Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Tuesday, December 20, 2005

CERFET : BAYANG HITAM (EPISODE-10)

Saskia menatap monitor komputer didepannya. Lama. Perasaan tak percaya menyelinap dibatinnya. Juga ketakutan yang aneh. Dengan jemari gemetar ia membalas sapaan “sang tak tergapai” itu melalui YM-nya.

Saskia_in_love : Pesan ? Pesan apa ? Dan—yang paling penting lebih dulu adalah—kamu siapa ?

Unreacheable_me : Aku adalah seseorang yang kamu kenal. Paling dekat, hingga ke desah nafas dan tulang sum-sum kamu sekalipun.

Saskia mendengus kesal. Dia berusaha menarik dan mengais-ngais kembali segala kenangan yang tersisa dibenaknya untuk mendapatkan deskripsi lebih jelas siapa gerangan dibalik sosok “sang tak tergapai” itu. Tapi tak biasa. Ia gagal. Misteri itu tak jua terkuak.

Saskia_in_love : Aku paling tidak suka menebak sesuatu yang tidak jelas. Tolong katakan siapa kamu dan apa yang kamu maksudkan dengan “pesan” itu.

Unreacheable_me : Atau ??

Saskia_in_love : Atau aku akan memutuskan koneksi chatting kita sekarang juga! Dan jangan pernah berharap bisa menghubungiku lagi dengan cara atau dalih apapun. Paham ?.

Unreacheable_me : Jangan coba-coba mengancamku, Sas. Kamu fikir aku takut ?. Aku toh masih tetap bisa menghubungimu dengan cara lain yang tak akan pernah kamu duga. Silahkan kamu putuskan koneksi itu sekarang dan kamu akan menyadari bahwa sebuah ketololan terbesar dalam hidupmu baru saja kamu lakukan.

Saskia tersentak. Bayang hitam itu!. Apakah dia ?. Dan apakah itu “pesan” yang dimaksud ?. Seketika, bulu kuduk Saskia meremang. Kengerian dikejar bayang hitam dalam mimpi buruknya hampir setiap malam kembali terbayang. Tapi ia telah menetapkan hati. Tiada seorangpun yang memiliki hak untuk mengatur atau mengendalikan hidupnya. Termasuk sosok misterius itu sekalipun.

Tak lama kemudian jarinyapun menari lincah diatas keyboard.

Saskia_in_love : Apa kamu juga berfikir aku takut pada gertak sambalmu ?. Good-bye!

Dengan mantap Saskia memutuskan koneksi YM-nya dengan “sang tak tergapai”, sesaat setelah mengetik kata terakhir. Tidak hanya itu. E-Mail dari sosok misterius itupun segera dihapus dari inbox-nya dan mengatur setting email pribadinya untuk memblokir total semua email yang berkaitan dengan “unreacheable_me”.

Saskia tersenyum puas. Ia sudah siap menanggung semua resiko apapun, termasuk “melakukan ketololan terbesar dalam hidup”.

“Hei, Non. Ngapain sih senyam-senyum sendiri didepan komputer ?. Lagi chatting sama siapa hayoo ?”, goda Ria yang tiba-tiba nongol didepan meja kubikal Saskia.

Saskia terhenyak dan segera menata kegugupan yang mendera.

“Nggak koq,”kilah Saskia. “Aku baru saja baca joke lucu yang dikirim teman milis sekolah dulu.”

Ria terkekeh geli. Ia segera mendekati tempat Saskia duduk.

“Eh, mau nemenin aku ke pantry nggak ?”, ajak Ria sambil mencolek punggung Saskia. “Tadi pagi berangkat buru-buru ke kantor sampai nggak sempat sarapan. Aku mampir di halte depan rumah beli siomay. Yuk, bantuin aku habisin siomay-nya dong. Banyak banget nih!. Apalagi saat hujan seperti ini. Lebih enak disantap.”.

Tanpa berfikir panjang lagi, Saskia mengangguk dan segera menggamit lengan Ria keluar dari area teritori kerjanya. “Yuk..kebetulan aku lapar juga nih!”.


---***---

Lelaki itu mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat melalui kedua lubang hidung. Rimbun asapnya mengepul-ngepul disekitar ruangan. Aroma nikotin yang pekat begitu terasa diudara. Dan lelaki itu seperti berusaha menikmati kepulan-kepulan asap rokok yang berseliweran liar didepannya, tanpa peduli sedikitpun tanda “dilarang merokok” yang terpampang jelas di sudut ruang.

Lelaki itu lalu mematikan rokoknya yang belum benar-benar habis di asbak, lalu berjalan kearah jendela.

Diluar, hujan deras turun mengguyur bumi. Irisan-irisan air jatuh menerpa kaca jendela yang lalu membuatnya buram. Sesekali kilat terlihat menyambar di awan yang demikian pekat disaput mendung. Lelaki itu mendesah. Telunjuknya lalu ia tempelkan di atas permukaan kaca jendela yang lembab. Dingin dan basah. Begitu banyak kenangan yang pernah ia lalui bersama hujan. Seperti dulu.

“Hai kamu! Berhenti!”, gertak seorang preman bengis berbadan tinggi besar menghadangnya ketika sedang berlari menembus hujan sepulang sekolah.

Ia menghentikan langkah dan memandang sosok sang preman itu dari atas kebawah. Bulu kuduknya seketika merinding. Ia bergidik ngeri. Sosok itu begitu menakutkannya. Dengan misai kasar terhampar di dagu dan pipi, tubuh kekar dan lengan bertatto naga mengamuk, sang preman tampil bagai monster dihadapannya. Dalam hati ia merutuk kesal atas keberaniannya untuk pulang tanpa harus menunggu hujan reda lebih dulu lantaran tak ingin ketinggalan menonton film kartun kesayangannya.

“Uang. Serahkan uangmu!,” bentak preman itu sambil menengadahkan tangan kearahnya. Ia mundur selangkah hingga tubuhnya merapat ke tembok kusam dibelakangnya. Jantungnya berdetak cepat.

“Ss..sa..saya tidak punya uang, bang!”, sahutnya gugup. Keringat mulai mengucur didahinya.

“Jangan bohong kamu!,” seru preman itu seraya menghunus sebilah belati dan mengancamnya.

Ia menggigit bibir lalu memejamkan mata. Pasrah. Dan pada saat itulah keajaiban terjadi. Tubuhnya mendadak terasa panas dan bergetar hebat.

Sang preman terkejut dan mundur hingga beberapa langkah. Belatinya terjatuh. Yang dilihatnya sekarang bukan lagi sosok anak SMP bercelana pendek biru dan berwajah polos. Namun sesosok naga besar yang marah dengan kobaran api disekitarnya. Menyala-nyala dan siap menyambar serta membakar dirinya. Sang preman menjerit ketakutan lalu berlari sekencang mungkin. Meninggalkannya.

Dan pada peristiwa hujan yang lain,

“Berhati-hatilah pada bakat yang kamu miliki anak muda,” ujar seorang pria setengah baya menyapanya saat sedang menunggu hujan reda disebuah halte bis kota. Mereka hanya berdua saja disana.

“Bakat apa yang bapak maksud ?” tanyanya dengan suara sedikit nyaring untuk mengatasi riuhnya deras hujan yang menerpa atap halte.

Pria itu tersenyum. “Sixth Sense. Matamu tak bisa berbohong,nak”.

Ia lalu tertunduk rikuh kemudian melempar pandangan kedepan. Pada hujan yang deras mengucur. Pada jalanan yang basah. Pada lalu lalang kendaraan yang merayap pelan.

“Kamu patut bersyukur dianugerahi kemampuan langka seperti itu. Jangan sia-siakan. Kamupun mesti siap bertanggung jawab atas segala resiko jika menggunakan talenta yang kamu punya pada hal-hal yang tidak seyogyanya,” sambung pria itu—yang anehnya—terdengar begitu lekat dan jelas digendang telinganya. Ia menoleh dan nampak olehnya pria tersebut memandang tajam kearahnya sambil menunjuk keningnya sendiri. Akhirnya ia sadar.

Pria itu bercakap melalui telepati kepadanya!.

“Bicaralah. Dengan hati dan fikiranmu. Derai hujan sangat menganggu pembicaraan “normal” kita sekarang. Yakinlah kamu bisa. Aku bisa mendengarmu,” suara pria itu bergema kembali.

“Aku..tak bisa…,” gumamnya dalam hati. Perasaan galau menyelimuti batinnya.

“Kamu bisa. Aku mendengarmu,” sahut pria itu seperti berbisik ditelinganya.

Ia tersentak kaget karena tak menyangka iapun memiliki kemampuan sama seperti pria tersebut.

Sebuah bis nampak mendekat ke halte tempat mereka menunggu.

“Bis saya sudah datang. Harap ingat dan camkan nasihat saya hari ini. Tak banyak orang seberuntung kamu,nak. Sampai jumpa kembali dilain waktu,”suara pria terdengar pelan namun mantap. Tak lama kemudian sosok pria itu sudah berlari menembus rinai hujan dan menghilang ke badan bis yang melaju pelan.

Dan iapun terpukau dan terpaku dalam diam.

Lelaki itu menatap hampa keluar jendela. Hujan masih juga belum usai dan kaca jendela itu tetap saja buram. Rentetan kejadian yang dialaminya itu membuatnya sadar untuk bahwa ia memiliki”sesuatu” dalam dirinya yang jarang dimiliki manusia normal. Dan ia sangat membenci itu.

Terutama ketika ia tidak sempat menghalangi sahabat kentalnya, Anto, yang bersikeras mengikuti lomba balapan motor yang kemudian merenggut nyawanya. Ia sempat mendapat “gambaran” kelabu dalam fikirannya tentang kematian Anto hanya sehari sebelum ia tewas menabrak dinding pembatas di arena lomba. Indera keenamnya berupa kemampuan pre-kognisi kembali teruji saat ia memilih membatalkan kepergiannya berdarmawisata ke Taman Safari bersama teman-teman sekolahnya di SMA hanya karena ia mendapat firasat yang sangat jelas sehari sebelum keberangkatan, bis yang ditumpangi akan terbalik disebuah tikungan terjal. Ia sudah berusaha mencegah namun tak seorangpun mempercayainya sedikitpun. Untung saja peristiwa kecelakaan itu tidak merenggut korban jiwa. Namun setelah kejadian tersebut, hidupnya tiba-tiba menjadi berbeda. Kawan-kawannya “mengambil jarak” darinya karena dianggap sebagai sosok yang “aneh” dan iapun memilih menutup diri.

Ia benci memiliki kemampuan itu. Ia sudah mengorbankan banyak hal terutama pergaulan dengan rekan-rekannya di sekolah yang kian menjauhinya. Termasuk rekan wanita yang seperti alergi jika berada dekat dengannya. Lelaki itu kesepian. Juga merana.

Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa justru dengan kemampuan yang dimiliki terlebih jika diasah secara intens, ia bisa mendapatkan banyak hal. Khususnya demi menyokong kepentingannya sendiri. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk siapa-siapa.

Lelaki itu beranjak menjauh dari jendela dan duduk kembali di depan meja kerjanya. Ia lalu menarik laci bagian atas dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah guntingan berita Koran dua setengah tahun silam, yang sudah kusam dan menguning dengan headline menyolok: “Kecelakaan Tragis Pesawat Merah Putih Airlines Jakarta-Manado – Seluruh awak pesawat dan penumpang dinyatakan tewas”.

Seketika hatinya tersayat. Pedih.

---***---

Saskia mengunyah sepotong siomay yang diambilnya dari piring Ria dengan lahap.

“Non, rakus amat sih makannya ?. Gue disisain doong…,” protes Ria sewot.

Saskia terkekeh. “Siapa suruh ngajak gue makan bareng!. Baru tau kan’ gue ini maniak Siomay?. Apalagi hujan-hujan kayak gini. Rasanya nikmat banget.”

Ria merengut kesal dan mencubit pipi Saskia gemas.

Sekonyong-konyong wajah bulat Toni muncul dari balik pintu pantry. “Sas, dicariin Mas Rendro-mu tuh!”

“Dia kesini ?. Ke kantor kita ?. Ngapain ?. Tolong bilangin deh gue lagi nggak ada ditempat kek. Gue lagi malas ketemu dia. Please dong Ton,” tukas Saskia resah. Ia tak habis fikir Mas Rendro begitu nekat menemuinya dikantor setelah permintaannya untuk sejenak “istirahat” dari hubungan mereka tempo hari.

“Yaaa..telat Sas, gue udah bilang kamu ada. Masa’ mau bohong sih ?. Sudahlah temui aja dia di lobbi depan sekarang”, ujar Toni .

Dengan bersungut-sungut Saskia keluar dari pantry seraya mencubit pinggang Toni.
BERSAMBUNG
Episode lengkapnya, silahkan klik disini

Labels: