SELEBRITIKU, PULANGLAH...! (EPISODE 14)
Wasugi, Manajer Jamal yang juga memiliki sebuah agensi model itu, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar pusing saat ini. Terutama ketika harus berhadapan dengan protes beberapa Production House yang memakai Jamal sebagai pemeran utama di film, sinetron kejar tayang maupun iklan. Meski pada dasarnya mereka sudah menyadari kenyataan, sangat mustahil berharap Jamal bisa menuntaskan pekerjaanya dalam situasi tak sadar seperti ini, namun mereka tetap menuntut kompensasi yang memadai dari pihak manajemen Jamal sesuai kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Konsekuensinya cukup berat : margin keuntungan yang diperoleh semakin tipis bahkan mungkin justru hilang.
Isman, salah seorang produser film yang dibintangi Jamal, bahkan mengancam akan memutuskan kontrak secara sepihak jika ia tidak segera menawarkan solusi “melegakan” dari masalah ini.
Hal lain yang membuat ia semakin resah adalah, berondongan pertanyaan dari wartawan pemburu gossip seputar hubungan Jamal dengan Tina, yang konon—tentu menurut praduga sepihak mereka sendiri--adalah wanita jadi-jadian alias banci. Ia kemudian teringat percakapan terakhirnya bersama Bondan, staff di kantor, melalui telepon selularnya beberapa saat lalu.
“Pa’E, lha piye iki, Pak. Kantor kita dikerubuti wartawan inpotaiment. Mereka pada minta keterangan dari kita soal pacarnya Jamal yang katanya banci itu lho. Aku mesti ngomong opo iki Pa’E ?,” tanya Bondan panik dengan logat Jawanya yang medok.
“Ndan, ngomong sa’karepmu wae-lah (bilang sesukamu saja). Aku juga lagi pusing sa-iki. Bilang aja si Tina yang bencong itu pacarmu kek,” sahut Wasugi kesal pada sang staff yang juga adalah adik iparnya sendiri itu.
“Wooo..nguuuaaawur Pa’E iki. Biar wajah cenderung ganteng begini, aku masih doyan perempuan paten lho Pa’E, bukan yang AC-DC. Atau aku ta’ ngomong gini aja deh, si Tina itu pacarnya Pa’E Wasugi. Lha Piye, Pa’E ?. Akur to’ ?,” kata Bondan menawarkan solusi sambil terkikik geli.
“Ta’ jueewer kamu, Ndaaan!. Mbakyumu bisa ngamuk nanti, bojo-ne “main anggar” sama banci. Tapi..,yo wees lah, ngomong kayak gitu aja. Daripada repot-repot mikirin jawabannya. Nanti kalo wartawan itu nanya, suruh mereka konfirmasi langsung ke aku aja. Kamu nggak usah bikin komentar panjang-panjang. Nanti malah makin runyam,” ujar Wasugi pasrah seraya menahan senyum.
“Bereslah, Pa’E. Nanti aku bikin pengumuman resmi dikantor yang bunyinya Pak Wasugi pacaran sama si Tina bencong,” goda Bondan usil.
“Coba aja, Ndan. Ta’ potong gajimu 100% bulan depan,” ancam Wasugi tegas seraya menutup sambungan telepon. Ia masih sempat mendengar derai tawa Bondan diseberang sana.
Wasugi tersenyum getir. Disela-sela ketegangan menanti perkembangan terakhir kondisi kesehatan Jamal, percakapan konyol dengan Bondan tadi sempat mengendurkan urat syarafnya. Ia lalu melirik kearah the-real-“Tina” dan Dona yang tengah asyik berbincang di salah satu sudut ruang tunggu ICU. Wasugi menghela nafas panjang. Dona telah memainkan peran sebagai Tina dengan baik, ia membatin.
--***--
Jamal termangu dalam sebuah gedung bioskop berlangit-langit tinggi. Suasana begitu gelap. Hening. Mencekam. Hanya ada satu lampu kecil bersinar redup diatas pintu keluar. Ia duduk disalah satu kursi penonton di bagian tengah. Sendirian. Tak ada seorangpun menemaninya disana. Hanya kursi-kursi kosong yang diam membeku.
Perlahan, tirai layar diangkat. Suaranya mendecit-decit, mungkin karena engselnya yang sudah mulai aus. Jamal merinding dan berfikir apa yang bakal dialaminya setelah ini. Mendadak terdengar derak suara proyektor berputar diatas kepalanya. Ia menoleh dan mencoba mencari tahu siapa gerangan yang menjalankan proyektor film di ruang atas sana. Tapi, tak ada seorangpun disitu!. Proyektor tersebut terus berputar sendiri dan memancarkan cahaya benderang menuju layar.
Jamal bergidik ngeri lalu memegang kedua pegangan kursi yang ia duduki dengan tangan gemetar. Ia ingin segera keluar dari bioskop aneh itu. Secepat mungkin. Namun adegan yang terpampang didepan mata membuat ia segera mengurungkan niatnya. Di layar ia melihat tayangan film dirinya bersama Tina tengah berjalan berdua menyusuri jalan boulevard dekat rumah Tina.
Jamal terkesiap. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mendadak ia seperti mengalami Déjà vu. Ia pernah mengalami hal yang sama seperti “film” yang terpampang dilayar. Masih terasa lekat tercium bau tanah basah selepas hujan yang meruap dari sela-sela pepohonan atau anggukan dedaunan yang menjentikkan percik-percik air. Jamal tersenyum saat menatap adegan ketika ia menggoda Tina dengan menarik salah satu ranting pohon yang terdekat, menggoyangkannya sehingga sisa-sisa air yang menempel didaun mengguyur jatuh menimpa Tina.
Tina kaget dan berusaha mengelak namun sia-sia. Sebagian kemeja yang dikenakannya, terutama bagian punggung, basah terkena percikan air. Tina mengumpat kesal dan mengejar Jamal yang berlari menghindari cubitan Tina, sembari tertawa berderai.
Jamal memperbaiki letak duduknya. Adegan kemudian berpindah lagi. Di salah satu sudut kafe langganan mereka. Pada sebuah senja yang muram, menjelang malam. Tina duduk didepan Jamal dan menekuri selembar kertas yang baru saja disodorkan Jamal.
“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.
“Koq cuma itu, sih ?,” protes Jamal gundah.
“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa ?,” sahut Tina sengit. Ia meraih Orange Juizenya yang tinggal separuh dan meminumnya sampai habis.
“Jangan sinis gitu dong,Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron “Serambi Rumah Maknyak” yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih ?,” ujar Jamal seraya mendengus kecewa.
Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.
“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis !,” tegas Tina dengan mata menyala.
Jamal angkat bahu.
“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia mencoba meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat.
Tina menggigit bibir, lalu menunduk, menekuri lantai kafe. Lamat-lamat ia mendengar lagu “The Actor” dari Michael Learns to Rock mengalun indah dari CD player kafe tersebut.
He takes you out and he takes you up
'cause he can show you so much
I go to bed and tomorrow again
there's a lot of work to be done
He gives you gold and he'll promise you
the whole world will be yours
I just can tell you I love you so
even though my odds are low
I'm not an actor I'm not a star
and I don't even have my own car
But I'm hoping so much you'll stay
that you will love me anyway
The dirty games and the neonshows
this is the world he knows
Watching the stars satisfies my soul
thinking of him makes me feel so cold
The fancy cars and the restaurants
you're just so fond of the man
Sometimes I wonder if you are blind
can't you see, he's got dirt on his mind
Jamal mendesah. Lagu tadi seperti menohok hatinya. Tina tiba-tiba tersenyum tipis dan melirik nakal ke arah Jamal dengan ekor matanya.
“Pas banget ya lagunya. Kamu kayak gitu nggak nanti ?,” tanya Tina pelan.
“Kayak siapa ya ?,” sahut Jamal pura-pura lugu.
“..The Dirty Games and Neon Shows, this is the world he knows…,”kata Tina mengutip sebaris bait lagu “The Actor”. Seulas senyum masih terukir bibirnya.
Jamal terkekeh.
“Ada-ada saja. Mudah-mudahan tidak. Pokoknya aku janji deh akan seperti bait lagu ini: I'm hoping so much you'll stay, that you will love me anyway,” kelakar Jamal. Tina tertawa renyah. Ketegangan diantara mereka mencair. Menguap ke udara, lalu didekap malam yang tumpah menutup senja.
Adegan kemudian berganti. Pada sebuah malam yang mulai beranjak larut. Tepat sebulan setelah pertemuannya dengan Tina di kafe. Jamal membuka pintu rumahnya dengan lesu. Devi, adiknya menyongsong sang kakak dengan tatap cemas.
“Kak Jamal kemana aja sih ?. Dari tadi Devi telepon koq masuk mail-box melulu ?,”
“Handphonenya Kakak matiin, adikku sayang. Lagi sibuk syuting sinetron kejar tayang. Tidak boleh diganggu,” sahut Jamal dengan nada letih. Ia lalu menghenyakkan pantatnya di sofa empuk ruang tamunya.
“Mbak Tina tadi main kesini. Dia juga kesal seperti Devi. Koq susah banget menghubungi Kak Jamal sejak jadi artis,” kata Devi seraya mengangsurkan segelas air mineral kepada kakaknya.
Jamal tidak menjawab. Ia meraih gelas yang dibawa Devi lalu meminumnya hingga licin tandas. Dan menikmati sejenak sejuknya air mineral itu membasahi kerongkongannya.
Jamal kemudian meraih handphone disaku lalu mengaktifkannya. Sejumlah “missed-call” dan SMS terutama dari Tina dan Devi nampak di layar. Perlahan, ia menghapusnya satu-persatu khususnya untuk pesan yang tidak terlalu penting. Mendadak Jamal tertegun saat membaca SMS terakhir dari Tina : “Koq kita semakin berjarak ya ?”.
Jamal menelan ludah. Adegan dilayar film itu begitu menghentak batinnya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya seperti dihantam oleh ribuan palu godam. Layar didepannya menampilkan gambar Tina. Menatap kearahnya. Menyiratkan kesepian teramat dalam. Ia menjerit dan meronta sekuat-kuatnya. Gemanya memantul nyaring dari dinding-dinding bioskop.
Dokter Michael yang ditugaskan menjaga Jamal terkejut saat melihat gerakan lemah jemari pasien spesial itu. Ia bergegas melihat lebih dekat dan memeriksa monitor pemantau disamping pembaringan Jamal. Terlihat grafik fluktuatif yang tak normal. Ia menahan nafas. “Aku harus menghubungi Dokter Adi,” ia membatin lalu mengambil handphone disaku jas dokternya.
--***--
Tina bangkit dari tempat duduknya. Dona menoleh penuh rasa ingin tahu.
“Mau kemana, say ?”
“Ke ujung koridor situ, sebentar”, sahut Tina pelan seraya menunjuk ujung koridor ruang ICU yang terlihat sepi.
“Perlu teman ?”
Tina menggeleng.
“Please, leave me alone for a while, Don.” pinta Tina. Ia ingin sendiri, mengenang kembali masa-masa indahnya bersama Jamal.
Masa dimana ia percaya, kekasihnya itu mampu membuatkan pelangi di lekuk cakrawala dengan warna-warni cinta. Dan saat dimana ia menjelmakan diri menjadi nyata dalam dekapan sebagai bidadari bermahkota bulan.
Dona mengangguk sambil tersenyum maklum lalu menyaksikan sahabat dekatnya itu berjalan ke ujung koridor.
Rita Molly, yang duduk diseberang Dona dan disamping Uul Permatasari mendadak bangkit dan berdiri. Lalu berjalan ke arah Tina. Ke ujung koridor.
BERSAMBUNG..
Isman, salah seorang produser film yang dibintangi Jamal, bahkan mengancam akan memutuskan kontrak secara sepihak jika ia tidak segera menawarkan solusi “melegakan” dari masalah ini.
Hal lain yang membuat ia semakin resah adalah, berondongan pertanyaan dari wartawan pemburu gossip seputar hubungan Jamal dengan Tina, yang konon—tentu menurut praduga sepihak mereka sendiri--adalah wanita jadi-jadian alias banci. Ia kemudian teringat percakapan terakhirnya bersama Bondan, staff di kantor, melalui telepon selularnya beberapa saat lalu.
“Pa’E, lha piye iki, Pak. Kantor kita dikerubuti wartawan inpotaiment. Mereka pada minta keterangan dari kita soal pacarnya Jamal yang katanya banci itu lho. Aku mesti ngomong opo iki Pa’E ?,” tanya Bondan panik dengan logat Jawanya yang medok.
“Ndan, ngomong sa’karepmu wae-lah (bilang sesukamu saja). Aku juga lagi pusing sa-iki. Bilang aja si Tina yang bencong itu pacarmu kek,” sahut Wasugi kesal pada sang staff yang juga adalah adik iparnya sendiri itu.
“Wooo..nguuuaaawur Pa’E iki. Biar wajah cenderung ganteng begini, aku masih doyan perempuan paten lho Pa’E, bukan yang AC-DC. Atau aku ta’ ngomong gini aja deh, si Tina itu pacarnya Pa’E Wasugi. Lha Piye, Pa’E ?. Akur to’ ?,” kata Bondan menawarkan solusi sambil terkikik geli.
“Ta’ jueewer kamu, Ndaaan!. Mbakyumu bisa ngamuk nanti, bojo-ne “main anggar” sama banci. Tapi..,yo wees lah, ngomong kayak gitu aja. Daripada repot-repot mikirin jawabannya. Nanti kalo wartawan itu nanya, suruh mereka konfirmasi langsung ke aku aja. Kamu nggak usah bikin komentar panjang-panjang. Nanti malah makin runyam,” ujar Wasugi pasrah seraya menahan senyum.
“Bereslah, Pa’E. Nanti aku bikin pengumuman resmi dikantor yang bunyinya Pak Wasugi pacaran sama si Tina bencong,” goda Bondan usil.
“Coba aja, Ndan. Ta’ potong gajimu 100% bulan depan,” ancam Wasugi tegas seraya menutup sambungan telepon. Ia masih sempat mendengar derai tawa Bondan diseberang sana.
Wasugi tersenyum getir. Disela-sela ketegangan menanti perkembangan terakhir kondisi kesehatan Jamal, percakapan konyol dengan Bondan tadi sempat mengendurkan urat syarafnya. Ia lalu melirik kearah the-real-“Tina” dan Dona yang tengah asyik berbincang di salah satu sudut ruang tunggu ICU. Wasugi menghela nafas panjang. Dona telah memainkan peran sebagai Tina dengan baik, ia membatin.
--***--
Jamal termangu dalam sebuah gedung bioskop berlangit-langit tinggi. Suasana begitu gelap. Hening. Mencekam. Hanya ada satu lampu kecil bersinar redup diatas pintu keluar. Ia duduk disalah satu kursi penonton di bagian tengah. Sendirian. Tak ada seorangpun menemaninya disana. Hanya kursi-kursi kosong yang diam membeku.
Perlahan, tirai layar diangkat. Suaranya mendecit-decit, mungkin karena engselnya yang sudah mulai aus. Jamal merinding dan berfikir apa yang bakal dialaminya setelah ini. Mendadak terdengar derak suara proyektor berputar diatas kepalanya. Ia menoleh dan mencoba mencari tahu siapa gerangan yang menjalankan proyektor film di ruang atas sana. Tapi, tak ada seorangpun disitu!. Proyektor tersebut terus berputar sendiri dan memancarkan cahaya benderang menuju layar.
Jamal bergidik ngeri lalu memegang kedua pegangan kursi yang ia duduki dengan tangan gemetar. Ia ingin segera keluar dari bioskop aneh itu. Secepat mungkin. Namun adegan yang terpampang didepan mata membuat ia segera mengurungkan niatnya. Di layar ia melihat tayangan film dirinya bersama Tina tengah berjalan berdua menyusuri jalan boulevard dekat rumah Tina.
Jamal terkesiap. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mendadak ia seperti mengalami Déjà vu. Ia pernah mengalami hal yang sama seperti “film” yang terpampang dilayar. Masih terasa lekat tercium bau tanah basah selepas hujan yang meruap dari sela-sela pepohonan atau anggukan dedaunan yang menjentikkan percik-percik air. Jamal tersenyum saat menatap adegan ketika ia menggoda Tina dengan menarik salah satu ranting pohon yang terdekat, menggoyangkannya sehingga sisa-sisa air yang menempel didaun mengguyur jatuh menimpa Tina.
Tina kaget dan berusaha mengelak namun sia-sia. Sebagian kemeja yang dikenakannya, terutama bagian punggung, basah terkena percikan air. Tina mengumpat kesal dan mengejar Jamal yang berlari menghindari cubitan Tina, sembari tertawa berderai.
Jamal memperbaiki letak duduknya. Adegan kemudian berpindah lagi. Di salah satu sudut kafe langganan mereka. Pada sebuah senja yang muram, menjelang malam. Tina duduk didepan Jamal dan menekuri selembar kertas yang baru saja disodorkan Jamal.
“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.
“Koq cuma itu, sih ?,” protes Jamal gundah.
“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa ?,” sahut Tina sengit. Ia meraih Orange Juizenya yang tinggal separuh dan meminumnya sampai habis.
“Jangan sinis gitu dong,Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron “Serambi Rumah Maknyak” yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih ?,” ujar Jamal seraya mendengus kecewa.
Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.
“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis !,” tegas Tina dengan mata menyala.
Jamal angkat bahu.
“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia mencoba meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat.
Tina menggigit bibir, lalu menunduk, menekuri lantai kafe. Lamat-lamat ia mendengar lagu “The Actor” dari Michael Learns to Rock mengalun indah dari CD player kafe tersebut.
He takes you out and he takes you up
'cause he can show you so much
I go to bed and tomorrow again
there's a lot of work to be done
He gives you gold and he'll promise you
the whole world will be yours
I just can tell you I love you so
even though my odds are low
I'm not an actor I'm not a star
and I don't even have my own car
But I'm hoping so much you'll stay
that you will love me anyway
The dirty games and the neonshows
this is the world he knows
Watching the stars satisfies my soul
thinking of him makes me feel so cold
The fancy cars and the restaurants
you're just so fond of the man
Sometimes I wonder if you are blind
can't you see, he's got dirt on his mind
Jamal mendesah. Lagu tadi seperti menohok hatinya. Tina tiba-tiba tersenyum tipis dan melirik nakal ke arah Jamal dengan ekor matanya.
“Pas banget ya lagunya. Kamu kayak gitu nggak nanti ?,” tanya Tina pelan.
“Kayak siapa ya ?,” sahut Jamal pura-pura lugu.
“..The Dirty Games and Neon Shows, this is the world he knows…,”kata Tina mengutip sebaris bait lagu “The Actor”. Seulas senyum masih terukir bibirnya.
Jamal terkekeh.
“Ada-ada saja. Mudah-mudahan tidak. Pokoknya aku janji deh akan seperti bait lagu ini: I'm hoping so much you'll stay, that you will love me anyway,” kelakar Jamal. Tina tertawa renyah. Ketegangan diantara mereka mencair. Menguap ke udara, lalu didekap malam yang tumpah menutup senja.
Adegan kemudian berganti. Pada sebuah malam yang mulai beranjak larut. Tepat sebulan setelah pertemuannya dengan Tina di kafe. Jamal membuka pintu rumahnya dengan lesu. Devi, adiknya menyongsong sang kakak dengan tatap cemas.
“Kak Jamal kemana aja sih ?. Dari tadi Devi telepon koq masuk mail-box melulu ?,”
“Handphonenya Kakak matiin, adikku sayang. Lagi sibuk syuting sinetron kejar tayang. Tidak boleh diganggu,” sahut Jamal dengan nada letih. Ia lalu menghenyakkan pantatnya di sofa empuk ruang tamunya.
“Mbak Tina tadi main kesini. Dia juga kesal seperti Devi. Koq susah banget menghubungi Kak Jamal sejak jadi artis,” kata Devi seraya mengangsurkan segelas air mineral kepada kakaknya.
Jamal tidak menjawab. Ia meraih gelas yang dibawa Devi lalu meminumnya hingga licin tandas. Dan menikmati sejenak sejuknya air mineral itu membasahi kerongkongannya.
Jamal kemudian meraih handphone disaku lalu mengaktifkannya. Sejumlah “missed-call” dan SMS terutama dari Tina dan Devi nampak di layar. Perlahan, ia menghapusnya satu-persatu khususnya untuk pesan yang tidak terlalu penting. Mendadak Jamal tertegun saat membaca SMS terakhir dari Tina : “Koq kita semakin berjarak ya ?”.
Jamal menelan ludah. Adegan dilayar film itu begitu menghentak batinnya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya seperti dihantam oleh ribuan palu godam. Layar didepannya menampilkan gambar Tina. Menatap kearahnya. Menyiratkan kesepian teramat dalam. Ia menjerit dan meronta sekuat-kuatnya. Gemanya memantul nyaring dari dinding-dinding bioskop.
Dokter Michael yang ditugaskan menjaga Jamal terkejut saat melihat gerakan lemah jemari pasien spesial itu. Ia bergegas melihat lebih dekat dan memeriksa monitor pemantau disamping pembaringan Jamal. Terlihat grafik fluktuatif yang tak normal. Ia menahan nafas. “Aku harus menghubungi Dokter Adi,” ia membatin lalu mengambil handphone disaku jas dokternya.
--***--
Tina bangkit dari tempat duduknya. Dona menoleh penuh rasa ingin tahu.
“Mau kemana, say ?”
“Ke ujung koridor situ, sebentar”, sahut Tina pelan seraya menunjuk ujung koridor ruang ICU yang terlihat sepi.
“Perlu teman ?”
Tina menggeleng.
“Please, leave me alone for a while, Don.” pinta Tina. Ia ingin sendiri, mengenang kembali masa-masa indahnya bersama Jamal.
Masa dimana ia percaya, kekasihnya itu mampu membuatkan pelangi di lekuk cakrawala dengan warna-warni cinta. Dan saat dimana ia menjelmakan diri menjadi nyata dalam dekapan sebagai bidadari bermahkota bulan.
Dona mengangguk sambil tersenyum maklum lalu menyaksikan sahabat dekatnya itu berjalan ke ujung koridor.
Rita Molly, yang duduk diseberang Dona dan disamping Uul Permatasari mendadak bangkit dan berdiri. Lalu berjalan ke arah Tina. Ke ujung koridor.
BERSAMBUNG..
Labels: Cerfet Blogfam







