Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Thursday, December 22, 2005

PENGANTIN MATA BIRU



Para pembaca blog ini yang budiman,

Untuk mengenang kembali setahun peristiwa tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 lalu bersama ini saya persembahkan cerpen "Pengantin Mata Biru" dan "Purnama di Mata Arimbi" sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan atas musibah tragis tersebut.
Semoga berkenan.

ATG

-----------------------------
AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Seonggok perahu tampak tergeletak di samping sebuah bangunan rumah yang telah luluh lantak. Beberapa bangkai perahu lainnya terserak di banyak tempat. Bau anyir mayat masih tercium dan meruap di udara.

Setelah usai bergelimang kesibukan membagi-bagikan bantuan logistik kepada korban tsunami daerah itu bersama rekan-rekan prajurit TNI sejak pagi hingga siang, aku berkesempatan melihat-lihat kondisi daerah tersebut lebih dekat. Senja mulai rebah ke peraduan dan matahari menyisakan redup sinarnya. Cahaya temaram sang raja siang itu begitu kontras dengan suasana muram di kampung nelayan yang terletak dikaki bukit Ujung Seudon tersebut. Kesunyian yang mencekam begitu terasa. Aku telah berjalan kurang lebih 1,5 kilometer dari basecamp. Dan terus berjalan.

Pada jarak kurang lebih dua meter dari tempatku berdiri, aku melihat sesosok lelaki muda dengan pakaian kumal duduk diatas sebongkah tembok bekas bangunan runtuh. Aku mendekati lelaki itu perlahan. Matanya menerawang seakan menembus garis batas cakrawala nun di ujung sana. Sekilas aku melihat sosok lelaki itu terlihat sedikit berbeda dengan lelaki korban pengungsi yang kutemui sebelumnya. Ia memiliki postur tubuh relatif jangkung, kulit putih kemerahan, rambut sedikit pirang, alis mata tebal dan bermata biru. Ya, bermata biru. Aku sedikit terkejut dan takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dihadapanku.

“Maaf, boleh saya duduk disini, disamping anda?” aku menyapa lelaki itu.

Lelaki itu tidak menjawab, lalu menggeser pantatnya ke kiri dan memberi ruang bagiku untuk duduk. Matanya masih menatap kosong kedepan.

Aku menelan ludah menata kegugupan yang datang mendera, lalu duduk di sampingnya. Sejenak kami diam seperti mencoba menebak arah pikiran masing-masing. Sekilas aku melirik sosok lelaki itu. Ia memiliki bentuk rahang yang tegas menonjol dan hamparan misai yang tumbuh kasar. Sebaris kumis tipis melintang tak rapi dibawah hidung mancungnya. Lingkaran hitam disekeliling mata gagal menyembunyikan pupil biru yang menyala redup.

“Datang dari Jakarta?” Tanya lelaki itu memecah kesenyapan diantara kami. Ia menatapku setengah hati.

“Ya, saya tiba tadi pagi dengan Kapal KRI Amboina 503.”

“Relawan ?”

Aku mengangguk.

“Dari LSM Nusantara Membangun. O, ya, kenalkan, nama saya Firman,” sahutku sambil mengulurkan tangan.

“Syamsuddin. Panggil saja Syam,” jawab lelaki itu seraya menyambut uluran tangan saya. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Menerawang entah kemana.

“Sudah lama tinggal disini?” tanyaku hati-hati.

“Sejak lahir saya disini.” sahut Syam pelan. “Sampai menikah.” Nadanya terdengar getir.

Aku menangkap kesedihan menggelayut disana.

“Kami adalah pengantin bermata biru,” imbuh Syam seperti mengigau. Matanya kembali memandang kosong kedepan namun di pelupuknya terlihat bulir-bulir air mata mulai mengalir.
Seketika perasaan bersalah membebani hatiku. Tak urung, rasa penasaran mengiringi untuk mengetahui maksud dari “Pengantin Bermata Biru” itu.

Syam lalu mengusap air mata dengan punggung tangan dan memperbaiki letak duduknya. Dia lalu memandangku lekat. Mata birunya terlihat memiliki daya pukau luar biasa dalam remang senja yang muram. “Maafkan saya, bung Firman. Kalau Anda tidak keberatan, saya akan ceritakan maksud ucapan saya tadi,” kata Syam seperti bisa menebak arah pemikiranku saat ini.
Aku mengangguk, “Tidak apa-apa, silakan. Sepanjang itu dapat mengurangi beban batin anda”, sahutku mencoba menghibur. Aku menatap matanya kembali mengalirkan keyakinan.

Syam menghela nafas lega. Ia tersenyum. Ketegangan yang tercipta sebelumnya diantara kami pun mencair. Dan cerita dari mulutnya mengalir lancar. Aku menyimaknya dengan antusias.

****

Dua puluh empat tahun silam, Syam lahir sebagai putera nelayan di Desa Kuala Daya dan merupakan anak sulung dari dua bersaudara . Adik bungsunya, Fatimah, yang lahir enam tahun kemudian turut menjadi korban keganasan tsunami bersama kedua orang tuanya. Mata biru yang dimilikinya merupakan jejak genetis dari kakek pihak ibunya yang berdarah Portugis.

Konon, menurut cerita ibundanya, setelah pelayaran berminggu-minggu dari tempat asal sekitar lima abad silam, kakek moyangnya bersama rekan-rekannya terdampar di Kerajaan Negeri Daya. Penguasa setempat saat itu, Pahlawan Syah, memerintahkan balatentaranya menemui pasukan Portugis yang terdampar tersebut. Tak ayal, perang pun pecah antara Balatentara Daya dan pasukan asing yang berambut pirang, berhidung mancung, dan berkulit putih. Akhirnya, tentara asing itu pun takluk di bawah kekuasaan balatentara Pahlawan Syah yang kemudian menawan mereka di sebuah kamp berpagar tinggi yang dikenal saat ini sebagai Kampung Meunanga. Pahlawan Syah yang ketika itu resah oleh perang sipil dengan beberapa kerajaan tetangga seperti Pase dan Pidie memanfaatkan keberadaan tentara Portugis, yang kebetulan mengerti soal senjata api, untuk membuat mesiu bagi armada perangnya. Karena tak ada pilihan lain, ditambah lagi tidak adanya bantuan dari negeri leluhur, mereka akhirnya tunduk pada perintah Pahlawan Syah dan hidup berbaur sebagai orang Daya. Beberapa diantaranya menjalin kasih dan kemudian menikah dengan penduduk setempat. Salah satu keturunan mereka diantaranya adalah keluarga Syam. Komunitas mereka dikenal sebagai “Bule Lamno”.

Meski berperawakan seperti “bule”, keluarga Syam yang hidup dari hasil melaut ini merupakan muslim yang taat dan penganut Islam yang fanatik. Mereka sempat mengalami tindakan diskriminatif karena dianggap berbeda dengan warga setempat. Itulah sebabnya, Fatimah, meski memiliki anugerah kecantikan yang luar biasa, sempat mengurung diri di rumah dalam waktu lama dan cenderung tertutup.

Keluarga Syam, termasuk keluarga “Bule Lamno” lainnya, tidak terlalu nyaman dengan sebutan yang beredar di masyarakat seperti si mata biru atau si rambut pirang. Hal ini disebabkan mereka telah tinggal di daerah yang sama selama berpuluh-puluh tahun serta mengerjakan aktifitas yang sama dengan penduduk asli. Sebagai ungkapan kekesalannya, Syam pernah menghitamkan rambut pirangnya dengan campuran minyak kelapa dan arang sukun agar perbedaan fisik dengan penduduk asli di sana tidak terlalu mencolok.

Sejak kecil, Syam sangat senang bermain-main di pesisir pantai bersama rekan-rekannya. Berlari di pasir putih dan menikmati debur ombak menghempas lembut di kaki merupakan suatu sensasi tersendiri. Mereka terkadang bermain bola diatas pasir dan merasakan betapa susahnya mengejar bola dengan kaki yang begitu berat dibebani himpitan pasir. Tsunami dashyat akhirnya menenggelamkan semua kenangan indahnya itu.

Namun kenangan yang tak akan tenggelam adalah tentang Aisyah, inong bermata biru yang telah membuat hatinya tertambat di sana. Wanita berparas jelita itu juga dianugerahi sepasang bola mata biru sebagai ciri khas menonjol komunitas “Bule Lamno”.

Mereka bertemu pertama kali saat penyelenggaraan upacara adat Seumeuleung sebagai peringatan syukuran penabalan Alauddin Riayat Syah sebagai Sultan di Negeri Daya yang kini menjadi Lamno. Sang Sultan kemudian bergelar Po Teumeurehom, yang sekarang makamnya di bukit Gle Jong dan kerap dikunjungi oleh ribuan peziarah. Penyelenggaraan acara ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha.

Syam menemukan Aisyah ditengah sekelompok wanita muda yang sedang bercengkrama dan berjalan menyusuri pantai ditengah kemeriahan acara Seumeuleueng 2 tahun silam. Syam bersama kawan-kawannya kebetulan berpapasan dengan kelompok gadis itu.

Inong Tari Seudah Rupa
[1], hendak kemana?” goda Hamzah salah seorang rekannya pada kelompok gadis itu.

Mereka tidak menjawab. Hanya tersenyum sebelum berlari kecil sambil tersipu. Syam sempat menangkap sosok seorang gadis berkerudung putih dan bermata biru seperti yang ia miliki. Pandangan mereka sempat bersirobok sesaat dan membuat hatinya bergetar hebat. Dia jodohku kelak, batin Syam.

Sejak pertemuan pertama tadi, Syam berusaha mencari tahu keberadaan Aisyah melalui adiknya Fatimah. Ternyata Aisyah adalah rekan sekelas Fatimah di SMU Lamno. Melalui adiknya, Syam menitip pesan untuk berkenalan namun tidak memperoleh tanggapan lebih lanjut. Tapi ia tidak kecewa. “Aisyah orangnya pemalu, Bang. Tapi salam abang buat dia sudah saya sampaikan,” kata Fatimah menjelaskan. Syam terus mencecar Fatimah tentang bagaimana reaksi Aisyah setelah menerima pesannya. Namun Fatimah hanya angkat bahu sembari tersenyum jenaka.

Saat musim Meuseuke Engkot
[2], Syam yang sehari-harinya membantu ayahnya mencari ikan di laut dan hanya tamat SMA itu, beralih profesi menjadi pengemudi RBT[3]. Dengan meminjam motor seorang cukong dengan target setoran harian, Syam melakoni profesinya itu dengan tekun.

Di suatu siang yang terik beberapa bulan setelah mereka pertama kali bertemu, saat mengendarai motor RBT-nya, Syam melihat Aisyah tengah berjalan sendiri. Langkahnya terlihat bergegas. Syam lalu mendekati gadis itu dengan motornya.

“Terimakasih Bang, saya tidak mau naik RBT. Saya mau jalan saja,” tampik gadis itu terlebih dulu sebelum Syam menyapanya. Ia lalu mempercepat langkah.

“Kalau begitu, biar abang temani jalan. RBT-nya biar abang tuntun,” kata Syam berkompromi dan mencoba menyusul Aisyah sambil menuntun motor disampingnya.

Gadis itu mendadak menghentikan langkahnya, berbalik dan memandang Syam dengan tajam. Mata biru Aisyah ibarat belati menghunjam tepat di hatinya.

“Ini jalan sepi, Bang. Jangan sampai mengundang cibiran orang nanti. Lebih baik abang cari penumpang lain saja. Lagipula rumah saya tidak jauh lagi koq, tinggal sekali belok disana” kata Aisyah lembut sambil menunjuk ke depan.

“Saya Syamsuddin, kakak Fatimah, teman kelasmu. Saya bukan pemuda berandalan yang akan menganggumu, Dik. Abang hanya ingin berkenalan dengan kamu. Tapi kalau memang keberatan, abang akan pergi sekarang,” sahut Syam. Dengan pesona mata biru elangnya ia balas menatap manik mata Aisyah yang kemudian tertunduk malu. Syam merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat, sang pujaan hati itu telah berada tepat di depannya.

Ia kemudian menaiki sadel motornya. Sebelum memutar balik motor kearah yang berlawanan dengan Aisyah, ia berkata di sela-sela deru mesin motor,” Aisyah, mata biru kamu indah.” Syam kemudian memacu motornya.

Sepulang sekolah, keesokan harinya, adiknya Fatimah menyampaikan salam kembali dari Aisyah setelah sejumlah salam darinya tak berbalas. Katanya, Mata Biru Abang Syam juga indah dan mohon maaf atas kejadian kemarin.

Syam tersenyum. Ia baru saja menorehkan warna pelangi dalam satu babak kehidupannya.
Hari-hari berikutnya, menjadi hari-hari penuh gelora cinta bagi Syam. Setiap adiknya berangkat ke sekolah, ia menitip salam atau terkadang surat cinta untuk Aisyah. Syariat Islam yang ditegakkan secara ketat di Aceh tidak memungkinkan mereka sebagai pasangan yang belum menikah bertemu secara terbuka. Namun surat cinta di antara keduanya seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan cinta mereka. Ketika masih menjadi pengemudi RBT, Syam senantiasa menguntit dari jauh perjalanan pulang Aisyah ke rumah. Aisyah tahu itu. Ia selalu menoleh ke belakang sesaat sebelum berbelok di tikungan, melontarkan senyum fenomenalnya ke arah Syam yang duduk diatas sadel motor RBT 50 meter darinya. Syam membalas dengan lambaian tangan dan mengembangkan senyum balasan.

Setelah Aisyah tamat SMU, Syam tidak perlu menunggu lama lagi untuk melamar pujaan hatinya itu. Bersama ayah, ibu dan kerabatnya, mereka datang melamar Aisyah untuk menjadi istri Syam. Sambutan hangat mereka terima dari keluarga Aisyah yang kemudian segera menetapkan hari pernikahan mereka sebulan setelah prosesi pelamaran tersebut.

“Kita adalah pengantin bermata biru,” kata Syam mesra di telinga istrinya, Aisyah diatas pelaminan, di sela-sela kemeriahan pesta pernikahan mereka, beberapa bulan silam. Aisyah tersenyum malu dan mencubit pinggang suaminya. Seusai pesta pernikahan, mereka menempati rumah Aisyah karena sebagai anak tunggal satu-satunya, Aisyah belum diperkenankan tinggal terpisah jauh dari ayah bundanya. Syam memaklumi itu. Lagipula, rumahnya pun hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari tempatnya bermukim sekarang.

Syam menjalani profesi sebagai nelayan mengikuti jejak ayahnya. Namun ketika musim Meuseuke Engkot datang, ia kembali menekuni profesi sebagai pengemudi RBT.

Syam begitu mensyukuri anugerah Allah atas kebahagiaan yang diterimanya. Selain istri yang cantik dan alim, Aisyah mampu tampil sebagai pendamping hidupnya yang setia bersama dalam suka maupun duka. Kebahagiaan pun terasa lengkap saat Aisyah mengabarkan kehamilannya. Mata Syam berkaca-kaca, terharu mendengar kabar menyenangkan itu. Dipeluknya Aisyah erat-erat dan mencium keningnya dengan mesra.

Sampai akhirnya bencana tsunami itu merenggut semuanya, termasuk kebahagiaan yang telah ia reguk bersama Aisyah. Ia masih ingat betul saat gempa dashyat melanda Aceh saat pagi baru membuka tirainya. Setiap pagi, Syam mempunyai kebiasaan mempersiapkan perahu dan jala sebelum melaut didepan rumah. Di hari Minggu yang naas itu, gempa mengguncang dashyat. Syam berlari masuk rumah dan meminta seluruh anggota keluarganya untuk segera keluar rumah menyelamatkan diri dari kemungkinan lebih buruk. Semua selamat, termasuk istrinya Aisyah dan kedua mertuanya.

Tiba-tiba air laut surut. Sejumlah warga berlarian kearah pesisir pantai, melihat ikan-ikan yang terdampar dan menggelepar-gelepar disana. Tidak berapa lama kemudian gelombang ombak besar datang menderu dengan kecepatan tak terhingga. Syam dan Aisyah menatap, dinding air setinggi pohon kelapa yang menerjang, dengan perasaan ngeri.


Syam menggenggam erat tangan istrinya dan menariknya lari. Sekencang-kencangnya. Ia tidak melihat kedua mertua yang sebelumnya berada di dekatnya. Sejumlah orang ikut berlari dengan perasaan panik dan ketakutan luar biasa. Ombak besar datang menggulung, memutar dan menghempaskan Syam dan Aisyah. Genggaman tangan mereka terlepas. Syam berusaha menggapai istrinya. Ia berteriak sekuat tenaga memanggil namun kekuatan ombak raksasa itu tak kuasa dilawannya. Ia tidak ingat apa-apa lagi.

Saat tersadar, ia seperti bangun dari kematian. Tubuhnya tersangkut di sebuah pohon, sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Ia selamat dari bencana mengerikan itu. Tapi tak ada Aisyah disampingnya. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Dengan kekuatan yang tersisa, ia turun dari pohon dan berjalan tertatih mencari Aisyah, istrinya. Ia memanggil sekuat tenaga dengan harapan yang kian rapuh. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Di jalan, di bawah reruntuhan bangunan, di pohon, di mana saja. Sambil menahan sakit di sekujur tubuh, Syam membolak-balik setiap mayat yang ditemuinya.

Tepat di tikungan jalan tempat Aisyah biasa berbelok menuju ke rumah, ia menghentikan langkah. Tubuh Aisyah tergeletak di bawah pohon mangga, tempat ia biasa berteduh dan menoleh sambil tersenyum, ke arah Syam yang sedang duduk menguntitnya dengan motor RBT. Jilbab putih istrinya sudah berubah warna menjadi coklat gelap lumpur. Syam memeluk istrinya erat-erat, menciumnya, mengalirkan kehangatan dan cinta kasihnya yang tak terhingga. Ia mencoba menemukan kerjap indah mata biru Aisyah, tapi sia-sia. Mata istrinya telah tertutup untuk selama-lamanya. Kepedihan luar biasa melanda batinnya.

Saat itu Aisyah sedang mengandung 2 bulan, hasil buah kasih cinta mereka.

****

Syam menunduk, menekuri tanah tempat kami duduk.

Aku tertegun menyimak kisah hidupnya. Malam mulai turun dan desau angin laut terasa menggigilkan tubuh. Aku menghela nafas panjang. Sungguh berat penderitaan yang dialami lelaki muda ini.

“Mari kita pulang ke barak, Bung Syam,” ajakku sembari bangkit.

Ia tak bergeming sedikitpun.

“Hidup kita masih harus terus berlanjut Bung Syam. Tidak berhenti sampai disini. Putus asa tidak akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan Aisyah kembali di sisi Anda. Yang paling penting saat ini, Anda mesti merelakan kepergian Aisyah sebagai takdir yang sudah digariskan dari Allah, Tuhan penguasa semesta alam. Untuk kemudian bangkit melanjutkan hidup lebih tegar dan bermakna sebagai bagian dari fitrah ke-khalifahan kita dimuka bumi,” tuturku tenang.

Syam mengangkat wajah. Ia memandangku. Mata birunya seperti terluka, tapi aku melihat secercah cahaya harapan disana. Pandangannya beralih kedepan. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan.

Aku menepuk pundak Syam dan membantunya bangkit dari tempat duduk lalu berjalan bersamanya. Samar-samar aku mendengar debur ombak menghempas pantai seperti mendendangkan tembang pilu. Tentang kenangan yang tenggelam, tentang mimpi-mimpi yang hilang.


Jakarta, 23 February 2005

Foto-foto diambil dari :
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=48&condense_comments=false

Sebagian bahan kisah ini terinspirasi dan dikutip dari Majalah Tempo No.52/XXXIII/21-27 Februari 2005, Rubrik SELINGAN :”Lamno Tak berlalu dari Ingatan”


Catatan Kaki:

[1] Gadis Cantik Rupawan
[2] Paceklik Ikan
[3] Rakyat Banting Tulang, istilah Ojek di Aceh

Labels:

Wednesday, December 21, 2005

PURNAMA DI MATA ARIMBI

LETNAN Dua Aryo Bimo memandang batu nisan didepannya dengan kepedihan tiada tara. Dibacanya berulang-ulang nama yang tertera disana dengan nada pilu. Arimbi Wulansari, bibirnya bergetar menyebut kekasih tercintanya itu penuh kerinduan yang teramat dalam. Seketika, pelupuk matanya basah, entah untuk kesekian kalinya dia menangis. Daun-daun kamboja yang menaungi makam Arimbi berguguran diterpa angin senja yang cukup kencang bertiup saat itu.

Aryo menyeka air matanya perlahan dengan punggung tangan. “Tentara sebaiknya tidak boleh menangis,” terngiang jelas ucapan Arimbi didinding telinganya sesaat sebelum menaiki kapal yang akan membawanya ke Aceh 6 bulan lalu. Ia teringat saat itu, sembari tersenyum, Arimbi menyodorkan sapu tangan warna biru kepadanya untuk membasuh linangan air mata dipipinya yang kemudian diterimanya dengan rikuh.
Spontan Aryo meraba kantongnya. Saputangan biru itu masih ada disana, tersimpan rapi, supaya “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama” demikian ucap Arimbi waktu itu saat Aryo mengembalikan saputangan tersebut. Mendadak keharuan membuncah didada perwira muda itu, lalu pelan tapi pasti menyeret kenangan indah bersama Arimbi kembali…

---***---

“Jangan memandangku terus-terusan kayak gitu dong Mas Letnan. Malu aku,” kata Arimbi seraya mencubit mesra lengan Aryo, kekasihnya, suatu malam disalah satu sudut warung makan lesehan saat keduanya tengah menyantap hidangan seafood. Pipi gadis itu memerah.

“Matamu itu, Bi. Indah sekali seperti bulan purnama dimalam hari. Bulat bundar penuh pesona dan setiap kerjapnya membuatku hatiku tergetar setiap kali memandangnya,” sahut Aryo sambil meraih jemari Arimbi dan menggenggamnya dengan lembut.

“Gombal !. Aku laporin ke komandanmu nanti lho !,” timpal Arimbi yang kemudian mendaratkan cubitan lebih keras lagi dan bertubi-tubi ke lengan Aryo yang kemudian mengaduh kesakitan seraya memasang mimik lucu.

“Ampuuun..tuan putri Arimbi, hamba menyerah kalah,” kata Aryo pasrah mengangkat tangan. Mereka lalu tertawa renyah.

Pertemuan Aryo dengan Arimbi, gadis bermata purnama itu terjadi tanpa sengaja. Bermula ketika Aryo yang melintas dengan sepeda motor selepas mengawasi piket jaga disuatu siang yang terik, menemukan seorang gadis cantik kebingungan memandangi ban kempes didepan mobil Toyota Starlet birunya yang menghadang tepat didepan jalan.

Aryo menepikan motornya dan menyapa gadis itu.

“Ada masalah apa, Dik ?”, sapa Aryo ramah.

“Ini Mas, ban mobilku kempes, aku…aku..tidak begitu mengerti cara mengganti dengan ban cadangan. Bisa tolong aku Mas ?”, sahut gadis itu dengan gugup dan raut wajah cemas.

“Ada ban penggantinya kan’ di bagasi ?” Tanya Aryo sambil menyingsingkan lengan baju seragam lorengnya. Gadis itu mengangguk. Terlihat peluh mengucur didahinya dan mengalir melalui jenjang lehernya yang putih. Namun hatinya mulai tenang mendapat bantuan spontan dari sang perwira muda.

Dengan sigap Aryo mengganti ban mobil gadis itu dengan ban pengganti dari dalam bagasi.

“OK, sudah selesai !”, kata Aryo beberapa saat kemudian sambil mengibas-ngibaskan celana hijau lorengnya dari debu jalan setelah bangkit dari bawah mobil melepas dongkrak. Bulir-bulir keringat terlihat didahinya.

“Terimakasih Mas, ini ada air kalau mau minum atau cuci tangan,” kata gadis itu menyodorkan sebotol air mineral. Aryo menerimanya kemudian meneguk minuman tersebut dan sisanya dipakai mencuci tangan.

“Ups..habis nih,” ucap Aryo sambil memperlihatkan botol air mineral itu ke arah sang Gadis dengan pandangan mata bersalah.

“Nggak apa-apa koq. Nanti bisa beli lagi . O,ya..ngomong-ngomong, sebagai rasa terimakasih, boleh nggak aku ajak Mas makan bakso di warung sebelah sana ?”, ujar gadis itu menawarkan.

“Terimakasih dik, tapi saya mesti kembali ke Markas,” kilah Aryo.

“Tolong dong Mas, aku nggak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih pada anda. Sekali ini saja. Toh kita hanya makan semangkok bakso dan tidak perlu sampai menghabiskan waktu seharian. Nanti kalau komandannya marah, biar aku aja deh yang hadapi. Mau kan’ ?,” gadis itu merajuk manja. Aryo tertawa renyah ia tak kuasa menolak tawaran gadis manis itu.

“Baiklah, tapi aku parkir motor dulu ya ? Kamu tunggu aja duluan disana,” kata Aryo sambil berjalan ke arah motornya.

Pertemuan siang itu kemudian menjadi awal dari pertemuan demi pertemuan selanjutnya. Gadis itu, Arimbi Wulansari, , mahasiswa tingkat tiga sebuah universitas negeri dan puteri seorang pengusaha terkenal yang berdomisili dekat dari Markas Aryo. Jalinan kasih keduanya terjalin indah sampai kemudian saat menikmati senja yang indah dipantai, Aryo mengungkapkan berita yang cukup mengagetkan sekaligus menggelisahkan.
“Bi, mulai bulan depan aku akan dipindahkan tugas ke Aceh,” kata Aryo hati-hati dengan tenggorokan tercekat. Ekspresi bahagia Arimbi mendadak berubah. Raut mukanya terlihat tegang.

“Keputusan itu mendadak sekali. Baru tadi pagi saat kami briefieng di Markas. Tapi cuma enam bulan saja koq, sesudah itu balik lagi kesini sekalian melamarmu menjadi istriku,” imbuh Aryo sambil mengelus rambut kekasih tercintanya dengan lembut.
“Tapi itu cukup lama buatku,” sahut Arimbi sambil menatap hampa pada garis batas cakrawala merah saga di ujung laut. Mentari mulai beranjak ke peraduan. Ombak berdebur halus menghempas bibir pantai.

Aryo menghela nafas panjang. Ada beban menghimpit dadanya.

“Ini sudah menjadi resiko tugas sebagai aparat negara, Bi. Dan aku kira kamupun sudah siap menerima ini ketika kita menyatakan komitmen untuk menjadi calon pasangan suami isteri tempo hari. Cepat atau lambat, aku pasti akan menerima penugasan penuh resiko seperti sekarang,” kata Aryo menjelaskan. Arimbi terdiam, ia menunduk, menekuri butir-butir pasir di pantai. Pelupuk matanya mulai basah.

Aryo meraih bahu kekasihnya itu dan memeluknya erat-erat. Semilir angin senja menggeraikan rambut Arimbi.

“Tapi tidak secepat ini, Mas. Aku tak ingin kehilangan kamu,” isak Arimbi lirih. Aryo kembali mengelus lembut rambut kekasihnya.

“Aku pasti akan kembali kepadamu, Bi. Sepotong hatiku sudah ada padamu. Pijar mata purnamamu senantiasa akan mendampingiku selama disana Pada saatnya nanti setelah aku pulang dari Aceh, kita menikah membangun mahligai rumah tangga yang bahagia dan kamu kelak melahirkan anak-anak kita yang lucu.. Percayalah Bi, aku tidak akan tertembak oleh GAM dan pulang kembali padamu dalam keadaan sehat wal-afiat, “ hibur Aryo sambil mencoba berseloroh.

Arimbi mencubit perut Aryo pelan. Perasaannya melambung dan membayangkan pesta perkawinannya nanti setelah Aryo pulang dari penugasannya di Aceh.

---***---

Arimbi memandang sosok lelaki pujaannya itu diatas geladak kapal yang akan membawanya ke Aceh. Dadanya terasa sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyentak. Dia begitu tampan dengan seragam militernya. Aku tak akan memperlihatkan tangisku didepannya karena aku tidak ingin terlihat rapuh menjelang dia pergi, Arimbi membatin dengan getir. Ia melihat, Aryo melambaikan tangan kearahnya sambil mengucapkan kalimat tanpa suara, Tunggu ya..aku akan kembali kepadamu. Arimbi yang dapat membaca bahasa bibir Aryo kemudian mengangguk. Ia balas melambaikan tangan kearah kekasihnya. Peluit panjang kapal perang KRI.Teluk Limau bergema kencang.

Tambang kapal sudah dilepas dan perlahan lambung kapal itu bergerak menjauhi pelabuhan. Sosok Aryo makin lama makin mengecil. Tapi dia masih disitu, diatas geladak kapal dan terus melambaikan tangan. Arimbi menggigit bibir, ia tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh bergulir disela-sela pipinya. Aryo, sepotong hatimu ada padaku,seperti sepotong hatiku pula kamu bawa bersamamu, ucapnya dalam hati.

---***---

Aryo baru saja menyalakan handphonenya pada Minggu pagi 26 Desember 2004. Gempa dashyat yang baru saja melanda Aceh. Setelah 4 bulan berada dimedan penugasan itu, tugas mendadak muncul sebagai sukarelawan membantu korban gempa yang berada disekitar markasnya. Atas pertimbangan kesibukan menjalankan tugas tersebut, ia memutuskan tidak menerima panggilan telepon lebih dulu dengan menon-aktifkan handphonenya. Dengan perasaan bingung, ia melihat sejumlah missed call dari Arimbi. Aryo baru saja mencoba menghubungi kembali Arimbi ketika ia dikejutkan oleh dering keras handphonenya .

“Aryo, ini Bunda, ibu Arimbi”, terdengar suara diseberang sana dengan nada panik.

“Ya, Bunda. Ada apa ? Tumben telepon pagi-pagi”, sahut Aryo mengenali suara calon mertuanya itu.

“Arimbi ada disana sekarang”

“Hah ? Disini ? Di Aceh ? Mau apa dia kesini Bunda ?”, Aryo kaget, hampir saja handphonenya terjatuh. Informasi tadi seperti membuat jantungnya copot seketika. Kecemasan mulai melanda hatinya apalagi melihat kenyataan gempa dashyat baru saja terjadi di ibukota serambi Mekkah itu.

“Ya, dia berangkat tadi malam dengan pesawat terakhir ke Aceh. Katanya kangen sama kamu dan minta Bunda merahasiakan kepergiannya kesana untuk menengokmu sehari saja dan kembali lagi ke Jakarta dengan pesawat sore ini. Arimbi mau bikin kejutan besar untuk kamu. Tapi pagi ini perasaan Bunda tidak enak dan semalaman bunda tidak bisa tidur, seperti akan terjadi sesuatu padanya. Tolong kamu cari dan temui dia secepatnya ya ?”tutur Ibu Arimbi.

Aryo terdiam dan tidak menyangka Arimbi berani melakukan kejutan penuh resiko seperti itu. Ia sengaja tidak menceritakan gempa besar yang baru saja terjadi di Aceh kepada calon mertuanya itu yang mungkin saja belum tahu, untuk meredam kecemasan lebih lanjut.

“Dia ada dimana sekarang Bunda ?”

Bunda menyebutkan salah satu nama hotel tidak jauh dari Markas Aryo saat ini.
“Baik, aku segera menyusulnya sekarang. Nanti aku kabari setelah ketemu, Bunda,” kata Aryo dan setelah memutuskan hubungan telepon segera berlari menuju motornya.

Baru saja ia menstarter motor, tiba-tiba terdengar kepanikan luar biasa. Aryo menoleh, dan terlihat serombongan orang berlari-lari kearahnya sambil berteriak histeris.

“Air..air…air !!..Cepat lari selamatkan diri!!”



Kengerian tiba-tiba menyeruak dalam dadanya saat menyaksikan dinding air setinggi pohon kelapa menuju kearahnya dengan kecepatan tak terduga. Aryo berlari sekencang-kencangnya, dalam fikirannya, ia harus menuju ke hotel tempat Arimbi menginap dan menyelamatkannya dari bencana tersebut. Namun, akhirnya ia tak kuasa ketika gelombang air tsunami itu menggulung tubuhnya lalu memutarnya dengan dashyat. Meluluh lantakkan semua yang dilaluinya. Tanpa kecuali. Seketika ia tidak ingat apa-apa lagi.

---***---

Aryo membuka mata dan melihat sekeliling ruangan yang serba putih. Pandangannya kabur dan samar-samar ia melihat kaki kirinya digips dan digantung.

“Alhamdulillah, dia sudah sadar,” ia mendengar suara yang begitu dikenalnya.

“Ayah ?” , kata Aryo lirih. Kesadarannya perlahan mulai pulih.

“Ya, ini ayah nak,” sahut lelaki tua itu seraya membelai rambutnya.

“Mana Arimbi ayah ? Mana dia ?”, tanya Aryo penasaran. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit tapi segera ditahan oleh beberapa orang perawat. Sekujur tubuhnya terasa sakit.

“Tenang nak. Kamu baru saja sadar dari koma selama 2 hari. Tim penolong menemukanmu tersangkut di sebuah pohon dengan kaki patah setelah tsunami sekitar 2 kilometer dari Markasmu. Kami lalu berinisiatif membawamu pulang kembali dan merawatmu di Jakarta. Syukurlah kamu selamat dari bencana ini dan sekarang sudah sadar,” tutur ayahnya pelan.

“Tapi dimana Arimbi ayah ? Dimana dia ?”, teriak Aryo putus asa.

Lelaki tua itu menghela nafas panjang, ada beban berat menghimpit dadanya saat itu. Aryo menatap lelaki tua itu penuh harap.

“Nanti saja Ayah ceritakan. Kamu perlu banyak istirahat. Ingat, hari ini kamu baru saja sadar dari koma. Butuh waktu yang tidak singkat untuk memulihkan kesehatanmu,” sahut ayahnya pelan. Aryo mendengus kecewa.

“Dia datang menjengukku ke Aceh, Ayah. Untuk aku. Tolong ceritakan bagaimana nasibnya. Sepahit apapun aku siap menerimanya. Tolong ayah,” kata Aryo sambil mencoba meraih tangan ayahnya. Suaranya terdengar putus asa. Ayahnya menelan ludah, mengumpulkan segenap keberanian dalam batinnya. Ia menggenggam jemari Aryo dengan erat, mengalirkan kekuatan. Dipandangnya salah seorang perawat di dekat pembaringan Aryo meminta persetujuan. Suster tersebut hanya mengangkat bahu dan sepertinya menyerahkan keputusan kepada ayah sang pasien sendiri.

“Baiklah, nak. Tentang Arimbi, calon istrimu,…dia..tewas dalam musibah dashyat ini. Jenazahnya ditemukan didepan hotel tempat ia menginap. Tampaknya dia baru saja bermaksud menuju ke markasmu pagi itu. Jenazahnya dibawa ke Jakarta bersamamu 2 hari yang lalu dan sudah dimakamkan,” Ayah Aryo menuturkan kisah tragis itu dengan kalimat terbata-bata. Kesedihan teramat dalam terpancar diwajah Purnawirawan Kolonel itu.

Aryo terdiam. Batinnya begitu terguncang mendengar berita tersebut. Arimbi, kekasih belahan hatinya telah pergi untuk selamanya. Ia datang ke Aceh untuk menjenguknya namun sekaligus menjemput kematiannya sendiri. Mendadak timbul rasa penyesalan teramat dalam di hati Aryo tidak menyalakan handphone ketika bencana gempa terjadi sebelum gelombang tsunami dashyat melanda. Arimbi telah berusaha menghubunginya berulang kali saat itu namun gagal. Ia mungkin saja masih bisa menyelamatkan nyawa kekasihnya apalagi mengingat jarak antara hotel Arimbi dan Markasnya tidak terlalu jauh. Perlahan pelupuk mata Aryo basah, genggaman jemari ayahnya makin erat.

“Tabahkan hatimu, nak. Doakan semoga Arimbi mendapat tempat yang layak disisiNya,” ujar ayahnya lirih. Aryo tak menjawab. Sembari menggigit bibir, menahan keharuan yang menyesak dada, Ia lalu menoleh keluar ke arah jendela kamar tempat ia dirawat.

Gerimis mulai turun, menghantam kaca dengan lembut dan menyisakan jejak buram. Arimbi, sekeping hatiku telah kaubawa bersamamu, desis Aryo perlahan.

---***---

Aryo mengusap batu nisan Arimbi dengan lembut, seakan mengelus kembali rambut kekasihnya yang panjang menggerai. Malam mulai turun di kompleks pemakaman itu. Bulan purnama muncul malu-malu dibalik langit. Aryo lalu mengeluarkan saputangan biru pemberian Arimbi. Terngiang kembali ucapan Arimbi saat menyerahkan saputangan tersebut kepadanya, “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama”.

Aryo mencium saputangan itu dengan penuh perasaan dan merasakan kehadiran kekasihnya didekatnya. Wangi parfum kesayangan Arimbi tercium sangat lekat. Aryo tersenyum dan memandang langit. Disana, dalam redup lembut cahaya bulan, ia melihat mata purnama Arimbi berpijar. “Aku tak akan menangis lagi Arimbi karena dalam setiap purnama, kamu akan selalu hadir memandangku penuh rindu dengan mata indahmu”, bisik Aryo lirih ke pusara sang kekasih. Dingin malam mulai mendekap, desau angin dipemakaman mulai terasa menggigilkan tubuh, namun kehangatan cahaya bulan mengalir ke sekujur tubuh perwira muda itu.

Aryo bangkit dengan hati-hati dan dengan langkah tertatih sembari menggunakan kruk, ia berjalan meninggalkan kompleks pemakaman itu. Ditatapnya sekali lagi pusara Arimbi dan berdesis pelan, “aku akan menyimpan pijar purnama matamu dihatiku, Arimbi”.

Jakarta, 11 February 2005

Catatan :
Foto diambil dari:

Labels:

Tuesday, December 20, 2005

CERFET : BAYANG HITAM (EPISODE-10)

Saskia menatap monitor komputer didepannya. Lama. Perasaan tak percaya menyelinap dibatinnya. Juga ketakutan yang aneh. Dengan jemari gemetar ia membalas sapaan “sang tak tergapai” itu melalui YM-nya.

Saskia_in_love : Pesan ? Pesan apa ? Dan—yang paling penting lebih dulu adalah—kamu siapa ?

Unreacheable_me : Aku adalah seseorang yang kamu kenal. Paling dekat, hingga ke desah nafas dan tulang sum-sum kamu sekalipun.

Saskia mendengus kesal. Dia berusaha menarik dan mengais-ngais kembali segala kenangan yang tersisa dibenaknya untuk mendapatkan deskripsi lebih jelas siapa gerangan dibalik sosok “sang tak tergapai” itu. Tapi tak biasa. Ia gagal. Misteri itu tak jua terkuak.

Saskia_in_love : Aku paling tidak suka menebak sesuatu yang tidak jelas. Tolong katakan siapa kamu dan apa yang kamu maksudkan dengan “pesan” itu.

Unreacheable_me : Atau ??

Saskia_in_love : Atau aku akan memutuskan koneksi chatting kita sekarang juga! Dan jangan pernah berharap bisa menghubungiku lagi dengan cara atau dalih apapun. Paham ?.

Unreacheable_me : Jangan coba-coba mengancamku, Sas. Kamu fikir aku takut ?. Aku toh masih tetap bisa menghubungimu dengan cara lain yang tak akan pernah kamu duga. Silahkan kamu putuskan koneksi itu sekarang dan kamu akan menyadari bahwa sebuah ketololan terbesar dalam hidupmu baru saja kamu lakukan.

Saskia tersentak. Bayang hitam itu!. Apakah dia ?. Dan apakah itu “pesan” yang dimaksud ?. Seketika, bulu kuduk Saskia meremang. Kengerian dikejar bayang hitam dalam mimpi buruknya hampir setiap malam kembali terbayang. Tapi ia telah menetapkan hati. Tiada seorangpun yang memiliki hak untuk mengatur atau mengendalikan hidupnya. Termasuk sosok misterius itu sekalipun.

Tak lama kemudian jarinyapun menari lincah diatas keyboard.

Saskia_in_love : Apa kamu juga berfikir aku takut pada gertak sambalmu ?. Good-bye!

Dengan mantap Saskia memutuskan koneksi YM-nya dengan “sang tak tergapai”, sesaat setelah mengetik kata terakhir. Tidak hanya itu. E-Mail dari sosok misterius itupun segera dihapus dari inbox-nya dan mengatur setting email pribadinya untuk memblokir total semua email yang berkaitan dengan “unreacheable_me”.

Saskia tersenyum puas. Ia sudah siap menanggung semua resiko apapun, termasuk “melakukan ketololan terbesar dalam hidup”.

“Hei, Non. Ngapain sih senyam-senyum sendiri didepan komputer ?. Lagi chatting sama siapa hayoo ?”, goda Ria yang tiba-tiba nongol didepan meja kubikal Saskia.

Saskia terhenyak dan segera menata kegugupan yang mendera.

“Nggak koq,”kilah Saskia. “Aku baru saja baca joke lucu yang dikirim teman milis sekolah dulu.”

Ria terkekeh geli. Ia segera mendekati tempat Saskia duduk.

“Eh, mau nemenin aku ke pantry nggak ?”, ajak Ria sambil mencolek punggung Saskia. “Tadi pagi berangkat buru-buru ke kantor sampai nggak sempat sarapan. Aku mampir di halte depan rumah beli siomay. Yuk, bantuin aku habisin siomay-nya dong. Banyak banget nih!. Apalagi saat hujan seperti ini. Lebih enak disantap.”.

Tanpa berfikir panjang lagi, Saskia mengangguk dan segera menggamit lengan Ria keluar dari area teritori kerjanya. “Yuk..kebetulan aku lapar juga nih!”.


---***---

Lelaki itu mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat melalui kedua lubang hidung. Rimbun asapnya mengepul-ngepul disekitar ruangan. Aroma nikotin yang pekat begitu terasa diudara. Dan lelaki itu seperti berusaha menikmati kepulan-kepulan asap rokok yang berseliweran liar didepannya, tanpa peduli sedikitpun tanda “dilarang merokok” yang terpampang jelas di sudut ruang.

Lelaki itu lalu mematikan rokoknya yang belum benar-benar habis di asbak, lalu berjalan kearah jendela.

Diluar, hujan deras turun mengguyur bumi. Irisan-irisan air jatuh menerpa kaca jendela yang lalu membuatnya buram. Sesekali kilat terlihat menyambar di awan yang demikian pekat disaput mendung. Lelaki itu mendesah. Telunjuknya lalu ia tempelkan di atas permukaan kaca jendela yang lembab. Dingin dan basah. Begitu banyak kenangan yang pernah ia lalui bersama hujan. Seperti dulu.

“Hai kamu! Berhenti!”, gertak seorang preman bengis berbadan tinggi besar menghadangnya ketika sedang berlari menembus hujan sepulang sekolah.

Ia menghentikan langkah dan memandang sosok sang preman itu dari atas kebawah. Bulu kuduknya seketika merinding. Ia bergidik ngeri. Sosok itu begitu menakutkannya. Dengan misai kasar terhampar di dagu dan pipi, tubuh kekar dan lengan bertatto naga mengamuk, sang preman tampil bagai monster dihadapannya. Dalam hati ia merutuk kesal atas keberaniannya untuk pulang tanpa harus menunggu hujan reda lebih dulu lantaran tak ingin ketinggalan menonton film kartun kesayangannya.

“Uang. Serahkan uangmu!,” bentak preman itu sambil menengadahkan tangan kearahnya. Ia mundur selangkah hingga tubuhnya merapat ke tembok kusam dibelakangnya. Jantungnya berdetak cepat.

“Ss..sa..saya tidak punya uang, bang!”, sahutnya gugup. Keringat mulai mengucur didahinya.

“Jangan bohong kamu!,” seru preman itu seraya menghunus sebilah belati dan mengancamnya.

Ia menggigit bibir lalu memejamkan mata. Pasrah. Dan pada saat itulah keajaiban terjadi. Tubuhnya mendadak terasa panas dan bergetar hebat.

Sang preman terkejut dan mundur hingga beberapa langkah. Belatinya terjatuh. Yang dilihatnya sekarang bukan lagi sosok anak SMP bercelana pendek biru dan berwajah polos. Namun sesosok naga besar yang marah dengan kobaran api disekitarnya. Menyala-nyala dan siap menyambar serta membakar dirinya. Sang preman menjerit ketakutan lalu berlari sekencang mungkin. Meninggalkannya.

Dan pada peristiwa hujan yang lain,

“Berhati-hatilah pada bakat yang kamu miliki anak muda,” ujar seorang pria setengah baya menyapanya saat sedang menunggu hujan reda disebuah halte bis kota. Mereka hanya berdua saja disana.

“Bakat apa yang bapak maksud ?” tanyanya dengan suara sedikit nyaring untuk mengatasi riuhnya deras hujan yang menerpa atap halte.

Pria itu tersenyum. “Sixth Sense. Matamu tak bisa berbohong,nak”.

Ia lalu tertunduk rikuh kemudian melempar pandangan kedepan. Pada hujan yang deras mengucur. Pada jalanan yang basah. Pada lalu lalang kendaraan yang merayap pelan.

“Kamu patut bersyukur dianugerahi kemampuan langka seperti itu. Jangan sia-siakan. Kamupun mesti siap bertanggung jawab atas segala resiko jika menggunakan talenta yang kamu punya pada hal-hal yang tidak seyogyanya,” sambung pria itu—yang anehnya—terdengar begitu lekat dan jelas digendang telinganya. Ia menoleh dan nampak olehnya pria tersebut memandang tajam kearahnya sambil menunjuk keningnya sendiri. Akhirnya ia sadar.

Pria itu bercakap melalui telepati kepadanya!.

“Bicaralah. Dengan hati dan fikiranmu. Derai hujan sangat menganggu pembicaraan “normal” kita sekarang. Yakinlah kamu bisa. Aku bisa mendengarmu,” suara pria itu bergema kembali.

“Aku..tak bisa…,” gumamnya dalam hati. Perasaan galau menyelimuti batinnya.

“Kamu bisa. Aku mendengarmu,” sahut pria itu seperti berbisik ditelinganya.

Ia tersentak kaget karena tak menyangka iapun memiliki kemampuan sama seperti pria tersebut.

Sebuah bis nampak mendekat ke halte tempat mereka menunggu.

“Bis saya sudah datang. Harap ingat dan camkan nasihat saya hari ini. Tak banyak orang seberuntung kamu,nak. Sampai jumpa kembali dilain waktu,”suara pria terdengar pelan namun mantap. Tak lama kemudian sosok pria itu sudah berlari menembus rinai hujan dan menghilang ke badan bis yang melaju pelan.

Dan iapun terpukau dan terpaku dalam diam.

Lelaki itu menatap hampa keluar jendela. Hujan masih juga belum usai dan kaca jendela itu tetap saja buram. Rentetan kejadian yang dialaminya itu membuatnya sadar untuk bahwa ia memiliki”sesuatu” dalam dirinya yang jarang dimiliki manusia normal. Dan ia sangat membenci itu.

Terutama ketika ia tidak sempat menghalangi sahabat kentalnya, Anto, yang bersikeras mengikuti lomba balapan motor yang kemudian merenggut nyawanya. Ia sempat mendapat “gambaran” kelabu dalam fikirannya tentang kematian Anto hanya sehari sebelum ia tewas menabrak dinding pembatas di arena lomba. Indera keenamnya berupa kemampuan pre-kognisi kembali teruji saat ia memilih membatalkan kepergiannya berdarmawisata ke Taman Safari bersama teman-teman sekolahnya di SMA hanya karena ia mendapat firasat yang sangat jelas sehari sebelum keberangkatan, bis yang ditumpangi akan terbalik disebuah tikungan terjal. Ia sudah berusaha mencegah namun tak seorangpun mempercayainya sedikitpun. Untung saja peristiwa kecelakaan itu tidak merenggut korban jiwa. Namun setelah kejadian tersebut, hidupnya tiba-tiba menjadi berbeda. Kawan-kawannya “mengambil jarak” darinya karena dianggap sebagai sosok yang “aneh” dan iapun memilih menutup diri.

Ia benci memiliki kemampuan itu. Ia sudah mengorbankan banyak hal terutama pergaulan dengan rekan-rekannya di sekolah yang kian menjauhinya. Termasuk rekan wanita yang seperti alergi jika berada dekat dengannya. Lelaki itu kesepian. Juga merana.

Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa justru dengan kemampuan yang dimiliki terlebih jika diasah secara intens, ia bisa mendapatkan banyak hal. Khususnya demi menyokong kepentingannya sendiri. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk siapa-siapa.

Lelaki itu beranjak menjauh dari jendela dan duduk kembali di depan meja kerjanya. Ia lalu menarik laci bagian atas dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah guntingan berita Koran dua setengah tahun silam, yang sudah kusam dan menguning dengan headline menyolok: “Kecelakaan Tragis Pesawat Merah Putih Airlines Jakarta-Manado – Seluruh awak pesawat dan penumpang dinyatakan tewas”.

Seketika hatinya tersayat. Pedih.

---***---

Saskia mengunyah sepotong siomay yang diambilnya dari piring Ria dengan lahap.

“Non, rakus amat sih makannya ?. Gue disisain doong…,” protes Ria sewot.

Saskia terkekeh. “Siapa suruh ngajak gue makan bareng!. Baru tau kan’ gue ini maniak Siomay?. Apalagi hujan-hujan kayak gini. Rasanya nikmat banget.”

Ria merengut kesal dan mencubit pipi Saskia gemas.

Sekonyong-konyong wajah bulat Toni muncul dari balik pintu pantry. “Sas, dicariin Mas Rendro-mu tuh!”

“Dia kesini ?. Ke kantor kita ?. Ngapain ?. Tolong bilangin deh gue lagi nggak ada ditempat kek. Gue lagi malas ketemu dia. Please dong Ton,” tukas Saskia resah. Ia tak habis fikir Mas Rendro begitu nekat menemuinya dikantor setelah permintaannya untuk sejenak “istirahat” dari hubungan mereka tempo hari.

“Yaaa..telat Sas, gue udah bilang kamu ada. Masa’ mau bohong sih ?. Sudahlah temui aja dia di lobbi depan sekarang”, ujar Toni .

Dengan bersungut-sungut Saskia keluar dari pantry seraya mencubit pinggang Toni.
BERSAMBUNG
Episode lengkapnya, silahkan klik disini

Labels: