Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Monday, May 08, 2006

TRAGEDI BISUL

Aku meradang. Merah. Juga bernanah.

Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni. Sang pemilik bokong tampaknya kurang merasa nyaman atas kehadiranku. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, duduk apalagi. Ia sering menggeliat resah dan mencari-cari posisi yang paling strategis serta enak yang memungkinkan diriku tak terhimpit atau tertekan.

“Aduuh..akang tolong liatin doong bisul Nana. Sakit banget niih,” pinta “tuan rumahku” itu pada sang suami tercinta dengan wajah memelas. Ia lalu mengangsurkan bokongnya mendekati wajah lelaki kekar disampingnya yang serta merta kaget mendapat “pemandangan” yang sungguh sangat tak diduga dan diharapkan itu..

Sepasang mata lelaki kemudian mengamatiku penuh selidik. Tajam namun bernafsu. Hidungnya kembang kempis, kumisnya bergerak naik turun.

Ia lalu bergumam tak jelas. Aku mulai cemas.

“Bagaimana akang ?,” tanya Nana penasaran.

“Putih. Mulus,” sahut lelaki itu. Ada kilat jenaka dimatanya.

Nana merajuk. Ia mencubit mesra lengan sang suami. “Aku nggak bercanda,kang!. Bagaimana bisulku ?”, katanya.

“Parah nih, say. Mesti dibawa ke dokter. Sudah mulai merah, bengkak dan bernanah,” sahut lelaki itu prihatin.

Sang istri mendelik marah.

“Akang tega ya bokong istri dipamer-pamerkan ke dokter ?”.

“Bukan begitu, say. Maksudku supaya segera dapat penanganan yang professional dan higienis. Kalau sembarangan kan’ nanti infeksi. Malah tambah gawat toh’ ?. Lagipula kita bisa pakai dokter perempuan. Nggak masalah koq,” sahut sang suami berdalih.

“Tidak mau!. Aku nggak mau!,” seru Nana tegas.

“Lho, lantas mau diapain dong kalau begitu ?” tanya sang suami putus asa.

“Dielus-elus aja. Siapa tahu malah kempes dan sembuh!”.

“Mana ada bisul dielus-elus bisa kempes. Ngawur aja!”

Biarin!. Pokoknya dielus-elus aja. Titik. Dan jangan coba-coba horny ya?”, ancam sang istri seraya mencubit pinggang pasangan hidupnya itu.

Sang suami menghela nafas panjang. Menyerah. Tangannya lalu terulur dan menjangkau kearahku. Mengelusku pelan-pelan. Sangat pelan. Aku jadi terbuai karenanya.

“Naahh..begitu, kang. Agak mendingan. Enak,” ujar sang istri sambil memejamkan mata, meresapi elusan lembut jemari sang suami. Pada bisulnya.

“Say, mau aku ceritakan sesuatu tentang bisul ?”, kata sang suami menawarkan.

“Boleh, kang. Boleh. Bagaimana ceritanya ?”, sahut si istri antusias.

“Kata kakekku dulu, Bisul itu terjadi pada seseorang karena adanya perasaan bersalah yang disembunyikan. Singkatnya, bisul adalah manifestasi dari sebuah kebohongan rahasia,”

“Maksud akang bagaimana ?. Akang menuduhku menyembunyikan sesuatu ?”.

“Tidak persis begitu”, sahut sang suami tenang.

“Lantas ?”.

“Begini,aku pernah kena bisul, saat masih kecil dulu. Di lengan sebelah kanan. Waktu itu, aku kepingin sekali membeli mobil-mobilan kayu. Karena tak punya uang, diam-diam aku nekat mencurinya dari dompet ayah. Aku lalu membeli mobil-mobilan kayu idamanku dari uang tersebut. Tak lama berselang. Bisulku tumbuh.”

“Terus ?”.

“Kebetulan kakekku datang dari kampung dan memperhatikan bisulku itu. Dengan tenang ia berkata, tangan kananmu melakukan sesuatu yang tercela dan kamu menyembunyikannya. Bisul ini adalah peringatan. Juga hukuman atas apa yang telah kamu lakukan”.

Sang istri terdiam. Untuk beberapa saat suasana hening. Sang suami masih setia mengelusku seakan memberi jeda pada sang istri untuk berfikir serta menghubung-hubungkan fakta yang ada dan kisah yang baru saja diceritakan.

“Apakah akang merasa aku melakukan kebohongan rahasia yang menyebabkan bisulku ini tumbuh dibokong?,” tanya sang istri seraya menatap tajam mata sang suami.

Hening beberapa jenak.

“Nana, my dear. Aku tidak menuduhmu bila tak ada fakta yang mendukung untuk itu. Namun sayangnya,” ujar sang suami dengan suara parau. “Aku punya buktinya.”

Sang istri terhenyak. Aku cemas. Jemari lelaki itu terlihat bergetar mengelusku.

“Kamu menandatangani persetujuan kontrak foto telanjang dengan salah satu majalah khusus pria dewasa. Sesuatu yang sudah aku tak kehendaki sejak awal ketika kamu meminta persetujuanku. Aku menemukan surat kontrak itu kamu sembunyikan disudut lemari pakaian kita tiga hari lalu.”, ucap sang suami dengan nada tinggi.

Sang istri menahan nafas. Aku makin cemas.

“Dan kamu ingin tahu, apa yang kakekku tempo hari lakukan pada bisulku ?”.

Saat itulah aku melihat kelima jemari tangan lelaki itu meluncur deras kearahku.

PLAKKKK!!

Akupun hancur terburai.

Sang istri menjerit histeris. Lalu terkulai pingsan.

Lelaki itu tersenyum puas.

“Ya..beliau menampar keras bisulku hingga pecah,” desisnya lirih.

Catatan:

Sebuah "Flash-Fiction" yang dipersembahkan untuk bisul yang sedang bersemayam dengan damai dipantatku. Saat ini (kebohongan apa lagi sih yang tengah kusembunyikan ?)


Labels:

Friday, May 05, 2006

TIANG LISTRIK

Teng!..Teng!.

Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan. Aku kembali tidur sesaat setelah melihat seulas senyum menghiasi bibir lelaki itu.

Sebuah tanda. Hanya sebuah tanda bahwa lelaki tua itu baru saja lewat berpatroli disekitar lingkungan tempatku berdiri tegak. Tepat dipukul dua dini hari. Selalu begitu setiap hari selama empat tahun terakhir. Dan aku menikmati rutinitas menyakitkan itu sembari diam-diam bersyukur masih untung dipukul dua kali, bagaimana kiranya jika sampai dipukul duabelas kali ?.

Sosok lelaki tua itu lalu beranjak pergi meninggalkanku yang masih saja berdiri tegak disitu, ditempat yang sama. Diam-diam aku mengagumi kesetiaan lelaki itu pada pekerjaannya. Konon sejak ia, yang mantan pensiunan tentara, menjadi petugas keamanan malam dilingkungan tersebut tingkat kejahatan menurun drastis. Pencurian atau Perampokan yang kerap terjadi berhasil di-eliminir dengan sukses.

Teng!..Teng!.

Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari.

Dan aku tersentak kaget. Bukan lelaki tua itu yang berada dihadapanku. Ada dua lelaki muda disana. Bertampang sangar bertubuh kekar dengan tattoo terpampang dilengan. Salah satu lelaki itu menatapku puas dengan setangkai kayu ditangan kanan, lelaki satunya menyeringai seraya memasukkan belati di sangkur yang terletak dipinggangnya.

Sementara sang lelaki tua penjaga malam berada tepat dibawahku. Terkulai diam tak bergerak dengan dada bersimbah darah. Tanpa seulas senyum yang selalu kukenal, setiap jam dua dinihari.



Catatan:

Lagi, tayangan Flash-Fiction diatas adalah jawaban atas tantangan no.23 di milis WritersTavern.

Labels:

BALADA SI KUCING BUTUT

Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. Aku terpana. Dan jatuh cinta lagi. Untuk kesekian kalinya.

Aku pernah merasa, Rara, gadis muda usia 16 tahun itu memelihara alter ego seekor kucing betina Anggora yang cantik, anggun tapi juga lincah. Kejantananku senantiasa bergolak saat melihatnya melintas setiap hari melewati “singgasana”ku, tembok kusam pembatas disamping rumahnya. Kadang-kadang ia melirikku sekilas lalu melanjutkan langkahnya lagi dengan ringan. Lirikan “maut” dari bola mata bening itu sontak membawa efek luar biasa pada diriku seperti misai naik turun dan ekor bergerak tak teratur.

Sebagai kucing liar penguasa lingkungan sekitar rumah Rara, aku diberi otoritas khusus oleh para kucing pengikutku untuk menempati tempat paling strategis—sebuah pohon mangga rindang tepat disamping kamar gadis pujaanku itu--yang memungkinkan aku mengintai segala aktifitasnya dari jendela. Dengan leluasa.

Aku tak peduli pada gossip tak sedap beredar diantara para kucing liar belakangan ini yang menyatakan aku sudah gila lantaran jatuh cinta pada seorang gadis manis bermata kejora. Biar saja. Aku punya hak menentukan pilihan kepada dan untuk siapa hati ini kupersembahkan. Meski aku tahu, Tingky-Wingky kucing betina piaraan Tante Fe, tetangga sebelah Rara, secara diam-diam maupun terang-terangan mengirim sinyal-sinyal cinta ke arahku.

Ah, Rara..tak sadarkah dirimu, seekor kucing butut jantan yang senantiasa mengintipmu diam-diam, mencandu kerianganmu dan mencintaimu setulus hati ?. Aku mengeluh diam-diam dan membayangkan andai saja aku bisa berubah menjadi pangeran tampan dalam sekejap, lantas meminangnya menjadi permaisuri. Mendampingiku hingga akhir hayat.

Lamunanku buyar saat aku melihat Rara terlibat pertengkaran sengit di handphonenya. Aku tak begitu mendengar apa isinya namun yang jelas, kalimat terakhir yang sempat kutangkap karena diucapkan dengan suara sangat lantang adalah, “Oke..kita Putus!...Putuss!. Jangan pernah coba-coba menghubungiku lagi. Paham ?”. Rara mematikan telepon dan membantingnya dengan gemas ke tempat tidur.

Aku terkesiap.

Rara lalu berjalan kearahku, tepatnya ke jendela dimana dibaliknya aku mengintai dalam kerindangan dedaunan pohon mangga dengan nafas tertahan. Pelan-pelan ia membuka jendela kamar yang terletak dilantai dua rumahnya. Seketika hembusan angin memburaikan poninya yang semula jatuh luruh menutupi kening. Mata wanita pujaanku itu basah. Ia menangis terisak sembari memandang hampa kedepan tanpa sedikitpun mempedulikanku yang mengamatinya dengan dada sesak.

Ah, Rara—putri cantik yang mendiami relung hatiku--gerangan apa lagi yang membuat hatimu bersedih ?. Kalau saja aku bisa mengobati luka hatimu, gumamku dalam hati. Nelangsa.

“Dasar laki-laki brengsek!” rutuk Rara kesal sembari memukul pinggir jendela dengan tinju terkepal. Ia lalu berbalik dan menghempaskan dirinya keatas pembaringan kemudian melanjutkan tangisnya disana. Hembusan angin masuk leluasa dari jendela yang dibiarkan terbuka. Dan aku duduk termangu menyaksikan gadis pujaanku itu menangis sesunggukan, dari balik rindang pohon mangga.

Beberapa menit berlalu, terdengar derum sepeda motor datang mendekati pagar rumah Rara. Sesosok pria muda seumur Rara turun dari sepeda motor dan memencet bel di pintu pagar. Rara tiba-tiba terbangun dan setengah berlari ia menuju jendela lalu melongokkan kepalanya keluar.

Dalam sekejap ekspresinya berubah. Matanya merah menyala dan teriakannyapun membahana kencang,”Pergi kamu ! Jangan kesini!. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!. Dasar laki-laki brengsek!”.

Lelaki itu kaget dan menoleh keatas. Aku mendelik waspada.

“Rara..please..dengar dulu penjelasanku, aku…,” ujar lelaki itu dengan wajah memelas.

“Aku tidak mau dengar apapun darimu. Pergi!. Pergiiiiii!!,” sergah Rara galak.

Sontak bulu-bulu tubuhku berdiri. Kencang. Kuku jari keempat kakiku meregang. Dan secepat kilat aku mencelat, melompat dari ketinggian pohon mangga, menuju lelaki itu dan mencakarnya tanpa ampun.

Tak seorangpun boleh membuat Rara-ku sedih. Tak seorangpun!.

Catatan:

Flash-Fiction diatas adalah Jawaban atas tantangan No.24 di Milis WritersTavern, tentang kucing.


Labels: