Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Tuesday, January 30, 2007

PILKADES YANG MENYENANGKAN DI CIKARANG




Hari Minggu, 28 Januari 2007, Jalan Raya Tarum Barat Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, yang dijadikan tempat pemilihan kepala desa Jayamukti terlihat sangat semarak. Sebuah panggung besar yang dihias begitu meriah dengan berbagai macam pernak-pernik tampak berdiri tegak di ujung jalan. Di samping kiri dan kanan panggung itu terdapat masing-masing sepuluh TPS (tempat pemungutan suara) dengan tirai berwarna hitam berderet rapi menunggu calon pemilih.

Tidak hanya itu, memanfaatkan momen langka sekali dalam lima tahun ini, sejumlah pedagang makanan dan minuman menggelar aneka dagangan di pinggiran jalan dengan lebar 6 meter itu. Kebetulan saja tempat tersebut masih cukup lapang karena belum dibangun perumahan sehingga menyisakan areal yang relatif luas untuk berdagang, juga membuka area parkir motor dadakan.


Ada empat calon yang berlaga dalam pilkades ini dan masing-masing memilih nama buah sebagai identitasnya. Calon pertama adalah mantan Kepala Desa Jayamukti sebelumnya, Pak Kanun, yang mengusung simbol apel. Calon kedua adalah Pak Cecep Basoni yang membawa simbol durian. Calon ketiga Pak Ulud dengan simbol nanas, dan yang terakhir Pak Abdul Rohim menggunakan simbol pisang. Mereka memperebutkan suara masyarakat Desa Jayamukti sejumlah 11.559 orang yang terdaftar sebagai pemilih.


Pemilihan dimulai pukul 07.00 pagi. Keempat calon kades bersama sang istri tercinta duduk di kursi di atas panggung dengan dandanan rapi. Pak Kanun tampak begitu gagah dengan kemeja merah dan jas hitam serasi dengan sang istri yang mengenakan kebaya warna merah. Lalu Pak Ulud tampil berwibawa dengan jas warna hitam berkemeja putih didampingi istrinya yang berkebaya putih kuning. Pak Cecep Basoni dengan ciri khas kumis tebal selalu melempar senyum ramah berada di samping sang istri yang berkebaya putih biru. Dan terakhir Pak Abdul Rahim tampil dengan penuh keyakinan berkemeja hijau keemasan dan bersanding mesra bersama istri tercinta yang berkebaya dengan motif persis sama dengan sang suami.

Saya dan istri hadir untuk turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini pukul 09.30 pagi. Suasana pilkades sudah sangat ramai disesaki calon pemilih. Setelah melaporkan diri ke panitia (dengan menyampaikan undangan dari RT serta memperlihatkan KTP) dan mendapatkan kartu pemilih, saya dan istri masuk ke area pencoblosan. Sebelum masuk ke TPS, kami sempat menengok ke atas panggung untuk meyakinkan siapa gerangan yang menjadi calon pilihan. Beberapa waktu sebelumnya para calon kades ini telah berkeliling dari RT ke RT bersosialisasi menyampaikan visi, misi dan program masing-masing.

Setelah memilih dan memasukkan kartu pemilih ke kotak yang disediakan, kami berdua keluar lewat pintu yang berada di samping panggung. Sebelum keluar, kami mesti membubuhkan jari jempol kanan ke bantalan stempel yang disediakan sebagai tanda bahwa kami sudah menunaikan hak pilih. Kami sempat tertawa saat keluar dari area pemilihan karena mendengar seorang wanita berceloteh. “ Saya mah milih duren aja. Habis enak sih,” katanya dengan logat Sunda yang khas kepada sang suami yang berjalan di dekatnya. Sambil tersenyum sang suami menimpali, “Lha, bukannya kamu biasanya doyan pisang?” Sang istri tidak menjawab namun mendaratkan cubitan mesra ke pinggang sang suami.

Perhelatan Pilkades Jayamukti ditutup pukul 14.15 siang. Sebanyak 8.369 orang datang memilih hari itu. Sebelum perhitungan suara, keempat calon membacakan ikrar untuk damai dan tidak saling menghujat satu sama lain. Pilkades ini dimenangkan Pak Ulud dengan perolehan suara 4.133. Suara terbanyak kedua diraih Pak Kanun dengan jumlah 1.629 pemilih, ketiga adalah Pak Cecep yang dipilih 1.538 orang, dan Pak Abdul Rohim dengan jumlah suara 932. Camat Cikarang Pusat, Dody Nurhajadi, yang turut menyaksikan pilkades menyatakan bangga pada tingkat partisipasi warga yang ikut mencoblos. Persentasenya mencapai 72,4%.

Dan pesta demokrasi pun usai, orang-orang pulang dengan beragam kesan. Pak Ulud kini mendapat tanggung-jawab menjalankan tugasnya sebagai kades untuk lima tahun mendatang, sementara tiga calon lainnya diharapkan ikut membantu program kerja kades terpilih. (p!)

*Citizen reporter Amril Taufik Gobel dapat dihubungi melalui email amriltgobel@gmail.com

Labels:

Monday, December 04, 2006

KONTRIBUSI TULISAN DI PANYINGKUL DOT COM


Kawan saya, Heru Kuswanto yang merupakan field engineer di kantor saya, Andergauge Drilling System Asia Pacific, menceritakan pengalamannya menunaikan dan merayakan Idul Fitri 1426 H tanggal 24 Oktober 2006 diatas helipad rig Nanhai-2 yang tengah melaksanakan proyek pengeboran di sumur ketiga di perairan Natuna. Saya menuliskan pengalamannya tersebut dan dimuat di situs Jurnalisme orang Biasa www.panyingkul.com. Penasaran ?. Silahkan klik disini.

Terimakasih untuk panyingkul dot com!.

Labels:

Tuesday, April 11, 2006

BLOG ANAK DAN REFLEKSI VIRTUAL KEHIDUPAN

"Jadi laki-laki memang tidak mudah, nak", kata ayahku sembari mengoleskan minyak gosok ke keningku yang benjol setelah ditonjok pakai gembok besi oleh Faiz tetangga rumah yang seumur denganku. Sore tadi, setelah rebutan mainan, Faiz memukul keningku dengan gembok rumahnya. Keningku memang agak memar namun setelah ayah mengoleskan minyak gosok sakitnya jadi sedikit berkurang. Sebenarnya tidak terlalu parah, tapi ibu dengan cemas begitu memperhatikan keadaanku.

"Nggak apa-apa koq,"kata ayahku menghibur ibu. "Anak laki-laki memang biasa kalau berantem, kayak bapaknya dulu waktu kecil".

Ayah kemudian mengusap kepalaku pelan sambil menatapku tajam,"Tapi jangan mau kalah dong!".

Ibu melotot ke arah ayahku.

"Zaman Rizky sudah berbeda dengan zamanmu dulu !", kata ibu ketus.

Ayah tertawa renyah.

"Ya, tapi itu tidak berarti bahwa dia mesti jadi pecundang dong!", sahut ayahku enteng kemudian meraih handuk lalu menuju ke kamar mandi.

Keesokan harinya, saat bermain bersama Faiz dan ia berusaha merebut mainan mobil-mobilanku, aku segera memukul wajahnya lantas mendorongnya ke tanah. Iapun menangis sejadi-jadinya. Ibu Faiz dan ibuku yang sedang asyik mengobrol terkejut kemudian datang melerai kami berdua. Ibu kemudian merangkulku dan mengajak bersalaman untuk berdamai dengan Faiz. Sore harinya ibu menceritakan hal ini pada ayah. Mau tahu apa tanggapannya ?. "So, that's my Boy!!", serunya lantang sembari mengacungkan jempolnya.


(Dikutip dari
Blog Rizky "That's My Boy")

Image hosting by Photobucket

MENULIS blog memang mengasyikkan. Apalagi blog anak. Sejak pertama kali menulis blog untuk anak pertama saya Muhammad Rizky Aulia Gobel, awal tahun 2003 silam, saya tidak semata-mata menemukan sebuah sarana curhat yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet. Hadirnya blog Rizky--buah hati kami yang lahir 3 tahun sejak saya dan istri menikah tahun 1999--pada awalnya memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupannya mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Namun dalam setahun belakangan ini, saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya "Here Come the Weblogs"May 1999,"Blog merupakan struktur terbalik dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan". Sementara itu, Rebecca Blood, penulis buku "The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining your blog"berpendapat,"Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media".

Salah satu bukti "kedashyatan" blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada National Kidney Foundation (NKF) Singapore tahun silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat itu terkuak. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar "demo" tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya (saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog). Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru "gerakan bawah tanah" era digital . Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatannya dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.

Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, blogdrive.com, blogsome.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing. Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi dan juga keceriaan dari aktifitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus tumbuh. Adapun perkembangan blog yang mengambil posisi diluar dari "mainstream" media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.

Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku “Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities” , seperti dikutip dari blog Enda Nasution, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”. Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya--mau tidak mau--memberi peluang bagi pembaca untuk secara "telanjang"mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh resiko "keterus-terangan"itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya--secara langsung maupun tidak--menjadi "jendela" yang membingkai ide, aktifitas keseharian, emosi, kreatifitas,harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.

Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan "ketelanjangan" itu lewat untaian kalimat yang (moga-moga) tidak hanya sebagai representasi aktifitas keseharian Rizky juga menjadi bahan renungan bagi semua publik pembacanya. Seperti cuplikan kisah dari blog Rizky diawal tulisan ini, selain sebagai dokumentasi aktifitasnya, saya juga "menitip"pesan tersirat pada Rizky bahwa mental pecundang mesti disingkirkan jauh-jauh dalam dirinya, sebagai lelaki. Dan itu, tidak mudah. Pada Posting yang lain "Bayi juga Manusia", saya mengisahkan pertemuan Rizky dan ibunya dengan seorang bayi hasil hubungan gelap yang dititipkan di klinik tak jauh dari rumah kami. Sebuah potret kelam dari kehidupan dunia yang kian carut-marut. Sementara di posting "Mbak Ami Minggat, Mbak Ida Merapat" dipaparkan kisah lika-liku mencari pembantu rumah tangga yang memiliki beragam karakter. Atau pada posting "Menemani ayah bercukur" saya merekam percakapan konyol saya dengan seorang cukur yang mengkritisi kondisi sosial politik sekarang kemudian dituturkan lewat "kacamata" Rizky yang kebetulan ikut menemani saya waktu itu.

Sejujurnya, saya merasa lebih sreg bertutur lewat Rizky semata-mata karena dua hal. Pertama, saya bisa menggali dan meng-explore lebih luas dan bebas segala kejadian yang terjadi disekitar Rizky misalnya ekspresi, tindakan dan reaksi dari kedua orang tuanya, juga suasana disekelilingnya. Kedua, saya tidak bisa setiap hari berada dan mengamati perkembangan kegiatan Rizky dirumah. Melalui cerita dari istri saya--momen dimana Rizky juga terlibat dalam peristiwa itu--setelah kembali dari kantor, saya dapat meramu dan menuturkan kembali kejadian tadi lewat sudut pandang Rizky di blognya. Ini tantangan yang sangat mengasyikkan, meski pada akhirnya saya harus mengakui tidak dapat melakukan update secara periodik karena keterbatasan waktu dan kesibukan dikantor.


Dari sejumlah blog anak yang sempat saya kunjungi memang masih lebih banyak berisi tentang jurnal kegiatan harian sang anak, tentu saja termasuk blog anak saya, Rizky. Disela-sela peristiwa kekerasan terhadap anak yang belakangan ini kerap terjadi, blog anak yang ditulis oleh ayah/bundanya menebar kesejukan dan memantulkan cemerlang cinta orangtua pada buah hatinya. Saya memendam harap kiranya ini akan menjadi energi positif dan wadah kontemplasi bagi sang anak kelak jika ia beranjak dewasa dan meneruskan penulisan blog itu sendiri. Baik Sang anak maupun orang tua akan membaca arsip"jejak-jejak cinta" yang telah ditorehkan lewat blog untuk kemudian menumbuh-suburkan kasih sayang antar mereka secara intens. Saya yakin kekuatan blog anak terletak disini : sebuah monumen cinta yang tak akan luluh digerus zaman. Dan ungkapan "From Blog, with Love", jadi kian nyata adanya.

Thomas Friedman dalam bukunya "The World is Flat: A Brief History of the Globalized World in the 21st Century" secara gamblang menyatakan,"Kemudahan setiap individu untuk berkolaborasi di dunia global didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi informasi berikut aplikasinya". Lebih lanjut Friedman menjelaskan, adanya "playing field" (arena permainan) lewat web-enabled tools memberi kekuasaan kepada individu untuk berkolaborasi di dunia interaktif. Saya menyadari, di dunia yang makin tipis sekat-sekat geografisnya kini (dan kian ceper seperti diungkapkan Friedman dalam bukunya itu) karena perkembangan internet dan teknologi digital yang melaju pesat, membuka peluang berinteraksi antar individu. Melalui blog,terlebih jika dilengkapi dengan fasilitas komentar serta link untuk akses ke topik yang terkait, membuat blog terasa lebih personal, kolegial dan non-formal bagi pembacanya. Implikasinya adalah kedekatan emosional akan terjalin antar sang penulis blog dan khalayak pembacanya. Sejak situs blog anak saya diluncurkan, saya mendapat pengalaman batin yang berharga lewat "feed-back" dari para pembaca blog (yang sebagian besar diantaranya juga penulis di blog masing-masing). Tidak hanya kepuasan karena mereka mampir dan membaca isi blog anak saya, tetapi pada saat yang sama, saya memperoleh jaringan interaksi virtual dari kawan-kawan maya yang bisa jadi berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat saya berpijak. Beberapa diantara kawan-kawan maya yang kebetulan juga menulis blog untuk sang anak memberi nasihat serta berbagi pengalaman mendidik anak lewat email. Sebuah kolaborasi di dunia interaktif yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan ketika saya masih aktif menulis buku diary dulu.


Catatan :
Tulisan ini merupakan edisi pelengkap dari artikel yang dimuat di majalah online bz! blogfam edisi Maret 2006.




Labels:

Thursday, January 19, 2006

PESONA CERFET YANG PENUH GREGET - Sebuah Sketsa Pengalaman Pribadi


“Selamat ya,” ucap Tina pendek. Juga lesu.

“Koq cuma itu, sih?” protes Jamal gundah.

“Lantas, kamu mengharapkan aku berkomentar apa?” sahut Tina sengit.
Ia meraih orange Juice yang tinggal separuh dan meminum sampai habis.

“Jangan sinis gitu dong, Tin. Paling tidak aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, dapat lolos kasting dan menjadi pemeran di sinetron Serambi Rumah Maknyak yang akan syuting minggu depan. Surat Pemberitahuan dari Production House yang kamu pegang sekarang itu adalah awal karir gemilangku nanti. Seharusnya kamu bangga dong atas prestasi yang kuraih ini. Kamu koq malah membuat semangatku jadi patah sih?” ujar Jamal seraya mendengus kecewa. Tina menghela nafas dan menatap Jamal tajam.

“Aku selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu dalam menentukan karir dimasa depan. Apapun itu. Asal jangan jadi artis!” tegas Tina dengan mata menyala.

Jamal angkat bahu.

“Tina, aku ingin mewujudkan impian masa kecilku. Menjadi bintang film. Dan apa yang aku harapkan, sekarang sudah menjadi nyata. Selangkah lagi, aku akan masuk ke dunia yang senantiasa hanya menjadi bagian dari mimpiku selama ini. Aku tidak akan mundur. Selangkahpun. Aku janji tidak akan melupakan apalagi mengabaikanmu selama meniti karir keartisanku ini. Percayalah. Aku mohon dukunganmu, Tin,” kata Jamal lembut. Ia meraih jemari Tina lalu menggenggamnya erat. (Dikutip dari Cerfet
Selebritiku, Pulanglah!, Episode Kesebelas oleh Amril Taufiq Gobel, posting tanggal 16 Juni 2005).


CERFET atau Cerita Estafet yang dimuat di ruang Galeri Kreasi adalah sebuah fenomena menarik di Komunitas Blogfam (www.blogfam.com). Sejak pertama kali dipopulerkan oleh Sa dan Tuteh dengan judul Sketsa Hati Tuteh (Agustus 2004), tercatat hingga tulisan ini dibuat sudah ada tujuh cerfet dengan berbagai tema yang berbeda ditayangkan di Galeri Kreasi Blogfam. Termasuk cerfet terbaru “Bayang Hitam” yang saat ini memasuki episode kesepuluh dan ditulis oleh delapan orang.

Cerfet merupakan rangkaian cerita fiksi bersambung yang ditulis oleh dua orang atau lebih dan menjadi suatu kesatuan cerita yang utuh. Istilah cerfet ini, menurut Maknyak/Labibah Zain (founder komunitas blogfam) seperti yang ditulis ulang oleh YNa dengan judul
The Messenger, 'Nakal' dan penuh surprise, secara sederhana dijelaskan sebagai berikut: "Persis seperti adegan pertandingan lari di dunia olah raga. Penulis A akan menyerahkan tongkat estafet penulisan kepada penulis B dan penulis B setelah menulis akan menyerahkan tongkat kepenulisan kepada penulis C, begitu seterusnya sampai mencapai garis FINISH yang berupa ending cerita tersebut. Penulisan seperti ini memerlukan kerja team yang hebat dan kuat. Masing-masing penulis, sebagaimana dalam lomba lari estafet, harus saling mendukung cerita. Sekali saja penulis lengah, akan bubarlah keutuhan ceritanya."

Penulisan Cerfet memiliki kaidah/aturan tersendiri yang mesti dipatuhi oleh tiap penulis. Jumlah kata, jumlah posting, tenggat waktu antara posting yang satu dan posting selanjutnya, urutan posting dari tiap penulis ditetapkan sedemikian rupa sesaat sebelum cerfet ditayangkan. Khusus untuk urutan posting dibagi dalam beberapa segmen (tergantung jumlah penulis) dan masing-masing penulis akan diberi jatah urutan berbeda di tiap segmen. Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk memberi porsi urutan berpindah dari tiap penulis tapi juga menghindari pola berulang yang monoton.

Tim Penulis mendiskusikan secara cermat aturan-aturan penulisan termasuk segala konsekuensinya. Namun demikian, aturan dimaksud, lebih kepada masalah teknis terutama menjaga kedisiplinan tiap penulis berada dalam koridor yang sudah ditetapkan dan tidak mengekang kebebasan berekspresi secara menyeluruh dari tiap penulis.

Saat pertama kali ditodong menulis cerfet apalagi menjadi penulis di awal episode, saya sempat merinding. Betapa tidak. Selain ini menjadi debut pertama menulis cerfet, juga dalam kapasitas sebagai penulis awal, saya mesti berusaha keras mencari tema yang menarik dan bisa menciptakan banyak celah bagi penulis berikutnya untuk dikembangkan dalam suatu kesinambungan cerita. Setelah lama berkiprah sebagai penulis cerita pendek yang lebih leluasa menjadi diktator atas alur kisah yang dibuat, saya sempat menghadapi kesulitan saat memulai membuat cerfet.

Berbeda dengan penulisan cerpen, saya dapat dengan mudah membuat outline/kerangka cerita sesuai ide yang berkembang di benak. Alur cerita, karakter tokoh dan konflik yang terjadi hingga akhir kisah dapat diatur sekehendak saya, sebagai penulis. Sangat berbeda saat menulis cerfet. Saya harus menahan ego pribadi serta berkompromi dengan diri sendiri sembari menunggu posting berikutnya dari penulis yang lain. Sangat mungkin, lanjutan kisah dari penulis berikutnya jauh berbeda dengan apa yang terbayang di benak. Diperlukan kemampuan untuk lebih jeli mendeteksi celah yang ada dari posting penulis sebelumnya lalu kemudian dikembangkan menjadi ide kisah lanjutan, seraya tetap memelihara plot/alur cerita secara konsisten. Disinilah letak tantangan dan daya tarik cerfet. Kejutan-kejutan dari tiap episode serta kerangka cerita terbangun secara spontan dari posting ke posting tiap penulis, membuat saya seperti dibetot ke dalam pesonanya.

Ketika memulai membuat cerfet Selebritiku, Pulanglah! (SP), tema yang saya angkat diilhami dari posting salah satu anggota blogfam yang mengisahkan problematika sahabatnya yang berpacaran dengan selebriti. Tema ini saya anggap menarik karena selain mengusung trend aktual pacaran/pernikahan selebriti dan orang biasa. Tema ini juga menawarkan begitu banyak potensi konflik dan celah untuk dikembangkan menjadi cerfet. Saya merasa, fondasi ini sudah cukup kuat sebagai dasar membangun cerfet SP. Dengan empat penulis (saya, Tuteh, Bondan dan Liza) dan empat isi kepala yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri untuk cerfet SP. Latar belakang usia dan pengalaman masing-masing penulis sedikit banyak memberikan pengaruh signifikan pada gaya penulisan. Tuteh misalnya, yang baru saja dinobatkan sebagai aktifis cerfet blogfam 2005 karena produktifitasnya dalam menulis cerfet, memiliki gaya bertutur yang khas ala remaja: ceria dan blak-blakan. Tentu jauh berbeda dengan gaya penulisan Bondan yang mengalir tenang dan terkesan hati-hati. Tak dapat dipungkiri, gaya penulisan yang berbeda ini menjadi tantangan bagi tiap penulis untuk menyuguhkan rangkaian kisah yang nyaman dibaca oleh khalayak pembaca. Team Penulis cerfet SP menyadari betul hal tersebut. Meski justru letak keunikan cerfet berada pada gaya penulisan masing-masing penulis di tiap episode berbeda, tetap diupayakan untuk mengakomodir gaya penulisan sebelumnya agar kesinambungan dan konsistensi bertutur tetap terjaga.

Ada pengalaman menarik yang dapat diungkap yakni, pada episode pertama SP, saya menggambarkan karakter si bencong Donna relatif terkesan agak maskulin dan konyol. Pada perkembangan selanjutnya ditangan penulis berikut, sosok ini bermetamorforsis menjadi sosok bencong yang norak, lucu dan genit. Saya senang dan melihat ini bukanlah sebentuk inkonsistensi namun sebagai pengembangan dan pengayaan karakter Donna secara lebih kreatif dari penulis berikutnya sejauh masih berada pada jalur logika cerita. Salah satu letak keunggulan lain membuat cerfet yakni belajar menerima, menghormati dan menyiasati perbedaan.

Pada episode 6-10 di cerfet SP, saya sempat gregetan pada arah cerita yang berkembang tak terduga. Dalam benak saya sudah ada skenario bayangan kira-kira arahnya akan seperti ini. Dengan perkembangan cerita yang berubah demikian cepat, mau tidak mau, saya, yang akan menerima amanah selanjutnya meneruskan kisah tersebut dengan menyesuaikan alur yang ada dan apa boleh buat, mengesampingkan ego pribadi saya sendiri. Awalnya memang sulit, tapi pada gilirannya, saya menemukan kesejukan di sana. Bahwa cerfet, pada akhirnya membingkai perbedaan, gagasan dan ekspresi yang ada dalam sebuah harmoni yang indah. Ibarat menyusun “puzzle” , masing-masing keping episode yang ditayangkan oleh tiap menulis, pada akhirnya akan membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.

"Jam Terbang" saya menulis cerfet memang masih sedikit. Selain cerfet Selebritiku Pulanglah! yang sudah rampung bulan Juli tahun lalu, saat ini saya juga masih terlibat menjadi salah satu team penulis cerfet Bayang Hitam. Namun dari aktifitas menulis cerfet selama ini, saya mendapatkan sensasi yang berbeda dengan menulis cerpen. Interaksi virtual yang hangat khususnya dengan rekan-rekan sesama tim penulis cerfet saya rasakan sebagai pengalaman batin yang tak ternilai. Internet memang telah membuang sekat-sekat geografis antar pulau hingga antar negara. Komunikasi antara saya dan Bondan di Jakarta, Tuteh di Ende-Flores, dan Liza di Bali yang terjalin lewat cerfet SP membuat kami seakan bercakap satu sama lain, face to face.

Apalagi dengan cerfet kolosal
Bayang Hitam (BH) yang baru kali ini dalam sejarah per-cerfet-an di komunitas blogfam melibatkan paling banyak penulis. Istimewanya, tidak semua dari penulis cerfet tersebut berada di Indonesia. Sa dan Jaf masing-masing berdomisili di Belanda dan Singapore. Penulis yang lain di Indonesia seperti saya dan Lili di Jakarta, Ucha di Manado, Ireth di Malang-Jawa Timur, Tuteh di Ende-Flores dan Rara di Makassar. Tidak hanya itu. Sejumlah inovasi baru juga coba diterapkan dalam cerfet BH. Yang pertama adalah membuka lowongan terbuka bagi siapapun anggota komunitas blogfam yang berminat ikut menjadi salah satu tim penulis cerfet dalam satu tenggat waktu tertentu. Jika biasanya, calon penulis cerfet berkumpul dan berembug secara tertutup sebelum meluncurkan cerfet-nya, maka khusus untuk cerfet BH dibuka kesempatan bagi siapapun yang berminat ikut. Yang kedua adalah, pada segmen pertama, segera setelah posting awal ditayangkan oleh sang Initiator sekaligus Organiser cerfet ini (Sa), penulis yang sudah mendaftar dipersilahkan untuk mengajukan diri sebagai penulis berikutnya, dan demikian seterusnya hingga ke delapan penulis mendapat giliran. Prinsipnya: siapa yang cepat, dia yang akan dapat kesempatan pertama. Yang ketiga, pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan siapa penulis berikutnya pada segmen kedua. Penulis cerfet harus siap menerima order pembacanya sebagai penulis lanjutan. Baru pada segmen ketiga nanti, kedelapan penulis akan berembug menentukan urutan masing-masing.

Inovasi yang dilakukan pada cerfet BH memberi warna dan kesegaran baru dalam sejarah per-cerfet-an di blogfam. Tantangannya pun kian kompleks terlebih ketika pembaca dilibatkan secara interaktif untuk menentukan penulis berikut di setiap urutan. Saya pribadi menganggap ini menjadi tantangan yang luar biasa untuk menguji sejauh mana tingkat apresiasi pembaca pada karya cerfet saya. Komunitas Blogfam yang per tanggal 6 Januari 2006 telah memiliki anggota terdaftar sebanyak 1,622 diseluruh dunia, memberikan ruang yang cukup lega bagi tumbuh dan berkembangnya aktifitas cerfet melalui ruang Galeri Kreasi.

Para penggiat blog yang tergabung dalam komunitas yang sudah memasuki usia 2 tahun ini, tidak hanya menjadi target sebagai khalayak pembaca cerfet namun dapat pula tampil sebagai penulis dan menjadikan cerfet sebagai sarana belajar untuk mengasah keterampilan menulis serta menuangkan gagasan. Terlebih lagi, Galeri Kreasi di Blogfam tidak hanya menampilkan cerfet sebagai menu utama namun juga karya-karya lain seperti cerpen, puisi, foto, esei, dan lain-lain.

Cerita kolaborasi melalui aktifitas internet, sesungguhnya bukan hal yang baru. Novel Puing (Bebop Publishing, 2005) yang ditulis oleh sembilan anggota milis Truedee kemudian disunting oleh cerpenis handal Bondan Winarno yang sekaligus juga menyumbangkan kisah untuk menutup cerita, merupakan salah satu contoh nyata bahwa aktifitas kolaborasi penulisan di dunia maya dapat diwujudkan dalam bentuk karya cetak. Kami, tim penulis cerfet SP juga memiliki impian agar karya kami tersebut dapat diterbitkan sehingga dapat dinikmati tidak hanya di kalangan terbatas, seperti komunitas blogfam saja. Untuk itu, saat ini kami tengah melakukan proses penyuntingan dan dalam waktu dekat bisa diajukan ke pihak penerbit.

Akhirulkalam, saya mengutip pernyataan sastrawan besar Iwan Simatupang 40 tahun silam: “Melahirkan kesegaran imajinasi adalah tantangan Indonesia dimasa depan. Yang diperlukan penjelajahan-penjelajahan bentuk dan gagasan sebuah karya seni yang dapat mengilhami orang membayangkan kemungkinan-kemungkinan kedepan.” Mudah-mudahan cerfet di blogfam adalah salah satu wujud kesegaran imajinasi dari hasil penjelajahan bentuk karya seni dan akan memberi ilham, dari waktu ke waktu, bagi siapapun juga untuk membayangkan kemungkinan kedepan.

Jakarta, 6 Januari 2006

Disampaikan dalam acara
Jumpa Penulis Blogfam tanggal 14 Januari 2006 di Common Room-Bandung

Labels: