamnya erat seperti tak akan dilepasnya sedetikpun. Matanya menatap tajam kearah Tina. Berharap jawab.

Tina tak perlu menunggu lama untuk mengangguk kemudian membalas genggaman jemari Jamal. Lebih erat.


Tina masih menyimpan rapi kertas puisi Jamal tersebut dalam dompetnya. Meski barang-barang pemberian Jamal sudah ia buang dan enyahkan jauh-jauh sejak aksi pemutusan cinta sepihak yang dilakukannya. Sebagai sebuah monumen abadi, yang membuatnya selalu merasa berharga dan tersanjung. Setiap hari. Setiap saat.

Tina menarik nafas panjang seolah mengumpulkan kembali seluruh jiwanya yang telah terbang berkelana ke masa silam. Pelan tapi pasti ia menghidupkan mesin mobil. Kembali kerumah. Pada dunia nyata yang tidak sebatas angan. Tak lama kemudian, mobil starlet biru metalik itu pun meluncur mulus menembus malam ditemani suara empuk Jaf Deepblue.

Pendengar setia Matrix FM. Sepotong kenangan pahit bisa jadi menggoreskan perih dihati. Tapi hidup, tak berhenti sampai disini. Jangan beranjak dulu, karena setelah pesan-pesan berikut, akan tampil penyanyi legendaris asal negeri sendiri, Chrisye dengan lagunya”Merpati Putih”. Masih bersama saya menemani anda di malam panjang ini, Jaf Deeplue…

Labels: