CERFET : BAYANG HITAM
AKHIRNYA, saya berkesempatan lagi untuk berpartisipasi dalam penulisan Cerita Estafet di komunitas blogfam. Ada delapan partisipan yang ikut serta meramaikan cerfet yang berjudul "Bayang Hitam" ini yaitu : Sa, Tuteh, saya sendiri, Jaf, Rara, Lili, Ucha, Tya/Ireth.
Berbeda dengan cerfet sebelumnya dimana team penulis berdiskusi lebih dulu via email Japri, Penulis lanjutan cerfet "Bayang Hitam" selanjutnya terpilih atas dasar siapa yang lebih dulu mengklaim untuk menulis lanjutannya di thread khusus Galeri Kreasi blogfam. Ini untuk segmen pertama yakni episode 1-8. Segmen kedua (9-16) sang penulis cerfet (dari 8 yang sudah terdaftar) dipilih oleh pembaca dan segmen terakhir (17-24) berdasarkan hasil diskusi dari tem penulis. Wah..seru juga. Dibawah ini posting cerfet saya yang dimuat disini.
Selamat menikmati dan..penasaran!
3/24
Rendro menatap manik mata Saskia yang mengerjap indah. Warna kebahagiaan memancar disana. Berbinar dan menyiratkan sesuatu yang tiba-tiba membuatnya merasa sangat berharga.
“Bagaimana ?” tanya Rendro penasaran.
Saskia tersenyum tipis. Ia lalu meraih gelas Orange Juice didepannya dan menghabiskan sisa yang masih ada separuh dalam sekali teguk.
“Aku perlu waktu untuk menjawabnya, Mas,” sahut Saskia pelan. Ia lalu menunduk menekuri permukaan meja lesehan pak Margo yang ditutup plastik transparent bermotif kembang merah. Warna kayu terlihat kusam dibawahnya. Sejumlah pengunjung mulai ramai berdatangan di warung lesehan terkenal itu.
“Kenapa ?”
“Alasannya tidak terlalu penting, Mas. Aku akan beri jawaban secepatnya deh.”
“Ada hubungannya dengan Bimo ?,” tebak Rendro hati-hati seraya menatap tajam penuh selidik.
Saskia mendelik tak suka.
“Mas, ini tidak ada hubungannya dengan dia. Biarkan Bimo beristirahat dengan tenang di alam sana. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini,” tegas Saskia dengan nada tinggi.
Rendro menelan ludah. Rasa bersalah menggayuti hatinya. Ia lalu meraih jemari Saskia dan meremasnya dengan lembut. Dalam hati, ia mengutuk kebodohan konyol yang baru saja ia lakukan.
“Ma’afkan kelancanganku, Sas. Tak ada maksudku untuk menghubungkan Bimo dengan soal ini. Hanya aku sempat mengira, tragedy yang menimpanya masih menyisakan trauma dihatimu dan sempat membuatmu ragu mengambil keputusan penting tentang kita malam ini,” ujar Rendro lirih.
“Kejadiannya sudah dua setengah tahun yang lalu, Mas. Dan kini tinggal menjadi sepenggal kenangan pahit yang telah kusimpan rapi disudut hatiku. Tak lebih. Sejak menjalin hubungan denganmu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengusik lagi segala hal tentang Bimo,” kata Saskia pelan. Matanyapun mulai berkaca-kaca menahan keharuan yang tiba-tiba datang menyesak dada.
Rendro buru-buru meraih saputangannya dikantong dan segera menghapus air mata yang mulai jatuh dipipi Saskia.
“Sudahlah, Sas. Kita datang kemari bukan untuk mengenang kembali kelamnya masa lalu. Malam ini, aku justru ingin mengajakmu bersama merajut masa depan yang lebih cerah. Lebih baik dari kemarin. Aku ingin membahagiakanmu, Sas. Setiap waktu. Setiap saat,” bujuk Rendro seraya mempererat genggamannya. Mengalirkan keyakinan.
Saskia menghela nafas panjang, lalu membalas genggaman jemari Rendro. Lelaki berkacamata minus, berambut ikal dan berusia 3 tahun lebih tua dari dirinya, tak dapat dipungkiri telah menjelma menjadi sosok yang tidak hanya mempersembahkan gelora cinta yang menggebu tetapi juga membawa gairah baru dalam hidupnya pasca kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa kekasihnya, Bimo, dua setengah tahun silam.
“Maafkan aku, Mas, telah membuat suasana pertemuan kita malam ini jadi kurang nyaman,” kata Saskia sambil tersenyum.
“No Problem, Sas. Aku tetap memberimu kesempatan berfikir atas tawaranku tadi. Tapi jangan lama-lama ya ? Aku udah nggak sabar nih!” sahut Rendro seraya mendaratkan cubitan kecil pada hidung Saskia sekaligus mencairkan ketegangan diantara mereka.
Saskia tertawa dan balas mencubit mesra pinggang Rendro.
Lamat-lamat terdengar suara pengamen jalanan melantunkan tembang melankolis “Ku Tak Bisa” dari “Group Slank”.
Pernah berpikir 'tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri
Sempat ingin sudahi sampai di sini
Coba lari dari kenyataan
Tapi ku tak bisa jauh jauh darimu
Ku tak bisa jauh jauh darimu
Rendro kembali menatap manik mata indah Saskia.
“Aku memang nggak bisa jauh darimu, Sas. Sungguh,” desis Rendro lirih. Saskia tersipu.
Malam makin tua. Temaram lampu menyiram lembut sisi jalan disamping warung lesehan Pak Margo. Biasnya memantul dan menjelma menjadi leret-leret cahaya kecil yang masuk melalui celah tenda. Begitu eksotik. Dan suara pengamen pun mengalun lagi.
Lalu mau apa lagi
Kalau kita sudah gak saling mengerti
Sampai kapan bertahan seperti ini
Dua hati bercampur emosi
Tapi ku tak bisa jauh jauh darimu
Ku tak bisa jauh jauh darimu
---***---
Saskia menatap hampa langit-langit kamar tidurnya. Bagaimanapun juga, percakapan bersama Rendro tadi yang menyinggung soal Bimo sempat mengusik batinnya. Ia melirik jam weker meja di sisi ranjang.
“01.30 dini hari,” gumamnya sendiri nyaris putus asa. Ia sudah berusaha untuk tidur sejak 4 jam lalu. Tapi tak bisa. Wajah Bimo, Rendro dan juga bayang hitam yang selalu menghantui dalam mimpi, datang silih berganti dipelupuk matanya. Saskia menarik nafas panjang, mengumpulkan udara segar di paru-parunya yang mulai terasa sesak.
Lamunannya kembali melayang, pada suatu senja yang kuyup oleh gerimis, di teras depan rumah, dua setengah tahun silam.
Bimo berdiri tegak didepannya dengan seragam co-pilot salah satu maskapai penerbangan terkenal. Saskia menatap kagum sosok tinggi dan tampan serta memiliki sorot tajam mata elang itu tak berkedip.Dalam hati ia mensyukuri karunia Tuhan kepadanya atas kehadiran Bimo yang senantiasa setia menemaninya meniti hari.Hubungan kasihnya dengan Bimo sudah memasuki usia setahun sejak pertama kali diperkenalkan oleh kedua orang tua mereka disalah satu pesta keluarga.
“Kamu cantik sekali hari ini, Saskia,” ujar Bimo lembut seraya membelai rambut sang kekasih.
“Tumben ada angin apa nih muji-muji aku, biasanya kamu langsung ngeloyor pulang,”goda Saskia.
“Nggak tau juga ya Sas, aku hanya merasa, hari ini kamu terlihat begitu cantik. Beda dengan hari-hari lain,” sahut Bimo dengan tatapan aneh.
“Berarti kalau hari-hari lain, aku jelek ya..,” kata Saskia pura-pura merajuk.
Bimo terkekeh geli.
“Bagiku, hari-hari yang lain, kamu memang tidak cantik. Tapi jelita. Sudah ya, malam ini, dengan pesawat terakhir aku ada tugas terbang ke Manado.Nginap disana dan pagi-pagi kembali kesini sekalian menikmati masa bebas tugas. Bersamamu,”sahut Bimo sambil menepuk lembut pipi Saskia yang langsung merah merona.
Hujan turun makin lebat. Tirai air tipis yang sebelumnya jatuh ke bumi, menjelma menjadi guyuran deras seperti ditumpahkan dari langit. Bimo mendengus kesal, tampaknya ia segera membayangkan tantangan yang bakal dihadapi menerbangkan pesawat ditengah cuaca buruk seperti ini.
Saskia mengantar Bimo dengan payung hingga ke mobil Suzuki Aerionya. Sebelum membuka pintu mobil, Bimo sempat berbalik dan mengecup kening Saskia. Lama.
“Jaga dirimu, Sas. Aku pasti kembali untukmu,”ucap Bimo lirih seperti akan pergi ketempat yang sangat jauh dan terpencil. Saskia sempat menangkap nada getir disana apalagi saat melihat sorot mata Bimo yang aneh seperti disaput kabut kelam. Ia menepis jauh-jauh firasat buruk yang tiba-tiba hinggap di batinnya.
“Kamu juga ya Bim, hati-hati. Terutama godaan pramugari cantik,”jawab Saskia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan canda.
Bimo tersenyum.
Senyum paling manis dan terakhir yang pernah dilihat Saskia karena keesokan harinya Headline disejumlah media cetak dan elektronik menampilkan berita tragis musibah jatuhnya pesawat yang kebetulan dikemudikan Bimo dalam perjalanan Jakarta-Manado. Seluruh penumpang dan awak pesawat diketemukan tewas dalam kecelakaan tersebut.
Saskia menyeka air mata yang luruh membasahi pipi. Bagaimanapun juga, kenangan indah bersama almarhum Bimo yang pernah dilaluinya merupakan pengalaman paling mengesankan dalam hidupnya dan terpatri kuat sebagai monumen megah abadi di dalam hati.
Saskia memperbaiki letak posisi tidurnya lalu memejamkan mata. Tak lama kemudian, ia pun terlelap dibuai mimpi.
---***---
Saskia mengintip dari balik sebongkah batu. Nafasnya memburu. Kepanikan dan ketakutan yang melanda dirinya berbaur menjadi satu. Bayang hitam itu ada disana. Mencarinya. Saskia berusaha menahan nafas yang memungkinkan dengus suaranya bisa cepat dikenali oleh sosok aneh tersebut dari tempat ia bersembunyi. Namun sia-sia. Ia telah begitu jauh berlari yang membuat segenap energi tubuhnya terbuang habis dan nafasnya tersengal-sengal. Hingga menimbulkan bunyi yang sangat khas.
Bayang hitam itu menoleh ketempatnya bersembunyi. Sekilas terlihat seringai mengerikan penuh kemenangan dengan gigi taring yang begitu tajam dari mahluk itu. Saskia menelan ludah dan mencengkeram batu besar didepannya. Bayang hitam itu datang. Pelan. Seperti memberi efek kejutan dramatis pada calon korbannya. Sayapnya dikepak-kepakkan dan menimbulkan bunyi mencekam. Bau anyir darah terasa menusuk hidung. Jantung Saskia berdegup kencang dan otaknya berputar cepat untuk memutuskan langkah terbaik menyelamatkan diri. Ia menebar pandang sekeliling.
“No way out,” dalam hati ia merutuk kecewa. Selain sebongkah batu tempat ia bersembunyi saat ini, didepannya hanya ada hamparan padang rumput hijau dan persis dibelakangnya terdapat danau.berair jernih. Langkah-langkah baying hitam semakin merapat. Saskiapun spontan merasakan aroma kematian yang kian dekat. Ia menetapkan hati. Dalam hitungan detik ia berlari sekencang-kencangnya ke arah danau.
Bayang Hitam itu menggeram marah saat mengetahui korbannya mencoba lari darinya. Suaranya menggema dashyat lebih mirip raungan serigala lapar. Ia lalu mengepakkan sayap dan terbang ke arah Saskia yang langsung menceburkan diri ke danau. Air danau yang dingin segera menerpa sekujur tubuh Saskia. Ia lalu menyelam lebih dalam menghindari terkaman bayang hitam. Kengerian mendadak menjalari hatinya saat menyadari, ia ternyata tak pandai berenang. Apalagi danau tersebut memiliki dasar yang sangat dalam. Saskia putus asa. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya sekuat-kuatnya. Tapi sia-sia. Ia makin tenggelam.Menuju dasar danau.Saskia berteriak minta tolong dan…
Saskia terjaga. Ia menatap nanar langit-langit kamarnya dan perlahan bangkit duduk ditepi pembaringan. Meraih kesadarannya secara penuh. Meski ruang tidurnya memakai penyejuk udara tak urung peluh mengucur di sekujur tubuh Saskia. Ia merasa amat letih. Mimpi buruk itu datang lagi. Untuk keempat kalinya. Sosok mengerikan itu menghantuinya kembali.
Saskia menghela nafas. Ia beranjak dari tepi tempat tidur dan mencoba memberikan sugesti pada diri sendiri untuk lebih tegar menghadapi teror menakutkan ini. Saskia meraih handphone yang terletak diatas meja riasnya lalu mulai memencet nomor telepon Rendro.
Bersambung
Labels: Cerfet Blogfam







