SELEBRITIKU, PULANGLAH...! (EPISODE 11)
“Ah, tidak apa-apa koq, Kak. Sekarang baru dalam perjalanan pulang mengajar nih,” sahut Tina pelan mencoba berkilah. Namun ia tetap tak dapat menyembunyikan kegundahan hatinya saat itu.
“Yogi baru telepon, katanya kamu batalin pesanan komputermu ke dia ya ? Kenapa ?,” tanya Andrey dengan nada kesal dan sinis.
Tina salah tingkah. Ia lalu memperbaiki letak duduknya dan berusaha memikirkan jawaban yang pantas atas pertanyaan itu. Ia sudah membayangkan apa yang bakal terjadi kemudian dan bersiap menghadapi gelombang amarah kakaknya. Dengan terbata-bata dan sedikit takut ia mencoba menjawab.
“Soalnya.. Jamal sudah belikan komputer baru buat Tina lebih dulu. Jadi…”
“Alasan yang sangat tidak masuk akal !. Bukankah justru kamu yang pertama kali meminta pada kakak untuk dibelikan komputer baru ?. Dan tidak dari Jamal, lelaki brengsek yang sudah menghianatimu itu. Jangan coba-coba bohong ya?,” potong Andrey cepat dengan suara tinggi. Kemarahannya mulai memuncak.
“Benar, Kak. Ini semua inisiatif dari Jamal sendiri sebagai hadiah untuk Tina dan…,” Tina tak dapat melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya seperti tercekat. Tanpa sadar, bulir-bulir airmata gadis manis itu mulai mengalir dipipi.
“Pokoknya Kak Andrey tidak mau tahu soal komputer pemberian Jamal kepadamu. Kamu harus kembalikan dan jangan pernah terima lagi pemberiannya. Aku masih bisa beliin kamu komputer yang lebih baik dari dia. Paham ?,” tegas Andrey.
“Ya, Kak..,” sahut Tina lirih sekaligus pasrah. Dadanya terasa sesak oleh tekanan batin yang mendera baik dari Andrey kakaknya maupun musibah yang baru saja menimpa Jamal.
Dengan perasaan galau, Tina menstarter mobil starlet biru kesayangannya. Ia tak tahu hendak kemana saat ini. Biarkan angin yang membawaku pergi, demikian ia membatin. Getir.
Dan mobil mungil itupun melaju kencang meninggalkan decit menggiris dan bekas ban di aspal.
---***---
Dokter Hasan menyeka peluh dikeningnya dengan punggung tangan. Bukan hal yang lumrah memang diruang ICU yang sejuk berpendingin udara seperti ini, dokter ahli ortopedi itu kepanasan. Tampaknya ketegangan yang menyelimuti selama menangani pasien spesial hari ini membuatnya gugup.
Ia lalu memandang rekannya, Dokter Adi sang spesialis syaraf, yang tengah sibuk memeriksa kabel pemantau syaraf otak dan peralatan elektronik pendukung lainnya yang terhubung ke tubuh pasien mereka, Jamal Kelanamaya.
“Di, bagaimana keadaannya ?.”
“Masih koma, Cang. Syaraf otaknya mengalami guncangan luar biasa pasca kecelakaan. Tapi secara umum sih nggak masalah. Hanya aku khawatir kelak kalau sadar, ia bisa mengalami Amnesia,” sahut Dokter Adi cemas. Wajahnya terlihat letih.
“Hah ? Amnesia ? Hilang ingatan maksudmu?,” pekik Dokter Hasan heran.
“Kira-kira begitulah. Dari hasil CT-Scan, cedera kepala fatal yang dialami artis top ini menyebabkan interaksi syaraf otaknya relatif terganggu. Akibatnya, ketika ia sadar nanti, penyakit amnesia bisa menghinggapinya. Mudah-mudahan kondisi ini tidak akan terjadi dan kalaupun dapat terjadi kelak, tidak akan berlangsung lama. Aku harus terus memantau perkembangannya dari waktu ke waktu,” jawab Dokter Adi sambil mencuci tangannya di wastafel dekat pembaringan Jamal yang terbujur lesu.
Dokter Hasan mengangguk-angguk setuju.
“Semoga, Di. Pasien figur publik seperti Jamal ini memang butuh perhatian extra dari kita. Sorotan media maupun fans beratnya pasti akan terus mengikuti secara seksama perkembangan terakhir kesehatan Jamal. Sedetail mungkin. Coba lihat, di lobby rumah sakit ini saja sudah dipenuhi wartawan infotainment yang ingin mencari kabar terbaru soal Jamal. Belum lagi fans-nya yang terus berdatangan menyampaikan simpati. Siap-siap aja kita jadi artis dadakan yang diwawancarai wartawan,” seloroh Dokter Hasan.
Dokter Adi tertawa renyah.
“Cang, biar saja Humas rumah sakit ini yang menjawab pertanyaan wartawan tentang kondisi Jamal. Aku nggak mau repot dikejar-kejar mereka untuk diwawancarai dan kemudian nampang di layar TV sebagai bintang kagetan. Kecuali jika memang terpaksa. Istri dan anakku bisa shock nanti melihat tampang konyolku muncul disana. Yang penting kita sudah menyiapkan laporan hasil perkembangan terakhir Jamal dan menyerahkannya ke Dokter Rio, Direktur Rumah Sakit ini,” sahut Dokter Adi sambil menepuk bahu sahabat kentalnya itu.
“Okelah. Jadi kita ke ruangan Dokter Rio sekarang ?”
“Yuk. Laporannya sudah siap koq.”
Kedua dokter andalan rumah sakit “Harapan Tanpa Batas” itu kemudian berjalan beriringan keluar dari ruang ICU.
---***---
Ia berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun kepalanya. Panas dan membakar. Ia tidak peduli.
Jamal, lelaki itu, dengan dada telanjang dan otot berkilat keringat, menatap nanar kedepan. Kedua kakinya kuat mencengkeram ketanah tempat ia berpijak seperti akar pohon beringin yang kokoh tak tergoyahkan. Tangannya terkepal. Kedua ruas bahunya meregang kencang. Rahangnya mengeras. Tak ada rasa gentar dimatanya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.
Seberkas sinar menyilaukan mendadak datang dari kejauhan. Di ufuk cakrawala. Jamal memicingkan mata untuk lebih cermat melihat apa yang tengah terjadi saat itu. Cahaya pelangi muncul dari sana. Indah. Bercahaya. Berpendar. Membiaskan warna-warni cerah. Membentuk lengkung ibarat “jembatan” yang mengarah kearahnya. Ke tempat ia berdiri.
Jamal terkesima. Ia seperti tak percaya apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Disana, dari kejauhan, perlahan tapi pasti, sosok gadis yang sangat dikenalnya muncul. Dalam balutan gaun putih berkibar dan rambut panjangnya bergerai ditiup angin. Anggun berjalan meniti pelangi. Seperti peri menyapa pagi. Seperti bidadari melukis hari.
“Tina..,”bisik Jamal lirih. Penuh rindu. Juga pilu.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar ceria. Ia lalu mengulurkan tangan kearahnya.
Jamal menyambut uluran tangan itu dengan gemetar. Senyumnya pun mengembang. Hatinya berbunga menyambut kebahagiaan yang siap ia reguk sepuasnya. Tanpa henti.
Tapi hal yang tak terduga terjadi. Tebing tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh. Pijakan kakinya goyah. Dan iapun jatuh dengan tangan menggapai-gapai tak rela. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha meraih tangan Jamal. Tapi sia-sia.
Jamal meluncur deras kebawah. Tak terbendung. Ia berteriak sekuatnya memanggil nama Tina. Gema suaranya memantul pada dinding-dinding tebing. Tubuhnya melayang. Menuju laut yang ganas menerjang dan karang yang tajam menghunjam.
Lalu semua menjadi gelap. Pekat. Hitam. Kelam.
Samar-samar Jamal mendengar Kahlil Gibran melantunkan sepotong syairnya:
“Cinta tidak menyadari kedalamannya,
Sampai ada saat perpisahan”
Monitor Indikator detak jantung yang terletak disamping pembaringan Jamal menunjukkan grafik naik sekejap, namun kembali normal sesudahnya. 2 orang perawat jaga di ruang ICCU tidak memperhatikan perubahan itu. Keduanya asyik mengobrol tentang sinetron favorit yang kebetulan dibintangi pasien istimewa yang tengah mereka tunggui. Sementara Jamal masih terbujur diam. Kaku. Tak bergerak.
---***---
Tina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan konstan. Ia masih bimbang untuk memutuskan akan kemana saat itu. Sudah hampir setengah jam ia hanya berputar-putar disekitar tempatnya mengajar. Sebenarnya terbersit dari hati kecilnya untuk menengok Jamal di rumah sakit dan mengesampingkan kenyataan bahwa ia akan “diinterogasi” lebih jauh oleh wartawan infotainment tentang hubungannya dengan artis terkenal itu.
Tapi ia masih belum memiliki cukup keberanian melakukannya apalagi Kak Andrey sudah jelas menyatakan sikap antipatinya pada Jamal. Sebuah dilemma yang cukup sulit bersemayam di hatinya.
Kerongkongannya mendadak terasa kering. Ia lalu memutuskan untuk parkir kembali tempat ia menerima telepon dari Andrey sebelumnya. Setelah mematikan mesin mobil ia meraih sebotol air mineral yang disimpannya dalam laci mobil. Dengan cepat ia meminum air mineral tersebut, membasahi kerongkongannya, memuaskan dahaga.
Setelah mengembalikan botol air mineral yang nyaris kosong itu, Tina mengambil dompet kesayangannya. Secarik kertas lusuh ia keluarkan dari sana. Puisi Jamal saat “melamar”menjadi kekasihnya. Dengan bibir bergetar, dibacanya berulang-ulang bait-bait terakhir dari puisi tersebut:
Kupersembahkan untukmu,
Bidadari jelita bermahkota bulan
Cinta bersahaja
Dari lelaki yang luluh terkulai dalam pesonamu
Yang senantiasa membuat malam menggeliat resah
Dan kerap bertanya:
Sampai kapan engkau mencumbui bayang-bayang ?
Kini,
Dapatkah kujadikan dirimu nyata dalam dekapku ?
Tina menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca didesak keharuan yang menyesak dada. Bait-bait puisi Jamal itu memberinya inspirasi ia harus kemana saat ini. Seulas senyum manis tersungging dibibirnya saat ia menghidupkan mesin mobil.
“Yogi baru telepon, katanya kamu batalin pesanan komputermu ke dia ya ? Kenapa ?,” tanya Andrey dengan nada kesal dan sinis.
Tina salah tingkah. Ia lalu memperbaiki letak duduknya dan berusaha memikirkan jawaban yang pantas atas pertanyaan itu. Ia sudah membayangkan apa yang bakal terjadi kemudian dan bersiap menghadapi gelombang amarah kakaknya. Dengan terbata-bata dan sedikit takut ia mencoba menjawab.
“Soalnya.. Jamal sudah belikan komputer baru buat Tina lebih dulu. Jadi…”
“Alasan yang sangat tidak masuk akal !. Bukankah justru kamu yang pertama kali meminta pada kakak untuk dibelikan komputer baru ?. Dan tidak dari Jamal, lelaki brengsek yang sudah menghianatimu itu. Jangan coba-coba bohong ya?,” potong Andrey cepat dengan suara tinggi. Kemarahannya mulai memuncak.
“Benar, Kak. Ini semua inisiatif dari Jamal sendiri sebagai hadiah untuk Tina dan…,” Tina tak dapat melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya seperti tercekat. Tanpa sadar, bulir-bulir airmata gadis manis itu mulai mengalir dipipi.
“Pokoknya Kak Andrey tidak mau tahu soal komputer pemberian Jamal kepadamu. Kamu harus kembalikan dan jangan pernah terima lagi pemberiannya. Aku masih bisa beliin kamu komputer yang lebih baik dari dia. Paham ?,” tegas Andrey.
“Ya, Kak..,” sahut Tina lirih sekaligus pasrah. Dadanya terasa sesak oleh tekanan batin yang mendera baik dari Andrey kakaknya maupun musibah yang baru saja menimpa Jamal.
Dengan perasaan galau, Tina menstarter mobil starlet biru kesayangannya. Ia tak tahu hendak kemana saat ini. Biarkan angin yang membawaku pergi, demikian ia membatin. Getir.
Dan mobil mungil itupun melaju kencang meninggalkan decit menggiris dan bekas ban di aspal.
---***---
Dokter Hasan menyeka peluh dikeningnya dengan punggung tangan. Bukan hal yang lumrah memang diruang ICU yang sejuk berpendingin udara seperti ini, dokter ahli ortopedi itu kepanasan. Tampaknya ketegangan yang menyelimuti selama menangani pasien spesial hari ini membuatnya gugup.
Ia lalu memandang rekannya, Dokter Adi sang spesialis syaraf, yang tengah sibuk memeriksa kabel pemantau syaraf otak dan peralatan elektronik pendukung lainnya yang terhubung ke tubuh pasien mereka, Jamal Kelanamaya.
“Di, bagaimana keadaannya ?.”
“Masih koma, Cang. Syaraf otaknya mengalami guncangan luar biasa pasca kecelakaan. Tapi secara umum sih nggak masalah. Hanya aku khawatir kelak kalau sadar, ia bisa mengalami Amnesia,” sahut Dokter Adi cemas. Wajahnya terlihat letih.
“Hah ? Amnesia ? Hilang ingatan maksudmu?,” pekik Dokter Hasan heran.
“Kira-kira begitulah. Dari hasil CT-Scan, cedera kepala fatal yang dialami artis top ini menyebabkan interaksi syaraf otaknya relatif terganggu. Akibatnya, ketika ia sadar nanti, penyakit amnesia bisa menghinggapinya. Mudah-mudahan kondisi ini tidak akan terjadi dan kalaupun dapat terjadi kelak, tidak akan berlangsung lama. Aku harus terus memantau perkembangannya dari waktu ke waktu,” jawab Dokter Adi sambil mencuci tangannya di wastafel dekat pembaringan Jamal yang terbujur lesu.
Dokter Hasan mengangguk-angguk setuju.
“Semoga, Di. Pasien figur publik seperti Jamal ini memang butuh perhatian extra dari kita. Sorotan media maupun fans beratnya pasti akan terus mengikuti secara seksama perkembangan terakhir kesehatan Jamal. Sedetail mungkin. Coba lihat, di lobby rumah sakit ini saja sudah dipenuhi wartawan infotainment yang ingin mencari kabar terbaru soal Jamal. Belum lagi fans-nya yang terus berdatangan menyampaikan simpati. Siap-siap aja kita jadi artis dadakan yang diwawancarai wartawan,” seloroh Dokter Hasan.
Dokter Adi tertawa renyah.
“Cang, biar saja Humas rumah sakit ini yang menjawab pertanyaan wartawan tentang kondisi Jamal. Aku nggak mau repot dikejar-kejar mereka untuk diwawancarai dan kemudian nampang di layar TV sebagai bintang kagetan. Kecuali jika memang terpaksa. Istri dan anakku bisa shock nanti melihat tampang konyolku muncul disana. Yang penting kita sudah menyiapkan laporan hasil perkembangan terakhir Jamal dan menyerahkannya ke Dokter Rio, Direktur Rumah Sakit ini,” sahut Dokter Adi sambil menepuk bahu sahabat kentalnya itu.
“Okelah. Jadi kita ke ruangan Dokter Rio sekarang ?”
“Yuk. Laporannya sudah siap koq.”
Kedua dokter andalan rumah sakit “Harapan Tanpa Batas” itu kemudian berjalan beriringan keluar dari ruang ICU.
---***---
Ia berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun kepalanya. Panas dan membakar. Ia tidak peduli.
Jamal, lelaki itu, dengan dada telanjang dan otot berkilat keringat, menatap nanar kedepan. Kedua kakinya kuat mencengkeram ketanah tempat ia berpijak seperti akar pohon beringin yang kokoh tak tergoyahkan. Tangannya terkepal. Kedua ruas bahunya meregang kencang. Rahangnya mengeras. Tak ada rasa gentar dimatanya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.
Seberkas sinar menyilaukan mendadak datang dari kejauhan. Di ufuk cakrawala. Jamal memicingkan mata untuk lebih cermat melihat apa yang tengah terjadi saat itu. Cahaya pelangi muncul dari sana. Indah. Bercahaya. Berpendar. Membiaskan warna-warni cerah. Membentuk lengkung ibarat “jembatan” yang mengarah kearahnya. Ke tempat ia berdiri.
Jamal terkesima. Ia seperti tak percaya apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Disana, dari kejauhan, perlahan tapi pasti, sosok gadis yang sangat dikenalnya muncul. Dalam balutan gaun putih berkibar dan rambut panjangnya bergerai ditiup angin. Anggun berjalan meniti pelangi. Seperti peri menyapa pagi. Seperti bidadari melukis hari.
“Tina..,”bisik Jamal lirih. Penuh rindu. Juga pilu.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar ceria. Ia lalu mengulurkan tangan kearahnya.
Jamal menyambut uluran tangan itu dengan gemetar. Senyumnya pun mengembang. Hatinya berbunga menyambut kebahagiaan yang siap ia reguk sepuasnya. Tanpa henti.
Tapi hal yang tak terduga terjadi. Tebing tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh. Pijakan kakinya goyah. Dan iapun jatuh dengan tangan menggapai-gapai tak rela. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha meraih tangan Jamal. Tapi sia-sia.
Jamal meluncur deras kebawah. Tak terbendung. Ia berteriak sekuatnya memanggil nama Tina. Gema suaranya memantul pada dinding-dinding tebing. Tubuhnya melayang. Menuju laut yang ganas menerjang dan karang yang tajam menghunjam.
Lalu semua menjadi gelap. Pekat. Hitam. Kelam.
Samar-samar Jamal mendengar Kahlil Gibran melantunkan sepotong syairnya:
“Cinta tidak menyadari kedalamannya,
Sampai ada saat perpisahan”
Monitor Indikator detak jantung yang terletak disamping pembaringan Jamal menunjukkan grafik naik sekejap, namun kembali normal sesudahnya. 2 orang perawat jaga di ruang ICCU tidak memperhatikan perubahan itu. Keduanya asyik mengobrol tentang sinetron favorit yang kebetulan dibintangi pasien istimewa yang tengah mereka tunggui. Sementara Jamal masih terbujur diam. Kaku. Tak bergerak.
---***---
Tina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan konstan. Ia masih bimbang untuk memutuskan akan kemana saat itu. Sudah hampir setengah jam ia hanya berputar-putar disekitar tempatnya mengajar. Sebenarnya terbersit dari hati kecilnya untuk menengok Jamal di rumah sakit dan mengesampingkan kenyataan bahwa ia akan “diinterogasi” lebih jauh oleh wartawan infotainment tentang hubungannya dengan artis terkenal itu.
Tapi ia masih belum memiliki cukup keberanian melakukannya apalagi Kak Andrey sudah jelas menyatakan sikap antipatinya pada Jamal. Sebuah dilemma yang cukup sulit bersemayam di hatinya.
Kerongkongannya mendadak terasa kering. Ia lalu memutuskan untuk parkir kembali tempat ia menerima telepon dari Andrey sebelumnya. Setelah mematikan mesin mobil ia meraih sebotol air mineral yang disimpannya dalam laci mobil. Dengan cepat ia meminum air mineral tersebut, membasahi kerongkongannya, memuaskan dahaga.
Setelah mengembalikan botol air mineral yang nyaris kosong itu, Tina mengambil dompet kesayangannya. Secarik kertas lusuh ia keluarkan dari sana. Puisi Jamal saat “melamar”menjadi kekasihnya. Dengan bibir bergetar, dibacanya berulang-ulang bait-bait terakhir dari puisi tersebut:
Kupersembahkan untukmu,
Bidadari jelita bermahkota bulan
Cinta bersahaja
Dari lelaki yang luluh terkulai dalam pesonamu
Yang senantiasa membuat malam menggeliat resah
Dan kerap bertanya:
Sampai kapan engkau mencumbui bayang-bayang ?
Kini,
Dapatkah kujadikan dirimu nyata dalam dekapku ?
Tina menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca didesak keharuan yang menyesak dada. Bait-bait puisi Jamal itu memberinya inspirasi ia harus kemana saat ini. Seulas senyum manis tersungging dibibirnya saat ia menghidupkan mesin mobil.
Labels: Cerfet Blogfam







