RESENSI BUKU : ANTOLOGI CERPEN "MACHINE SEX AND LOVE"
Penerbit : INSISTPress, Yogyakarta, Cetakan I Januari 2005
Tebal : 172 Halaman
Ukuran : 130 x 90 mm
ISBN : 979-98626-2-0
Pengantar : Budi Darma

DASHYAT. Kesan itu yang pertama terlintas di benak saya sesaat setelah “khatam” membaca buku mungil terbitan terbaru INSISTPress Yogyakarta ini. Secara keseluruhan, karya cerpen penulis-penulis muda dari Yogyakarta ini menyajikan narasi kontemplatif, yang rapi dan cerdas, serta begitu nikmat dibaca dengan beberapa ending cerita yang menyentak dan mengejutkan. Karakter tiap tokoh dibangun dengan baik, sehingga pembaca bisa mendapatkan refleksi tokoh yang tampil secara lugas. Plot ceritanya pun dirangkai secara memikat dengan mengambil referensi sejumlah kisah keseharian. Tak heran, Prof.Budi Darma (Cerpenis yang juga jadi idola saya), pada kata pengantar di buku ini, memberikan apresiasi yang cukup bagus terutama dalam hal kepiawaian para pengarang antologi cerpen ini dalam membangun plot yang kuat dan tepat.
Saya tertarik membeli buku ini setelah membaca review di blog Sdr.Adhitya Mulya (penulis novel best seller “Jomblo”) dan e-mail promosi dari Sdri.Ratih Kumala yang juga menulis sebuah cerpen di buku ini, pada Mailing List Pria_Sehat_Tanpa_Celana (PSTC) dimana saya menjadi salah satu anggotanya. Sejujurnya, judul antologi cerpen ini, yang membuat saya penasaran : “Machine Sex and Love”. Terbersit pertama kali dibenak saya, mungkin saja judul buku ini juga menjadi judul salah satu cerpen didalamnya dan apakah buku ini berjenis sama dengan antologi cerpennya Djenar Mahesa Ayu, “Jangan main-main dengan kelaminmu”yang diberi label khusus disampulnya “Untuk Pembaca Dewasa” ?. Ternyata tidak. Saya keliru. Tak ada satupun judul cerpen didalam buku ini yang persis sama dengan judul bukunya. Apalagi memiliki batasan umur tertentu. Saya makin penasaran.
Meski saya menyelesaikan membaca buku ini hanya 2 jam diatas bis dalam perjalanan menuju ke kantor dari rumah saya di Cikarang, namun kesan dibenak saya begitu lekat tertanam. Pertanyaan saya tentang judul, perlahan mendapat jawabannya saat membaca lembar demi lembar halaman buku ini. Kelimabelas penulis ini berhasil menangkap nuansa judul sampul buku ini secara cerdas dan lugas. Penulis-penulis muda yang berkolaborasi dalam antologi ini telah membuktikan eksistensi mereka sebagai penulis masa depan yang berprospek.
Aku kebingungan diantara dua keinginan. Apakah aku harus menyeberangi jaln ini, lalu berdiri di depannya dan mengatakan pada leaki setengah baya itu; bahwa wanita yang kini di sisinya adlah kekasihku di masa lalu. Atau apakah aku harus menangkupkan kedua telapak tanganku di depan mulut lalu berteriak seperti Tarzan –dari seberang jalan dan memanggil namanya: “Malayaaaa…!” Seperti Gabriel Garcia Marques ketika melihat Ernest Hemingway dari seberang jalan di kota Paris dan berteriak memanggil; Maestrooo! (Senja Ning Malaya: Eko Susanto, bukan siapa-siapa hanya orang biasa)
Tak sulit menjumpai kunang-kunang bersliweran. Apabila bulan purnama, cahaya terlihat begitu bertenaga. Kuat dan mengesankan. Ah, dulu masih kualami dolanan jamuran. (Polisi Tidur: Hasta Idriyana, yang berkata “Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta”)
Diam-diam dia menyimpan dendam itu. Dan bila tiba waktunya dia akan memberikan balasan. Sebab setelah itu seluruh inderanya telah tergadai dalam perbudakan nafsu rendah yang tak terhindarkan (Membunuh Seorang Kekasih: Sebi Annento, sedang mengerjakan novel pertamanya)
Setiap ia menyebut gugus hidroksil dari berbagai pewangi dalam botol-botol itu, aku merasa ia sedang menghafal dan menjajah setiap tubuh dan pikiranku dengan nama-nama perusahaan-perusahaan kosmetik yang tercetak dalam lembaran-lembaran glossy majalah perempuan (Untitled: Veronica Kusuma, aktif di EO film Love Reactor)
Genap empat tahun sudah, seratus tiga belas lelaki yang berbeda dan seorang lesbian pernah menikmati selangkanganku. Selangkang yang paling kubanggakan. (Beberapa Penggal Cerita: Agnes puput Chintamy, pernah bercita-cita jadi penyanyi)
Saat malam tiba, aku harus menidurkan anakku sampai yakin benar-benar terlelap, baru kami bisa melepaskan hasrat. Itupun harus dilakukan ekstra hati-hati, jangan ribut-ribut dan bikin gerakan terlalu banyak. Kalau tempat tidur berdecit-decit atau kasurnya terantuk-antuk di tembok, maka kamar sebelah akan tahu kalau semalam kami sedang indehoy. (Pada Sebuah Gang Buntu: Ratih Kumala, perempuan biasa yang benci kehabisan odol)
Aku sadar aku orang yang kalah, aku sudah siap untuk diadili. Terlalu pesimis? Maaf, aku hanya pemimpi yang siap bunuh diri dengan mimpi-mimpi utopia yang kumiliki “Aroma apa ini? Aroma ini sangat familiar. Ow, ini aroma dosa…” (Sekumpulan Kata Maaf: Keta, anak punk asal Bali yang pernah menginap di Hotel Talenta Yogyakarta)
Hoooi. Dia akan menyusul perahu Nuh (Air Raya: Azhari, cerpenis aceh yang baru kena Tsunami)
My society ignores me. I am forced to study in an inhuman situation. Hisham, the word “sudy” for people like us bears deeper meaning. You know that, don’t you? I always desperately seek ways to communicate with them, but they seem to refuse my effort. (This Machine Will Not Communicate: L. Onny Wiranda, seorang dialettante yang serius)
Kau membelikannya kahlua dan susu. Lalu kalian bersama-sama mencampurnya dan mengamati bagaimana kedua warna bercampur di dalam gelas. Sekian jam kemudian bagaikan kahlua dan susu kalian bersama-sama bercampur di atas tempat tidur. (Kahlua dan Susu: Astrid Reza Widjaja, kadang-kadang kuliah, kadang-kadang jalan-jalan)
Doktrin-doktrin tersebut telah masuk dalam pikiranku mengendap erat memaksa sel-sel otakku untuk percaya. Kini aku telah berubah sejak mengenal Nayla hanya karena tatapan pertama matanya yang menyimpan separuh purnama. Semua menjadi seperti sulapan. (Mata Indah Nayla: Didik Wahyudi, kuli tinta)
“Tunggu, aku belum selesai bicara denganmu, jangan coba menghindariku! Aku mencium bau tubuh orang lain di tubuhmu. Siapa dia dan apa yang kalian lakukan bersama?” (From Kalisosok With Love: Dewi Indra Puspitasari, masih berusaha jadi perempuan baik-baik)
KABAR GEMBIRA. Tersedia jin dengan harga murah tapi berilmu tinggi, juga ada jin yang bisa menjadi teman kencan anda karena bisa berubah bentuk jadi manusia yang anda kehendaki (Penjual Jin: Mila K. Sari, yang tidak pernah merasa puas dengan tulisannya)
SMS-mu yang sekedar tanya kabar itu datang kurang tepat. SMS itu tentu agak mengganggu acara makan malam kami. Tapi santai saja, sebagai lelaki aku bisa mengatasinya (Pesan Terkirim: Faiq Aminuddin, sedang mencoba membikin novel anak)
Ya, ya. Aku paham bahasamu. Kita hanya akan bertelanjang jika kulepas ragaku. Kita mulai bercinta jika kuhentikan semua hasratku. Kita hanya akan bercengkrama dengan bahasa yang tak disapa kehidupan. Tapi disinilah keabadianmu menjadi ada. Dan aku tidak merasa ragu (Garba: Dyah Indra Mertawirana, tengah menyelesaikan roman perdananya)







