Google
 
<body> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8697351&amp;blogName=Catatan+Dari+Hati&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.amriltgobel.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" height="30px" width="100%" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" id="navbar-iframe" frameborder="0"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Thursday, December 22, 2005

PENGANTIN MATA BIRU



Para pembaca blog ini yang budiman,

Untuk mengenang kembali setahun peristiwa tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 lalu bersama ini saya persembahkan cerpen "Pengantin Mata Biru" dan "Purnama di Mata Arimbi" sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan atas musibah tragis tersebut.
Semoga berkenan.

ATG

-----------------------------
AKU menyusuri wilayah Desa Kuala Daya, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, dengan perasaan tak menentu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong ini, pemandangan yang terhampar dihadapanku sungguh membuat batinku pilu dan tersentak. Betapa tidak, daerah pesisir pantai yang konon terkenal akan keindahannya itu, kini dibaluri warna coklat tua bercampur kering darah. Bangunan porak poranda, hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Seonggok perahu tampak tergeletak di samping sebuah bangunan rumah yang telah luluh lantak. Beberapa bangkai perahu lainnya terserak di banyak tempat. Bau anyir mayat masih tercium dan meruap di udara.

Setelah usai bergelimang kesibukan membagi-bagikan bantuan logistik kepada korban tsunami daerah itu bersama rekan-rekan prajurit TNI sejak pagi hingga siang, aku berkesempatan melihat-lihat kondisi daerah tersebut lebih dekat. Senja mulai rebah ke peraduan dan matahari menyisakan redup sinarnya. Cahaya temaram sang raja siang itu begitu kontras dengan suasana muram di kampung nelayan yang terletak dikaki bukit Ujung Seudon tersebut. Kesunyian yang mencekam begitu terasa. Aku telah berjalan kurang lebih 1,5 kilometer dari basecamp. Dan terus berjalan.

Pada jarak kurang lebih dua meter dari tempatku berdiri, aku melihat sesosok lelaki muda dengan pakaian kumal duduk diatas sebongkah tembok bekas bangunan runtuh. Aku mendekati lelaki itu perlahan. Matanya menerawang seakan menembus garis batas cakrawala nun di ujung sana. Sekilas aku melihat sosok lelaki itu terlihat sedikit berbeda dengan lelaki korban pengungsi yang kutemui sebelumnya. Ia memiliki postur tubuh relatif jangkung, kulit putih kemerahan, rambut sedikit pirang, alis mata tebal dan bermata biru. Ya, bermata biru. Aku sedikit terkejut dan takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dihadapanku.

“Maaf, boleh saya duduk disini, disamping anda?” aku menyapa lelaki itu.

Lelaki itu tidak menjawab, lalu menggeser pantatnya ke kiri dan memberi ruang bagiku untuk duduk. Matanya masih menatap kosong kedepan.

Aku menelan ludah menata kegugupan yang datang mendera, lalu duduk di sampingnya. Sejenak kami diam seperti mencoba menebak arah pikiran masing-masing. Sekilas aku melirik sosok lelaki itu. Ia memiliki bentuk rahang yang tegas menonjol dan hamparan misai yang tumbuh kasar. Sebaris kumis tipis melintang tak rapi dibawah hidung mancungnya. Lingkaran hitam disekeliling mata gagal menyembunyikan pupil biru yang menyala redup.

“Datang dari Jakarta?” Tanya lelaki itu memecah kesenyapan diantara kami. Ia menatapku setengah hati.

“Ya, saya tiba tadi pagi dengan Kapal KRI Amboina 503.”

“Relawan ?”

Aku mengangguk.

“Dari LSM Nusantara Membangun. O, ya, kenalkan, nama saya Firman,” sahutku sambil mengulurkan tangan.

“Syamsuddin. Panggil saja Syam,” jawab lelaki itu seraya menyambut uluran tangan saya. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Menerawang entah kemana.

“Sudah lama tinggal disini?” tanyaku hati-hati.

“Sejak lahir saya disini.” sahut Syam pelan. “Sampai menikah.” Nadanya terdengar getir.

Aku menangkap kesedihan menggelayut disana.

“Kami adalah pengantin bermata biru,” imbuh Syam seperti mengigau. Matanya kembali memandang kosong kedepan namun di pelupuknya terlihat bulir-bulir air mata mulai mengalir.
Seketika perasaan bersalah membebani hatiku. Tak urung, rasa penasaran mengiringi untuk mengetahui maksud dari “Pengantin Bermata Biru” itu.

Syam lalu mengusap air mata dengan punggung tangan dan memperbaiki letak duduknya. Dia lalu memandangku lekat. Mata birunya terlihat memiliki daya pukau luar biasa dalam remang senja yang muram. “Maafkan saya, bung Firman. Kalau Anda tidak keberatan, saya akan ceritakan maksud ucapan saya tadi,” kata Syam seperti bisa menebak arah pemikiranku saat ini.
Aku mengangguk, “Tidak apa-apa, silakan. Sepanjang itu dapat mengurangi beban batin anda”, sahutku mencoba menghibur. Aku menatap matanya kembali mengalirkan keyakinan.

Syam menghela nafas lega. Ia tersenyum. Ketegangan yang tercipta sebelumnya diantara kami pun mencair. Dan cerita dari mulutnya mengalir lancar. Aku menyimaknya dengan antusias.

****

Dua puluh empat tahun silam, Syam lahir sebagai putera nelayan di Desa Kuala Daya dan merupakan anak sulung dari dua bersaudara . Adik bungsunya, Fatimah, yang lahir enam tahun kemudian turut menjadi korban keganasan tsunami bersama kedua orang tuanya. Mata biru yang dimilikinya merupakan jejak genetis dari kakek pihak ibunya yang berdarah Portugis.

Konon, menurut cerita ibundanya, setelah pelayaran berminggu-minggu dari tempat asal sekitar lima abad silam, kakek moyangnya bersama rekan-rekannya terdampar di Kerajaan Negeri Daya. Penguasa setempat saat itu, Pahlawan Syah, memerintahkan balatentaranya menemui pasukan Portugis yang terdampar tersebut. Tak ayal, perang pun pecah antara Balatentara Daya dan pasukan asing yang berambut pirang, berhidung mancung, dan berkulit putih. Akhirnya, tentara asing itu pun takluk di bawah kekuasaan balatentara Pahlawan Syah yang kemudian menawan mereka di sebuah kamp berpagar tinggi yang dikenal saat ini sebagai Kampung Meunanga. Pahlawan Syah yang ketika itu resah oleh perang sipil dengan beberapa kerajaan tetangga seperti Pase dan Pidie memanfaatkan keberadaan tentara Portugis, yang kebetulan mengerti soal senjata api, untuk membuat mesiu bagi armada perangnya. Karena tak ada pilihan lain, ditambah lagi tidak adanya bantuan dari negeri leluhur, mereka akhirnya tunduk pada perintah Pahlawan Syah dan hidup berbaur sebagai orang Daya. Beberapa diantaranya menjalin kasih dan kemudian menikah dengan penduduk setempat. Salah satu keturunan mereka diantaranya adalah keluarga Syam. Komunitas mereka dikenal sebagai “Bule Lamno”.

Meski berperawakan seperti “bule”, keluarga Syam yang hidup dari hasil melaut ini merupakan muslim yang taat dan penganut Islam yang fanatik. Mereka sempat mengalami tindakan diskriminatif karena dianggap berbeda dengan warga setempat. Itulah sebabnya, Fatimah, meski memiliki anugerah kecantikan yang luar biasa, sempat mengurung diri di rumah dalam waktu lama dan cenderung tertutup.

Keluarga Syam, termasuk keluarga “Bule Lamno” lainnya, tidak terlalu nyaman dengan sebutan yang beredar di masyarakat seperti si mata biru atau si rambut pirang. Hal ini disebabkan mereka telah tinggal di daerah yang sama selama berpuluh-puluh tahun serta mengerjakan aktifitas yang sama dengan penduduk asli. Sebagai ungkapan kekesalannya, Syam pernah menghitamkan rambut pirangnya dengan campuran minyak kelapa dan arang sukun agar perbedaan fisik dengan penduduk asli di sana tidak terlalu mencolok.

Sejak kecil, Syam sangat senang bermain-main di pesisir pantai bersama rekan-rekannya. Berlari di pasir putih dan menikmati debur ombak menghempas lembut di kaki merupakan suatu sensasi tersendiri. Mereka terkadang bermain bola diatas pasir dan merasakan betapa susahnya mengejar bola dengan kaki yang begitu berat dibebani himpitan pasir. Tsunami dashyat akhirnya menenggelamkan semua kenangan indahnya itu.

Namun kenangan yang tak akan tenggelam adalah tentang Aisyah, inong bermata biru yang telah membuat hatinya tertambat di sana. Wanita berparas jelita itu juga dianugerahi sepasang bola mata biru sebagai ciri khas menonjol komunitas “Bule Lamno”.

Mereka bertemu pertama kali saat penyelenggaraan upacara adat Seumeuleung sebagai peringatan syukuran penabalan Alauddin Riayat Syah sebagai Sultan di Negeri Daya yang kini menjadi Lamno. Sang Sultan kemudian bergelar Po Teumeurehom, yang sekarang makamnya di bukit Gle Jong dan kerap dikunjungi oleh ribuan peziarah. Penyelenggaraan acara ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha.

Syam menemukan Aisyah ditengah sekelompok wanita muda yang sedang bercengkrama dan berjalan menyusuri pantai ditengah kemeriahan acara Seumeuleueng 2 tahun silam. Syam bersama kawan-kawannya kebetulan berpapasan dengan kelompok gadis itu.

Inong Tari Seudah Rupa
[1], hendak kemana?” goda Hamzah salah seorang rekannya pada kelompok gadis itu.

Mereka tidak menjawab. Hanya tersenyum sebelum berlari kecil sambil tersipu. Syam sempat menangkap sosok seorang gadis berkerudung putih dan bermata biru seperti yang ia miliki. Pandangan mereka sempat bersirobok sesaat dan membuat hatinya bergetar hebat. Dia jodohku kelak, batin Syam.

Sejak pertemuan pertama tadi, Syam berusaha mencari tahu keberadaan Aisyah melalui adiknya Fatimah. Ternyata Aisyah adalah rekan sekelas Fatimah di SMU Lamno. Melalui adiknya, Syam menitip pesan untuk berkenalan namun tidak memperoleh tanggapan lebih lanjut. Tapi ia tidak kecewa. “Aisyah orangnya pemalu, Bang. Tapi salam abang buat dia sudah saya sampaikan,” kata Fatimah menjelaskan. Syam terus mencecar Fatimah tentang bagaimana reaksi Aisyah setelah menerima pesannya. Namun Fatimah hanya angkat bahu sembari tersenyum jenaka.

Saat musim Meuseuke Engkot
[2], Syam yang sehari-harinya membantu ayahnya mencari ikan di laut dan hanya tamat SMA itu, beralih profesi menjadi pengemudi RBT[3]. Dengan meminjam motor seorang cukong dengan target setoran harian, Syam melakoni profesinya itu dengan tekun.

Di suatu siang yang terik beberapa bulan setelah mereka pertama kali bertemu, saat mengendarai motor RBT-nya, Syam melihat Aisyah tengah berjalan sendiri. Langkahnya terlihat bergegas. Syam lalu mendekati gadis itu dengan motornya.

“Terimakasih Bang, saya tidak mau naik RBT. Saya mau jalan saja,” tampik gadis itu terlebih dulu sebelum Syam menyapanya. Ia lalu mempercepat langkah.

“Kalau begitu, biar abang temani jalan. RBT-nya biar abang tuntun,” kata Syam berkompromi dan mencoba menyusul Aisyah sambil menuntun motor disampingnya.

Gadis itu mendadak menghentikan langkahnya, berbalik dan memandang Syam dengan tajam. Mata biru Aisyah ibarat belati menghunjam tepat di hatinya.

“Ini jalan sepi, Bang. Jangan sampai mengundang cibiran orang nanti. Lebih baik abang cari penumpang lain saja. Lagipula rumah saya tidak jauh lagi koq, tinggal sekali belok disana” kata Aisyah lembut sambil menunjuk ke depan.

“Saya Syamsuddin, kakak Fatimah, teman kelasmu. Saya bukan pemuda berandalan yang akan menganggumu, Dik. Abang hanya ingin berkenalan dengan kamu. Tapi kalau memang keberatan, abang akan pergi sekarang,” sahut Syam. Dengan pesona mata biru elangnya ia balas menatap manik mata Aisyah yang kemudian tertunduk malu. Syam merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat, sang pujaan hati itu telah berada tepat di depannya.

Ia kemudian menaiki sadel motornya. Sebelum memutar balik motor kearah yang berlawanan dengan Aisyah, ia berkata di sela-sela deru mesin motor,” Aisyah, mata biru kamu indah.” Syam kemudian memacu motornya.

Sepulang sekolah, keesokan harinya, adiknya Fatimah menyampaikan salam kembali dari Aisyah setelah sejumlah salam darinya tak berbalas. Katanya, Mata Biru Abang Syam juga indah dan mohon maaf atas kejadian kemarin.

Syam tersenyum. Ia baru saja menorehkan warna pelangi dalam satu babak kehidupannya.
Hari-hari berikutnya, menjadi hari-hari penuh gelora cinta bagi Syam. Setiap adiknya berangkat ke sekolah, ia menitip salam atau terkadang surat cinta untuk Aisyah. Syariat Islam yang ditegakkan secara ketat di Aceh tidak memungkinkan mereka sebagai pasangan yang belum menikah bertemu secara terbuka. Namun surat cinta di antara keduanya seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan cinta mereka. Ketika masih menjadi pengemudi RBT, Syam senantiasa menguntit dari jauh perjalanan pulang Aisyah ke rumah. Aisyah tahu itu. Ia selalu menoleh ke belakang sesaat sebelum berbelok di tikungan, melontarkan senyum fenomenalnya ke arah Syam yang duduk diatas sadel motor RBT 50 meter darinya. Syam membalas dengan lambaian tangan dan mengembangkan senyum balasan.

Setelah Aisyah tamat SMU, Syam tidak perlu menunggu lama lagi untuk melamar pujaan hatinya itu. Bersama ayah, ibu dan kerabatnya, mereka datang melamar Aisyah untuk menjadi istri Syam. Sambutan hangat mereka terima dari keluarga Aisyah yang kemudian segera menetapkan hari pernikahan mereka sebulan setelah prosesi pelamaran tersebut.

“Kita adalah pengantin bermata biru,” kata Syam mesra di telinga istrinya, Aisyah diatas pelaminan, di sela-sela kemeriahan pesta pernikahan mereka, beberapa bulan silam. Aisyah tersenyum malu dan mencubit pinggang suaminya. Seusai pesta pernikahan, mereka menempati rumah Aisyah karena sebagai anak tunggal satu-satunya, Aisyah belum diperkenankan tinggal terpisah jauh dari ayah bundanya. Syam memaklumi itu. Lagipula, rumahnya pun hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari tempatnya bermukim sekarang.

Syam menjalani profesi sebagai nelayan mengikuti jejak ayahnya. Namun ketika musim Meuseuke Engkot datang, ia kembali menekuni profesi sebagai pengemudi RBT.

Syam begitu mensyukuri anugerah Allah atas kebahagiaan yang diterimanya. Selain istri yang cantik dan alim, Aisyah mampu tampil sebagai pendamping hidupnya yang setia bersama dalam suka maupun duka. Kebahagiaan pun terasa lengkap saat Aisyah mengabarkan kehamilannya. Mata Syam berkaca-kaca, terharu mendengar kabar menyenangkan itu. Dipeluknya Aisyah erat-erat dan mencium keningnya dengan mesra.

Sampai akhirnya bencana tsunami itu merenggut semuanya, termasuk kebahagiaan yang telah ia reguk bersama Aisyah. Ia masih ingat betul saat gempa dashyat melanda Aceh saat pagi baru membuka tirainya. Setiap pagi, Syam mempunyai kebiasaan mempersiapkan perahu dan jala sebelum melaut didepan rumah. Di hari Minggu yang naas itu, gempa mengguncang dashyat. Syam berlari masuk rumah dan meminta seluruh anggota keluarganya untuk segera keluar rumah menyelamatkan diri dari kemungkinan lebih buruk. Semua selamat, termasuk istrinya Aisyah dan kedua mertuanya.

Tiba-tiba air laut surut. Sejumlah warga berlarian kearah pesisir pantai, melihat ikan-ikan yang terdampar dan menggelepar-gelepar disana. Tidak berapa lama kemudian gelombang ombak besar datang menderu dengan kecepatan tak terhingga. Syam dan Aisyah menatap, dinding air setinggi pohon kelapa yang menerjang, dengan perasaan ngeri.


Syam menggenggam erat tangan istrinya dan menariknya lari. Sekencang-kencangnya. Ia tidak melihat kedua mertua yang sebelumnya berada di dekatnya. Sejumlah orang ikut berlari dengan perasaan panik dan ketakutan luar biasa. Ombak besar datang menggulung, memutar dan menghempaskan Syam dan Aisyah. Genggaman tangan mereka terlepas. Syam berusaha menggapai istrinya. Ia berteriak sekuat tenaga memanggil namun kekuatan ombak raksasa itu tak kuasa dilawannya. Ia tidak ingat apa-apa lagi.

Saat tersadar, ia seperti bangun dari kematian. Tubuhnya tersangkut di sebuah pohon, sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Ia selamat dari bencana mengerikan itu. Tapi tak ada Aisyah disampingnya. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Dengan kekuatan yang tersisa, ia turun dari pohon dan berjalan tertatih mencari Aisyah, istrinya. Ia memanggil sekuat tenaga dengan harapan yang kian rapuh. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Di jalan, di bawah reruntuhan bangunan, di pohon, di mana saja. Sambil menahan sakit di sekujur tubuh, Syam membolak-balik setiap mayat yang ditemuinya.

Tepat di tikungan jalan tempat Aisyah biasa berbelok menuju ke rumah, ia menghentikan langkah. Tubuh Aisyah tergeletak di bawah pohon mangga, tempat ia biasa berteduh dan menoleh sambil tersenyum, ke arah Syam yang sedang duduk menguntitnya dengan motor RBT. Jilbab putih istrinya sudah berubah warna menjadi coklat gelap lumpur. Syam memeluk istrinya erat-erat, menciumnya, mengalirkan kehangatan dan cinta kasihnya yang tak terhingga. Ia mencoba menemukan kerjap indah mata biru Aisyah, tapi sia-sia. Mata istrinya telah tertutup untuk selama-lamanya. Kepedihan luar biasa melanda batinnya.

Saat itu Aisyah sedang mengandung 2 bulan, hasil buah kasih cinta mereka.

****

Syam menunduk, menekuri tanah tempat kami duduk.

Aku tertegun menyimak kisah hidupnya. Malam mulai turun dan desau angin laut terasa menggigilkan tubuh. Aku menghela nafas panjang. Sungguh berat penderitaan yang dialami lelaki muda ini.

“Mari kita pulang ke barak, Bung Syam,” ajakku sembari bangkit.

Ia tak bergeming sedikitpun.

“Hidup kita masih harus terus berlanjut Bung Syam. Tidak berhenti sampai disini. Putus asa tidak akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan Aisyah kembali di sisi Anda. Yang paling penting saat ini, Anda mesti merelakan kepergian Aisyah sebagai takdir yang sudah digariskan dari Allah, Tuhan penguasa semesta alam. Untuk kemudian bangkit melanjutkan hidup lebih tegar dan bermakna sebagai bagian dari fitrah ke-khalifahan kita dimuka bumi,” tuturku tenang.

Syam mengangkat wajah. Ia memandangku. Mata birunya seperti terluka, tapi aku melihat secercah cahaya harapan disana. Pandangannya beralih kedepan. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan.

Aku menepuk pundak Syam dan membantunya bangkit dari tempat duduk lalu berjalan bersamanya. Samar-samar aku mendengar debur ombak menghempas pantai seperti mendendangkan tembang pilu. Tentang kenangan yang tenggelam, tentang mimpi-mimpi yang hilang.


Jakarta, 23 February 2005

Foto-foto diambil dari :
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=48&condense_comments=false

Sebagian bahan kisah ini terinspirasi dan dikutip dari Majalah Tempo No.52/XXXIII/21-27 Februari 2005, Rubrik SELINGAN :”Lamno Tak berlalu dari Ingatan”


Catatan Kaki:

[1] Gadis Cantik Rupawan
[2] Paceklik Ikan
[3] Rakyat Banting Tulang, istilah Ojek di Aceh

Labels:

Wednesday, December 21, 2005

PURNAMA DI MATA ARIMBI

LETNAN Dua Aryo Bimo memandang batu nisan didepannya dengan kepedihan tiada tara. Dibacanya berulang-ulang nama yang tertera disana dengan nada pilu. Arimbi Wulansari, bibirnya bergetar menyebut kekasih tercintanya itu penuh kerinduan yang teramat dalam. Seketika, pelupuk matanya basah, entah untuk kesekian kalinya dia menangis. Daun-daun kamboja yang menaungi makam Arimbi berguguran diterpa angin senja yang cukup kencang bertiup saat itu.

Aryo menyeka air matanya perlahan dengan punggung tangan. “Tentara sebaiknya tidak boleh menangis,” terngiang jelas ucapan Arimbi didinding telinganya sesaat sebelum menaiki kapal yang akan membawanya ke Aceh 6 bulan lalu. Ia teringat saat itu, sembari tersenyum, Arimbi menyodorkan sapu tangan warna biru kepadanya untuk membasuh linangan air mata dipipinya yang kemudian diterimanya dengan rikuh.
Spontan Aryo meraba kantongnya. Saputangan biru itu masih ada disana, tersimpan rapi, supaya “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama” demikian ucap Arimbi waktu itu saat Aryo mengembalikan saputangan tersebut. Mendadak keharuan membuncah didada perwira muda itu, lalu pelan tapi pasti menyeret kenangan indah bersama Arimbi kembali…

---***---

“Jangan memandangku terus-terusan kayak gitu dong Mas Letnan. Malu aku,” kata Arimbi seraya mencubit mesra lengan Aryo, kekasihnya, suatu malam disalah satu sudut warung makan lesehan saat keduanya tengah menyantap hidangan seafood. Pipi gadis itu memerah.

“Matamu itu, Bi. Indah sekali seperti bulan purnama dimalam hari. Bulat bundar penuh pesona dan setiap kerjapnya membuatku hatiku tergetar setiap kali memandangnya,” sahut Aryo sambil meraih jemari Arimbi dan menggenggamnya dengan lembut.

“Gombal !. Aku laporin ke komandanmu nanti lho !,” timpal Arimbi yang kemudian mendaratkan cubitan lebih keras lagi dan bertubi-tubi ke lengan Aryo yang kemudian mengaduh kesakitan seraya memasang mimik lucu.

“Ampuuun..tuan putri Arimbi, hamba menyerah kalah,” kata Aryo pasrah mengangkat tangan. Mereka lalu tertawa renyah.

Pertemuan Aryo dengan Arimbi, gadis bermata purnama itu terjadi tanpa sengaja. Bermula ketika Aryo yang melintas dengan sepeda motor selepas mengawasi piket jaga disuatu siang yang terik, menemukan seorang gadis cantik kebingungan memandangi ban kempes didepan mobil Toyota Starlet birunya yang menghadang tepat didepan jalan.

Aryo menepikan motornya dan menyapa gadis itu.

“Ada masalah apa, Dik ?”, sapa Aryo ramah.

“Ini Mas, ban mobilku kempes, aku…aku..tidak begitu mengerti cara mengganti dengan ban cadangan. Bisa tolong aku Mas ?”, sahut gadis itu dengan gugup dan raut wajah cemas.

“Ada ban penggantinya kan’ di bagasi ?” Tanya Aryo sambil menyingsingkan lengan baju seragam lorengnya. Gadis itu mengangguk. Terlihat peluh mengucur didahinya dan mengalir melalui jenjang lehernya yang putih. Namun hatinya mulai tenang mendapat bantuan spontan dari sang perwira muda.

Dengan sigap Aryo mengganti ban mobil gadis itu dengan ban pengganti dari dalam bagasi.

“OK, sudah selesai !”, kata Aryo beberapa saat kemudian sambil mengibas-ngibaskan celana hijau lorengnya dari debu jalan setelah bangkit dari bawah mobil melepas dongkrak. Bulir-bulir keringat terlihat didahinya.

“Terimakasih Mas, ini ada air kalau mau minum atau cuci tangan,” kata gadis itu menyodorkan sebotol air mineral. Aryo menerimanya kemudian meneguk minuman tersebut dan sisanya dipakai mencuci tangan.

“Ups..habis nih,” ucap Aryo sambil memperlihatkan botol air mineral itu ke arah sang Gadis dengan pandangan mata bersalah.

“Nggak apa-apa koq. Nanti bisa beli lagi . O,ya..ngomong-ngomong, sebagai rasa terimakasih, boleh nggak aku ajak Mas makan bakso di warung sebelah sana ?”, ujar gadis itu menawarkan.

“Terimakasih dik, tapi saya mesti kembali ke Markas,” kilah Aryo.

“Tolong dong Mas, aku nggak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih pada anda. Sekali ini saja. Toh kita hanya makan semangkok bakso dan tidak perlu sampai menghabiskan waktu seharian. Nanti kalau komandannya marah, biar aku aja deh yang hadapi. Mau kan’ ?,” gadis itu merajuk manja. Aryo tertawa renyah ia tak kuasa menolak tawaran gadis manis itu.

“Baiklah, tapi aku parkir motor dulu ya ? Kamu tunggu aja duluan disana,” kata Aryo sambil berjalan ke arah motornya.

Pertemuan siang itu kemudian menjadi awal dari pertemuan demi pertemuan selanjutnya. Gadis itu, Arimbi Wulansari, , mahasiswa tingkat tiga sebuah universitas negeri dan puteri seorang pengusaha terkenal yang berdomisili dekat dari Markas Aryo. Jalinan kasih keduanya terjalin indah sampai kemudian saat menikmati senja yang indah dipantai, Aryo mengungkapkan berita yang cukup mengagetkan sekaligus menggelisahkan.
“Bi, mulai bulan depan aku akan dipindahkan tugas ke Aceh,” kata Aryo hati-hati dengan tenggorokan tercekat. Ekspresi bahagia Arimbi mendadak berubah. Raut mukanya terlihat tegang.

“Keputusan itu mendadak sekali. Baru tadi pagi saat kami briefieng di Markas. Tapi cuma enam bulan saja koq, sesudah itu balik lagi kesini sekalian melamarmu menjadi istriku,” imbuh Aryo sambil mengelus rambut kekasih tercintanya dengan lembut.
“Tapi itu cukup lama buatku,” sahut Arimbi sambil menatap hampa pada garis batas cakrawala merah saga di ujung laut. Mentari mulai beranjak ke peraduan. Ombak berdebur halus menghempas bibir pantai.

Aryo menghela nafas panjang. Ada beban menghimpit dadanya.

“Ini sudah menjadi resiko tugas sebagai aparat negara, Bi. Dan aku kira kamupun sudah siap menerima ini ketika kita menyatakan komitmen untuk menjadi calon pasangan suami isteri tempo hari. Cepat atau lambat, aku pasti akan menerima penugasan penuh resiko seperti sekarang,” kata Aryo menjelaskan. Arimbi terdiam, ia menunduk, menekuri butir-butir pasir di pantai. Pelupuk matanya mulai basah.

Aryo meraih bahu kekasihnya itu dan memeluknya erat-erat. Semilir angin senja menggeraikan rambut Arimbi.

“Tapi tidak secepat ini, Mas. Aku tak ingin kehilangan kamu,” isak Arimbi lirih. Aryo kembali mengelus lembut rambut kekasihnya.

“Aku pasti akan kembali kepadamu, Bi. Sepotong hatiku sudah ada padamu. Pijar mata purnamamu senantiasa akan mendampingiku selama disana Pada saatnya nanti setelah aku pulang dari Aceh, kita menikah membangun mahligai rumah tangga yang bahagia dan kamu kelak melahirkan anak-anak kita yang lucu.. Percayalah Bi, aku tidak akan tertembak oleh GAM dan pulang kembali padamu dalam keadaan sehat wal-afiat, “ hibur Aryo sambil mencoba berseloroh.

Arimbi mencubit perut Aryo pelan. Perasaannya melambung dan membayangkan pesta perkawinannya nanti setelah Aryo pulang dari penugasannya di Aceh.

---***---

Arimbi memandang sosok lelaki pujaannya itu diatas geladak kapal yang akan membawanya ke Aceh. Dadanya terasa sesak oleh keharuan yang tiba-tiba menyentak. Dia begitu tampan dengan seragam militernya. Aku tak akan memperlihatkan tangisku didepannya karena aku tidak ingin terlihat rapuh menjelang dia pergi, Arimbi membatin dengan getir. Ia melihat, Aryo melambaikan tangan kearahnya sambil mengucapkan kalimat tanpa suara, Tunggu ya..aku akan kembali kepadamu. Arimbi yang dapat membaca bahasa bibir Aryo kemudian mengangguk. Ia balas melambaikan tangan kearah kekasihnya. Peluit panjang kapal perang KRI.Teluk Limau bergema kencang.

Tambang kapal sudah dilepas dan perlahan lambung kapal itu bergerak menjauhi pelabuhan. Sosok Aryo makin lama makin mengecil. Tapi dia masih disitu, diatas geladak kapal dan terus melambaikan tangan. Arimbi menggigit bibir, ia tak kuasa menahan air matanya yang mulai jatuh bergulir disela-sela pipinya. Aryo, sepotong hatimu ada padaku,seperti sepotong hatiku pula kamu bawa bersamamu, ucapnya dalam hati.

---***---

Aryo baru saja menyalakan handphonenya pada Minggu pagi 26 Desember 2004. Gempa dashyat yang baru saja melanda Aceh. Setelah 4 bulan berada dimedan penugasan itu, tugas mendadak muncul sebagai sukarelawan membantu korban gempa yang berada disekitar markasnya. Atas pertimbangan kesibukan menjalankan tugas tersebut, ia memutuskan tidak menerima panggilan telepon lebih dulu dengan menon-aktifkan handphonenya. Dengan perasaan bingung, ia melihat sejumlah missed call dari Arimbi. Aryo baru saja mencoba menghubungi kembali Arimbi ketika ia dikejutkan oleh dering keras handphonenya .

“Aryo, ini Bunda, ibu Arimbi”, terdengar suara diseberang sana dengan nada panik.

“Ya, Bunda. Ada apa ? Tumben telepon pagi-pagi”, sahut Aryo mengenali suara calon mertuanya itu.

“Arimbi ada disana sekarang”

“Hah ? Disini ? Di Aceh ? Mau apa dia kesini Bunda ?”, Aryo kaget, hampir saja handphonenya terjatuh. Informasi tadi seperti membuat jantungnya copot seketika. Kecemasan mulai melanda hatinya apalagi melihat kenyataan gempa dashyat baru saja terjadi di ibukota serambi Mekkah itu.

“Ya, dia berangkat tadi malam dengan pesawat terakhir ke Aceh. Katanya kangen sama kamu dan minta Bunda merahasiakan kepergiannya kesana untuk menengokmu sehari saja dan kembali lagi ke Jakarta dengan pesawat sore ini. Arimbi mau bikin kejutan besar untuk kamu. Tapi pagi ini perasaan Bunda tidak enak dan semalaman bunda tidak bisa tidur, seperti akan terjadi sesuatu padanya. Tolong kamu cari dan temui dia secepatnya ya ?”tutur Ibu Arimbi.

Aryo terdiam dan tidak menyangka Arimbi berani melakukan kejutan penuh resiko seperti itu. Ia sengaja tidak menceritakan gempa besar yang baru saja terjadi di Aceh kepada calon mertuanya itu yang mungkin saja belum tahu, untuk meredam kecemasan lebih lanjut.

“Dia ada dimana sekarang Bunda ?”

Bunda menyebutkan salah satu nama hotel tidak jauh dari Markas Aryo saat ini.
“Baik, aku segera menyusulnya sekarang. Nanti aku kabari setelah ketemu, Bunda,” kata Aryo dan setelah memutuskan hubungan telepon segera berlari menuju motornya.

Baru saja ia menstarter motor, tiba-tiba terdengar kepanikan luar biasa. Aryo menoleh, dan terlihat serombongan orang berlari-lari kearahnya sambil berteriak histeris.

“Air..air…air !!..Cepat lari selamatkan diri!!”



Kengerian tiba-tiba menyeruak dalam dadanya saat menyaksikan dinding air setinggi pohon kelapa menuju kearahnya dengan kecepatan tak terduga. Aryo berlari sekencang-kencangnya, dalam fikirannya, ia harus menuju ke hotel tempat Arimbi menginap dan menyelamatkannya dari bencana tersebut. Namun, akhirnya ia tak kuasa ketika gelombang air tsunami itu menggulung tubuhnya lalu memutarnya dengan dashyat. Meluluh lantakkan semua yang dilaluinya. Tanpa kecuali. Seketika ia tidak ingat apa-apa lagi.

---***---

Aryo membuka mata dan melihat sekeliling ruangan yang serba putih. Pandangannya kabur dan samar-samar ia melihat kaki kirinya digips dan digantung.

“Alhamdulillah, dia sudah sadar,” ia mendengar suara yang begitu dikenalnya.

“Ayah ?” , kata Aryo lirih. Kesadarannya perlahan mulai pulih.

“Ya, ini ayah nak,” sahut lelaki tua itu seraya membelai rambutnya.

“Mana Arimbi ayah ? Mana dia ?”, tanya Aryo penasaran. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit tapi segera ditahan oleh beberapa orang perawat. Sekujur tubuhnya terasa sakit.

“Tenang nak. Kamu baru saja sadar dari koma selama 2 hari. Tim penolong menemukanmu tersangkut di sebuah pohon dengan kaki patah setelah tsunami sekitar 2 kilometer dari Markasmu. Kami lalu berinisiatif membawamu pulang kembali dan merawatmu di Jakarta. Syukurlah kamu selamat dari bencana ini dan sekarang sudah sadar,” tutur ayahnya pelan.

“Tapi dimana Arimbi ayah ? Dimana dia ?”, teriak Aryo putus asa.

Lelaki tua itu menghela nafas panjang, ada beban berat menghimpit dadanya saat itu. Aryo menatap lelaki tua itu penuh harap.

“Nanti saja Ayah ceritakan. Kamu perlu banyak istirahat. Ingat, hari ini kamu baru saja sadar dari koma. Butuh waktu yang tidak singkat untuk memulihkan kesehatanmu,” sahut ayahnya pelan. Aryo mendengus kecewa.

“Dia datang menjengukku ke Aceh, Ayah. Untuk aku. Tolong ceritakan bagaimana nasibnya. Sepahit apapun aku siap menerimanya. Tolong ayah,” kata Aryo sambil mencoba meraih tangan ayahnya. Suaranya terdengar putus asa. Ayahnya menelan ludah, mengumpulkan segenap keberanian dalam batinnya. Ia menggenggam jemari Aryo dengan erat, mengalirkan kekuatan. Dipandangnya salah seorang perawat di dekat pembaringan Aryo meminta persetujuan. Suster tersebut hanya mengangkat bahu dan sepertinya menyerahkan keputusan kepada ayah sang pasien sendiri.

“Baiklah, nak. Tentang Arimbi, calon istrimu,…dia..tewas dalam musibah dashyat ini. Jenazahnya ditemukan didepan hotel tempat ia menginap. Tampaknya dia baru saja bermaksud menuju ke markasmu pagi itu. Jenazahnya dibawa ke Jakarta bersamamu 2 hari yang lalu dan sudah dimakamkan,” Ayah Aryo menuturkan kisah tragis itu dengan kalimat terbata-bata. Kesedihan teramat dalam terpancar diwajah Purnawirawan Kolonel itu.

Aryo terdiam. Batinnya begitu terguncang mendengar berita tersebut. Arimbi, kekasih belahan hatinya telah pergi untuk selamanya. Ia datang ke Aceh untuk menjenguknya namun sekaligus menjemput kematiannya sendiri. Mendadak timbul rasa penyesalan teramat dalam di hati Aryo tidak menyalakan handphone ketika bencana gempa terjadi sebelum gelombang tsunami dashyat melanda. Arimbi telah berusaha menghubunginya berulang kali saat itu namun gagal. Ia mungkin saja masih bisa menyelamatkan nyawa kekasihnya apalagi mengingat jarak antara hotel Arimbi dan Markasnya tidak terlalu jauh. Perlahan pelupuk mata Aryo basah, genggaman jemari ayahnya makin erat.

“Tabahkan hatimu, nak. Doakan semoga Arimbi mendapat tempat yang layak disisiNya,” ujar ayahnya lirih. Aryo tak menjawab. Sembari menggigit bibir, menahan keharuan yang menyesak dada, Ia lalu menoleh keluar ke arah jendela kamar tempat ia dirawat.

Gerimis mulai turun, menghantam kaca dengan lembut dan menyisakan jejak buram. Arimbi, sekeping hatiku telah kaubawa bersamamu, desis Aryo perlahan.

---***---

Aryo mengusap batu nisan Arimbi dengan lembut, seakan mengelus kembali rambut kekasihnya yang panjang menggerai. Malam mulai turun di kompleks pemakaman itu. Bulan purnama muncul malu-malu dibalik langit. Aryo lalu mengeluarkan saputangan biru pemberian Arimbi. Terngiang kembali ucapan Arimbi saat menyerahkan saputangan tersebut kepadanya, “Kalau menangis lagi, tidak perlu menungguku menyodorkannya. Jadi simpan saja buatmu, Mas. Tapi aku tak berharap kamu menggunakannya lagi untuk hal yang sama”.

Aryo mencium saputangan itu dengan penuh perasaan dan merasakan kehadiran kekasihnya didekatnya. Wangi parfum kesayangan Arimbi tercium sangat lekat. Aryo tersenyum dan memandang langit. Disana, dalam redup lembut cahaya bulan, ia melihat mata purnama Arimbi berpijar. “Aku tak akan menangis lagi Arimbi karena dalam setiap purnama, kamu akan selalu hadir memandangku penuh rindu dengan mata indahmu”, bisik Aryo lirih ke pusara sang kekasih. Dingin malam mulai mendekap, desau angin dipemakaman mulai terasa menggigilkan tubuh, namun kehangatan cahaya bulan mengalir ke sekujur tubuh perwira muda itu.

Aryo bangkit dengan hati-hati dan dengan langkah tertatih sembari menggunakan kruk, ia berjalan meninggalkan kompleks pemakaman itu. Ditatapnya sekali lagi pusara Arimbi dan berdesis pelan, “aku akan menyimpan pijar purnama matamu dihatiku, Arimbi”.

Jakarta, 11 February 2005

Catatan :
Foto diambil dari:

Labels:

Monday, February 28, 2005

BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI

KEKASIHKU, jika engkau membaca e-mail ini, cobalah untuk mulai belajar melupakanku. Aku tahu kenyataan itu memang pahit dan berat buatmu, terlebih lagi buatku. Apalagi jika mengenang hari-hari penuh warna bersamamu, malam-malam yang liar bermandi peluh di apartemenku atau siang yang penuh gairah di hotel, tempat dimana kita saling melepas rindu sesaat sebelum kembali ke kantor masing-masing.

Masih teringat jelas dalam benakku saat pertama kita bertemu, pada sebuah akhir pekan yang basah diguyur hujan seharian, dalam café yang disiram cahaya temaram diiringi tembang jazz melankolis. Kamu datang kearahku dangan pesona kemilau kelelakianmu yang segera memporak-porandakan hatiku seketika dalam hitungan detik. Aku tak sempat berkata apapun, saat dengan sopan dan bersahaja, kamu mengajakku melantai. Tanganmu yang kekar memegang lembut bahuku dan harum nafasmu menggetarkan seluruh urat dalam tubuhku yang dahaga oleh cinta, saat kita berdansa dalam remang lampu café yang romantis. Hatiku tak mampu memungkiri bahwa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.

“Jadilah kekasih rahasiaku,” katamu di ambang pintu apartemen saat mengantarku pulang pada malam berkesan itu.

Kamu lantas mencium dahiku dengan lembut, tanpa perlu menunggu persetujuanku lebih dulu. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sebuah fenomena yang tak pernah aku rasakan dari lelaki manapun yang pernah singgah dalam relung hatiku selama ini.

Aku tak punya kekuatan apapun untuk menolak permintaanmu meski aku tahu sesungguhnya kamu telah memiliki keluarga yang dengan cemas menunggumu dirumah. Aku begitu terlena olehmu dan gelora gairah purba yang tiba-tiba muncul dalam diriku telah menghempaskan kita berdua dalam lautan petualangan cinta tak bertepi.

Sejak itu, kita merajut hari demi hari dengan ceria. Sorot matamu yang teduh namun tegas membuatku merasa selalu nyaman berada didekatmu. Aku senantiasa merasa tersanjung ketika dalam setiap e-mailmu kepadaku, kamu selalu menyelipkan sebait dua bait puisi cinta yang membuatku seperti melayang kelangit yang ketujuh. Tahukah kamu kekasihku, aku selalu menyimpan rapi puisi-puisi cintamu itu dalam helai demi helai buku harianku yang setiap malam aku buka kembali, membacanya pelan dengan bibir bergetar, berulang-ulang, sampai setiap kata demi katanya meresap dalam setiap sum-sum tulangku, mengaliri setiap nadiku dan akhirnya menggelegak dalam sebuah orgasme misterius yang berpendar-pendar dalam setiap relung kamarku. Kamu memang paling tahu bagaimana membuatku berharga, kekasihku.

Aku masih ingat betul salah satu momen kencan kita yang membuatku senantiasa mengenang betapa indah melewatkan hari demi hari bersamamu.

“Jangan pernah me-rebonding rambutmu, sayang,” katamu padaku saat kita melewatkan senja temaram di bibir pantai seraya membelai ikal rambutku.

“Kenapa ?”, tanyaku penasaran.

“Setiap kali membelai rambutmu, aku merasakan sensasi yang berbeda saat jari-jariku memilin dan menelusuri ruas demi ruas rambutmu. Ketika ruas rambutmu bergerak kembali menjadi ikal saat jariku lepas dari ujungnya, rambut itu meretas lurus sejenak, lalu berpilin lagi, perlahan tapi pasti seperti alunan ombak didepan sana. Aku begitu menyukainya,” jawabmu tulus.

Aku tersipu dan kemudian kita tertawa bersama, kemudian memandang debur ombak menghempas pantai serta merasakan desau angin senja yang sejuk . Kamu kemudian memeluk pundakku erat-erat dan bersama-sama lagi kita terpana menyaksikan keindahan mentari beranjak ke peraduan di ufuk cakrawala meninggalkan jejak-jejak merah jingga.
Aku tahu, kamu tentu tidak akan setuju pada keputusanku ini, namun percayalah ini jalan terbaik yang mesti kita tempuh, untuk saling memelihara bara api cinta kita secara elegan.

Kemarin, ketika secara tidak sengaja kita bertemu di Mall, kamu mengenalkan aku pada istri dan anakmu. Saat itu aku tahu, dari balik sorot matanya yang polos dan sederhana , istrimu memendam kepedihan yang lebih berat dari yang aku rasakan saat ini. Pun dari binar mata ceria, Ananda, anakmu aku menangkap seberkas cahaya pilu dan kehilangan sosok ayah yang didambakannya. Dalam pertemuan yang begitu singkat itu aku pun segera mendefinisikan ulang makna hubungan kita. Bukan semata atas dasar “solidaritas sesama wanita”, tapi lebih dari itu, komitmen rahasia yang kita bangun dalam setiap cumbuanmu dan desah nafasku, pada dasarnya begitu rapuh terutama oleh kesangsianku memaknai hubungan kita lebih lanjut. Keluarga yang dengan setia menunggumu dirumah lebih berarti dari diriku yang bagimu sekedar penyalur hasrat kelelakianmu.

Aku merasakan kepedihan luar biasa merambati hatiku saat menyaksikan kalian sekeluarga berjalan mesra berpelukan dihadapanku, setelah pertemuan di mall kemarin.
Sungguh beruntung Mbak Rita, istrimu, yang memiliki tajam mata elangmu dan kekar tubuhmu. Meski sudah berulang kali kamu katakan “Dia boleh memilikiku, tapi hatiku hanya untukmu” lewat bisik lirih ditelingaku, selalu, sesaat setelah kita menuntaskan hajat percintaan kita (Ketika itu, aku memang tidak peduli entah pada berapa banyak wanita lain kamu ungkapkan pernyataan yang sama). Saat ini aku baru menyadari sepenuhnya bahwa “kepemilikan” atas hatimu hanya semu belaka.

Bahwa aku mencintaimu sepenuh jiwa, aku tidak memungkirinya. Malam demi malam kulalui tanpa sedikitpun melewatkan lamunan tentangmu. Termasuk membangun keluarga bahagia bersamamu dengan anak-anak yang lucu sebagai perekat rumah tangga kita. Namun semuanya mendadak hilang tak berbekas, ketika menyadari bahwa aku hanya menjadi kekasih rahasiamu, yang menemanimu berlari dari jiwamu yang dahaga karena cinta dimana seperti katamu setiap kita usai bercumbu, “Istriku tidak memberi lebih baik seperti yang telah kamu persembahkan kepadaku”.

Pada saat yang sama, kamu sering bercerita tentang kelucuan Ananda, putrimu semata wayangmu yang baru berusia 2,5 tahun. Dengan bersemangat dan mata berpijar, kamu mengisahkan bagaimana Ananda belajar mengucapkan kata demi kata. Kamu kemudian memperagakan bagaimana Ananda salah mengeja kata yang kamu ajarkan, lalu kitapun tertawa berderai. Kamupun pernah bercerita bahwa setiap pagi, dengan setia, Ananda akan membangunkan tidurmu yang lelap dengan menarik kumis atau bulu betismu dengan brutal. Kitapun kembali tertawa bersama mendengarnya. Aku senang mendengarmu tertawa yang begitu lepas dan renyah.

Kamu sangat menyayangi Ananda yang sering kali aku tangkap dari sorot mata elangmumu yang berpijar setiap kamu bercerita tentangnya. Sempat terbersit rasa cemburu dihatiku namun segera kutepis jauh-jauh, karena dia adalah buah hati tercintamu. Tapi tak urung, kesedihan terkadang menyeruak dalam batinku, bahwa sesungguhnya, tidak hanya aku yang menempati sisi relung hatimu. Ada senyum polos Ananda disana yang membuatmu senantiasa ceria meniti hari. Yang paling membuatku kian nelangsa adalah, aku ingin kisah yang kamu tuturkan adalah tentang tingkah lucu anak kita, yang lahir dari kehangatan rahimku, buah kasih kita berdua.

Kita memang telah siap menempuh segala resiko dari hubungan rahasia kita. Namun dari lubuk hatiku paling dalam, setelah pertemuan dengan keluargamu kemarin, aku tak kuasa untuk segera menetapkan hati berpisah darimu, meski kepedihan melanda jiwaku saat ini. Cinta memang tidak dibangun untuk membuat rasa kehilangan, tapi pada akhirnya aku menyadari cinta antara kita mempunyai batas tepiannya sendiri. Sesuatu yang, sesungguhnya aku sadari akan terjadi sejak awal, cepat atau lambat, namun akhirnya kuingkari saat pesonamu membetotku dan membawaku ke dalam pusaran cintamu yang melenakan.

Aku akan simpan rapat-rapat kenangan manis diantara kita dalam bilik hatiku dan kemudian membiarkannya mengendap dalam senyap.
Kekasihku, mulai saat ini, cobalah belajar melupakanku sebagaimana saat ini aku telah mengunci rapat-rapat pintu hatiku untukmu. Aku tetap menyimpan puisi-puisi cintamu padaku sebagai monumen paling berharga tentangmu pada tempat yang aku harapkan tidak akan aku buka lagi sampai kapanpun.

Akupun tidak akan me-rebonding rambutku seperti pintamu, agar aku senantiasa merasakan telusur jarimu yang membelai mesra ikal rambutku, memilinnya perlahan kemudian meresapinya dalam-dalam pada setiap desah nafasku setiap kali ritual percintaan kita usai. Jangan pernah mencoba untuk menghubungiku dengan cara atau dalih apapun, sebab semuanya akan berakhir sia-sia.

Aku ingin kamu menghormati pilihan yang telah kuambil dan juga tak akan kusesali , atas nama bara api cinta yang telah kita tumbuh-suburkan dalam dada kita masing-masing selama ini, yang telah kita titipkan lewat debur ombak yang mengalun seperti ikal rambutku, yang berlalu bersama desau angin senja, tapi kekasihku, biarkan aku mencintaimu, dalam sunyi.

Jakarta, 28 Februari 2005

Labels:

Friday, February 18, 2005

BADAI DALAM KARUNG

OTOT – OTOTNYA menegang kencang pada dua ruas bahunya yang kukuh dan berkeringat. Dadanya yang telanjang, legam berkilat diterpa sinar mentari siang yang ganas. Luthfi, demikian nama lelaki itu, seperti pasrah dan menyerah pada nasib. Ia tak bisa menggugat apa pun atau siapa pun atas apa yang telah dialami sekarang. Sebagai buruh harian lepas pada kontraktor pembangunan gedung pusat perbelajaan, yang tak memiliki kekuasaan apa – apa, dia tak dapat menolak keputusan PHK dari atasannya.

“Proyek pembangunan gedung kita ini ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kami kehabisan dana. Akibat krisis moneter yang berkepanjangan, harga – harga bahan bangunan melonjak naik tak terkira. Budget yang tersedia tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan itu. Maaf, Bapak – bapak, kami terpaksa memberhentikan Anda semua dari pekerjaan ini,” kata Ir.Umar, site Manager proyek tersebut di depan seluruh buruh harian pagi tadi dengan suara serak.

“Bagi kami, ini merupakan keputusan terbaik, meski dari lubuk hati yang paling dalam kami tidak tega melakukan. Sekali lagi saya atas nama pribadi dan direksi mohon maaf. Hari ini adalah hari kerja Bapak – bapak yang terakhir kali. Semoga di waktu mendatang, Bapak – bapak cepat memperoleh pekerjaan lagi. Sekian, “ katanya mengakhiri penjelasan.

Kalimat – kalimat Ir. Umar tadi seperti tergiang – ngiang kembali ditelinga Luthfi. Mendengung, Bagai memecah gedang telinganya. Harga dirinya runtuh. Ia lalu tertunduk lesu pada sebongkah beton sembari memandang rekan – rekannya yang sudah mulai berkemas pulang. Hari ini mereka hanya bekerja setengah hari. Terlihat oleh dia ekspresi wajah seragam ; pucat dan kuyu. Tanpa semangat hidup.

“Kamu belum pulang, Luthfi?” sapa Eko rekan sekerjanya. Luthfi menggeleng pelan. Tanpa kata – kata. Eko mengangguk maklum dan melanjutkan langkahnya. Luthfi menggigit bibir. Ia teringat Agung dan Rina, anak dan istrinya dirumah. Mereka menggantungkan harapan dan masa depan mereka pada Luthfi, tamatan SMP yang hanya bisa mengaduk semen dan mengangkat batu. Ia tidak tahu dengan apa harus melanjutkan hidup untuk besok dan seterusnya. Agung, anak semata wayangnya yang baru berusia dua tahun serta sorot mata teduh Rina istrinya yang dengan sabar dan telaten mendampingi dia dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Luthfi menunduk, menekuri tanah proyek yang berdebu.

“Luthfi, sudahlah, tak usah kamu sesali. Kita semua mengalami hal sama denganmu. Besok kita cari lagi pekerjaan diproyek yang lain. Ayo, kita pulang,” tegur Firman, mandor kepala, membuyarkan lamunannya. Luthfi mengangkat wajah. Dia tatap wajah Firman, ada raut kedamaian di sana.

“Luthfi,”kata Firman lembut, “ saya juga pernah mengalami hal sama. Saya putus asa, tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Tapi saya segera sadar . Tuhan Maha Adil, selalu mendengar dan membantu hambaNya yang mau berusaha. Saya selalu menanamkan keyakinan itu”. Luthfi mengangguk.

“Terima kasih, Pak Firman,” jawabnya lirih. Firman tersenyum tulus kemudian menepuk pundak Luthfi untuk beranjak dari tempat itu. Angin berhembus kencang, pohon – pohon meliuk dan debu – debu gersang beterbangan, berputar tak teratur lalu menghilang.


*****


SAAT hendak mengungkapkan kenyataan pahit itu pada istrinya, Luthfi merasa menjadi seorang pecundang yang kalah telak. Sepanjang jalan, ia berusaha memilih kalimat – kalimat terbaik untuk diucapkan kepada Rina, supaya ia tak terlalu “terpukul”. Tetapi ia tak bisa. Istrinya yang mengenal watak dan perangainya, secara intuitif mendapat firasat sesaat wajahnya muncul dari pintu depan. Ekpresinya adalah ungkapan yang paling jujur. Belum sempat berkata apa – apa istrinya menghambur ke arah dia. Memeluknya erat – erat. Mengalirkan kehangatan dan pengertian wanita yang dia cintai.
“Kamu tidak usah bilang apa – apa Mas. Rina sudah tahu apa yang terjadi. Mas Luthfi jangan sedih. Tuhan akan selalu menolong kita. Rina senantiasa mendampingi Mas dalam situasi sesulit dan seburuk apa pun. Selalu, Mas. Selalu….,” kata Rina terbata – bata. Air matanya berlinang. Luthfi merasakan butir – butir air hangat itu jatuh di bahunya. Luthfi mempererat pelukannya. Ia terharu dan kagum pada kesetiaan yang mendalam dari Rina.

“Saya tidak tahu dengan apa saya mesti menafkahi kamu dan Agung setelah saya di-PHK. Saya seperti terjatuh ke jurang yang amat dalam,” ujar Luthfi pelan. Dadanya terasa sesak. Ada beban berat menghimpit di sana.

“Mas, berjanjilah. Jangan putus asa. Jangan patah semangat. Saya tak rela jika Mas Luthfi jadi kehilangan harapan dengan kejadian ini. Saya tahu, apa yang Mas Luthfi alami sangat mengguncangkan hati. Tapi, Mas Luthfi jangan sampai merasa ini adalah akhir dari segala – galanya. Kesempatan bekerja tetap masih ada, selama kita berusaha dan berdoa. Tolong, Mas Luthfi pahami, ini demi saya istrimu dan Agung buah hati kita,” tutur Rina seraya menatap mata Luthfi dengan sorot tajam menghunjam. Luthfi tersenyum dan mengangguk. Ia membelai rambut istrinya dengan lembut.

“Rina, saya tak keliru memilihmu sebagai pendampingku sehidup semati. Saya tidak akan mengecewakanmu. Saya akan tetap berjuang. Demi kamu dan Agung serta kehormatan keluarga kita. Saya berjanji Rina, saya berjanji,” kata Luthfi mantap. Diraihnya tubuh istrinya. Dipeluk erat – erat. Ada sebentuk kesejukan terbit disitu. Di luar jangkrik mengerik. Sampai jauh.


*****


AKHIRNYA Luthfi mendapat pekerjaan sebagai buruh harian pengangkut beras di salah satu gudang logistik, selang dua bulan setelah menganggur dari pekerjaan proyek konstruksi. Ia berusaha menikmati pekerjaannya. Meski penghasilannya saat ini jauh lebih kecil dari tempat kerjanya dulu, Luthfi menabahkan hati. Ia percaya, rezeki dari pekerjaan ini bagi dia tetap merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena memberikan nafkah yang halal bagi keluarganya. Istrinya pun tetap memberi dukungan moral yang tinggi. Tugas Luthfi tiap hari dari pukul 08.00 sampai 17.00 adalah mengangkut karung – karung beras dari gudang ke atas truk – truk distribusi untuk disalurkan ketempat yang membutuhkan. Dengan postur tubuh yang tinggi kekar, bukan masalah bagi dia untuk membawa sekarung beras yang maksimal beratnya 80 kilogram. Ia bekerja sama dengan buruh harian lain, yaitu Yudi, Heri dan Bambang.

Hari demi hari berlalu, tanpa terasa ia telah bekerja di tempat itu selama toga bulan. Memasuki bukan ke empat, Lithfi merasa ada yang kurang beres. Sore hari menjelang pulang, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Hamzah, kepala gudang dan Syarif, kepala Satpam. Ia menguping pembicaraan dari balik partisi yang menghubungkan ruang staf dan gudang ketika melintasi ruang itu dari arah toilet.



”Agus, malam ini putauw – putauw itu kamu masukkan di karung yang sudah aku tandai. Jangan beritahu siapa – siapa. Kalau butuh bantuan, kamu panggil saja anak buahmu si Joko. Aku percaya sama dia. Beri dia honor secukupnya. Jangan panggil orang lain. Yang penting ini jangan sampai bocor ke siapa pun juga. Ingat, ini bisnis besar. Kalau berhasil, kamu pasti dapat honor gede. Lumayan besar dibanding gajimu di sini. Bos John sudah menunggu kiriman ini besok melalui truk jam 10.00 pagi. Tidak boleh telat dan gagal! Kamu mengerti kan ?” demikian suara berat Hamzah memerintah Syarif. Syarif tidak segera menjawab, ia hanya mendehem. Hamzah tampaknya tahu isyarat itu.
“Oohh… soal uang mukanya. Nih Rp. 500.000 dulu. Sisanya nanti saya berikan setelah tugasmu selesai. Ingat Syarif, jangan kecewakan saya. Juga Bos John. Okey?” ancam Hamzah.

“Beres, Bos. Percayakan saja sama Syarif!” sahut Syarif. Suaranya terdengar riang. Kemudian terdengar langkah – langkah menjauh. Luthfi merapatkan tubuh kedinding dan berjalan mengendap kembali ke arah toilet. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat dari kejauhan tubuh Hamzah masuk kedalam mobil Toyota Kijangnya.

Luthfi menelan ludah. Sebentuk kegalauan bergejolak di hatinya. Ia tak menyangka bisnis kotor juga terjadi dalam lingkungan kerjanya. Tidak tanggung-tanggung, bisnis obat terlarang! Seketika bulu kuduknya meremang. Ia merasa takut. Entah pada apa. Ia lalu teringat wasiat ayahnya menjelang wafat untuk tetap memelihara dan menjaga nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta gigih membela kebenaran.

Watak luhur jago silat kampung dan kearifan petani penggarap, memang menjadi warisan utama dari ayahnya. Luthfi memegang teguh prinsip-prinsip itu secara konsisten. Kini ia dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Melaporkan kejadian ini pada polisi dengan risiko terburuk terkena PHK, atau membiarkan proses ini berlangsung terus dengan risiko mengingkari hati nurani dan amanat ayah tercintanya. Bagi Luthfi keduanya adalah pilihan yang sama sulit. Ia bimbang.

“Luthfi, kamu belum pulang?” tegur Syarif, sang kepala Satpam menyentak lamunannya. Luthfi gelagapan dan berusaha menemukan jawaban terbaik.

“Ini…, baru mau siap-siap pulang pak!” jawabnya gugup, seraya meraih tas pundaknya, lalu bergegas pergi. Syarif hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berbalik kembali ke kantor. Luthfi mempercepat langkahnya. Bergegas. Nafasnya memburu. Batinnya merasa khawatir entah pada siapa. Langit kelam, dan awan hitam menggumpal. Petir pun menggelegar. Hujan akan segera turun.


*****


“MAS Luthfi Yakin dengan apa yang Mas dengar tadi?” Tanya Rina istrinya saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Luthfi tidak segera menjawab. Ia lalu mengambil sepotong singkong rebus di atas piring. Dikunyahnya pelan. Dan Istrinya mengamati dengan sabar saat Luthfi menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Begitulah kejadiannya Rina.Saya benar – benar yakin dengan apa yang saya alami. Saya kaget dan hampir tidak percaya setelah mendengar kenyataan itu,” sahut Luthfi. Suaranya terdengar cemas.

“Lantas, menurut Mas Luthfi, apa yang sebaiknya Mas lakukan?” Tanya Rina lagi.

“Melaporkannya ke Polisi!” tegas Luthfi yakin. Ditatapnya lekat – lekat wajah istrinya. Rina menghela nafas panjang lalu menunduk menekuri lantai rumah kontrakan mereka. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar kencang. Ia merasa takut. Takut sekali.

“Mas Luthfi, sudah berpikir risikonya?”

“Rina saya memegang teguh prinsip hidup saya dan keluarga saya. Menentang kezaliman . Tentang resiko, saya piker, itulah yang mesti kita pikul ketika menentukan suatu pilihan. Kita tak dapat mengelak dari itu!” kata Luthfi dengan mata menyala.

“Mas Luthfi rela mempertaruhkan saya dan Agung, anak kita?” Tanya Rina lagi.

”Saya tidak mengatakan ini sebagai suatu pertaruhan, Rina! Ini adalah soal mempertahankan prinsip. Saya tidak suka dan tidak rela mereka memanfaatkan fasilitas kantor untuk melakukan tindak kejahatan. Kalau hal ini sampai terjadi terus dan suatu waktu ketahuan belangnya oleh pihak berwenang saya toh juga diciduk. Dan tak punya harapan apa – apa lagi untuk dapat kembali bekerja. Cepat atau lambat semua ini akan terjadi , Rina. Kamu mesti paham itu. Saya sama sekali tidak punya maksud mengorbankan, apa lagi melibatkan kamu dan anak kita si Agung dalam kasus ini. Sungguh Rina. Sungguh!”jawab Luthfi seraya memegang bahu Rina erat – erat lalu menatap dalam – dalam wajah teduh istrinya. Rina terdiam. Ia tak bisa berkata apa – apa lagi. Luthfi lantas mengelus lembut rambut istrinya.

“Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk menempuh langkah itu Mas,”ucap Rina lirih. Air matanya mulai menggenang. Luthfi meraih tangan istrinya. Digenggamnya erat – erat.

“Mas Luthfi mesti memikirkan juga komplotan itu tahu bahwa yang melaporkan kegiatan mereka ke polisi adalah Mas Luthfi. Berbahaya sekali. Mereka pasti tidak akan segan – segan membunuh Mas Luthfi. Rina takut hal ini terjadi. Rina tak ingin kehilangan Mas Luthfi,” tutur Rina tersedu – sedu. Tenggorokannya tersekat. Luthfi tersenyum bijak. Ia kemudian memeluk istrinya. “Rina saya sudah berpikir langkah paling aman untuk mengungkap hal ini tanpa harus mengorbankan nyawa. Saya tidak bodoh. Kamu tak usah cemas. Yang paling penting buat saya saat ini adalah dukungan dan doa kamu agar saya memiliki kemantapan hati dan jalan yang lapang melaksanakannya. Itu saja,” kata Luthfi dengan lembut menenangkan istrinya.

Rina terdiam. Untuk beberapa saat ruang tamu kontrakannya yang sempit begitu sepi. Luthfi mencium kening istrinya. Malam kian larut dan mendung menggantung dilangit.


*****


LUTHFI dengan teliti dan hati-hati menyelidiki aksi komplotan itu bersama Letnan Indra, Sersan Yudo dan Kopral Yanto dari kepolisian yang menyamar sebagai salah satu distributor pelanggan gudang logistik itu, sambil mengumpulkan bukti – bukti yang akurat. Dalam waktu tidak terlalu lama polisi langsung membongkar kehatan penyeludupan putauw via karung beras itu dengan sukses. Hamzah, sang kepala gudang juga Syarif, kepala Satpam serta anak buahnya, Joko ditangkap dengan bukti nyata berupa selundupan mereka.

“Terima kasih, Pak Luthfi. Berkat Pak Luthfi kita berhasil membongkar jaringan pengedar obat – obat terlarang di gudang ini. Sayang sekali gembong penyeludupan ini yang mereka sebut – sebut Bos John berhasil kabur keluar negeri. Kami akan coba menangkap dan mendeportasinya ke sini. Sekali lagi terima kasih atas kerjasama anda,” kata Letnan Indra dengan mata berbinar menjabat tangan Luthfi.
“Terimakasih kembali, Pak Indra. Saya akan selalu siap membantu Bapak kapan saja jika diminta,” sahut Luthfi sembari membalas jabatan tangan Letnan Indra dengan hangat.

Rombongan dari kepolisian kembali ke markas mereka sambil menggiring ketiga orang tersangka penyelundup itu. Sekilas, Luthfi melihat tatapan Sinis Hamzah dan Syarif kepadanya. Ia tak peduli dan tak mau peduli. Hatinya lega. Akhirnya semua telah usai dan tuntas. Dalam bayangannya ayahnya tersenyum bangga kearah dia. Ia telah melaksanakan amanah beliau.

Luthfi kemudian bergegas pulang ia akan mengabarkan berita baik ini pada Rina.”Saya menang, saya menang, saya bukan pecundang!”. Luthfi membatin sambil memanggul tas pundaknya Luthfi mengayunkan langkah dengan ringan.

Tanpa disadarinya sebuah sepeda motor pengendara dengan berhelm yang menutupi kepala merapat kearahnya dari belakang. Pengendara itu mengacungkan pistol Revolver kepunggung Luthfi. Dan … door !” letusan pistol menyalak. Luthfi tersungkur jatuh diaspal. Pengendara motor tadi langsung memacu motor sekencang-kencangnya.
Darah mengalir dari dada Luthfi. Terasa sakit. Seketika ia menyadari apa yang baru saja terjadi. Orang-orang sekitar jalan itu mengerubunginya. Samar-sama Luthfi melihat wajah teduh Rina tersenyum kearahnya, wajah Agung anak semata wayangnya dengan mata bulat lucu menatap penuh harap. Ia meraba dadanya yang bersimbah darah. Lalu ia tak ingat apa-apa lagi.

“Ikutlah nak..”, terdengar suara yang begitu dia kenal bergema. Suara ayahnya. Begitu dekat. Begitu nyata. Wajah jernih ayahnya terlihat bercahaya. Sambil tersenyum, ayahnya menggandeng tangannya terbang menuju mega. Melintasi awan putih. Meniti pelangi….

Dimuat di Harian SUARA PEMBARUAN, Minggu 22 November 1998 dengan judul “Badai”.






Labels: