Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Monday, February 28, 2005

BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI

KEKASIHKU, jika engkau membaca e-mail ini, cobalah untuk mulai belajar melupakanku. Aku tahu kenyataan itu memang pahit dan berat buatmu, terlebih lagi buatku. Apalagi jika mengenang hari-hari penuh warna bersamamu, malam-malam yang liar bermandi peluh di apartemenku atau siang yang penuh gairah di hotel, tempat dimana kita saling melepas rindu sesaat sebelum kembali ke kantor masing-masing.

Masih teringat jelas dalam benakku saat pertama kita bertemu, pada sebuah akhir pekan yang basah diguyur hujan seharian, dalam café yang disiram cahaya temaram diiringi tembang jazz melankolis. Kamu datang kearahku dangan pesona kemilau kelelakianmu yang segera memporak-porandakan hatiku seketika dalam hitungan detik. Aku tak sempat berkata apapun, saat dengan sopan dan bersahaja, kamu mengajakku melantai. Tanganmu yang kekar memegang lembut bahuku dan harum nafasmu menggetarkan seluruh urat dalam tubuhku yang dahaga oleh cinta, saat kita berdansa dalam remang lampu café yang romantis. Hatiku tak mampu memungkiri bahwa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.

“Jadilah kekasih rahasiaku,” katamu di ambang pintu apartemen saat mengantarku pulang pada malam berkesan itu.

Kamu lantas mencium dahiku dengan lembut, tanpa perlu menunggu persetujuanku lebih dulu. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sebuah fenomena yang tak pernah aku rasakan dari lelaki manapun yang pernah singgah dalam relung hatiku selama ini.

Aku tak punya kekuatan apapun untuk menolak permintaanmu meski aku tahu sesungguhnya kamu telah memiliki keluarga yang dengan cemas menunggumu dirumah. Aku begitu terlena olehmu dan gelora gairah purba yang tiba-tiba muncul dalam diriku telah menghempaskan kita berdua dalam lautan petualangan cinta tak bertepi.

Sejak itu, kita merajut hari demi hari dengan ceria. Sorot matamu yang teduh namun tegas membuatku merasa selalu nyaman berada didekatmu. Aku senantiasa merasa tersanjung ketika dalam setiap e-mailmu kepadaku, kamu selalu menyelipkan sebait dua bait puisi cinta yang membuatku seperti melayang kelangit yang ketujuh. Tahukah kamu kekasihku, aku selalu menyimpan rapi puisi-puisi cintamu itu dalam helai demi helai buku harianku yang setiap malam aku buka kembali, membacanya pelan dengan bibir bergetar, berulang-ulang, sampai setiap kata demi katanya meresap dalam setiap sum-sum tulangku, mengaliri setiap nadiku dan akhirnya menggelegak dalam sebuah orgasme misterius yang berpendar-pendar dalam setiap relung kamarku. Kamu memang paling tahu bagaimana membuatku berharga, kekasihku.

Aku masih ingat betul salah satu momen kencan kita yang membuatku senantiasa mengenang betapa indah melewatkan hari demi hari bersamamu.

“Jangan pernah me-rebonding rambutmu, sayang,” katamu padaku saat kita melewatkan senja temaram di bibir pantai seraya membelai ikal rambutku.

“Kenapa ?”, tanyaku penasaran.

“Setiap kali membelai rambutmu, aku merasakan sensasi yang berbeda saat jari-jariku memilin dan menelusuri ruas demi ruas rambutmu. Ketika ruas rambutmu bergerak kembali menjadi ikal saat jariku lepas dari ujungnya, rambut itu meretas lurus sejenak, lalu berpilin lagi, perlahan tapi pasti seperti alunan ombak didepan sana. Aku begitu menyukainya,” jawabmu tulus.

Aku tersipu dan kemudian kita tertawa bersama, kemudian memandang debur ombak menghempas pantai serta merasakan desau angin senja yang sejuk . Kamu kemudian memeluk pundakku erat-erat dan bersama-sama lagi kita terpana menyaksikan keindahan mentari beranjak ke peraduan di ufuk cakrawala meninggalkan jejak-jejak merah jingga.
Aku tahu, kamu tentu tidak akan setuju pada keputusanku ini, namun percayalah ini jalan terbaik yang mesti kita tempuh, untuk saling memelihara bara api cinta kita secara elegan.

Kemarin, ketika secara tidak sengaja kita bertemu di Mall, kamu mengenalkan aku pada istri dan anakmu. Saat itu aku tahu, dari balik sorot matanya yang polos dan sederhana , istrimu memendam kepedihan yang lebih berat dari yang aku rasakan saat ini. Pun dari binar mata ceria, Ananda, anakmu aku menangkap seberkas cahaya pilu dan kehilangan sosok ayah yang didambakannya. Dalam pertemuan yang begitu singkat itu aku pun segera mendefinisikan ulang makna hubungan kita. Bukan semata atas dasar “solidaritas sesama wanita”, tapi lebih dari itu, komitmen rahasia yang kita bangun dalam setiap cumbuanmu dan desah nafasku, pada dasarnya begitu rapuh terutama oleh kesangsianku memaknai hubungan kita lebih lanjut. Keluarga yang dengan setia menunggumu dirumah lebih berarti dari diriku yang bagimu sekedar penyalur hasrat kelelakianmu.

Aku merasakan kepedihan luar biasa merambati hatiku saat menyaksikan kalian sekeluarga berjalan mesra berpelukan dihadapanku, setelah pertemuan di mall kemarin.
Sungguh beruntung Mbak Rita, istrimu, yang memiliki tajam mata elangmu dan kekar tubuhmu. Meski sudah berulang kali kamu katakan “Dia boleh memilikiku, tapi hatiku hanya untukmu” lewat bisik lirih ditelingaku, selalu, sesaat setelah kita menuntaskan hajat percintaan kita (Ketika itu, aku memang tidak peduli entah pada berapa banyak wanita lain kamu ungkapkan pernyataan yang sama). Saat ini aku baru menyadari sepenuhnya bahwa “kepemilikan” atas hatimu hanya semu belaka.

Bahwa aku mencintaimu sepenuh jiwa, aku tidak memungkirinya. Malam demi malam kulalui tanpa sedikitpun melewatkan lamunan tentangmu. Termasuk membangun keluarga bahagia bersamamu dengan anak-anak yang lucu sebagai perekat rumah tangga kita. Namun semuanya mendadak hilang tak berbekas, ketika menyadari bahwa aku hanya menjadi kekasih rahasiamu, yang menemanimu berlari dari jiwamu yang dahaga karena cinta dimana seperti katamu setiap kita usai bercumbu, “Istriku tidak memberi lebih baik seperti yang telah kamu persembahkan kepadaku”.

Pada saat yang sama, kamu sering bercerita tentang kelucuan Ananda, putrimu semata wayangmu yang baru berusia 2,5 tahun. Dengan bersemangat dan mata berpijar, kamu mengisahkan bagaimana Ananda belajar mengucapkan kata demi kata. Kamu kemudian memperagakan bagaimana Ananda salah mengeja kata yang kamu ajarkan, lalu kitapun tertawa berderai. Kamupun pernah bercerita bahwa setiap pagi, dengan setia, Ananda akan membangunkan tidurmu yang lelap dengan menarik kumis atau bulu betismu dengan brutal. Kitapun kembali tertawa bersama mendengarnya. Aku senang mendengarmu tertawa yang begitu lepas dan renyah.

Kamu sangat menyayangi Ananda yang sering kali aku tangkap dari sorot mata elangmumu yang berpijar setiap kamu bercerita tentangnya. Sempat terbersit rasa cemburu dihatiku namun segera kutepis jauh-jauh, karena dia adalah buah hati tercintamu. Tapi tak urung, kesedihan terkadang menyeruak dalam batinku, bahwa sesungguhnya, tidak hanya aku yang menempati sisi relung hatimu. Ada senyum polos Ananda disana yang membuatmu senantiasa ceria meniti hari. Yang paling membuatku kian nelangsa adalah, aku ingin kisah yang kamu tuturkan adalah tentang tingkah lucu anak kita, yang lahir dari kehangatan rahimku, buah kasih kita berdua.

Kita memang telah siap menempuh segala resiko dari hubungan rahasia kita. Namun dari lubuk hatiku paling dalam, setelah pertemuan dengan keluargamu kemarin, aku tak kuasa untuk segera menetapkan hati berpisah darimu, meski kepedihan melanda jiwaku saat ini. Cinta memang tidak dibangun untuk membuat rasa kehilangan, tapi pada akhirnya aku menyadari cinta antara kita mempunyai batas tepiannya sendiri. Sesuatu yang, sesungguhnya aku sadari akan terjadi sejak awal, cepat atau lambat, namun akhirnya kuingkari saat pesonamu membetotku dan membawaku ke dalam pusaran cintamu yang melenakan.

Aku akan simpan rapat-rapat kenangan manis diantara kita dalam bilik hatiku dan kemudian membiarkannya mengendap dalam senyap.
Kekasihku, mulai saat ini, cobalah belajar melupakanku sebagaimana saat ini aku telah mengunci rapat-rapat pintu hatiku untukmu. Aku tetap menyimpan puisi-puisi cintamu padaku sebagai monumen paling berharga tentangmu pada tempat yang aku harapkan tidak akan aku buka lagi sampai kapanpun.

Akupun tidak akan me-rebonding rambutku seperti pintamu, agar aku senantiasa merasakan telusur jarimu yang membelai mesra ikal rambutku, memilinnya perlahan kemudian meresapinya dalam-dalam pada setiap desah nafasku setiap kali ritual percintaan kita usai. Jangan pernah mencoba untuk menghubungiku dengan cara atau dalih apapun, sebab semuanya akan berakhir sia-sia.

Aku ingin kamu menghormati pilihan yang telah kuambil dan juga tak akan kusesali , atas nama bara api cinta yang telah kita tumbuh-suburkan dalam dada kita masing-masing selama ini, yang telah kita titipkan lewat debur ombak yang mengalun seperti ikal rambutku, yang berlalu bersama desau angin senja, tapi kekasihku, biarkan aku mencintaimu, dalam sunyi.

Jakarta, 28 Februari 2005

Labels:

Thursday, February 24, 2005

DAPAT JUARA IV LOMBA CERPEN BLOGFAM EUY...ALHAMDULILLAH !

Alhamdulillah, ternyata eh ternyata..setelah tidak menulis cerpen lagi sejak cerita pendek terakhir saya dimuat di Suara Pembaruan 22 November 1998, akhirnya berhasil mendapat Juara keempat dalam Lomba Cerita Pendek dan Flash Fiction Blogger Family dari cerpen saya yang berjudul "Jatuh Cinta di Kilometer Dua Puluh Tiga".


Saya mengirim tiga cerita pendek dalam Lomba tersebut (Insya Allah, saya akan posting semuanya di blog ini dalam waktu dekat) tentu untuk memperbesar kemungkinan menang. Tapi tampaknya memang, persaingan demikian ketatnya. Peserta lomba yang juga adalah "aktifis blogger" ini, benar-benar merupakan penulis-penulis yang piawai mengurai cerita. Salut buat semua peserta Lomba !.
Terimakasih untuk kerja keras Panitia Lomba dan juga juri (Adhitya "Jomblo" Mulya, Ninit "Kok Putusin Gue" Yunita, Nazla "Lelaki Pembawa Senja" Luthfiah, Isman "Bertanya atau Mati" Suryaman, dan Maknyak Blogfam) yang telah berhasil mewujudkan Lomba ini, semoga akan lahir penulis-penulis berbakat dari komunitas blogger family. Juga terimakasih sebesar-besarnya atas ucapan Selamat dari rekan-rekan baik melalui e-mail, telepon maupun di shoutbox blog ini untuk saya. Semoga ajang ini merupakan cambuk yang akan melecut saya untuk berkarya lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Friday, February 18, 2005

ALHAMDULILLAH, DAPAT ANUGERAH WEB TERBAIK


SYUKUR Alhamdulillah, menyusul sukses blog anak saya menjadi web terbaik Indonesia, hari ini blog yang saya buat sebagai kumpulan cerita pendek saya ini dinobatkan pula sebagai web terbaik Indonesia kategori hiburan melalui www.webterbaik.com

Terimakasih sebesar-besarnya atas anugerah ini, dan semoga dapat memacu kualitas dan kreatifitas saya dimasa yang akan datang.

Penghargaan ini saya persembahkan untuk istri saya tercinta, Sri Lestari serta kedua anak saya tersayang Muh.Rizky Aulia Gobel dan Alya Dwi Astari Gobel sebagai buah hati cinta kami sekaligus menjadi mata air yang, tanpa henti senantiasa memberi saya inspirasi untuk memaknai hidup ini lebih berarti.

BADAI DALAM KARUNG

OTOT – OTOTNYA menegang kencang pada dua ruas bahunya yang kukuh dan berkeringat. Dadanya yang telanjang, legam berkilat diterpa sinar mentari siang yang ganas. Luthfi, demikian nama lelaki itu, seperti pasrah dan menyerah pada nasib. Ia tak bisa menggugat apa pun atau siapa pun atas apa yang telah dialami sekarang. Sebagai buruh harian lepas pada kontraktor pembangunan gedung pusat perbelajaan, yang tak memiliki kekuasaan apa – apa, dia tak dapat menolak keputusan PHK dari atasannya.

“Proyek pembangunan gedung kita ini ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kami kehabisan dana. Akibat krisis moneter yang berkepanjangan, harga – harga bahan bangunan melonjak naik tak terkira. Budget yang tersedia tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan itu. Maaf, Bapak – bapak, kami terpaksa memberhentikan Anda semua dari pekerjaan ini,” kata Ir.Umar, site Manager proyek tersebut di depan seluruh buruh harian pagi tadi dengan suara serak.

“Bagi kami, ini merupakan keputusan terbaik, meski dari lubuk hati yang paling dalam kami tidak tega melakukan. Sekali lagi saya atas nama pribadi dan direksi mohon maaf. Hari ini adalah hari kerja Bapak – bapak yang terakhir kali. Semoga di waktu mendatang, Bapak – bapak cepat memperoleh pekerjaan lagi. Sekian, “ katanya mengakhiri penjelasan.

Kalimat – kalimat Ir. Umar tadi seperti tergiang – ngiang kembali ditelinga Luthfi. Mendengung, Bagai memecah gedang telinganya. Harga dirinya runtuh. Ia lalu tertunduk lesu pada sebongkah beton sembari memandang rekan – rekannya yang sudah mulai berkemas pulang. Hari ini mereka hanya bekerja setengah hari. Terlihat oleh dia ekspresi wajah seragam ; pucat dan kuyu. Tanpa semangat hidup.

“Kamu belum pulang, Luthfi?” sapa Eko rekan sekerjanya. Luthfi menggeleng pelan. Tanpa kata – kata. Eko mengangguk maklum dan melanjutkan langkahnya. Luthfi menggigit bibir. Ia teringat Agung dan Rina, anak dan istrinya dirumah. Mereka menggantungkan harapan dan masa depan mereka pada Luthfi, tamatan SMP yang hanya bisa mengaduk semen dan mengangkat batu. Ia tidak tahu dengan apa harus melanjutkan hidup untuk besok dan seterusnya. Agung, anak semata wayangnya yang baru berusia dua tahun serta sorot mata teduh Rina istrinya yang dengan sabar dan telaten mendampingi dia dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Luthfi menunduk, menekuri tanah proyek yang berdebu.

“Luthfi, sudahlah, tak usah kamu sesali. Kita semua mengalami hal sama denganmu. Besok kita cari lagi pekerjaan diproyek yang lain. Ayo, kita pulang,” tegur Firman, mandor kepala, membuyarkan lamunannya. Luthfi mengangkat wajah. Dia tatap wajah Firman, ada raut kedamaian di sana.

“Luthfi,”kata Firman lembut, “ saya juga pernah mengalami hal sama. Saya putus asa, tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Tapi saya segera sadar . Tuhan Maha Adil, selalu mendengar dan membantu hambaNya yang mau berusaha. Saya selalu menanamkan keyakinan itu”. Luthfi mengangguk.

“Terima kasih, Pak Firman,” jawabnya lirih. Firman tersenyum tulus kemudian menepuk pundak Luthfi untuk beranjak dari tempat itu. Angin berhembus kencang, pohon – pohon meliuk dan debu – debu gersang beterbangan, berputar tak teratur lalu menghilang.


*****


SAAT hendak mengungkapkan kenyataan pahit itu pada istrinya, Luthfi merasa menjadi seorang pecundang yang kalah telak. Sepanjang jalan, ia berusaha memilih kalimat – kalimat terbaik untuk diucapkan kepada Rina, supaya ia tak terlalu “terpukul”. Tetapi ia tak bisa. Istrinya yang mengenal watak dan perangainya, secara intuitif mendapat firasat sesaat wajahnya muncul dari pintu depan. Ekpresinya adalah ungkapan yang paling jujur. Belum sempat berkata apa – apa istrinya menghambur ke arah dia. Memeluknya erat – erat. Mengalirkan kehangatan dan pengertian wanita yang dia cintai.
“Kamu tidak usah bilang apa – apa Mas. Rina sudah tahu apa yang terjadi. Mas Luthfi jangan sedih. Tuhan akan selalu menolong kita. Rina senantiasa mendampingi Mas dalam situasi sesulit dan seburuk apa pun. Selalu, Mas. Selalu….,” kata Rina terbata – bata. Air matanya berlinang. Luthfi merasakan butir – butir air hangat itu jatuh di bahunya. Luthfi mempererat pelukannya. Ia terharu dan kagum pada kesetiaan yang mendalam dari Rina.

“Saya tidak tahu dengan apa saya mesti menafkahi kamu dan Agung setelah saya di-PHK. Saya seperti terjatuh ke jurang yang amat dalam,” ujar Luthfi pelan. Dadanya terasa sesak. Ada beban berat menghimpit di sana.

“Mas, berjanjilah. Jangan putus asa. Jangan patah semangat. Saya tak rela jika Mas Luthfi jadi kehilangan harapan dengan kejadian ini. Saya tahu, apa yang Mas Luthfi alami sangat mengguncangkan hati. Tapi, Mas Luthfi jangan sampai merasa ini adalah akhir dari segala – galanya. Kesempatan bekerja tetap masih ada, selama kita berusaha dan berdoa. Tolong, Mas Luthfi pahami, ini demi saya istrimu dan Agung buah hati kita,” tutur Rina seraya menatap mata Luthfi dengan sorot tajam menghunjam. Luthfi tersenyum dan mengangguk. Ia membelai rambut istrinya dengan lembut.

“Rina, saya tak keliru memilihmu sebagai pendampingku sehidup semati. Saya tidak akan mengecewakanmu. Saya akan tetap berjuang. Demi kamu dan Agung serta kehormatan keluarga kita. Saya berjanji Rina, saya berjanji,” kata Luthfi mantap. Diraihnya tubuh istrinya. Dipeluk erat – erat. Ada sebentuk kesejukan terbit disitu. Di luar jangkrik mengerik. Sampai jauh.


*****


AKHIRNYA Luthfi mendapat pekerjaan sebagai buruh harian pengangkut beras di salah satu gudang logistik, selang dua bulan setelah menganggur dari pekerjaan proyek konstruksi. Ia berusaha menikmati pekerjaannya. Meski penghasilannya saat ini jauh lebih kecil dari tempat kerjanya dulu, Luthfi menabahkan hati. Ia percaya, rezeki dari pekerjaan ini bagi dia tetap merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya. Istrinya pun tetap memberi dukungan moral yang tinggi. Tugas Luthfi tiap hari dari pukul 08.00 sampai 17.00 adalah mengangkut karung – karung beras dari gudang ke atas truk – truk distribusi untuk disalurkan ketempat yang membutuhkan. Dengan postur tubuh yang tinggi kekar, bukan masalah bagi dia untuk membawa sekarung beras yang maksimal beratnya 80 kilogram. Ia bekerja sama dengan buruh harian lain, yaitu Yudi, Heri dan Bambang.

Hari demi hari berlalu, tanpa terasa ia telah bekerja di tempat itu selama toga bulan. Memasuki bukan ke empat, Lithfi merasa ada yang kurang beres. Sore hari menjelang pulang, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Hamzah, kepala gudang dan Syarif, kepala Satpam. Ia menguping pembicaraan dari balik partisi yang menghubungkan ruang staf dan gudang ketika melintasi ruang itu dari arah toilet.



”Agus, malam ini putauw – putauw itu kamu masukkan di karung yang sudah aku tandai. Jangan beritahu siapa – siapa. Kalau butuh bantuan, kamu panggil saja anak buahmu si Joko. Aku percaya sama dia. Beri dia honor secukupnya. Jangan panggil orang lain. Yang penting ini jangan sampai bocor ke siapa pun juga. Ingat, ini bisnis besar. Kalau berhasil, kamu pasti dapat honor gede. Lumayan besar dibanding gajimu di sini. Bos John sudah menunggu kiriman ini besok melalui truk jam 10.00 pagi. Tidak boleh telat dan gagal! Kamu mengerti kan ?” demikian suara berat Hamzah memerintah Syarif. Syarif tidak segera menjawab, ia hanya mendehem. Hamzah tampaknya tahu isyarat itu.
“Oohh… soal uang mukanya. Nih Rp. 500.000 dulu. Sisanya nanti saya berikan setelah tugasmu selesai. Ingat Syarif, jangan kecewakan saya. Juga Bos John. Okey?” ancam Hamzah.

“Beres, Bos. Percayakan saja sama Syarif!” sahut Syarif. Suaranya terdengar riang. Kemudian terdengar langkah – langkah menjauh. Luthfi merapatkan tubuh kedinding dan berjalan mengendap kembali ke arah toilet. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat dari kejauhan tubuh Hamzah masuk kedalam mobil Toyota Kijangnya.

Luthfi menelan ludah. Sebentuk kegalauan bergejolak di hatinya. Ia tak menyangka bisnis kotor juga terjadi dalam lingkungan kerjanya. Tidak tanggung-tanggung, bisnis obat terlarang! Seketika bulu kuduknya meremang. Ia merasa takut. Entah pada apa. Ia lalu teringat wasiat ayahnya menjelang wafat untuk tetap memelihara dan menjaga nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta gigih membela kebenaran.

Watak luhur jago silat kampung dan kearifan petani penggarap, memang menjadi warisan utama dari ayahnya. Luthfi memegang teguh prinsip-prinsip itu secara konsisten. Kini ia dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Melaporkan kejadian ini pada polisi dengan risiko terburuk terkena PHK, atau membiarkan proses ini berlangsung terus dengan risiko mengingkari hati nurani dan amanat ayah tercintanya. Bagi Luthfi keduanya adalah pilihan yang sama sulit. Ia bimbang.

“Luthfi, kamu belum pulang?” tegur Syarif, sang kepala Satpam menyentak lamunannya. Luthfi gelagapan dan berusaha menemukan jawaban terbaik.

“Ini…, baru mau siap-siap pulang pak!” jawabnya gugup, seraya meraih tas pundaknya, lalu bergegas pergi. Syarif hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berbalik kembali ke kantor. Luthfi mempercepat langkahnya. Bergegas. Nafasnya memburu. Batinnya merasa khawatir entah pada siapa. Langit kelam, dan awan hitam menggumpal. Petir pun menggelegar. Hujan akan segera turun.


*****


“MAS Luthfi Yakin dengan apa yang Mas dengar tadi?” Tanya Rina istrinya saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Luthfi tidak segera menjawab. Ia lalu mengambil sepotong singkong rebus di atas piring. Dikunyahnya pelan. Dan Istrinya mengamati dengan sabar saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Begitulah kejadiannya Rina.Saya benar – benar yakin dengan apa yang saya alami. Saya kaget dan hampir tidak percaya setelah mendengar kenyataan itu,” sahut Luthfi. Suaranya terdengar cemas.

“Lantas, menurut Mas Luthfi, apa yang sebaiknya Mas lakukan?” Tanya Rina lagi.

“Melaporkannya ke Polisi!” tegas Luthfi yakin. Ditatapnya lekat – lekat wajah istrinya. Rina menghela nafas panjang lalu menunduk menekuri lantai rumah kontrakan mereka. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar kencang. Ia merasa takut. Takut sekali.

“Mas Luthfi, sudah berpikir risikonya?”

“Rina saya memegang teguh prinsip hidup saya dan keluarga saya. Menentang kezaliman . Tentang resiko, saya piker, itulah yang mesti kita pikul ketika menentukan suatu pilihan. Kita tak dapat mengelak dari itu!” kata Luthfi dengan mata menyala.

“Mas Luthfi rela mempertaruhkan saya dan Agung, anak kita?” Tanya Rina lagi.

”Saya tidak mengatakan ini sebagai suatu pertaruhan, Rina! Ini adalah soal mempertahankan prinsip. Saya tidak suka dan tidak rela mereka memanfaatkan fasilitas kantor untuk melakukan tindak kejahatan. Kalau hal ini sampai terjadi terus dan suatu waktu ketahuan belangnya oleh pihak berwenang saya toh juga diciduk. Dan tak punya harapan apa – apa lagi untuk dapat kembali bekerja. Cepat atau lambat semua ini akan terjadi , Rina. Kamu mesti paham itu. Saya sama sekali tidak punya maksud mengorbankan, apa lagi melibatkan kamu dan anak kita si Agung dalam kasus ini. Sungguh Rina. Sungguh!”jawab Luthfi seraya memegang bahu Rina erat – erat lalu menatap dalam – dalam wajah teduh istrinya. Rina terdiam. Ia tak bisa berkata apa – apa lagi. Luthfi lantas mengelus lembut rambut istrinya.

“Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk menempuh langkah itu Mas,”ucap Rina lirih. Air matanya mulai menggenang. Luthfi meraih tangan istrinya. Digenggamnya erat – erat.

“Mas Luthfi mesti memikirkan juga komplotan itu tahu bahwa yang melaporkan kegiatan mereka ke polisi adalah Mas Luthfi. Berbahaya sekali. Mereka pasti tidak akan segan – segan membunuh Mas Luthfi. Rina takut hal ini terjadi. Rina tak ingin kehilangan Mas Luthfi,” tutur Rina tersedu – sedu. Tenggorokannya tersekat. Luthfi tersenyum bijak. Ia kemudian memeluk istrinya. “Rina saya sudah berpikir langkah paling aman untuk mengungkap hal ini tanpa harus mengorbankan nyawa. Saya tidak bodoh. Kamu tak usah cemas. Yang paling penting buat saya saat ini adalah dukungan dan doa kamu agar saya memiliki kemantapan hati dan jalan yang lapang melaksanakannya. Itu saja,” kata Luthfi dengan lembut menenangkan istrinya.

Rina terdiam. Untuk beberapa saat ruang tamu kontrakannya yang sempit begitu sepi. Luthfi mencium kening istrinya. Malam kian larut dan mendung menggantung dilangit.


*****


LUTHFI dengan teliti dan hati-hati menyelidiki aksi komplotan itu bersama Letnan Indra, Sersan Yudo dan Kopral Yanto dari kepolisian yang menyamar sebagai salah satu distributor pelanggan gudang logistik itu, sambil mengumpulkan bukti – bukti yang akurat. Dalam waktu tidak terlalu lama polisi langsung membongkar kehatan penyeludupan putauw via karung beras itu dengan sukses. Hamzah, sang kepala gudang juga Syarif, kepala Satpam serta anak buahnya, Joko ditangkap dengan bukti nyata berupa selundupan mereka.

“Terima kasih, Pak Luthfi. Berkat Pak Luthfi kita berhasil membongkar jaringan pengedar obat – obat terlarang di gudang ini. Sayang sekali gembong penyeludupan ini yang mereka sebut – sebut Bos John berhasil kabur keluar negeri. Kami akan coba menangkap dan mendeportasinya ke sini. Sekali lagi terima kasih atas kerjasama anda,” kata Letnan Indra dengan mata berbinar menjabat tangan Luthfi.
“Terimakasih kembali, Pak Indra. Saya akan selalu siap membantu Bapak kapan saja jika diminta,” sahut Luthfi sembari membalas jabatan tangan Letnan Indra dengan hangat.

Rombongan dari kepolisian kembali ke markas mereka sambil menggiring ketiga orang tersangka penyelundup itu. Sekilas, Luthfi melihat tatapan Sinis Hamzah dan Syarif kepadanya. Ia tak peduli dan tak mau peduli. Hatinya lega. Akhirnya semua telah usai dan tuntas. Dalam bayangannya ayahnya tersenyum bangga kearah dia. Ia telah melaksanakan amanah beliau.

Luthfi kemudian bergegas pulang ia akan mengabarkan berita baik ini pada Rina.”Saya menang, saya menang, saya bukan pecundang!”. Luthfi membatin sambil memanggul tas pundaknya Luthfi mengayunkan langkah dengan ringan.

Tanpa disadarinya sebuah sepeda motor pengendara dengan berhelm yang menutupi kepala merapat kearahnya dari belakang. Pengendara itu mengacungkan pistol Revolver kepunggung Luthfi. Dan … door !” letusan pistol menyalak. Luthfi tersungkur jatuh diaspal. Pengendara motor tadi langsung memacu motor sekencang-kencangnya.
Darah mengalir dari dada Luthfi. Terasa sakit. Seketika ia menyadari apa yang baru saja terjadi. Orang-orang sekitar jalan itu mengerubunginya. Samar-sama Luthfi melihat wajah teduh Rina tersenyum kearahnya, wajah Agung anak semata wayangnya dengan mata bulat lucu menatap penuh harap. Ia meraba dadanya yang bersimbah darah. Lalu ia tak ingat apa-apa lagi.

“Ikutlah nak..”, terdengar suara yang begitu dia kenal bergema. Suara ayahnya. Begitu dekat. Begitu nyata. Wajah jernih ayahnya terlihat bercahaya. Sambil tersenyum, ayahnya menggandeng tangannya terbang menuju mega. Melintasi awan putih. Meniti pelangi….

Dimuat di Harian SUARA PEMBARUAN, Minggu 22 November 1998 dengan judul “Badai”.






Labels:

Monday, February 14, 2005

PESAN CINTA BLOGGER INDONESIA

Valentine Untuk Roy Suryo



Internet, 14 Februari 2005

Sehubungan dengan berbagai komentar KRMT Roy Suryo Notodiprojo akhir-akhir ini di berbagai media, kami, komunitas blog Indonesia berkesimpulan bahwa beliau kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog. Kami sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah wadah nyata untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Kami juga yakin bahwa KRMT Roy Suryo sebagai seorang manusia tentulah sangat membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Oleh karena itu, kami, komunitas blog Indonesia pada bulan penuh cinta ini sepakat untuk mendedikasikan hari Valentine tahun 2005 khusus untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo.

Salam hangat selalu serta penuh perhatian dan kasih sayang dari kami untuk KRMT Roy Suryo Notodiprojo di Hari Kasih Sayang ini.

Tertanda

Komunitas Blog Indonesia

Tuesday, February 08, 2005

SALJU DI KYOTO

KYOTO masih seperti dulu, saya bergumam dalam hati ketika menapak tilas perjalanan saya kembali ke kota kebudayaan di negeri Matahari Terbit. Gedung kuno dengan ornamen yang sarat imaji kontemporer seperti kuil Higashi Honganji, Sanjusangendo, Kiyomizu, dan Ryoanji, berpadu dengan bangunan berarsitektur modern berlatar belakang perbukitan yang indah, terbentang di hadapan saya. Bau sake kelezatan tempura, sukiyaki, dan yakitori yang khas seperti menusuk hidung saya. Melempar saya kembali pada kenangan lima tahun silam….


*****


Saat salju turun bagai gumpalan kapas menyelimuti kota itu. Saya memandanginya penuh takjub dari jendela kamar di salah satu suite apartemen di pusat kota Kyoto. Salju dimana-mana, di puncak bukit, di bubungan rumah hingga jalan, dan trotoar. Suatu pemandangan yang sangat langka terjadi di Indonesia. Disamping saya duduk Asako, gadis Jepang lulusan Harvard University yang jadi penerjemah dan pemandu saya selama mengikuti pelatihan di Jepang. Ia memandang saya dengan tatapan heran.

“ Asako, salju itu indah!” saya bergumam pelan tanpa melepaskan pandangan ke luar.
Asako tertawa geli. Dengan penuh ingin tahu dia juga mengarahkan pandangan ke luar. Wangi parfum Shisuedonya memenuhi udara.

“ Anda lucu , Taufiq-san. Bagi saya turunya salju bukan sesuatu yang luar biasa,” katanya. Ia membalikkan badan dan berjalan mengambil minuman.
Saya tidak menanggapi kata-katanya.

“ Anda mau sake, Taufiq-san ?” Asako menawarkan.

Saya mengangguk perlahan. Dengan langkah ringan Asako lalu datang membawa dua cangkir sake. Ia mengangsurkan sebuah cangkir berisi sake kepada saya.
Dozo
, Taufiq-san. Anda ingin kita kampai untuk siapa, atau…. Apa?” Asako bertanya, memamerkan senyumnya yang menawan.
Arigato Gozaimas
, Asako-san. Begini saja, kita kampai untuk keindahan salju dan keindahan….. senyummu. Oke?” Saya menyarankan.



Pipi Asako memerah. Ia belum sempat menjawab ketika saya mengangkat cangkir sake sambil berseru, “ Kampai! Untuk salju yang indah dan Asako-san!”
Asako mengikuti dengan gugup. Kami meneguk sake bersama. Hanya sekali tegukan. Sesudah itu kami saling pandang, lama.

Paras Asako berbeda dengan wanita Jepang kebanyakan. Ia memiliki mata yang jernih, tidak terlalu sipit, dan kulit yang cenderung kecoklatan. Tapi, disitulah daya tariknya!

Saya belum terlalu lama mengenalnya. Selama 6 bulan waktu pelatihan keteknikan dan manajemen yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja, Asako dan dua orang temannya ditugaskan sebagai penerjemah bahasa Jepang.

Berhubung diantara kami yang berjumlah 15 orang, tak seorangpun bisa berbahasa Jepang, sebaliknya tak seluruh pengajar kami dapat berbahsa inggris, apalagi bahasa Indonesia. Asako bertugas dua kali seminggu, bergantian dengan dua rekannya. Mereka menjadi ‘jembatan budaya’ kami dengan Jepang. Asako, yang juga bejerja pada bagian pemasaran perusahaan periklanan di Kyoto, termasuk gadis yang lincah dan supel. Dia berbeda dengan dua rekannya yang kaku. Dalam waktu sebulan saja, ia sudah akrab bersama kami, terutama pada saya. Kedekatan saya dengan Asako lebih dari sekedar hubungan antara guru dan murid.

Hubungan kami berkembang menjadi saling pengertian yang lebih jauh. Saya tidak tahu, apakah itu cinta atau tidak. Yang jelas Asako tidak menginginkan itu. Katanya suatu ketika, Taufq-san, mohon anda paham. Saya berharap hubungan kita adalah persahabatan, tidak lebih. Saya tak ingin terluka. Anda bisa mengerti, bukan? Waktu itu saya tak bisa berkata apa-apa. Saya hanya mengangguk. Saya berusaha mengerti, bahwa ada tirai tipis yang menghalangi hubungan kami. Asako sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk tersebut lebih awal.

Kini, Asako ada dihadapan saya. Kami saling pandang. Ada getar-getar misterius mengalir dari kedua mata kami.

“Anda membuat saya jengah, Taufiq-san,” Asako tersipu,lalu menunduk malu

Saya tertawa. “ Sudahlah, mari kita cerita yang lain. Tentang salju, misalnya,” ujar saya mencairkan suasana. Asako tersenyum. Ia menawarkan sake lagi. Dan, kami minum bersama sambil duduk diatas tatami.

“Oh, ya! Tentang salju…. saya punya cerita tentang itu,” Asako memulai kisahnya. Matanya yang jernih berpijar. “ Saya lahir dikota Nagaokakyo, Tepat pada saat salju pertama turun setelah musim gugur 1970. Orang tua saya karyawan perusahaan elektronik terkemuka di Jepang. Saya anak perempuan pertama di keluarga saya. Kedua kakak saya lelaki. Saya mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih dibanding mereka.”

“ Waktu kecil , setiap kali salju turun, Ayah selalu mengendong saya. Kami berdua memandang dari balik jendela yang buram, salju berjatuhan dari langit. Ayah selalu terpesona dengan pemandangan itu. Kadang ia duduk di kursi, memangku saya dan menatap kagum butir-butir salju tersebut sambil membelai kepala saya. ‘ Asako,Indah sekali salju itu. katanya. Kalimat itu senantiasa tergiang di telinga saya setiap kali saya melihat salju turun.” Asako terdiam sejenak lalu menerawang, mencoba menyeret kembali segala kenangan masa lalu.

“ Beberapa tahun kemudian”, lanjut Asako, “setelah saya berhasil menamatkan kuliah di Harverd University, saya mendampingi ayah terbaring di rumah sakit. Pada saat itu, salju baru turun di depan rumah sakit tempat Ayah dirawat. Dengan penuh harap ia meminta saya membuka tirai jendela rumah sakit untuk melihat butiran salju turun dari balik kaca. Saya memenuhi keinginannya. Dan, malam itu dia meninggal dengan senyum menghias bibirnya,” tutur Asako mengakhiri kisahnya. Matanya berkaca-kaca.

“ Cerita yang sangat menarik, Asako! Ternyata kau memiliki pengalaman dan kenangan mendalam tentang salju,” saya memandangnya terharu.

“ Terutama kenangan pahit, Taufiq-san. Masuda, kekasih saya, menyatakan perpisahan kami pada saat musim salju pertama turun, bulan Desember tahun silam,” Asako tiba-tiba terisak. “Dengan ringannya Masuda berkata, ‘Asako, masih selalu ada salju yang turun setiap tahun.’ Kemudian dia pergi begitu saja, tanpa kabar apapun. Hingga kini….” Kata Asako lirih. Air matanya mulai berlinang.

Saya tidak tahan untuk tidak memeluknya. Saya lalu mengambil sapu tangan dan menyeka air matanya.

“Apakah saya terlalu cengeng dan sentimental, Taufiq-san?” Asako bertanya dengan bibir bergetar.

Saya tersenyum dan menjawab seraya menepuk pundaknya,”Asako, mengekspresikan kesedihan itu alamiah. Setiap orang, termasuk saya, pasti memiliki masa lalu yang pahit. Oke, kita tak usah bercerita tentang salju. Gantian, saya yang akan bercerita tentang kampung halaman saya.”

Asako mengangguk, matanya yang redup mulai berbinar. Sayapun bercerita tentang Indonesia, kampung halaman saya. Tentang keindahan masa kecil saya bermain bola di atas petak sawah yang mongering dengan telapak kaki telanjang. Mandi beramai – ramai di sungai, dan… sapi peliharaan saya, Panjul, yang akhirnya dijual Ayah ke Pak Paimin untuk membiayai sekolah saya ke kota.



Saya mengisahkan kesedihan saya ditinggalkan Panjul. Saya membayangkan dia dipotong, dicincang, dibuat soto daging dan satai. Asako tertawa geli melihat ekspresi wajah saya ketika memamerkan gaya tukang daging dengan wajah dingin sedang mencicang si Panjul.

Saya mengakhiri kisah saya sambil memandang Asako yang tersenyum. Dalam keredupan lampu, saya melihat wajahnya bersinar cantik sekali. Malam semakin larut. Saya pamit pulang ke hotel saya yang letaknya tidak jauh dari suite apartemen Asako dengan berjalan kaki.

Saat mengenakan jaket, Asako tiba-tiba berdiri di hadapan saya, dekat sekali. Tatapannya misterius. “Taufiq-san, Arigato. Terima kasih,” katanya pelan. Ia lalu mencium pipi saya. Saya terperangah oleh kejutan yang tidak terduga itu .
Oyasuminasai, Asako-san. See you tomorrow,” saya berkata kemudian berbalik pergi meninggalkan Asako yang masih berdiri terpaku di depan pintu apartemennya.

Sejak saat itu, hubungan saya dan Asako makin dekat. Asako selalu menemani saya mengunjungi daerah – daerah pariwisata terkenal di Kyoto. Kami pergi ke villa Kerajaan Katsura yang memiliki tata arsitektur etnik yang menarik. Termasuk perkampungan film Toei Uzumasa yang ditata apik bersuasana zaman feudal yang kental. Saya berusaha menjaga jarak dengan Asako .

Saya menghormati komitmen yang sudah ia berikan. Meskipun untuk itu saya harus memendam ketertarikan saya kepadanya dari hari ke hari. Pada saat saya terakhir berada di negara Sakura itu, kami berjalan berdua menyelusuri daerah Kawaramachi, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Kyoto. Kami lalu duduk di salah satu sudut restoran sembari menyantap tempura dan minum bir.

Kami memandangi orang yang lalu lalang dihadapan kami. Mereka seolah tak perduli musim dingin dengan timbunan salju yang menggumpal dimana-mana.

“Taufiq-san, rasanya….saya sudah jatuh cinta pada anda!” Asako tiba-tiba menyentak kesunyian di antara kami. Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat itu.

“Asako, kau menganggap hal itu suatu kekeliruan?” Saya memandangnya tak berkedip, dan meletakkan kembali yakitori yang sudah saya ambil ke piring. Asako menghela nafas panjang.

“ Bukan kekeliruan, Taufiq-san. Saya tak bisa mengingkari kata hati saya. Hubungan yang selama ini kita bangun telah menjelma menjadi suatu ikatan yang kuat, yang bagi saya telah memberikan nuansa tersendiri. Anda seorang pria yang memiliki kepribadian menarik, jujur, dan penuh semangat hidup.Mungkin hal itu yang membuat saya tak kuasa menahan perasaan saya, “ ucap Asako lirih, nyaris tak terdengar.

Saya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Saya lalu melemparkan pandangan kepada orang-orang yang berseliweran di depan jendela restoran tempat kami berada.

“ Anda tak perlu merasa bersalah, Taufiq-san. Saya sudah mengetahui bahwa inilah resiko hubungan kita. Saya tak menuntut apa-apa. Lagi pula, sejak awal pertemuan kita. Saya, sudah menandaskan bahwa saya tidak mau hubungan kita berkembang terlalu jauh. We’re just friend, Taufiq-san. Bila kemudian perasaan cinta semakin berkembang, anggaplah itu suatu intermezzo belaka, “ Asako berkata dengan suara serak. Ia seolah memendam beban berat. Ditekurinya lantai restoran dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Saya segera meraih tanganya dan menggenggamnya erat-erat. “Asako, saya sama sekali tidak mau menganggap hal itu suatu intermezzo atau lelucon. Walau kita dipisahkan oleh perbedaan, bagi saya cinta itu adalah bahasa yang universal. Saya tidak akan merasa bersalah jika memendam perasaan yang sama terhadapmu. Ini sesuatu yang wajar dan manusiawi. Apakah….. kita harus meninjau ulang komitmen kita, Asako?” saya bertanya penuh harap, dan menatap mata Asako yang jernih seperti jernihnya Danau Kurobe di Tomaya.

“ Taufiq-san, Taufiq-san. Besok anda harus kembali ke Indonesia. Meninjau ulang komitmen yang telah kita sepakati rasanya sudah terlambat sekarang. Mengenal sosok anda , meski dalam waktu yang singkat, bagi saya merupakan suatu anugrah yang sangat berharga. Biarlah apa yang telah kita lalui bersama menjadi kenangan manis. Kita jalani saja hidup ini. Bukankah pada akhir musim gugur mendatang salju akan turun lagi?” ujar Asako ringan. Ia lalu tersenyum paling manis yang pernah saya lihat.


*****


Hari ini, awal Desember, ketika salju pertama kali turun, saya kembali ke Kyoto. Setelah 5 tahun meninggalkannya, masa lalu yang indah bersama Asako kembali membayang. Di manakah dia sekarang? Apakah ia telah menemukan salju baru-nya?.
Sejak saya kembali ke Indonesia, kami sering berkorespondensi lewat surat. Dalam suratnya ia sama sekali tidak menyinggung tentang hubungannya dengan pria lain. Asako sangat tertutup untuk hal itu. Tapi, hubungan kami hanya sempat berjalan dua tahun. Sejak saya menikah, hubungan kami terputus. Saya pernah mencoba menghubunginya beberapa kali, baik lewat surat maupun telepon, tetapi selalu tak ada jawaban.

Pada saat tiba di Kyoto, saya langsung mendatangi apartement di mana Asako dulu tinggal. Termasuk perusahaan periklanan tempat dia bekarja untuk mencari tahu di mana dia berada sekarang. Tapi, tak seorangpun memberi keterangan, membuat saya putus asa. Saya tidak tahu di mana Asako berada sekarang!

Saat ini saya berada di Kawaramachi. Saya berdiri di depan restoran di mana kami dulu makan siang, sehari sebelum kepulangan saya ke Indonesia. Saya tidak tahu, kekuatan magis apa yang telah menarik saya kemari. Meja dan kursi tempat kami duduk dulu tidak berubah. Suasana hiruk pikuk tempat perbelanjaan terlihat, meski udara agak dingin dan salju menyelimuti hampir seluruh pelosok kota.

Tiba-tiba saya merasa pundak saya di tepuk dari belakang. “Taufiq-san, kapan datang?”
Saya berbalik. Suara itu….Suara yang amat saya kenal. Seperti bergema dari jarak yang teramat jauh. Tapi, tidak! Asako berdiri di depan saya dengan wajah dan senyum yang nyaris tak berubah. Wangi parfumnya menyerbu akrab ke hidung saya.

Kami saling berpelukan melepas rindu. Setelah itu kami masuk ke restoran dan menempati meja dan kursi yang kami duduki dulu. Kami saling bertukar cerita. Saya menuturkan kegiatan saya, termasuk kelucuan putra saya, Rahmat. Si kecil itu hasil pernikahan saya dengan Sri, 3 tahun lalu. Asako lebih banyak diam dan memberi kepada saya kesempatan berbicara lebih banyak. Mata Asako terlihat lebih cekung, seolah menanggung beban kesedihan yang berat.

Keindahan dan kejernihan Danau Kurobe tak terlihat lagi di matanya. Saya merasa telah ada sesuatu yang tragis terjadi pada dirinya.

“Berbahagialah anda, Taufiq-san. Kehidupan perkawinan anda harmonis. Sayang, saya tak seberuntung anda,” kata Asako pelan. Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang sulit diutarakan.

“Ada apa, Asako-san? Katakana apa yang telah terjadi?”

“Saya berkenalan dan menikah dengan Tamura, salah seorang karyawan perusahaan sekuritas di Tokyo, 3 tahun silam. Setelah itu semuanya berubah. Saya ikut suami saya ke Tokyo. Ruang gerak saya mulai dibatasi. Saya hanya diberikan otoritas mendidik anak kami, Kimiko. Saya diminta berhenti dari pekerjaan saya dan hanya bekerja di rumah saja. Semua itu saya lakukan semata-mata untuk bakti saya kepada suami.”

“ Tapi, yang terjadi kemudian sangat menyedihkan. Tamura menyeleweng dengan seorang gadis Geisha di kedai minum langganannya. Ia mulai jarang pulang ke rumah. Dan, yang paling menyakitkan, Tamura sering mabuk, bahkan memukuli saya tanpa sebab. Saya tidak tahan dan minta cerai. Saya lalu kembali ke Kyoto, membawa serta Kimiko. Saya beru tiba disini, 3 hari yang lalu. Sekarang, Saya tinggal di rumah kakak lelaki saya. Saya tidak tahu, mengapa nasib saya seburuk ini, Taufiq-san,” tutur Asako terbata-bata. Anehnya, ia tidak mengeluarkan air mata. Hanya wajahnya terlihat lebih tua dan layu. Ia kelihatan begitu menderita.

“Taufiq-san, saya tidak menyangka dapat bertemu dengan Anda kenbali di sini. Anda masih ingat cerita saya tentang salju?” Asako memandang saya lekat-lekat.

“Ya, Asako, Bagaimana saya dapat melupakannya? Saat itu, di tempat kita berada sekarang, kau berkata, bukankah pada akhir musim gugur mendatang, salju baru akan turun lagi? Apakah bagimu kalimat itu berarti?”

“Sangat berarti, Taufiq-san. Kalimat itu saya ucapkan sebagai ekspresi kasih sayang saya kepadamu. Ketika saya berkenalan dan menikah dengan Tamura, saya menyangka telah menemukan ‘salju baru’ yang indah. Tapi ternyata, saya salah menafsirkan cinta Tamura. Dalam banyak hal, Anda memiliki kepribadian yang saya dambakan. Saya telah melewatkan kesempatan menikmati keindahan salju cinta anda. Itu suatu kekeliruan besar!” Ujar Asako sambil menundukkan wajahnya, menekuri lantai restoran.

“ Asako-san,” saya mencoba menghibur hatinya, “ kehidupan berjalan begitu saja. Apa yang telah terjadi pada dirimu, pada saya, dan siapa pun juga, semua sudah di atur oleh-Nya. Kita hanya punya kehendak dan usaha. Selebuihnya, Tuhan menentukan. Kamu tak perlu menyesalinyanya berlarut-larut. Hal itu justru membuat kau tenggelam pada kesedihan yang berkepanjangan. Pada saat ini, yang penting menata hati dan hari depan yang lebih baik. Jangan bermuram durja, Asako. Masih banyak orang yang m,engasihimu. Ada Kimiko, saudara lelakimu, dan juga saya. Tak ada yang lebih berharga dari semua itu, bukan?”

Asako menatap saya lekat-lekat. Lalu, perlahan-lahan senyum manis terukir di wajahnya. Senyum yang begitu saya kenal. Dengan hangat ia kemudian mencium pipi saya.
“ Terima kasih, Taufiq-san,”bisiknya lirih di telinga saya. Matanya berbinar cerah.
Di luar salju mulai menebal. Gumpalannya bertebaran di mana-mana. Warnanay putih menyiratkan misteri yang tak terpecahkan. Sungguh suatu keindahan yang menakjubkan. Saya pun tahu pasti, saya telah memiliki keindahan yang sama. Nun jauh disana…di kampung halaman saya, pada mata teduh Sri, istri saya, dan binar ceria mata Rahmat, putra kesayangan saya.


Dimuat di Majalah Femina Edisi 33/1998, tanggal 20-26 Agustus 1998

Catatan :

Dozo = Silahkan
Kampai = Bersulang
Arigato Gozaimas = Terimakasih banyak
Oyasuminasai = Selamat Malam