PESONA CERFET YANG PENUH GREGET - Sebuah Sketsa Pengalaman Pribadi
“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.
“Koq cuma itu, sih?” protes Jamal gundah.
“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa?” sahut Tina sengit.
Ia meraih orange Juice yang tinggal separuh dan meminum sampai habis.
“Jangan sinis gitu dong, Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron Serambi Rumah Maknyak yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih?” ujar Jamal seraya mendengus kecewa. Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.
“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis!” tegas Tina dengan mata menyala.
Jamal angkat bahu.
“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat. (Dikutip dari Cerfet Selebritiku, Pulanglah!, Episode Kesebelas oleh Amril Taufiq Gobel, posting tanggal 16 Juni 2005).
CERFET atau Cerita Estafet yang dimuat di ruang Galeri Kreasi adalah sebuah fenomena menarik di Komunitas Blogfam (www.blogfam.com). Sejak pertama kali dipopulerkan oleh Sa dan Tuteh dengan judul Sketsa Hati Tuteh (Agustus 2004), tercatat hingga tulisan ini dibuat sudah ada tujuh cerfet dengan berbagai tema yang berbeda ditayangkan di Galeri Kreasi Blogfam. Termasuk cerfet terbaru “Bayang Hitam” yang saat ini memasuki episode kesepuluh dan ditulis oleh delapan orang.
Cerfet merupakan rangkaian cerita fiksi bersambung yang ditulis oleh dua orang atau lebih dan menjadi suatu kesatuan cerita yang utuh. Istilah cerfet ini, menurut Maknyak/Labibah Zain (founder komunitas blogfam) seperti yang ditulis ulang oleh YNa dengan judul The Messenger, 'Nakal' dan penuh surprise, secara sederhana dijelaskan sebagai berikut: "Persis seperti adegan pertandingan lari di dunia olah raga. Penulis A akan menyerahkan tongkat estafet penulisan kepada penulis B dan penulis B setelah menulis akan menyerahkan tongkat kepenulisan kepada penulis C, begitu seterusnya sampai mencapai garis FINISH yang berupa ending cerita tersebut. Penulisan seperti ini memerlukan kerja team yang hebat dan kuat. Masing-masing penulis, sebagaimana dalam lomba lari estafet, harus saling mendukung cerita. Sekali saja penulis lengah, akan bubarlah keutuhan ceritanya."
Penulisan Cerfet memiliki kaidah/aturan tersendiri yang mesti dipatuhi oleh tiap penulis. Jumlah kata, jumlah posting, tenggat waktu antara posting yang satu dan posting selanjutnya, urutan posting dari tiap penulis ditetapkan sedemikian rupa sesaat sebelum cerfet ditayangkan. Khusus untuk urutan posting dibagi dalam beberapa segmen (tergantung jumlah penulis) dan masing-masing penulis akan diberi jatah urutan berbeda di tiap segmen. Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk memberi porsi urutan berpindah dari tiap penulis tapi juga menghindari pola berulang yang monoton.
Tim Penulis mendiskusikan secara cermat aturan-aturan penulisan termasuk segala konsekuensinya. Namun demikian, aturan dimaksud, lebih kepada masalah teknis terutama menjaga kedisiplinan tiap penulis berada dalam koridor yang sudah ditetapkan dan tidak mengekang kebebasan berekspresi secara menyeluruh dari tiap penulis.
Saat pertama kali ditodong menulis cerfet apalagi menjadi penulis di awal episode, saya sempat merinding. Betapa tidak. Selain ini menjadi debut pertama menulis cerfet, juga dalam kapasitas sebagai penulis awal, saya mesti berusaha keras mencari tema yang menarik dan bisa menciptakan banyak celah bagi penulis berikutnya untuk dikembangkan dalam suatu kesinambungan cerita. Setelah lama berkiprah sebagai penulis cerita pendek yang lebih leluasa menjadi diktator atas alur kisah yang dibuat, saya sempat menghadapi kesulitan saat memulai membuat cerfet.
Berbeda dengan penulisan cerpen, saya dapat dengan mudah membuat outline/kerangka cerita sesuai ide yang berkembang di benak. Alur cerita, karakter tokoh dan konflik yang terjadi hingga akhir kisah dapat diatur sekehendak saya, sebagai penulis. Sangat berbeda saat menulis cerfet. Saya harus menahan ego pribadi serta berkompromi dengan diri sendiri sembari menunggu posting berikutnya dari penulis yang lain. Sangat mungkin, lanjutan kisah dari penulis berikutnya jauh berbeda dengan apa yang terbayang di benak. Diperlukan kemampuan untuk lebih jeli mendeteksi celah yang ada dari posting penulis sebelumnya lalu kemudian dikembangkan menjadi ide kisah lanjutan, seraya tetap memelihara plot/alur cerita secara konsisten. Disinilah letak tantangan dan daya tarik cerfet. Kejutan-kejutan dari tiap episode serta kerangka cerita terbangun secara spontan dari posting ke posting tiap penulis, membuat saya seperti dibetot ke dalam pesonanya.
Ketika memulai membuat cerfet Selebritiku, Pulanglah! (SP), tema yang saya angkat diilhami dari posting salah satu anggota blogfam yang mengisahkan problematika sahabatnya yang berpacaran dengan selebriti. Tema ini saya anggap menarik karena selain mengusung trend aktual pacaran/pernikahan selebriti dan orang biasa. Tema ini juga menawarkan begitu banyak potensi konflik dan celah untuk dikembangkan menjadi cerfet. Saya merasa, fondasi ini sudah cukup kuat sebagai dasar membangun cerfet SP. Dengan empat penulis (saya, Tuteh, Bondan dan Liza) dan empat isi kepala yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri untuk cerfet SP. Latar belakang usia dan pengalaman masing-masing penulis sedikit banyak memberikan pengaruh signifikan pada gaya penulisan. Tuteh misalnya, yang baru saja dinobatkan sebagai aktifis cerfet blogfam 2005 karena produktifitasnya dalam menulis cerfet, memiliki gaya bertutur yang khas ala remaja: ceria dan blak-blakan. Tentu jauh berbeda dengan gaya penulisan Bondan yang mengalir tenang dan terkesan hati-hati. Tak dapat dipungkiri, gaya penulisan yang berbeda ini menjadi tantangan bagi tiap penulis untuk menyuguhkan rangkaian kisah yang nyaman dibaca oleh khalayak pembaca. Team Penulis cerfet SP menyadari betul hal tersebut. Meski justru letak keunikan cerfet berada pada gaya penulisan masing-masing penulis di tiap episode berbeda, tetap diupayakan untuk mengakomodir gaya penulisan sebelumnya agar kesinambungan dan konsistensi bertutur tetap terjaga.
Ada pengalaman menarik yang dapat diungkap yakni, pada episode pertama SP, saya menggambarkan karakter si bencong Donna relatif terkesan agak maskulin dan konyol. Pada perkembangan selanjutnya ditangan penulis berikut, sosok ini bermetamorforsis menjadi sosok bencong yang norak, lucu dan genit. Saya senang dan melihat ini bukanlah sebentuk inkonsistensi namun sebagai pengembangan dan pengayaan karakter Donna secara lebih kreatif dari penulis berikutnya sejauh masih berada pada jalur logika cerita. Salah satu letak keunggulan lain membuat cerfet yakni belajar menerima, menghormati dan menyiasati perbedaan.
Pada episode 6-10 di cerfet SP, saya sempat gregetan pada arah cerita yang berkembang tak terduga. Dalam benak saya sudah ada skenario bayangan kira-kira arahnya akan seperti ini. Dengan perkembangan cerita yang berubah demikian cepat, mau tidak mau, saya, yang akan menerima amanah selanjutnya meneruskan kisah tersebut dengan menyesuaikan alur yang ada dan apa boleh buat, mengesampingkan ego pribadi saya sendiri. Awalnya memang sulit, tapi pada gilirannya, saya menemukan kesejukan di sana. Bahwa cerfet, pada akhirnya membingkai perbedaan, gagasan dan ekspresi yang ada dalam sebuah harmoni yang indah. Ibarat menyusun “puzzle” , masing-masing keping episode yang ditayangkan oleh tiap menulis, pada akhirnya akan membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.
"Jam Terbang" saya menulis cerfet memang masih sedikit. Selain cerfet Selebritiku Pulanglah! yang sudah rampung bulan Juli tahun lalu, saat ini saya juga masih terlibat menjadi salah satu team penulis cerfet Bayang Hitam. Namun dari aktifitas menulis cerfet selama ini, saya mendapatkan sensasi yang berbeda dengan menulis cerpen. Interaksi virtual yang hangat khususnya dengan rekan-rekan sesama tim penulis cerfet saya rasakan sebagai pengalaman batin yang tak ternilai. Internet memang telah membuang sekat-sekat geografis antar pulau hingga antar negara. Komunikasi antara saya dan Bondan di Jakarta, Tuteh di Ende-Flores, dan Liza di Bali yang terjalin lewat cerfet SP membuat kami seakan bercakap satu sama lain, face to face.
Apalagi dengan cerfet kolosal Bayang Hitam (BH) yang baru kali ini dalam sejarah per-cerfet-an di komunitas blogfam melibatkan paling banyak penulis. Istimewanya, tidak semua dari penulis cerfet tersebut berada di Indonesia. Sa dan Jaf masing-masing berdomisili di Belanda dan Singapore. Penulis yang lain di Indonesia seperti saya dan Lili di Jakarta, Ucha di Manado, Ireth di Malang-Jawa Timur, Tuteh di Ende-Flores dan Rara di Makassar. Tidak hanya itu. Sejumlah inovasi baru juga coba diterapkan dalam cerfet BH. Yang pertama adalah membuka lowongan terbuka bagi siapapun anggota komunitas blogfam yang berminat ikut menjadi salah satu tim penulis cerfet dalam satu tenggat waktu tertentu. Jika biasanya, calon penulis cerfet berkumpul dan berembug secara tertutup sebelum meluncurkan cerfet-nya, maka khusus untuk cerfet BH dibuka kesempatan bagi siapapun yang berminat ikut. Yang kedua adalah, pada segmen pertama, segera setelah posting awal ditayangkan oleh sang Initiator sekaligus Organiser cerfet ini (Sa), penulis yang sudah mendaftar dipersilahkan untuk mengajukan diri sebagai penulis berikutnya, dan demikian seterusnya hingga ke delapan penulis mendapat giliran. Prinsipnya: siapa yang cepat, dia yang akan dapat kesempatan pertama. Yang ketiga, pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan siapa penulis berikutnya pada segmen kedua. Penulis cerfet harus siap menerima order pembacanya sebagai penulis lanjutan. Baru pada segmen ketiga nanti, kedelapan penulis akan berembug menentukan urutan masing-masing.
Inovasi yang dilakukan pada cerfet BH memberi warna dan kesegaran baru dalam sejarah per-cerfet-an di blogfam. Tantangannya pun kian kompleks terlebih ketika pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan penulis berikut di setiap urutan. Saya pribadi menganggap ini menjadi tantangan yang luar biasa untuk menguji sejauh mana tingkat apresiasi pembaca pada karya cerfet saya. Komunitas Blogfam yang per tanggal 6 Januari 2006 telah memiliki anggota terdaftar sebanyak 1,622 diseluruh dunia, memberikan ruang yang cukup lega bagi tumbuh dan berkembangnya aktifitas cerfet melalui ruang Galeri Kreasi.
Para penggiat blog yang tergabung dalam komunitas yang sudah memasuki usia 2 tahun ini, tidak hanya menjadi target sebagai khalayak pembaca cerfet namun dapat pula tampil sebagai penulis dan menjadikan cerfet sebagai sarana belajar untuk mengasah keterampilan menulis serta menuangkan gagasan. Terlebih lagi, Galeri Kreasi di Blogfam tidak hanya menampilkan cerfet sebagai menu utama namun juga karya-karya lain seperti cerpen, puisi, foto, esei, dan lain-lain.
Cerita kolaborasi melalui aktifitas internet, sesungguhnya bukan hal yang baru. Novel Puing (Bebop Publishing, 2005) yang ditulis oleh sembilan anggota milis Truedee kemudian disunting oleh cerpenis handal Bondan Winarno yang sekaligus juga menyumbangkan kisah untuk menutup cerita, merupakan salah satu contoh nyata bahwa aktifitas kolaborasi penulisan di dunia maya dapat diwujudkan dalam bentuk karya cetak. Kami, tim penulis cerfet SP juga memiliki impian agar karya kami tersebut dapat diterbitkan sehingga dapat dinikmati tidak hanya di kalangan terbatas, seperti komunitas blogfam saja. Untuk itu, saat ini kami tengah melakukan proses penyuntingan dan dalam waktu dekat bisa diajukan ke pihak penerbit.
Akhirulkalam, saya mengutip pernyataan sastrawan besar Iwan Simatupang 40 tahun silam: “Melahirkan kesegaran imajinasi adalah tantangan Indonesia dimasa depan. Yang diperlukan penjelajahan-penjelajahan bentuk dan gagasan sebuah karya seni yang dapat mengilhami orang membayangkan kemungkinan-kemungkinan kedepan.” Mudah-mudahan cerfet di blogfam adalah salah satu wujud kesegaran imajinasi dari hasil penjelajahan bentuk karya seni dan akan memberi ilham, dari waktu ke waktu, bagi siapapun juga untuk membayangkan kemungkinan kedepan.
Jakarta, 6 Januari 2006
Disampaikan dalam acara Jumpa Penulis Blogfam tanggal 14 Januari 2006 di Common Room-Bandung
Labels: Artikel







