Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Tuesday, April 25, 2006

TANGGAPAN ATAS SEBUAH TANTANGAN

Sebuah email "tantangan" datang ke inbox email saya. Tantangan No.23 dari milis WritersTavern, isinya begini:

Tantangan #23: Sudut Pandang

Pikirkan satu benda yang sering kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari. Tulislah cerita berdasarkan sudut pandang benda tersebut.

Maka, dalam rangka menanggapi tantangan itu, saya membuat dua buah flash-fiction (cerita singkat) seperti tertera dibawah ini :

SEPEDA

Untuk kesekian kalinya, jemari Andi mengelusku. Gemetar. Juga dingin. Seketika, seperti ratusan ribu arus listrik menyengat sekujur batang-batang rangka tubuhku, menggelenyar liar hingga ke jeruji kaki. Menyisakan kepedihan yang tak terkatakan.

Andi mendesah. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Dielusnya aku sekali lagi dan berdesis lirih.

“Selamat tinggal, sayang,” katanya pilu. Aku membeku. Diam.

Ia lalu bergegas meninggalkanku dan menuju sepeda motor yang baru saja dibelinya kemarin dan sedang terparkir gagah didepanku.

Aku memandang Andi—kawan setiaku-- berlalu bersama derum mesin motor yang seperti sinis mengejekku sendirian diruang garasi.

Sejenak lamunanku berkelana, saat Andi dengan girang menerimaku sebagai hadiah ulang tahun ke-sepuluh dari orang tuanya. Matanya berbinar ceria “menelanjangiku” dan tak henti berdecak kagum melihat postur mentereng tubuhku. Sebersit rasa bangga membuncah dihatiku.

Kami berdua meniti hari dengan ceria. Tidak hanya rutinitas perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolah, tapi sejumlah perjalanan-perjalanan lain yang membuatku menjadi lebih bermakna. Setiap kayuhan kaki Andi, senandung kecilnya ketika ia mengendaraiku, atau bagaimana ia memacu diriku sekencang mungkin berlomba bersama rekan-rekannya senantiasa memompa semangatku dan menetapkan hati menjadi sahabat setianya, sampai kapanpun. Tak terpisahkan.

Dan kini setelah empat tahun berlalu, aku tak kuasa melerai hasrat Andi untuk memiliki sepeda motor baru. Kedua orang tuanya menyanggupi keinginan putra tunggal kesayangannya itu sebagai hadiah ulang tahunnya.

Kemarin ketika sepeda motor itu datang, Andi memandangnya dengan begitu antusias seperti saat pertama melihat aku tiba dulu. Dan itu membuatku sangat terpukul juga terluka amat dalam.

Lamunanku buyar ketika terdengar suara Mang Sarip, tukang kebun Andi, datang bersama seseorang yang tidak kukenal mendekatiku.

“Berapa nih bang, kalo dikiloin ?,” ujar Mang Sarip sambil menuding ke arahku yang masih diam. Dan membeku.

CERMIN TOILET

Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah.

Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah balik memandang, sekaligus mengagumi kecantikannya yang begitu alami.

Wanita itu mendengus kesal. Ia mengambil tisu dari tasnya dan menyeka bedak yang sudah menempel di pipinya, juga polesan lipstick di bibirnya.

“Kenapa aku tidak pernah terlihat cantik saat bercermin ?,” rutuknya sembari menatapku kembali dengan mata menyala. Bekas-bekas bedak dan lipstick terlihat berlepotan diwajahnya.

Ah, kalau saja aku bisa meraih pipinya yang ranum lalu menepuknya lembut, maka akan kukatakan padanya, “Kamu sudah cantik. Sangat cantik malah. Meski tanpa polesan kosmetik apapun diwajahmu”.

Wanita itu menghela nafas panjang dan dengan gerakan kaku ia mengambil tempat bedak dari tas lalu memoleskannya kembali dipipi. Pelan. Penuh perasaan.

Aku menikmati ritual ini dengan antusias. Gerak gemulai tangannya saat memoles bedak mengingatkanku pada konduktor orkestra yang memainkan tangannya memandu lagu dengan elegan. Aku terkesan.

Begitupun saat ia memberikan sentuhan terakhir lipstick pada bibirnya. Ibarat seorang maestro lukis menambahkan tambahan warna menyolok diatas kanvas lukisannya. Berkali-kali ia memandangku untuk memastikan bahwa ia sudah cukup cantik dengan polesan kosmetik yang baru.

Mendadak pintu toilet terbuka lebar dan seorang lelaki muda bergegas masuk. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita itu di depan wastafel toilet.

Ia mengernyitkan dahi, sebersit keraguan terpancar dimatanya.

“Apakah…saya salah masuk toilet ?,” tanya lelaki itu gusar.

“Tidak. Anda tidak salah masuk,” sahut wanita itu berusaha menata kegugupan yang menderanya. Dengan cepat ia merapikan kosmetiknya yang berserakan dan memasukkannya ke tas lalu beranjak keluar menuju pintu.

Lelaki itu hanya berdiri mematung. Tak percaya.

“Ini memang toilet lelaki. Nama saya Isman. Tapi biasa juga dipanggil Nana. Nana Sudonna,” tambah wanita itu yang kemudian melesat keluar dan hilang dibalik pintu.

Labels:

Tuesday, April 11, 2006

BLOG ANAK DAN REFLEKSI VIRTUAL KEHIDUPAN

"Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak", kata ayahku sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ibu dengan cemas begitu memperhatikan keadaanku.

"Nggak apa-apa koq,"kata ayahku menghibur ibu. "Anak laki-laki memang biasa kalau berantem, kayak bapaknya dulu waktu kecil".

Ayah kemudian mengusap kepalaku pelan sambil menatapku tajam,"Tapi jangan mau kalah dong!".

Ibu melotot ke arah ayahku.

"Zaman Rizky sudah berbeda dengan zamanmu dulu !", kata ibu ketus.

Ayah tertawa renyah.

"Ya, tapi itu tidak berarti bahwa dia mesti jadi pecundang dong!", sahut ayahku enteng kemudian meraih handuk lalu menuju ke kamar mandi.

Keesokan harinya, saat bermain bersama Faiz dan ia berusaha merebut mainan mobil-mobilanku, aku segera memukul wajahnya lantas mendorongnya ke tanah. Iapun menangis sejadi-jadinya. Ibu Faiz dan ibuku yang sedang asyik mengobrol terkejut kemudian datang melerai kami berdua. Ibu kemudian merangkulku dan mengajak bersalaman untuk berdamai dengan Faiz. Sore harinya ibu menceritakan hal ini pada ayah. Mau tahu apa tanggapannya ?. "So, that's my Boy!!", serunya lantang sembari mengacungkan jempolnya.


(Dikutip dari
Blog Rizky "That's My Boy")

Image hosting by Photobucket

MENULIS blog memang mengasyikkan. Apalagi blog anak. Sejak pertama kali menulis blog untuk anak pertama saya Muhammad Rizky Aulia Gobel, awal tahun 2003 silam, saya tidak semata-mata menemukan sebuah sarana curhat yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet. Hadirnya blog Rizky--buah hati kami yang lahir 3 tahun sejak saya dan istri menikah tahun 1999--pada awalnya memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupannya mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Namun dalam setahun belakangan ini, saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya "Here Come the Weblogs"May 1999,"Blog merupakan struktur terbalik dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan". Sementara itu, Rebecca Blood, penulis buku "The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining your blog"berpendapat,"Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media".

Salah satu bukti "kedashyatan" blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada National Kidney Foundation (NKF) Singapore tahun silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat itu terkuak. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar "demo" tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya (saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog). Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru "gerakan bawah tanah" era digital . Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatannya dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.

Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, blogdrive.com, blogsome.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing. Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi dan juga keceriaan dari aktifitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus tumbuh. Adapun perkembangan blog yang mengambil posisi diluar dari "mainstream" media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.

Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku “Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities” , seperti dikutip dari blog Enda Nasution, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”. Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya--mau tidak mau--memberi peluang bagi pembaca untuk secara "telanjang"mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh resiko "keterus-terangan"itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya--secara langsung maupun tidak--menjadi "jendela" yang membingkai ide, aktifitas keseharian, emosi, kreatifitas,harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.

Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan "ketelanjangan" itu lewat untaian kalimat yang (moga-moga) tidak hanya sebagai representasi aktifitas keseharian Rizky juga menjadi bahan renungan bagi semua publik pembacanya. Seperti cuplikan kisah dari blog Rizky diawal tulisan ini, selain sebagai dokumentasi aktifitasnya, saya juga "menitip"pesan tersirat pada Rizky bahwa mental pecundang mesti disingkirkan jauh-jauh dalam dirinya, sebagai lelaki. Dan itu, tidak mudah. Pada Posting yang lain "Bayi juga Manusia", saya mengisahkan pertemuan Rizky dan ibunya dengan seorang bayi hasil hubungan gelap yang dititipkan di klinik tak jauh dari rumah kami. Sebuah potret kelam dari kehidupan dunia yang kian carut-marut. Sementara di posting "Mbak Ami Minggat, Mbak Ida Merapat" dipaparkan kisah lika-liku mencari pembantu rumah tangga yang memiliki beragam karakter. Atau pada posting "Menemani ayah bercukur" saya merekam percakapan konyol saya dengan seorang cukur yang mengkritisi kondisi sosial politik sekarang kemudian dituturkan lewat "kacamata" Rizky yang kebetulan ikut menemani saya waktu itu.

Sejujurnya, saya merasa lebih sreg bertutur lewat Rizky semata-mata karena dua hal. Pertama, saya bisa menggali dan meng-explore lebih luas dan bebas segala kejadian yang terjadi disekitar Rizky misalnya ekspresi, tindakan dan reaksi dari kedua orang tuanya, juga suasana disekelilingnya. Kedua, saya tidak bisa setiap hari berada dan mengamati perkembangan kegiatan Rizky dirumah. Melalui cerita dari istri saya--momen dimana Rizky juga terlibat dalam peristiwa itu--setelah kembali dari kantor, saya dapat meramu dan menuturkan kembali kejadian tadi lewat sudut pandang Rizky di blognya. Ini tantangan yang sangat mengasyikkan, meski pada akhirnya saya harus mengakui tidak dapat melakukan update secara periodik karena keterbatasan waktu dan kesibukan dikantor.


Dari sejumlah blog anak yang sempat saya kunjungi memang masih lebih banyak berisi tentang jurnal kegiatan harian sang anak, tentu saja termasuk blog anak saya, Rizky. Disela-sela peristiwa kekerasan terhadap anak yang belakangan ini kerap terjadi, blog anak yang ditulis oleh ayah/bundanya menebar kesejukan dan memantulkan cemerlang cinta orangtua pada buah hatinya. Saya memendam harap kiranya ini akan menjadi energi positif dan wadah kontemplasi bagi sang anak kelak jika ia beranjak dewasa dan meneruskan penulisan blog itu sendiri. Baik Sang anak maupun orang tua akan membaca arsip"jejak-jejak cinta" yang telah ditorehkan lewat blog untuk kemudian menumbuh-suburkan kasih sayang antar mereka secara intens. Saya yakin kekuatan blog anak terletak disini : sebuah monumen cinta yang tak akan luluh digerus zaman. Dan ungkapan "From Blog, with Love", jadi kian nyata adanya.

Thomas Friedman dalam bukunya "The World is Flat: A Brief History of the Globalized World in the 21st Century" secara gamblang menyatakan,"Kemudahan setiap individu untuk berkolaborasi di dunia global didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi informasi berikut aplikasinya". Lebih lanjut Friedman menjelaskan, adanya "playing field" (arena permainan) lewat web-enabled tools memberi kekuasaan kepada individu untuk berkolaborasi di dunia interaktif. Saya menyadari, di dunia yang makin tipis sekat-sekat geografisnya kini (dan kian ceper seperti diungkapkan Friedman dalam bukunya itu) karena perkembangan internet dan teknologi digital yang melaju pesat, membuka peluang berinteraksi antar individu. Melalui blog,terlebih jika dilengkapi dengan fasilitas komentar serta link untuk akses ke topik yang terkait, membuat blog terasa lebih personal, kolegial dan non-formal bagi pembacanya. Implikasinya adalah kedekatan emosional akan terjalin antar sang penulis blog dan khalayak pembacanya. Sejak situs blog anak saya diluncurkan, saya mendapat pengalaman batin yang berharga lewat "feed-back" dari para pembaca blog (yang sebagian besar diantaranya juga penulis di blog masing-masing). Tidak hanya kepuasan karena mereka mampir dan membaca isi blog anak saya, tetapi pada saat yang sama, saya memperoleh jaringan interaksi virtual dari kawan-kawan maya yang bisa jadi berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat saya berpijak. Beberapa diantara kawan-kawan maya yang kebetulan juga menulis blog untuk sang anak memberi nasihat serta berbagi pengalaman mendidik anak lewat email. Sebuah kolaborasi di dunia interaktif yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan ketika saya masih aktif menulis buku diary dulu.


Catatan :
Tulisan ini merupakan edisi pelengkap dari artikel yang dimuat di majalah online bz! blogfam edisi Maret 2006.




Labels: