KONTEMPLASI VIRTUAL ALA TINE
Judul : Blog Tinneke Carmen
Penulis : Albertina S Calemens
Penerbit : Gradien Books – Yogyakarta
Tahun : 2006, Cetakan -1
Tebal : 246 Halaman
Harga : Rp 30,000,-
“Dihadapan TUHAN, kata-kataku menari”
Demikian tulis Tine, atau Albertine S Calemens disapa, dihalaman awal buku yang diangkat dari jurnal hariannya di Internet (blog) ini. Dan memang, saya menangkap “tarian kata-kata” Tine mengalir indah, lancar dan renyah ketika membuka kemudian membaca lembar demi lembar halaman buku yang baru saja terbit awal bulan lalu itu. Tak salah jika, Mike-Indonesian Idol secara atraktif mengungkapkan kekaguman lewat komentarnya di bagian belakang buku ini,” Ceritanya ekspresif, sensitif, sentimental. Topiknya ringan, tapi tetap ada pesan buat kita untuk lebih Mengerti, Mensyukuri”.
Setelah buku blog kambing jantan karya Raditya Dika dibukukan oleh Gagas Media tahun silam, buku blog Tine yang diterbitkan bersamaan dengan buku blog Dewi oleh Penerbit Gradien-Yogyakarta, semakin memperkaya khasanah blog yang dibukukan. Harus diakui, keberanian membukukan blog dari Penerbit Gradien patut diacungi jempol, terlebih ketika sejumlah tanggapan minor yang muncul dan menyebutkan bahwa sangat susah memasarkan buku blog. Saya yakin pertimbangan sang penerbit untuk membukukan blog Tine tidak semata berdasarkan alasan komersial belaka namun lebih dari itu, ungkapan perasaan Tine--yang kini menjadi editor content di www.liputan6.com-- melalui untaian kalimat-kalimat yang terjalin rapi dan memukau sudah seyogyanya “dibagi” kepada para pembaca terutama bagi yang tidak dapat membuka blog Tine melalui internet. Kontemplasi Virtual Tine yang dituangkan melalui blognya dan kemudian dibukukan ini, tak pelak, menjadi referensi dan refleksi kehidupan yang sangat berharga untuk para pembacanya dan tidak sekedar hanya membaca curhat keseharian seorang Tine. Ada sejumlah nilai-nilai universal yang “ditiupkan” melalui tulisan-tulisan ringkas tapi bernas ini.
Lihatlah, bagaimana Tine dengan kalimat puitis membuka paragraf awal di posting “Bantal Beraroma Matahari” (halaman 148) : “Bau tanah basah di bawah jendela menusuk hidungku. Cahaya matahari menembus gorden kasa murah yang langsung menumbuk bantal. Bau matahari masih melekat di bantal dan guling. Aku belum mau bangun. Aku ingin lebih lama di tempat tidur besi yang warna cat di ukirannya sudah pudar. Tidak ada jadwal kerja. Tidak perlu buru-buru ke kamar mandi. Tak harus memikirkan sarapan. Tergesa-gesa membaca koran dan menyetel radio untuk memantau kejadian di dalam dan luar negeri”. Juga di tulisan Tine di “Pagi Manis” (halaman 135), “Pagi begitu manis. Sinar matahari hangat. Cahayanya membuat warna hijau daun begitu cerah. Air menetes pelan-pelan dari puncak tanaman turun ke ranting, daun, bunga, batang, dan meluncur ke tanah. Tanah yang tersiram air seperti brownies dengan bau yang beda. Bau tanah kental. Pagi manis-manis selalu mengingatkan aku pada Mama. Mungkin tidak ada orang yang tahu bahwa aku kecil senang memperhatikan Mama menyambut pagi. Begitu lembut, bersih, basah, hijau, dan sederhana”.
Tine, dengan jenaka, juga menceritakan musibah kecelakaan yang dialami sang abang dan kebetulan melibatkan seorang perwira menengah yang arogan dalam “Beking” (halaman 174) dan ketika Tine dihinggapi rasa kangen pada Handphone-nya dalam “Kangen” (halaman 172). Tidak hanya itu, sebagai seorang tante, Tine juga mengisahkan sejumlah pengalaman lucunya ketika mengasuh keponakan-keponakan kesayangannya dalam “Meniru Moses” (halaman 29), “Piyama” (halaman 133), “Bonty” (halaman 45) dan “Nera Hilang” (halaman 98). Juga, Tine menulis sejumlah puisi yang cukup menarik dalam buku ini seperti “Hanya Debulah aku”(halaman 103) dan “Lima Huruf” (halaman 216).
Tine juga berhasil memikat pembacanya melalui tulisannya “Aku dan Ayah” (halaman 68). “Aku tidak pernah berani berbuat aneh-aneh. Sebab, ayah seperti punya mata dan telinga. Tiba-tiba saja dia akan bertanya tentang apa yang sedang aku sembunyikan. Ini terjadi berulang kali. Ayah jugalah yang sejak kecil mengarahkan aku untuk menjadi wartawan. Dia tidak pernah bosan menjawab pertanyaanku. Dia adalah teman diskusi pertamaku. Bahkan ketika kecil aku tidak bisa tidur tanpa mengusap-usap leher ayahku. Aku bahkan meminta ayah agar tidak mencukur licin bulu di lehernya. Ini tidak mungkin aku lakukan pada ibu. Begitu menyentuh lehernya, plak, tanganku langsung ditepok”, demikian mantan wartawan Media Indonesia ini menulis. Nuansa kontemplatif dan religius yang begitu kental juga diungkapkan oleh perempuan yang mengaku obat stressnya dikala suntuk adalah menyampul buku ini. Terbaca dari tulisannya “Lingkaran Kasihan” (halaman 115), “Jenderal Tanpa Ekspresi” (halaman 61) dan “Email untuk Tuhan” (halaman 53) dan “Putri Masako” (halaman 34).
Buku blog Tine yang oleh penerbitnya diberi label khusus “E-Life Series” dibagian atas kiri sampulnya ini nampaknya menjadi gebrakan monumental bagi Penerbit Gradien untuk menerbitkan buku serial-serial serupa dimasa yang akan datang. Saya percaya, terlepas dari unsur komersial, buku blog Tine, Dewi dan buku blog yang diterbitkan berikutnya akan memberi pencerahan bagi para pembacanya. Seperti ungkap Tine memberi arti bagi blognya dalam pengantar buku ini : “ibarat susu cokelat hangat untuk mengisi hari”. Selamat dan sukses untuk Tine!.
Penulis : Albertina S Calemens
Penerbit : Gradien Books – Yogyakarta
Tahun : 2006, Cetakan -1
Tebal : 246 Halaman
Harga : Rp 30,000,-
“Dihadapan TUHAN, kata-kataku menari”
Demikian tulis Tine, atau Albertine S Calemens disapa, dihalaman awal buku yang diangkat dari jurnal hariannya di Internet (blog) ini. Dan memang, saya menangkap “tarian kata-kata” Tine mengalir indah, lancar dan renyah ketika membuka kemudian membaca lembar demi lembar halaman buku yang baru saja terbit awal bulan lalu itu. Tak salah jika, Mike-Indonesian Idol secara atraktif mengungkapkan kekaguman lewat komentarnya di bagian belakang buku ini,” Ceritanya ekspresif, sensitif, sentimental. Topiknya ringan, tapi tetap ada pesan buat kita untuk lebih Mengerti, Mensyukuri”.
Setelah buku blog kambing jantan karya Raditya Dika dibukukan oleh Gagas Media tahun silam, buku blog Tine yang diterbitkan bersamaan dengan buku blog Dewi oleh Penerbit Gradien-Yogyakarta, semakin memperkaya khasanah blog yang dibukukan. Harus diakui, keberanian membukukan blog dari Penerbit Gradien patut diacungi jempol, terlebih ketika sejumlah tanggapan minor yang muncul dan menyebutkan bahwa sangat susah memasarkan buku blog. Saya yakin pertimbangan sang penerbit untuk membukukan blog Tine tidak semata berdasarkan alasan komersial belaka namun lebih dari itu, ungkapan perasaan Tine--yang kini menjadi editor content di www.liputan6.com-- melalui untaian kalimat-kalimat yang terjalin rapi dan memukau sudah seyogyanya “dibagi” kepada para pembaca terutama bagi yang tidak dapat membuka blog Tine melalui internet. Kontemplasi Virtual Tine yang dituangkan melalui blognya dan kemudian dibukukan ini, tak pelak, menjadi referensi dan refleksi kehidupan yang sangat berharga untuk para pembacanya dan tidak sekedar hanya membaca curhat keseharian seorang Tine. Ada sejumlah nilai-nilai universal yang “ditiupkan” melalui tulisan-tulisan ringkas tapi bernas ini.
Lihatlah, bagaimana Tine dengan kalimat puitis membuka paragraf awal di posting “Bantal Beraroma Matahari” (halaman 148) : “Bau tanah basah di bawah jendela menusuk hidungku. Cahaya matahari menembus gorden kasa murah yang langsung menumbuk bantal. Bau matahari masih melekat di bantal dan guling. Aku belum mau bangun. Aku ingin lebih lama di tempat tidur besi yang warna cat di ukirannya sudah pudar. Tidak ada jadwal kerja. Tidak perlu buru-buru ke kamar mandi. Tak harus memikirkan sarapan. Tergesa-gesa membaca koran dan menyetel radio untuk memantau kejadian di dalam dan luar negeri”. Juga di tulisan Tine di “Pagi Manis” (halaman 135), “Pagi begitu manis. Sinar matahari hangat. Cahayanya membuat warna hijau daun begitu cerah. Air menetes pelan-pelan dari puncak tanaman turun ke ranting, daun, bunga, batang, dan meluncur ke tanah. Tanah yang tersiram air seperti brownies dengan bau yang beda. Bau tanah kental. Pagi manis-manis selalu mengingatkan aku pada Mama. Mungkin tidak ada orang yang tahu bahwa aku kecil senang memperhatikan Mama menyambut pagi. Begitu lembut, bersih, basah, hijau, dan sederhana”.
Tine, dengan jenaka, juga menceritakan musibah kecelakaan yang dialami sang abang dan kebetulan melibatkan seorang perwira menengah yang arogan dalam “Beking” (halaman 174) dan ketika Tine dihinggapi rasa kangen pada Handphone-nya dalam “Kangen” (halaman 172). Tidak hanya itu, sebagai seorang tante, Tine juga mengisahkan sejumlah pengalaman lucunya ketika mengasuh keponakan-keponakan kesayangannya dalam “Meniru Moses” (halaman 29), “Piyama” (halaman 133), “Bonty” (halaman 45) dan “Nera Hilang” (halaman 98). Juga, Tine menulis sejumlah puisi yang cukup menarik dalam buku ini seperti “Hanya Debulah aku”(halaman 103) dan “Lima Huruf” (halaman 216).
Tine juga berhasil memikat pembacanya melalui tulisannya “Aku dan Ayah” (halaman 68). “Aku tidak pernah berani berbuat aneh-aneh. Sebab, ayah seperti punya mata dan telinga. Tiba-tiba saja dia akan bertanya tentang apa yang sedang aku sembunyikan. Ini terjadi berulang kali. Ayah jugalah yang sejak kecil mengarahkan aku untuk menjadi wartawan. Dia tidak pernah bosan menjawab pertanyaanku. Dia adalah teman diskusi pertamaku. Bahkan ketika kecil aku tidak bisa tidur tanpa mengusap-usap leher ayahku. Aku bahkan meminta ayah agar tidak mencukur licin bulu di lehernya. Ini tidak mungkin aku lakukan pada ibu. Begitu menyentuh lehernya, plak, tanganku langsung ditepok”, demikian mantan wartawan Media Indonesia ini menulis. Nuansa kontemplatif dan religius yang begitu kental juga diungkapkan oleh perempuan yang mengaku obat stressnya dikala suntuk adalah menyampul buku ini. Terbaca dari tulisannya “Lingkaran Kasihan” (halaman 115), “Jenderal Tanpa Ekspresi” (halaman 61) dan “Email untuk Tuhan” (halaman 53) dan “Putri Masako” (halaman 34).
Buku blog Tine yang oleh penerbitnya diberi label khusus “E-Life Series” dibagian atas kiri sampulnya ini nampaknya menjadi gebrakan monumental bagi Penerbit Gradien untuk menerbitkan buku serial-serial serupa dimasa yang akan datang. Saya percaya, terlepas dari unsur komersial, buku blog Tine, Dewi dan buku blog yang diterbitkan berikutnya akan memberi pencerahan bagi para pembacanya. Seperti ungkap Tine memberi arti bagi blognya dalam pengantar buku ini : “ibarat susu cokelat hangat untuk mengisi hari”. Selamat dan sukses untuk Tine!.
Catatan:
Resensi Buku ini juga dimuat di Majalah Online Blogfam Edisi Juni 2006
Labels: Resensi Buku









