TANGGAPAN ATAS SEBUAH TANTANGAN
Sebuah email "tantangan" datang ke inbox email saya. Tantangan No.23 dari milis WritersTavern, isinya begini:
Tantangan #23: Sudut Pandang
Pikirkan satu benda yang sering kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari. Tulislah cerita berdasarkan sudut pandang benda tersebut.
Maka, dalam rangka menanggapi tantangan itu, saya membuat dua buah flash-fiction (cerita singkat) seperti tertera dibawah ini :
SEPEDA
Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan.
Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.
“Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam.
Ia lalu bergegas meninggalkanku dan menuju sepeda motor yang baru saja dibelinya kemarin dan sedang terparkir gagah didepanku.
Aku memandang Andi—kawan setiaku-- berlalu bersama derum mesin motor yang seperti sinis mengejekku sendirian diruang garasi.
Sejenak lamunanku berkelana, saat Andi dengan girang menerimaku sebagai hadiah ulang tahun ke-sepuluh dari orang tuanya. Matanya berbinar ceria “menelanjangiku” dan tak henti berdecak kagum melihat postur mentereng tubuhku. Sebersit rasa bangga membuncah dihatiku.
Kami berdua meniti hari dengan ceria. Tidak hanya rutinitas perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolah, tapi sejumlah perjalanan-perjalanan lain yang membuatku menjadi lebih bermakna. Setiap kayuhan kaki Andi, senandung kecilnya ketika ia mengendaraiku, atau bagaimana ia memacu diriku sekencang mungkin berlomba bersama rekan-rekannya senantiasa memompa semangatku dan menetapkan hati menjadi sahabat setianya, sampai kapanpun. Tak terpisahkan.
Dan kini setelah empat tahun berlalu, aku tak kuasa melerai hasrat Andi untuk memiliki sepeda motor baru. Kedua orang tuanya menyanggupi keinginan putra tunggal kesayangannya itu sebagai hadiah ulang tahunnya.
Kemarin ketika sepeda motor itu datang, Andi memandangnya dengan begitu antusias seperti saat pertama melihat aku tiba dulu. Dan itu membuatku sangat terpukul juga terluka amat dalam.
Lamunanku buyar ketika terdengar suara Mang Sarip, tukang kebun Andi, datang bersama seseorang yang tidak kukenal mendekatiku.
“Berapa nih bang, kalo dikiloin ?,” ujar Mang Sarip sambil menuding ke arahku yang masih diam. Dan membeku.
CERMIN TOILET
Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah.
Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.
Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya.
“Kenapa aku tidak pernah terlihat cantik saat bercermin ?,” rutuknya sembari menatapku kembali dengan mata menyala. Bekas-bekas bedak dan lipstick terlihat berlepotan diwajahnya.
Ah, kalau saja aku bisa meraih pipinya yang ranum lalu menepuknya lembut, maka akan kukatakan padanya, “Kamu sudah cantik. Sangat cantik malah. Meski tanpa polesan kosmetik apapun diwajahmu”.
Wanita itu menghela nafas panjang dan dengan gerakan kaku ia mengambil tempat bedak dari tas lalu memoleskannya kembali dipipi. Pelan. Penuh perasaan.
Aku menikmati ritual ini dengan antusias. Gerak gemulai tangannya saat memoles bedak mengingatkanku pada konduktor orkestra yang memainkan tangannya memandu lagu dengan elegan. Aku terkesan.
Begitupun saat ia memberikan sentuhan terakhir lipstick pada bibirnya. Ibarat seorang maestro lukis menambahkan tambahan warna menyolok diatas kanvas lukisannya. Berkali-kali ia memandangku untuk memastikan bahwa ia sudah cukup cantik dengan polesan kosmetik yang baru.
Mendadak pintu toilet terbuka lebar dan seorang lelaki muda bergegas masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu di depan wastafel toilet.
Ia mengernyitkan dahi, sebersit keraguan terpancar dimatanya.
“Apakah…saya salah masuk toilet ?,” tanya lelaki itu gusar.
“Tidak. Anda tidak salah masuk,” sahut wanita itu berusaha menata kegugupan yang menderanya. Dengan cepat ia merapikan kosmetiknya yang berserakan dan memasukkannya ke tas lalu beranjak keluar menuju pintu.
Lelaki itu hanya berdiri mematung. Tak percaya.
“Ini memang toilet lelaki. Nama saya Isman. Tapi biasa juga dipanggil Nana. Nana Sudonna,” tambah wanita itu yang kemudian melesat keluar dan hilang dibalik pintu.
SEPEDA
Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan.
Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.
“Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam.
Ia lalu bergegas meninggalkanku dan menuju sepeda motor yang baru saja dibelinya kemarin dan sedang terparkir gagah didepanku.
Aku memandang Andi—kawan setiaku-- berlalu bersama derum mesin motor yang seperti sinis mengejekku sendirian diruang garasi.
Sejenak lamunanku berkelana, saat Andi dengan girang menerimaku sebagai hadiah ulang tahun ke-sepuluh dari orang tuanya. Matanya berbinar ceria “menelanjangiku” dan tak henti berdecak kagum melihat postur mentereng tubuhku. Sebersit rasa bangga membuncah dihatiku.
Kami berdua meniti hari dengan ceria. Tidak hanya rutinitas perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolah, tapi sejumlah perjalanan-perjalanan lain yang membuatku menjadi lebih bermakna. Setiap kayuhan kaki Andi, senandung kecilnya ketika ia mengendaraiku, atau bagaimana ia memacu diriku sekencang mungkin berlomba bersama rekan-rekannya senantiasa memompa semangatku dan menetapkan hati menjadi sahabat setianya, sampai kapanpun. Tak terpisahkan.
Dan kini setelah empat tahun berlalu, aku tak kuasa melerai hasrat Andi untuk memiliki sepeda motor baru. Kedua orang tuanya menyanggupi keinginan putra tunggal kesayangannya itu sebagai hadiah ulang tahunnya.
Kemarin ketika sepeda motor itu datang, Andi memandangnya dengan begitu antusias seperti saat pertama melihat aku tiba dulu. Dan itu membuatku sangat terpukul juga terluka amat dalam.
Lamunanku buyar ketika terdengar suara Mang Sarip, tukang kebun Andi, datang bersama seseorang yang tidak kukenal mendekatiku.
“Berapa nih bang, kalo dikiloin ?,” ujar Mang Sarip sambil menuding ke arahku yang masih diam. Dan membeku.
CERMIN TOILET
Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah.
Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.
Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya.
“Kenapa aku tidak pernah terlihat cantik saat bercermin ?,” rutuknya sembari menatapku kembali dengan mata menyala. Bekas-bekas bedak dan lipstick terlihat berlepotan diwajahnya.
Ah, kalau saja aku bisa meraih pipinya yang ranum lalu menepuknya lembut, maka akan kukatakan padanya, “Kamu sudah cantik. Sangat cantik malah. Meski tanpa polesan kosmetik apapun diwajahmu”.
Wanita itu menghela nafas panjang dan dengan gerakan kaku ia mengambil tempat bedak dari tas lalu memoleskannya kembali dipipi. Pelan. Penuh perasaan.
Aku menikmati ritual ini dengan antusias. Gerak gemulai tangannya saat memoles bedak mengingatkanku pada konduktor orkestra yang memainkan tangannya memandu lagu dengan elegan. Aku terkesan.
Begitupun saat ia memberikan sentuhan terakhir lipstick pada bibirnya. Ibarat seorang maestro lukis menambahkan tambahan warna menyolok diatas kanvas lukisannya. Berkali-kali ia memandangku untuk memastikan bahwa ia sudah cukup cantik dengan polesan kosmetik yang baru.
Mendadak pintu toilet terbuka lebar dan seorang lelaki muda bergegas masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu di depan wastafel toilet.
Ia mengernyitkan dahi, sebersit keraguan terpancar dimatanya.
“Apakah…saya salah masuk toilet ?,” tanya lelaki itu gusar.
“Tidak. Anda tidak salah masuk,” sahut wanita itu berusaha menata kegugupan yang menderanya. Dengan cepat ia merapikan kosmetiknya yang berserakan dan memasukkannya ke tas lalu beranjak keluar menuju pintu.
Lelaki itu hanya berdiri mematung. Tak percaya.
“Ini memang toilet lelaki. Nama saya Isman. Tapi biasa juga dipanggil Nana. Nana Sudonna,” tambah wanita itu yang kemudian melesat keluar dan hilang dibalik pintu.
Labels: Flash Fiction







