Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Thursday, June 23, 2005

SELEBRITIKU, PULANGLAH...! (EPISODE 14)

Wasugi, Manajer Jamal yang juga memiliki sebuah agensi model itu, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar pusing saat ini. Terutama ketika harus berhadapan dengan protes beberapa Production House yang memakai Jamal sebagai pemeran utama di film, sinetron kejar tayang maupun iklan. Meski pada dasarnya mereka sudah menyadari kenyataan, sangat mustahil berharap Jamal bisa menuntaskan pekerjaanya dalam situasi tak sadar seperti ini, namun mereka tetap menuntut kompensasi yang memadai dari pihak manajemen Jamal sesuai kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Konsekuensinya cukup berat : margin keuntungan yang diperoleh semakin tipis bahkan mungkin justru hilang.

Isman, salah seorang produser film yang dibintangi Jamal, bahkan mengancam akan memutuskan kontrak secara sepihak jika ia tidak segera menawarkan solusi “melegakan” dari masalah ini.

Hal lain yang membuat ia semakin resah adalah, berondongan pertanyaan dari wartawan pemburu gossip seputar hubungan Jamal dengan Tina, yang konon—tentu menurut praduga sepihak mereka sendiri--adalah wanita jadi-jadian alias banci. Ia kemudian teringat percakapan terakhirnya bersama Bondan, staff di kantor, melalui telepon selularnya beberapa saat lalu.

Pa’E, lha piye iki, Pak. Kantor kita dikerubuti wartawan inpotaiment. Mereka pada minta keterangan dari kita soal pacarnya Jamal yang katanya banci itu lho. Aku mesti ngomong opo iki Pa’E ?,” tanya Bondan panik dengan logat Jawanya yang medok.

Ndan, ngomong sa’karepmu wae-lah (bilang sesukamu saja). Aku juga lagi pusing sa-iki. Bilang aja si Tina yang bencong itu pacarmu kek,” sahut Wasugi kesal pada sang staff yang juga adalah adik iparnya sendiri itu.

Wooo..nguuuaaawur Pa’E iki. Biar wajah cenderung ganteng begini, aku masih doyan perempuan paten lho Pa’E, bukan yang AC-DC. Atau aku ta’ ngomong gini aja deh, si Tina itu pacarnya Pa’E Wasugi. Lha Piye, Pa’E ?. Akur to’ ?,” kata Bondan menawarkan solusi sambil terkikik geli.

Ta’ jueewer kamu, Ndaaan!. Mbakyumu bisa ngamuk nanti, bojo-ne “main anggar” sama banci. Tapi..,yo wees lah, ngomong kayak gitu aja. Daripada repot-repot mikirin jawabannya. Nanti kalo wartawan itu nanya, suruh mereka konfirmasi langsung ke aku aja. Kamu nggak usah bikin komentar panjang-panjang. Nanti malah makin runyam,” ujar Wasugi pasrah seraya menahan senyum.

“Bereslah, Pa’E. Nanti aku bikin pengumuman resmi dikantor yang bunyinya Pak Wasugi pacaran sama si Tina bencong,” goda Bondan usil.

“Coba aja, Ndan. Ta’ potong gajimu 100% bulan depan,” ancam Wasugi tegas seraya menutup sambungan telepon. Ia masih sempat mendengar derai tawa Bondan diseberang sana.

Wasugi tersenyum getir. Disela-sela ketegangan menanti perkembangan terakhir kondisi kesehatan Jamal, percakapan konyol dengan Bondan tadi sempat mengendurkan urat syarafnya. Ia lalu melirik kearah the-real-“Tina” dan Dona yang tengah asyik berbincang di salah satu sudut ruang tunggu ICU. Wasugi menghela nafas panjang. Dona telah memainkan peran sebagai Tina dengan baik, ia membatin.

--***--

Jamal termangu dalam sebuah gedung bioskop berlangit-langit tinggi. Suasana begitu gelap. Hening. Mencekam. Hanya ada satu lampu kecil bersinar redup diatas pintu keluar. Ia duduk disalah satu kursi penonton di bagian tengah. Sendirian. Tak ada seorangpun menemaninya disana. Hanya kursi-kursi kosong yang diam membeku.

Perlahan, tirai layar diangkat. Suaranya mendecit-decit, mungkin karena engselnya yang sudah mulai aus. Jamal merinding dan berfikir apa yang bakal dialaminya setelah ini. Mendadak terdengar derak suara proyektor berputar diatas kepalanya. Ia menoleh dan mencoba mencari tahu siapa gerangan yang menjalankan proyektor film di ruang atas sana. Tapi, tak ada seorangpun disitu!. Proyektor tersebut terus berputar sendiri dan memancarkan cahaya benderang menuju layar.

Jamal bergidik ngeri lalu memegang kedua pegangan kursi yang ia duduki dengan tangan gemetar. Ia ingin segera keluar dari bioskop aneh itu. Secepat mungkin. Namun adegan yang terpampang didepan mata membuat ia segera mengurungkan niatnya. Di layar ia melihat tayangan film dirinya bersama Tina tengah berjalan berdua menyusuri jalan boulevard dekat rumah Tina.

Jamal terkesiap. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Mendadak ia seperti mengalami Déjà vu. Ia pernah mengalami hal yang sama seperti “film” yang terpampang dilayar. Masih terasa lekat tercium bau tanah basah selepas hujan yang meruap dari sela-sela pepohonan atau anggukan dedaunan yang menjentikkan percik-percik air. Jamal tersenyum saat menatap adegan ketika ia menggoda Tina dengan menarik salah satu ranting pohon yang terdekat, menggoyangkannya sehingga sisa-sisa air yang menempel didaun mengguyur jatuh menimpa Tina.

Tina kaget dan berusaha mengelak namun sia-sia. Sebagian kemeja yang dikenakannya, terutama bagian punggung, basah terkena percikan air. Tina mengumpat kesal dan mengejar Jamal yang berlari menghindari cubitan Tina, sembari tertawa berderai.

Jamal memperbaiki letak duduknya. Adegan kemudian berpindah lagi. Di salah satu sudut kafe langganan mereka. Pada sebuah senja yang muram, menjelang malam. Tina duduk didepan Jamal dan menekuri selembar kertas yang baru saja disodorkan Jamal.

“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.

“Koq cuma itu, sih ?,” protes Jamal gundah.

“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa ?,” sahut Tina sengit. Ia meraih Orange Juizenya yang tinggal separuh dan meminumnya sampai habis.

“Jangan sinis gitu dong,Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron “Serambi Rumah Maknyak” yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih ?,” ujar Jamal seraya mendengus kecewa.

Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.

“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis !,” tegas Tina dengan mata menyala.

Jamal angkat bahu.

“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia mencoba meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat.

Tina menggigit bibir, lalu menunduk, menekuri lantai kafe. Lamat-lamat ia mendengar lagu “The Actor” dari Michael Learns to Rock mengalun indah dari CD player kafe tersebut.

He takes you out and he takes you up
'cause he can show you so much
I go to bed and tomorrow again
there's a lot of work to be done

He gives you gold and he'll promise you
the whole world will be yours
I just can tell you I love you so
even though my odds are low

I'm not an actor I'm not a star
and I don't even have my own car
But I'm hoping so much you'll stay
that you will love me anyway

The dirty games and the neonshows
this is the world he knows
Watching the stars satisfies my soul
thinking of him makes me feel so cold

The fancy cars and the restaurants
you're just so fond of the man
Sometimes I wonder if you are blind
can't you see, he's got dirt on his mind

Jamal mendesah. Lagu tadi seperti menohok hatinya. Tina tiba-tiba tersenyum tipis dan melirik nakal ke arah Jamal dengan ekor matanya.

“Pas banget ya lagunya. Kamu kayak gitu nggak nanti ?,” tanya Tina pelan.

“Kayak siapa ya ?,” sahut Jamal pura-pura lugu.

“..The Dirty Games and Neon Shows, this is the world he knows…,”kata Tina mengutip sebaris bait lagu “The Actor”. Seulas senyum masih terukir bibirnya.

Jamal terkekeh.

“Ada-ada saja. Mudah-mudahan tidak. Pokoknya aku janji deh akan seperti bait lagu ini: I'm hoping so much you'll stay, that you will love me anyway,” kelakar Jamal. Tina tertawa renyah. Ketegangan diantara mereka mencair. Menguap ke udara, lalu didekap malam yang tumpah menutup senja.

Adegan kemudian berganti. Pada sebuah malam yang mulai beranjak larut. Tepat sebulan setelah pertemuannya dengan Tina di kafe. Jamal membuka pintu rumahnya dengan lesu. Devi, adiknya menyongsong sang kakak dengan tatap cemas.

“Kak Jamal kemana aja sih ?. Dari tadi Devi telepon koq masuk mail-box melulu ?,”

“Handphonenya Kakak matiin, adikku sayang. Lagi sibuk syuting sinetron kejar tayang. Tidak boleh diganggu,” sahut Jamal dengan nada letih. Ia lalu menghenyakkan pantatnya di sofa empuk ruang tamunya.

“Mbak Tina tadi main kesini. Dia juga kesal seperti Devi. Koq susah banget menghubungi Kak Jamal sejak jadi artis,” kata Devi seraya mengangsurkan segelas air mineral kepada kakaknya.

Jamal tidak menjawab. Ia meraih gelas yang dibawa Devi lalu meminumnya hingga licin tandas. Dan menikmati sejenak sejuknya air mineral itu membasahi kerongkongannya.

Jamal kemudian meraih handphone disaku lalu mengaktifkannya. Sejumlah “missed-call” dan SMS terutama dari Tina dan Devi nampak di layar. Perlahan, ia menghapusnya satu-persatu khususnya untuk pesan yang tidak terlalu penting. Mendadak Jamal tertegun saat membaca SMS terakhir dari Tina : “Koq kita semakin berjarak ya ?”.

Jamal menelan ludah. Adegan dilayar film itu begitu menghentak batinnya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya seperti dihantam oleh ribuan palu godam. Layar didepannya menampilkan gambar Tina. Menatap kearahnya. Menyiratkan kesepian teramat dalam. Ia menjerit dan meronta sekuat-kuatnya. Gemanya memantul nyaring dari dinding-dinding bioskop.

Dokter Michael yang ditugaskan menjaga Jamal terkejut saat melihat gerakan lemah jemari pasien spesial itu. Ia bergegas melihat lebih dekat dan memeriksa monitor pemantau disamping pembaringan Jamal. Terlihat grafik fluktuatif yang tak normal. Ia menahan nafas. “Aku harus menghubungi Dokter Adi,” ia membatin lalu mengambil handphone disaku jas dokternya.

--***--

Tina bangkit dari tempat duduknya. Dona menoleh penuh rasa ingin tahu.

“Mau kemana, say ?”

“Ke ujung koridor situ, sebentar”, sahut Tina pelan seraya menunjuk ujung koridor ruang ICU yang terlihat sepi.

“Perlu teman ?”

Tina menggeleng.

Please, leave me alone for a while, Don.” pinta Tina. Ia ingin sendiri, mengenang kembali masa-masa indahnya bersama Jamal.

Masa dimana ia percaya, kekasihnya itu mampu membuatkan pelangi di lekuk cakrawala dengan warna-warni cinta. Dan saat dimana ia menjelmakan diri menjadi nyata dalam dekapan sebagai bidadari bermahkota bulan.

Dona mengangguk sambil tersenyum maklum lalu menyaksikan sahabat dekatnya itu berjalan ke ujung koridor.

Rita Molly, yang duduk diseberang Dona dan disamping Uul Permatasari mendadak bangkit dan berdiri. Lalu berjalan ke arah Tina. Ke ujung koridor.

BERSAMBUNG..







Labels:

Friday, June 03, 2005

SELEBRITIKU, PULANGLAH...! (EPISODE 11)

“Ah, tidak apa-apa koq, Kak. Sekarang baru dalam perjalanan pulang mengajar nih,” sahut Tina pelan mencoba berkilah. Namun ia tetap tak dapat menyembunyikan kegundahan hatinya saat itu.

“Yogi baru telepon, katanya kamu batalin pesanan komputermu ke dia ya ? Kenapa ?,” tanya Andrey dengan nada kesal dan sinis.

Tina salah tingkah. Ia lalu memperbaiki letak duduknya dan berusaha memikirkan jawaban yang pantas atas pertanyaan itu. Ia sudah membayangkan apa yang bakal terjadi kemudian dan bersiap menghadapi gelombang amarah kakaknya. Dengan terbata-bata dan sedikit takut ia mencoba menjawab.

“Soalnya.. Jamal sudah belikan komputer baru buat Tina lebih dulu. Jadi…”

“Alasan yang sangat tidak masuk akal !. Bukankah justru kamu yang pertama kali meminta pada kakak untuk dibelikan komputer baru ?. Dan tidak dari Jamal, lelaki brengsek yang sudah menghianatimu itu. Jangan coba-coba bohong ya?,” potong Andrey cepat dengan suara tinggi. Kemarahannya mulai memuncak.

“Benar, Kak. Ini semua inisiatif dari Jamal sendiri sebagai hadiah untuk Tina dan…,” Tina tak dapat melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya seperti tercekat. Tanpa sadar, bulir-bulir airmata gadis manis itu mulai mengalir dipipi.

“Pokoknya Kak Andrey tidak mau tahu soal komputer pemberian Jamal kepadamu. Kamu harus kembalikan dan jangan pernah terima lagi pemberiannya. Aku masih bisa beliin kamu komputer yang lebih baik dari dia. Paham ?,” tegas Andrey.

“Ya, Kak..,” sahut Tina lirih sekaligus pasrah. Dadanya terasa sesak oleh tekanan batin yang mendera baik dari Andrey kakaknya maupun musibah yang baru saja menimpa Jamal.

Dengan perasaan galau, Tina menstarter mobil starlet biru kesayangannya. Ia tak tahu hendak kemana saat ini. Biarkan angin yang membawaku pergi, demikian ia membatin. Getir.

Dan mobil mungil itupun melaju kencang meninggalkan decit menggiris dan bekas ban di aspal.


---***---


Dokter Hasan menyeka peluh dikeningnya dengan punggung tangan. Bukan hal yang lumrah memang diruang ICU yang sejuk berpendingin udara seperti ini, dokter ahli ortopedi itu kepanasan. Tampaknya ketegangan yang menyelimuti selama menangani pasien spesial hari ini membuatnya gugup.

Ia lalu memandang rekannya, Dokter Adi sang spesialis syaraf, yang tengah sibuk memeriksa kabel pemantau syaraf otak dan peralatan elektronik pendukung lainnya yang terhubung ke tubuh pasien mereka, Jamal Kelanamaya.

“Di, bagaimana keadaannya ?.”

“Masih koma, Cang. Syaraf otaknya mengalami guncangan luar biasa pasca kecelakaan. Tapi secara umum sih nggak masalah. Hanya aku khawatir kelak kalau sadar, ia bisa mengalami Amnesia,” sahut Dokter Adi cemas. Wajahnya terlihat letih.

“Hah ? Amnesia ? Hilang ingatan maksudmu?,” pekik Dokter Hasan heran.

“Kira-kira begitulah. Dari hasil CT-Scan, cedera kepala fatal yang dialami artis top ini menyebabkan interaksi syaraf otaknya relatif terganggu. Akibatnya, ketika ia sadar nanti, penyakit amnesia bisa menghinggapinya. Mudah-mudahan kondisi ini tidak akan terjadi dan kalaupun dapat terjadi kelak, tidak akan berlangsung lama. Aku harus terus memantau perkembangannya dari waktu ke waktu,” jawab Dokter Adi sambil mencuci tangannya di wastafel dekat pembaringan Jamal yang terbujur lesu.

Dokter Hasan mengangguk-angguk setuju.

“Semoga, Di. Pasien figur publik seperti Jamal ini memang butuh perhatian extra dari kita. Sorotan media maupun fans beratnya pasti akan terus mengikuti secara seksama perkembangan terakhir kesehatan Jamal. Sedetail mungkin. Coba lihat, di lobby rumah sakit ini saja sudah dipenuhi wartawan infotainment yang ingin mencari kabar terbaru soal Jamal. Belum lagi fans-nya yang terus berdatangan menyampaikan simpati. Siap-siap aja kita jadi artis dadakan yang diwawancarai wartawan,” seloroh Dokter Hasan.

Dokter Adi tertawa renyah.

“Cang, biar saja Humas rumah sakit ini yang menjawab pertanyaan wartawan tentang kondisi Jamal. Aku nggak mau repot dikejar-kejar mereka untuk diwawancarai dan kemudian nampang di layar TV sebagai bintang kagetan. Kecuali jika memang terpaksa. Istri dan anakku bisa shock nanti melihat tampang konyolku muncul disana. Yang penting kita sudah menyiapkan laporan hasil perkembangan terakhir Jamal dan menyerahkannya ke Dokter Rio, Direktur Rumah Sakit ini,” sahut Dokter Adi sambil menepuk bahu sahabat kentalnya itu.

“Okelah. Jadi kita ke ruangan Dokter Rio sekarang ?”

“Yuk. Laporannya sudah siap koq.”

Kedua dokter andalan rumah sakit “Harapan Tanpa Batas” itu kemudian berjalan beriringan keluar dari ruang ICU.


---***---

Ia berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun kepalanya. Panas dan membakar. Ia tidak peduli.

Jamal, lelaki itu, dengan dada telanjang dan otot berkilat keringat, menatap nanar kedepan. Kedua kakinya kuat mencengkeram ketanah tempat ia berpijak seperti akar pohon beringin yang kokoh tak tergoyahkan. Tangannya terkepal. Kedua ruas bahunya meregang kencang. Rahangnya mengeras. Tak ada rasa gentar dimatanya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun.

Seberkas sinar menyilaukan mendadak datang dari kejauhan. Di ufuk cakrawala. Jamal memicingkan mata untuk lebih cermat melihat apa yang tengah terjadi saat itu. Cahaya pelangi muncul dari sana. Indah. Bercahaya. Berpendar. Membiaskan warna-warni cerah. Membentuk lengkung ibarat “jembatan” yang mengarah kearahnya. Ke tempat ia berdiri.

Jamal terkesima. Ia seperti tak percaya apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Disana, dari kejauhan, perlahan tapi pasti, sosok gadis yang sangat dikenalnya muncul. Dalam balutan gaun putih berkibar dan rambut panjangnya bergerai ditiup angin. Anggun berjalan meniti pelangi. Seperti peri menyapa pagi. Seperti bidadari melukis hari.

“Tina..,”bisik Jamal lirih. Penuh rindu. Juga pilu.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Matanya berbinar ceria. Ia lalu mengulurkan tangan kearahnya.

Jamal menyambut uluran tangan itu dengan gemetar. Senyumnya pun mengembang. Hatinya berbunga menyambut kebahagiaan yang siap ia reguk sepuasnya. Tanpa henti.

Tapi hal yang tak terduga terjadi. Tebing tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh. Pijakan kakinya goyah. Dan iapun jatuh dengan tangan menggapai-gapai tak rela. Gadis itu menjerit tertahan dan berusaha meraih tangan Jamal. Tapi sia-sia.

Jamal meluncur deras kebawah. Tak terbendung. Ia berteriak sekuatnya memanggil nama Tina. Gema suaranya memantul pada dinding-dinding tebing. Tubuhnya melayang. Menuju laut yang ganas menerjang dan karang yang tajam menghunjam.

Lalu semua menjadi gelap. Pekat. Hitam. Kelam.

Samar-samar Jamal mendengar Kahlil Gibran melantunkan sepotong syairnya:

“Cinta tidak menyadari kedalamannya,
Sampai ada saat perpisahan”

Monitor Indikator detak jantung yang terletak disamping pembaringan Jamal menunjukkan grafik naik sekejap, namun kembali normal sesudahnya. 2 orang perawat jaga di ruang ICCU tidak memperhatikan perubahan itu. Keduanya asyik mengobrol tentang sinetron favorit yang kebetulan dibintangi pasien istimewa yang tengah mereka tunggui. Sementara Jamal masih terbujur diam. Kaku. Tak bergerak.


---***---

Tina mengemudikan mobilnya dengan kecepatan konstan. Ia masih bimbang untuk memutuskan akan kemana saat itu. Sudah hampir setengah jam ia hanya berputar-putar disekitar tempatnya mengajar. Sebenarnya terbersit dari hati kecilnya untuk menengok Jamal di rumah sakit dan mengesampingkan kenyataan bahwa ia akan “diinterogasi” lebih jauh oleh wartawan infotainment tentang hubungannya dengan artis terkenal itu.

Tapi ia masih belum memiliki cukup keberanian melakukannya apalagi Kak Andrey sudah jelas menyatakan sikap antipatinya pada Jamal. Sebuah dilemma yang cukup sulit bersemayam di hatinya.

Kerongkongannya mendadak terasa kering. Ia lalu memutuskan untuk parkir kembali tempat ia menerima telepon dari Andrey sebelumnya. Setelah mematikan mesin mobil ia meraih sebotol air mineral yang disimpannya dalam laci mobil. Dengan cepat ia meminum air mineral tersebut, membasahi kerongkongannya, memuaskan dahaga.

Setelah mengembalikan botol air mineral yang nyaris kosong itu, Tina mengambil dompet kesayangannya. Secarik kertas lusuh ia keluarkan dari sana. Puisi Jamal saat “melamar”menjadi kekasihnya. Dengan bibir bergetar, dibacanya berulang-ulang bait-bait terakhir dari puisi tersebut:

Kupersembahkan untukmu,
Bidadari jelita bermahkota bulan
Cinta bersahaja
Dari lelaki yang luluh terkulai dalam pesonamu
Yang senantiasa membuat malam menggeliat resah
Dan kerap bertanya:
Sampai kapan engkau mencumbui bayang-bayang ?
Kini,
Dapatkah kujadikan dirimu nyata dalam dekapku ?

Tina menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca didesak keharuan yang menyesak dada. Bait-bait puisi Jamal itu memberinya inspirasi ia harus kemana saat ini. Seulas senyum manis tersungging dibibirnya saat ia menghidupkan mesin mobil.

Labels: