CERFET : BAYANG HITAM (EPISODE 22)
“Sas, kamu ada waktu sebentar ?. Aku mau ngomong sesuatu nih,” terdengar suara Noni diseberang.
Saskia menghela nafas panjang.
“Please, Non. Jangan ganggu aku dulu ya?” tukasnya cepat.
“Tapi, Sas..”, kalimat Noni terputus pada saat Saskia mengakhiri hubungan telepon tersebut secara sepihak dengan memencet tombol “No”.
Kembali Saskia menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.
Semua ini mesti segera diakhiri, Saskia membatin. Letih.
---***---
My Momma always said:
Life was like a box of chocholates
You never know
What you’re gonna get
-Tom Hanks, Forrest Gump,1994
Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah “post-it” warna kuning disamping komputer Ria.
“Artinya dalem kan’?” ujar Ria seperti menebak arah fikiran kawan dekatnya itu.
Saskia mengangguk. “Kamu koq sempat-sempatnya nulis dan pasang ungkapan konyol kayak gitu sih ? Di samping komputer lagi. Norak banget deh!” komentarnya lugas.
Ria terkekeh pelan.
“Lucu sekaligus mencerahkan, Sas. Membacanya tiap hari, membuatku untuk senantiasa merenung bahwa, dalam hidup ini apa yang kita jalani belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Seperti sekotak cokelat,” sahut Ria seraya menepuk pundak Saskia. “Yaa..paling tidak,”lanjutnya, “aku mesti berusaha agar apa yang aku capai dalam menjalani kehidupan cukup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Meski tidak persis-persis amat. Yang penting ada usaha ke arah sana. Dan itu, you know, membahagiakan”.
Saskia manggut-manggut mafhum. Ria meraih kursi dan mempersilahkan Saskia duduk disana. Ia sendiri memilih duduk dipinggir meja kerjanya tepat disamping kursi tersebut.
“Duduklah, say. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Wajahmu terlihat begitu kusut, tidak seperti Saskia yang aku kenal dulu. Coba katakan mudah-mudahan aku bisa bantu,” kata Ria lembut.
Saskia mendesah dan segera duduk di kursi yang disodorkan sahabat baiknya itu..
“So, what’s your problem my dear ?” tanya Ria penasaran. Ia menatap lekat mata Saskia penuh selidik.
“Apa pendapatmu tentang kesempatan kedua?” Saskia balik bertanya. Ria tergagap bingung.
“Maksudmu?”
“Begini aja deh. Aku buat lebih simpel. Andaikata, suatu ketika seseorang dari masa lalu, yang pernah menjalin kasih cinta denganmu namun keberadaannya sudah kamu lupakan saat ini, tiba-tiba datang padamu, memohon kesempatan kedua untuk bersamamu lagi, apa yang kamu lakukan ?” ujar Saskia.
Ria tercenung sejenak lalu kembali menatap tajam Saskia ibarat Detektif Partikelir yang mencoba membongkar sebuah misteri pembunuhan.
“Apakah hal itu terjadi padamu,Sas?”
“Heh!, jawab dulu doong, koq malah nanya?” protes Saskia geli.
“Oke. Menurutku begini,” jawab Ria hati-hati. “Untuk memberi kesempatan kedua, yang pertama aku lakukan adalah harus tahu apa latar belakang, motivasi, serta seberapa tulus dan serius ia mengajukan penawaran itu. Kalau sekedar gombal, sorry aja yee..there’s no second chance for him,” lanjutnya bersemangat.
“Lantas bagaimana cara kamu menakar keseriusan dan ketulusannya?”, tanya Saskia lagi seraya memperbaiki letak duduknya.
“Hmmm..itu perlu proses, Sas. Setelah sekian lama waktu berlalu, masa’ dengan serta merta aku mengabulkan keinginannya untuk bersama lagi, memberinya kesempatan kedua begitu cepat. Tidak segampang itu. Apalagi mungkin pada saat yang sama aku sudah memendam rapat-rapat kenangan bersamanya dulu dan memulai hubungan yang baru dengan seseorang. Bukankah ini malah bikin makin runyam?. Makanya, menurutku, untuk menakar ketulusan dan keseriusannya, dia perlu diuji”.
“Diuji?”
“Ya. Diuji. Semakin besar keinginannya untuk memohon kesempatan kedua, maka semakin besar pula tingkat ujian yang diberikan”.
“Tega amat sih kamu?. Koq bukan malah sebaliknya?”
“Mesti begitu jalannya, Sas. Menurutku, kita akan mengerti dalamnya sebuah ketulusan hati adalah ketika yang bersangkutan berhasil melalui tantangan paling berat yang kita berikan. Bentuk dan parameter pengujiannya ditentukan dari diri kita sendiri termasuk untuk menentukan apakah ia lulus dari ujian yang kita berikan” sahut Ria diplomatis.
Saskia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Kamu udah seperti seorang psikolog handal yang memberi ceramah seorang psikopat kambuhan”, ucapnya spontan.
Ria tertawa lepas.
“Sas, harga sebuah ketulusan itu mahal. Sangat mahal malah. Persoalannya, kita terkadang terbuai dan akhirnya tertipu pada ketulusan yang semu. Ini berbahaya. Terlebih ketika kita mencoba membangun kembali puing-puing komitmen yang pernah hancur dimasa lalu. Menjadi sia-sialah adanya. Kesempatan kedua itu ibarat keping mata uang dengan dua sisi berbeda. Ia bisa menjelma menjadi bumerang yang mematikan atau sebaliknya menjadi cahaya kebahagiaan,” tutur Ria.
Saskia menggigit bibir dan mencerna kalimat demi kalimat Ria dengan seksama.
.
“Tapi perlu kamu tahu Sas, aku senantiasa memegang prinsip, tidak akan memberikan kesempatan kedua pada lelaki yang telah menyia-nyiakanku, menelantarkanku dan membuatku menderita. Tak akan. Aku lebih baik membuka lembaran baru kehidupan dan berusaha untuk tidak mengulangi kebodohan dimasa lalu. Tak ada kesempatan kedua dalam kamusku,” ucap Ria tegar.
“Meski lelaki yang kamu maksud tadi sudah mengungkapkan penyesalan, menyampaikan maaf dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan serupa dimasa datang?. Kamu koq jadi kejam begitu sih?”tanya Saskia heran.
Ria terkekeh. Ia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat-erat. Mengalirkan keyakinan. Juga kekuatan.
“Sas, seperti ungkapan Forrest Gump di “post-it” ku, kehidupan yang kita jalani terkadang tidak persis sama seperti yang kita inginkan. Namun itu tidak berarti kita menyerah pada keadaan. Maksudku begini, ketika ada kesempatan untuk mengelak dari ketidakberuntungan dan nasib buruk di masa lalu, why not?. Toh dunia telah menawarkan begitu banyak pilihan. Juga kemungkinan. Dan kita, pada saatnya harus siap menghadapi resiko atas pilihan yang kita buat dan kemungkinan yang menyertainya,” ujar Ria setengah berbisik.
Saskia mendengarkan penuh minat.
“Jadi soal kesempatan kedua itu, my dear Saskia,” tambah Ria seraya mempererat genggamannya,”kembali ke setiap pribadi masing-masing orang untuk menerimanya atau tidak. Itupun sebuah pilihan yang berisiko, sama ketika aku menentukan untuk tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi lelaki yang telah membuat hatiku luka berdarah-darah. Jika kamu menentukan pilihan yang berbeda denganku. That’s fine. Itu adalah hak setiap individu. Siapa tahu justru itu jalan terbaik dan membuat hidupmu jauh lebih bermakna. Namun aku hanya mengingatkan, be careful, watch your step!,” sambung Ria menyambut kontak mata takjub dari Saskia.
“Tak kusangka kamu punya perspektif secerdas ini, Ria,” goda Saskia seraya mencubit gemas pipi tembem kawan dekatnya itu.
“Ngawuuurr..aku memang udah cerdas dari sononya koq!” balas Ria sambil meleletkan lidah.
Mereka tertawa berderai.
“Nah, Sas. Tell me. Apakah perumpamaan yang kamu ceritakan tadi, sama seperti yang terjadi padamu sekarang ?” tanya Ria setelah tawa mereka mereda.
Saskia menghela nafas panjang. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Ria menatap prihatin sahabat dekatnya itu terlebih saat melihat pelupuk mata Saskia mulai basah oleh airmata.
“It’s OK, say. Kalau berat kamu ungkapkan padaku, no problem. Aku akan selalu memastikan ada disampingmu, untuk mendengarmu dan membagi bebanmu padaku. Any time,” hibur Ria sambil menyeka air mata di pipi Saskia dengan punggung tangannya.
“Thanks, Ria,” ucap Saskia lirih. “Aku balik dulu ke meja kerjaku ya,” lanjutnya sambil beranjak dari kursi.
Ria mengangguk dan mengambil selembar tisu dari dekat mejanya lalu menyerahkannya ke Saskia.
“Sas,” panggil Ria pelan.
“Ya?” tanya Saskia yang baru saja akan meninggalkan meja kubikal Ria.
“Be Strong!” ujar Ria sambil mengepalkan tinjunya ke udara dan memamerkan senyum manisnya.
Saskia balas tersenyum. “Pasti!” sahutnya mantap.
---***---
Matahari belum benar-benar mengeringkan hujan. Gerimis masih menetes tipis dan membawa kesejukan petang hari. Di ujung cakrawala terlihat lekuk pelangi terpampang indah. Bimo memandangnya takjub dari balik kaca jendela yang buram. Pelangi selalu membawanya ke masa lalu dan kenangan yang tak terlupakan bersama Saskia. Namun keadaannya berubah menjadi begitu dramatis dan antiklimaks sejak kejadian semalam. Sesuatu yang sama sekali tidak diprediksinya sejak awal.
Bimo menggigit bibir. Amarah menggelegak dalam dadanya. Aku tak akan membiarkan Saskia jatuh ke pelukan Rendro. Dia milikku, selamanya, gumam Bimo geram.
Saskia menghela nafas panjang.
“Please, Non. Jangan ganggu aku dulu ya?” tukasnya cepat.
“Tapi, Sas..”, kalimat Noni terputus pada saat Saskia mengakhiri hubungan telepon tersebut secara sepihak dengan memencet tombol “No”.
Kembali Saskia menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.
Semua ini mesti segera diakhiri, Saskia membatin. Letih.
---***---
My Momma always said:
Life was like a box of chocholates
You never know
What you’re gonna get
-Tom Hanks, Forrest Gump,1994
Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah “post-it” warna kuning disamping komputer Ria.
“Artinya dalem kan’?” ujar Ria seperti menebak arah fikiran kawan dekatnya itu.
Saskia mengangguk. “Kamu koq sempat-sempatnya nulis dan pasang ungkapan konyol kayak gitu sih ? Di samping komputer lagi. Norak banget deh!” komentarnya lugas.
Ria terkekeh pelan.
“Lucu sekaligus mencerahkan, Sas. Membacanya tiap hari, membuatku untuk senantiasa merenung bahwa, dalam hidup ini apa yang kita jalani belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Seperti sekotak cokelat,” sahut Ria seraya menepuk pundak Saskia. “Yaa..paling tidak,”lanjutnya, “aku mesti berusaha agar apa yang aku capai dalam menjalani kehidupan cukup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Meski tidak persis-persis amat. Yang penting ada usaha ke arah sana. Dan itu, you know, membahagiakan”.
Saskia manggut-manggut mafhum. Ria meraih kursi dan mempersilahkan Saskia duduk disana. Ia sendiri memilih duduk dipinggir meja kerjanya tepat disamping kursi tersebut.
“Duduklah, say. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Wajahmu terlihat begitu kusut, tidak seperti Saskia yang aku kenal dulu. Coba katakan mudah-mudahan aku bisa bantu,” kata Ria lembut.
Saskia mendesah dan segera duduk di kursi yang disodorkan sahabat baiknya itu..
“So, what’s your problem my dear ?” tanya Ria penasaran. Ia menatap lekat mata Saskia penuh selidik.
“Apa pendapatmu tentang kesempatan kedua?” Saskia balik bertanya. Ria tergagap bingung.
“Maksudmu?”
“Begini aja deh. Aku buat lebih simpel. Andaikata, suatu ketika seseorang dari masa lalu, yang pernah menjalin kasih cinta denganmu namun keberadaannya sudah kamu lupakan saat ini, tiba-tiba datang padamu, memohon kesempatan kedua untuk bersamamu lagi, apa yang kamu lakukan ?” ujar Saskia.
Ria tercenung sejenak lalu kembali menatap tajam Saskia ibarat Detektif Partikelir yang mencoba membongkar sebuah misteri pembunuhan.
“Apakah hal itu terjadi padamu,Sas?”
“Heh!, jawab dulu doong, koq malah nanya?” protes Saskia geli.
“Oke. Menurutku begini,” jawab Ria hati-hati. “Untuk memberi kesempatan kedua, yang pertama aku lakukan adalah harus tahu apa latar belakang, motivasi, serta seberapa tulus dan serius ia mengajukan penawaran itu. Kalau sekedar gombal, sorry aja yee..there’s no second chance for him,” lanjutnya bersemangat.
“Lantas bagaimana cara kamu menakar keseriusan dan ketulusannya?”, tanya Saskia lagi seraya memperbaiki letak duduknya.
“Hmmm..itu perlu proses, Sas. Setelah sekian lama waktu berlalu, masa’ dengan serta merta aku mengabulkan keinginannya untuk bersama lagi, memberinya kesempatan kedua begitu cepat. Tidak segampang itu. Apalagi mungkin pada saat yang sama aku sudah memendam rapat-rapat kenangan bersamanya dulu dan memulai hubungan yang baru dengan seseorang. Bukankah ini malah bikin makin runyam?. Makanya, menurutku, untuk menakar ketulusan dan keseriusannya, dia perlu diuji”.
“Diuji?”
“Ya. Diuji. Semakin besar keinginannya untuk memohon kesempatan kedua, maka semakin besar pula tingkat ujian yang diberikan”.
“Tega amat sih kamu?. Koq bukan malah sebaliknya?”
“Mesti begitu jalannya, Sas. Menurutku, kita akan mengerti dalamnya sebuah ketulusan hati adalah ketika yang bersangkutan berhasil melalui tantangan paling berat yang kita berikan. Bentuk dan parameter pengujiannya ditentukan dari diri kita sendiri termasuk untuk menentukan apakah ia lulus dari ujian yang kita berikan” sahut Ria diplomatis.
Saskia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Kamu udah seperti seorang psikolog handal yang memberi ceramah seorang psikopat kambuhan”, ucapnya spontan.
Ria tertawa lepas.
“Sas, harga sebuah ketulusan itu mahal. Sangat mahal malah. Persoalannya, kita terkadang terbuai dan akhirnya tertipu pada ketulusan yang semu. Ini berbahaya. Terlebih ketika kita mencoba membangun kembali puing-puing komitmen yang pernah hancur dimasa lalu. Menjadi sia-sialah adanya. Kesempatan kedua itu ibarat keping mata uang dengan dua sisi berbeda. Ia bisa menjelma menjadi bumerang yang mematikan atau sebaliknya menjadi cahaya kebahagiaan,” tutur Ria.
Saskia menggigit bibir dan mencerna kalimat demi kalimat Ria dengan seksama.
.
“Tapi perlu kamu tahu Sas, aku senantiasa memegang prinsip, tidak akan memberikan kesempatan kedua pada lelaki yang telah menyia-nyiakanku, menelantarkanku dan membuatku menderita. Tak akan. Aku lebih baik membuka lembaran baru kehidupan dan berusaha untuk tidak mengulangi kebodohan dimasa lalu. Tak ada kesempatan kedua dalam kamusku,” ucap Ria tegar.
“Meski lelaki yang kamu maksud tadi sudah mengungkapkan penyesalan, menyampaikan maaf dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan serupa dimasa datang?. Kamu koq jadi kejam begitu sih?”tanya Saskia heran.
Ria terkekeh. Ia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat-erat. Mengalirkan keyakinan. Juga kekuatan.
“Sas, seperti ungkapan Forrest Gump di “post-it” ku, kehidupan yang kita jalani terkadang tidak persis sama seperti yang kita inginkan. Namun itu tidak berarti kita menyerah pada keadaan. Maksudku begini, ketika ada kesempatan untuk mengelak dari ketidakberuntungan dan nasib buruk di masa lalu, why not?. Toh dunia telah menawarkan begitu banyak pilihan. Juga kemungkinan. Dan kita, pada saatnya harus siap menghadapi resiko atas pilihan yang kita buat dan kemungkinan yang menyertainya,” ujar Ria setengah berbisik.
Saskia mendengarkan penuh minat.
“Jadi soal kesempatan kedua itu, my dear Saskia,” tambah Ria seraya mempererat genggamannya,”kembali ke setiap pribadi masing-masing orang untuk menerimanya atau tidak. Itupun sebuah pilihan yang berisiko, sama ketika aku menentukan untuk tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi lelaki yang telah membuat hatiku luka berdarah-darah. Jika kamu menentukan pilihan yang berbeda denganku. That’s fine. Itu adalah hak setiap individu. Siapa tahu justru itu jalan terbaik dan membuat hidupmu jauh lebih bermakna. Namun aku hanya mengingatkan, be careful, watch your step!,” sambung Ria menyambut kontak mata takjub dari Saskia.
“Tak kusangka kamu punya perspektif secerdas ini, Ria,” goda Saskia seraya mencubit gemas pipi tembem kawan dekatnya itu.
“Ngawuuurr..aku memang udah cerdas dari sononya koq!” balas Ria sambil meleletkan lidah.
Mereka tertawa berderai.
“Nah, Sas. Tell me. Apakah perumpamaan yang kamu ceritakan tadi, sama seperti yang terjadi padamu sekarang ?” tanya Ria setelah tawa mereka mereda.
Saskia menghela nafas panjang. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Ria menatap prihatin sahabat dekatnya itu terlebih saat melihat pelupuk mata Saskia mulai basah oleh airmata.
“It’s OK, say. Kalau berat kamu ungkapkan padaku, no problem. Aku akan selalu memastikan ada disampingmu, untuk mendengarmu dan membagi bebanmu padaku. Any time,” hibur Ria sambil menyeka air mata di pipi Saskia dengan punggung tangannya.
“Thanks, Ria,” ucap Saskia lirih. “Aku balik dulu ke meja kerjaku ya,” lanjutnya sambil beranjak dari kursi.
Ria mengangguk dan mengambil selembar tisu dari dekat mejanya lalu menyerahkannya ke Saskia.
“Sas,” panggil Ria pelan.
“Ya?” tanya Saskia yang baru saja akan meninggalkan meja kubikal Ria.
“Be Strong!” ujar Ria sambil mengepalkan tinjunya ke udara dan memamerkan senyum manisnya.
Saskia balas tersenyum. “Pasti!” sahutnya mantap.
---***---
Matahari belum benar-benar mengeringkan hujan. Gerimis masih menetes tipis dan membawa kesejukan petang hari. Di ujung cakrawala terlihat lekuk pelangi terpampang indah. Bimo memandangnya takjub dari balik kaca jendela yang buram. Pelangi selalu membawanya ke masa lalu dan kenangan yang tak terlupakan bersama Saskia. Namun keadaannya berubah menjadi begitu dramatis dan antiklimaks sejak kejadian semalam. Sesuatu yang sama sekali tidak diprediksinya sejak awal.
Bimo menggigit bibir. Amarah menggelegak dalam dadanya. Aku tak akan membiarkan Saskia jatuh ke pelukan Rendro. Dia milikku, selamanya, gumam Bimo geram.
Lelaki itu kemudian bergerak menuju meja dan menarik lacinya dengan kasar. Sepucuk pistol jenis FN terlihat disana. Memancarkan kilatan maut dari tubuh kusam yang dimilikinya. Bimo menyeringai. Aku belum kalah. Dan tidak akan kalah, desisnya pelan. Dengan tangan gemetar ia meraih pistol tersebut. Menggenggamnya erat-erat seperti memastikan tak akan lepas kemanapun. Sudah begitu lama ia telah memasukkan peluru ke pistol tersebut tanpa pernah tahu kapan akan digunakan. Tapi kini saatnya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Bimo lalu menyisipkan pistol tadi ke pinggang celananya kemudian bangkit, meraih jaketnya di kursi dan menghilang di balik pintu. Menyisakan sunyi yang kelam.
---***---
Saskia menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Suasana begitu sepi dan suara sepatu Saskia beradu dengan lantai terdengar nyaring. Wajah Saskia ceria dan bersinar. Entah kenapa, sejak percakapannya dengan Ria siang tadi, ia seperti mendapatkan suntikan semangat baru. “Be Strong..Be Strong, Saskia!” demikian kutipan kalimat Ria yang selalu diulang-ulangnya dalam hati. Seperti sebuah sugesti pembakar nyali yang tak akan padam. Langkahnya melayang ringan, bergegas menuju kamar dimana Rendro dirawat.
Mendadak langkahnya terhenti saat melihat sosok yang begitu dikenalnya berdiri menghadangnya di tikungan selasar menuju kamar Rendro. Sosok itu berada kira-kira lima langkah didepannya.
“Bimo ? Kamu...?...Ngapain kamu kesini ?” tanya Saskia terkejut. Jantungnya berdegup kencang.
Bimo tersenyum samar. Ia melangkah mendekat ke arah Saskia yang secara spontan melangkah mundur.
“Menemuimu, Sas. Menemui pelangi hatiku,” sahutnya getir. Matanya menatap tajam ke arah Saskia yang memandangnya ketakutan.
Bersambung
Selengkapnya bisa dibaca disini
Labels: Cerfet Blogfam







